DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Kalau jodoh takkan kemana


__ADS_3

"Minumlah Dek!" Tara menyodorkan gelas berisi jamu kunyit asam. Embun meraihnya dengan tangan gemetar. Dia kikuk karena merasa tidak enak hati pada Tara. Dia malu pada diri sendiri. Tara ternyata masih saja baik dan perhatian padanya. Padahal Dia selalu bersikap kasar.


Embun kembali melirik Tara yang kini sudah duduk di tepi ranjang. Satu kakinya naik ke atas ranjang.


"Bagaimana rasanya, pahit?" Tara memperhatikan Embun yang sedang meminum jamu. Ekspresi wajah Embun kecut.


"Gak pahit, enak. Masak jamu asem manis, pahit." Embun kembali meminum jamu yang tersisa setengah gelas.


"Kalau enak, kenapa ekspresi wajah Adek kusut gitu saat meminumnya?"


"Ya namanya minum obat, wajah ikut berekspresi sesuai sakit yang dirasakan." Embun menyodorkan gelas kosong kepada Tara. Lagi-lagi Embun terpesona melihat senyum manisnya Tara.


"Kenapa dia jadi semakin tampan?" Embun membathin, memperhatikan Tara yang berjalan ke arah meja, untuk meletakkan gelasnya yang baru dipakai Embun. Kemudian dia duduk di sofa dekat meja tersebut, yang berada tepat di hadapan Embun.


"Abang boleh duduk di sini kan?" Tara menatap Embun yang juga sedang memperhatikannya. Dan Embun pun mengangguk dan tersenyum tipis. Dia senang Tara menemaninya di kamar itu.


"Tenang saja, Abang tidak akan ganggu Adek. Tidak akan berani tidur di ranjang dengan Adek lagi. Kapok, sakit hati dimaki terus." Tara tertawa kecil saat mengatakannya. Dia ingin menutupi rasa sakit hatinya.


Melihat Embun yang sedikit lunak padanya. Tara memberanikan diri, mencurahkan uneg-uneg di hatinya. Dia ingin Embun menyadari kesalahannya. Dan benar-benar berubah jadi lebih baik padanya.


Ekspresi wajah Embun langsung berubah jadi cemberut. Dia menundukkan pandangannya. Merasa malu dengan kelakuannya dulu.


"Kenapa sih aku jadi menyesali setiap perlakuanku dulu. Rasanya koq sesak banget ni dada ya, jikalau aku mengingat-ingat setiap ucapanku dulu kepadanya. Ya Allah, bantu aku untuk tenang. Rasa bersalah ini membuatku tersiksa." Embun membathin, Dia kini sudah berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


Tara menatap Embun dengan tersenyum tipis, karena Embun bergerak-gerak di balik selimutnya. Tingkahnya lucu sekali.


Ponsel Tara kembali berdering. Embun yang mendengarnya dibuat was-was. Dia tahu nada dering itu. Itu pasti Lolita yang menelpon. Benar saja, Embun mendengar Tara menyebutkan nama Lolita.


"Besok, kemana dek?" percakapan Tara dan Lolita, semakin membuatnya kepanasan dibalik selimut. Dia pun memukul pelan kepalanya sendiri. Dia benci dirinya sendiri, yang tidak senang melihat kedekatan Tara dan Lolita. Padahal dialah yang menjodohkan Tara dan Lolita.


"Ke rumah Adek. Baiklah, Bye... Emmuuaahh... Assalamualaikum...!" Tara langsung melototkan kedua bola matanya, karena melihat Embun menyibakkan selimutnya dengan kasar. Wanita itu bahkan menatap kesal Tara.


"Kalau mau bermesraan di tempat sepi, jangan didepan orang. Dasar gak punya akhlak." Embun berteriak. "Dasar mesum." Embun menggaruk kepalanya kasar. Dia merasa kepalanya gatal sekali.


Tara dibuat melongok dengan ucapan Embun. Kenapa istrinya itu jadi meledak begini?


Padahal Dia juga pernah meluk-meluk Mas Ardhinya dihadapan Tara. Tapi, Tara diam saja, walau hatinya sakit melihatnya.


"Adek kenapa marah-marah? sudah sembuh perutnya?" Tara tersenyum tipis, kembali fokus ke ponselnya. Dia malas berdebat dengan Embun.

__ADS_1


"Ya marahlah, dasar mesum." Ketus Embun, wajah kesalnya jelas terlihat.


Tara terdiam sejenak. "Apa dia cemburu? tapi, tidak mungkin. Dia kan tidak menyukaiku?" Tara membathin, menatap Embun yang masih cemberut kepadanya.


"Adek gak cemburu kan?" Tara bertanya dengan wajah serius. Embun tergagap, Dia memegang hidungnya dan kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


"Untuk, untuk apa aku cemburu?" Menampilkan ekspresi wajah menantang.


"Ya sudah gak usah marah-marah. Ya wajar sama pacar sendiri, setiap komunikasi ditutup dengan kecupan." Tara memberi pembelaan.


"Mencium ponsel? iiihh.... norak." Embun bergidik bahu, merasa jijik dengan kelakuan Tara dan Lolita.


"Ya sudah, abang keluar saja. Selamat tidur ya dek. Moga cepat sembuh." Tara bangkit dari duduknya, melambaikan tangan kepada Embun.


Embun tidak terima dengan sikap Tara yang meninggalkannya di kamar. Dia kesal bukan main. Dia menarik napas dalam, menggigit bibirnya dengan geram.


Merasa penasaran dengan apa yang akan dilakukan Tara. Embun pun mengekorinya. Ternyata Tara pergi ke kolam renang. Embun melihat Tara masih menelpon.


"Astaghfirullah... ternyata mereka masih telponan. Dasar ya suami tidak bertanggung jawab, suami edan. Istri lagi sakit, dia malah asyik telponan dengan wanita lain. Dasar pria egois....! semua pria sama saja. Gak di sinetron, gak di cerita novel, gak dikehidupan nyata, sama saja. Rakus.... mesum, egois....!" Embun berjalan cepat ke arah Tara, seperti macam betina yang siap menerkam pengganggu anaknya.


Tara terkejut melihat kedatangan Embun. Kenapa istrinya ada di tempat ini juga. Bukannya dia mau istirahat.


"Emang salah ke sini. Aku kepanasan di dalam, aku mau cari angin." Jawabnya ketus, menampilkan ekspresi wajah kesal.


"Menelpon siapa? Lolita lagi? iiihhh kalian seperti ABG saja, telponan tiap detik. Dasar kurang kerjaan, baru juga tadi ketemu." Embun menatap kesal Tara, bibir kirinya naik satu tingkat monyongnya.


Ekspresi wajah Embun begitu lucu, Tara tertawa. "Jangan bilang Adek cemburu?" Tara mengarahkan ponselnya kepada Embun. Tampaklah wajah Ompung mereka di layar ponsel itu.


Tara menempatkan tangan kanannya di bahu Embun, merangkul istri nya itu. "Ompung, ini Embun lagi merajuk. Katanya kangen sama Ompung." Embun tersenyum kepada Ompungnya. Tapi, hatinya masih kesal. Dia menyikut perut Tara.


"Aauuuwww..!" Tara mengaduh kesakitan, karena mendapat serangan mendadak dari Embun.


"Pung, Embun cemburu. Dia pikir aku telpnan dengan gadis lain. Lihatlah pung sisa-sisa wajah cemburu masih tertinggal di wajahnya." Lagi-lagi Embun mengikut perut Tara.


"Ompung, Embun kangen."


"Iya pahoppuku, Ompung juga kangen. Ompung senang, kalian baik-baik saja. Kalau tidak ada halangan Minggu depan Ompung ke sana." Raut wajah bahagia terlihat jelas di wajah Ompungnya. Sudah hampir dua bulan cucunya itu menikah. Baru kali ini dia melihat Tara dan Embun kompak di saat melakukan panggilan video.


"Iya Pung, bener ya Ompung datang. Sekalian kita ke Kota Lampung, Minggu depan, disana akan diadakan pesta panen tebu." Tara merasa sangat senang, apabila acara itu dihadiri Ompungnya. Karena selama ini Ompungnya tidak mau ikut dalam acara itu.

__ADS_1


"Iya Pahoppuku, kalian jangan bertengkar ya. Embun, baik-baik pada Tara ya sayang. Sudah matikan telponnya, Ompung mau tidur ini." Ompung Borunya itu langsung mematikan ponsel, padahal Tara masih ingin ngobrol dengan Ompung dolinya.


Sebelum Embun berontak dalam rangkulannya. Tara sudah melepas tangannya dari bahu Embun. Dia mendudukkan bokongnya di kursi malas.


"Abang sudah jadian dengan Lolita?" Embun langsung saja menanyakan hal yang membuatnya penasaran.


Tara menoleh kepada Embun yang berdiri di sampingnya. "Emang kenapa dek?" tanya heran dengan pertanyaan Embun.


"Heran saja, cepat banget akrabnya." Menatap Tara dengan kesal.


"Ya gak ada kata-kata jadian. Abang bukan pria yang suka main-mainin perasaan wanita. Jikalau status kita diketahui Lolita. Mungkin disitulah nanti Abang akan buat keputusan.


Kalau Dia menerima status Abang yang nantinya jadi duda. Ya sudah, Abang akan serius dengannya. Kalau dia tidak bisa menerima, mungkin Abang akan minta Adek cariin yang lain."


"Koq minta bantuan sama adek? gak bisa gitu, cari istri sendiri." Jawab Embun ketus.


"Bukan gak bisa. Banyak koq yang antri. Tapi, kalau Adek yang cariin, berarti dia adalah wanita yang baik. Tidak mungkin, Adek mau menjodohkan Abang dengan wanita sembarangan, Abang yakin itu."


"Gak, gak mau. Aku gak mau ikut campur dengan urusan asmara Abang." Tolak Embun, dengan mengibaskan tangannya. Dia yang kesal itu, memilih meninggalkan Tara. Tapi, Embun tergelincir. Karena memijak lantai yang basah. Saat itu juga Tara bergerak cepat menangkap Embun.


Adegan romantis, saling tatap pun terjadi. Keduanya saling terpesona. Tatapan Tara yang teduh dan penuh kasih sayang membuat Embun, mengamati lekat wajah tampan itu. Kenapa dia telat menyadari pesona Tara.


Tak rela rasanya memberikannya kepada Lolita. Saat itu juga Dia teringat kepada Mas Ardhinya. Dia pun berontak, agar Tara membenarkan posisinya.


"Aku ingin perjanjian itu dibatalkan." Embun yang punya sifat tidak sabaran, langsung mengatakan isi hatinya. Walau sebenarnya saat ini bukan waktu yang tepat membahasnya.


Deg....


Ini kalimat yang tidak disukai Tara. Membahas soal perjanjian.


"Itu tidak bisa dibatalkan." Jawab Tara dingin.


"Maksudku, aku hanya ingin komunikasi dengan Mas Ardhi. Ini tidak adil, enam bulan tidak bisa komunikasi. Itu sama saja, membuatnya akan melupakanku." Embun mere*mas-rem*as jemarinya. Sebenernya dia takut membahas ini dengan Tara. Tapi, dia merasa perjanjian itu merugikannya. Bagaimana kalau Ardhi berpaling darinya, karena tidak pernah komunikasi.


"Bersabar dan diam lebih baik. Jika memang jodoh akan terbuka sendiri jalan terbaiknya. Jika tidak, akan diganti dengan orang yang lebih baik." Ucap Tara tenang, menatap lekat Embun yang juga menatapnya.


TBC


Mohon dukungannya dengan like coment positif dan Vote,

__ADS_1


__ADS_2