DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Aku sekarang suamimu


__ADS_3

PoV Embun


Baiklah Nak Tara dan Embun, sekarang kalian tanda tangani dokumen ini." Pak KUA mendekatkan buku nikah dan dokumen lainnya kepada kami. Setelah Tara membaca sighat ta'lik dengan tegas dan penuh wibawa.


Dengan berat hati, Aku pun menandatanganinya. Berharap pernikahan palsu ini cepat berakhir.


Tanganku gemetar saat menandatangani buku nikah itu. Aku merasa pernikahan ini adalah kesalahan terbesar. Bisa-bisanya Mas Ardhi dan Tara membuatku sebagai barang titipan.


Tanpa permisi satu tetes air mata jatuh tepat di lembaran buku nikah yang sedang ku tanda tangani. Hatiku sakit, sakit sekali. Rasanya perih dan nyeri. Berdenyut-denyut seperti daging yang sudah dibungkus nanah. Kenapa semua orang seenaknya saja kepadaku.


Ayah, Mas Ardhi dan Tara. Kalian bertiga benar- benar membuatku hancur. Aakhhh..... tidak, Mas Ardhi tidak bersalah. Malah Dia berkorban demi cinta kami. Ini salah Ayah dan Tara.


Moment menikah harusnya menjadi hal yang paling didambakan dan membahagiakan dalam hidup. Namun pada kenyataannya, itu tidak berlaku dalam hidupku.


Aku merasa kedua bahuku dipegang. Aku terkejut, jelas saja terkejut. Saat ini, hanya Rahmgaku yangbada di tempat ini. Sedangkan jiwaku melayang-layang tak tentu arah. Karena pikiran kalut.


"Ayo Sayang, saatnya salam-salaman." Ucap Nantulang, menuntunku mendekat ke arah ayah. Aku pun merangkak mendekati Ayah dan langsung tersungkur dihadapannya. Meraih tangannya. Seketika tangis ku pecah.


Aku menangis tersedu-sedu tanpa kata-kata. Aku merasa Ayah sangat tidak adil kepadaku. Semua di atur, hingga dengan siapa Aku menikah. Ayah mengusap punggungku.


"Ayah selalu berdoa untuk kebaikanmu, melakukan yang terbaik untukmu Nak. Jadilah kamu istri yang Soleha." Ucap Ayah dengan suara paraunya. Dia menahan tangisnya.


"Maafkan Embun Ayah....!" Ucapku masih menangis dan memeluk Ayah. Ayah hanya mengangguk.


"Ma ma..." Ucapku, langsung meraih tangan Mama yang duduk di sebelah Ayah. Mama pun menangis tersedu-sedu.


"Ma, " Lagi-lagi hanya kata itu yang keluar dari mulutku. Aku merasa sudah susah untuk bicara. Mulutku rasanya keram dan keluh.


"Iya sayang, semoga kamu bahagia." Hanya itu yang Mama ucapkan.

__ADS_1


"Dek Embun, jangan terlalu sedih. Acara masih panjang." Ucap Pak KUA. Akhirnya Mama pun memaksaku melepaskan pelukanku. Sehingga mau tak mau, Aku melepas rangkukanku pada Mama. Mulai menyalami Pak KUA, saksi dan tamu lainnya.


Setelah berdoa, yang dibawakan oleh Pak KUA. Aku dan Tara dituntun untuk masuk ke ruang make up. Karena kamarku di lantai dua. Jadi, ruangan untuk ganti kostum dibuat di kamar lantai satu.


Dengan lemas dan tidak semangat, Aku menyeret kaki ke kamar ruang ganti yang dituntun Nantulangku. Tara mengekori kami.


Sedangkan para tamu yang diundang saat ijab kabul. Kini sedang makan bersama.


"Say, bajunya jangan diganti dulu. Aku mau buat dokumentasi di kamar pengantin ini." Ucap fotografer kepada si bencong. MUA yang bertugas mendadaniku.


"Tadi foto mereka sangat sedikit saat ijab kabul." Ucap Fotografer lagi.


"Yuk silahkan...!" ucap Si bencong. Sedangkan Aku yang lagi galau ini sama sekali tidak tertarik ingin berfoto dengan Tara.


Ku melirik Tara yang duduk di tepi ranjang yang sudah dihias dengan terseyum. Sedangkan saat ini Aku sedang didudukkan di kursi meja rias.


Si fotografer menatapku, kemudian menatap Tara. Yang mengangkat bahunya. Sepertinya Tara tidak mau tahu.


"Baiklah." Ucap Fotografer, Dia pun keluar dari kamar.


"Cong, Aku satu kali aja ganti kostum. Nanti kamu ku panggil lagi deh. Sekarang kamu keluar dulu." Ucapku pada si bencong.


Si bencong berdecak kesal. "Kamu aneh deh say, biasanya pengantin pingin banyak kostumnya saat jadi ratu sehari." Ucapnya menatapku jengah kemudian menatap ke arah Tara dengan terseyum.


Aku melotot kepada makhluk astral itu. "Harusnya kamu bersyukur, kerajaanmu jadi sedikit. Koq malah ngeyel. Sudah sana keluar Cong. Nanti Aku panggil lagi." Ucapku malas, sumpah bukan mau rendahin orang. Tapi, Kau sungguh tidak respek melihat manusia yang selalu mencoba melawan kodrat.


Dengan menghentakkan kaki si bencong pun keluar dari kamar. "Norak, baru juga menikah, sudah mau dua-duan. Apa gak bjsa menunggu nanti malam." Si bencong mendumel, sambil menutup pintu dengan keras, sampai-sampai Aku terkejut. Sedangkan Tara tertawa-tawa.


Ku lirik Tara, masih duduk di tepi ranjang dengan tertawa.

__ADS_1


"Kamu juga keluar dari kamar ini. Aku ingin sendiri." Ucapku menatapnya tajam. Ku lihat Tara terkejut dengan ucapanku yang tidak ada sopan santun itu.


"Tidak usah terlalu kamu lakoni statusmu yang jadi suamiku sekarang. Karena kamu yang membuat perjanjian aneh dalam pernikahan ini. Aku tidak ingin kamu atur-atur. Tidak usah kamu tuntun Aku menuju surga, seperti kata Pak KUA tadi. Karena Aku tidak ingin bersamamu, baik di surga maupun di neraka." Ucapku tenang, menatap Tara dengan tajam.


Persetan dengan istri Soleha. Toh pernikahan ini juga main-main.


Tara diam, menatapku dengan tercengang, sepertinya Dia tidak percaya, Aku mengatakan itu. Dia pun beranjak dari duduknya.


"Baiklah Istriku Embun, perintah dilaksanakan. Terserah apa maumu istriku." Ucapnya santai, sambil berjalan menuju pintu kamar.


"He, he hei... tunggu,!" ucapku dengan panik dan kesalnya. Enak saja Dia memanggil Aku dengan sebutan itu. Siapa juga yang mau jadi istrinya. Dasar Tara selalu nyebelin.


Tara menghentikan langkahnya dan berputar. "Apa lagi istriku?" ucapnya terseyum.


"Jangan panggil Aku dengan sebutan itu." Ucapku kesal sambil menunjuknya dan menghentakkan kaki, saking geramnya.


"Slow aja ya beb. Gak usah terlalu di dramatisir. Jalani aja sesuai perjanjian. Kamu ingin kembali kepada kekasihmu kan? jadi beractinglah dengan baik, agar keluarga besar kita tidak curiga.


"Aku sekarang suami, hormati Aku sebagai suamimu. Kamu tidak usah ke GR an. Sebenarnya kalau bukan karena Tulang. Aku juga tidak ingin menikah denganmu. Untuk apa menikah dengan wanita yang membenci diri kita sendiri." Ucapan Tara membuatku semakin membencinya. Benarkan, Dia menerima perjodohan ini karena ingin membuatku sedih dan menangis terus.


"Awalnya Aku sih tertarik, tapi setelah ku ketahui kamu punya kekasih. Ya Aku jadi, gak tertarik lagi." Ucapnya lagi dengan santai, sambil mengangkat bahunya.


"Beractinglah dengan bagus. Ingat...... 100 wanita lebih cantik, kaya dan tinggi bisa ku dapatkan dalam waktu satu hari. You know..?" ucap Tara, sontak Aku melihat pantulan diriku di cermin.


Tinggi, tinggi? berarti Dia mencaci postur tubuhku yang tidak tinggi ini. Ya, Aku memang tidak tinggi seperti model. Tinggiku hanya 158cm. Tapi, kata Ardhi, Aku sangat cantik, bodiku juga bagus.


"Muna loe..!" ucapku kesal sambil mengancamnya. Bisa-bisanya Dia mengatakan kata-kata yang membuat rasa percaya diri ku turun drastis.


"Selama enam bulan saya suamimu. You harus nurut, oke...!" Ucapnya berbalik, melangkahkan kakinya ke arah pintu. Aku tercengang, melihat tingkahnya yang seolah masalah ini tidak ada pengaruhnya baginya.

__ADS_1


__ADS_2