
Dengan tersenyum Tara keluar dari kamar mandi. Dia Ingin memberi kenyamanan pada istrinya itu. Tidak ingin bertanya banyak, dia hanya akan melakukan apa yang diinginkan Embun.
Embun pun menarik napas dalam, setelah Tara keluar dari kamar mandi itu. Dia memegangi dadanya yang bergemuruh, mengusap-usap nya agar bisa tenang.
"Ya Allah, apa dia sengaja melepas semuanya di depanku? apa dia tahu, aku bisa melihat pantulan dirinya di cermin?" Embun bicara sendiri, sembari menggoyang-goyangkan kepalanya. Agar penampakan tuyul tadi, pergi dari otak mesumnya.
"Tidak mungkin Abang Tara sengaja. Aacchhh... sudahlah, anggap saja lagi cuci mata. Lagian punya suami sendiri koq. Kira-kira itu rasanya gimana ya?" ucap Embun nyengir, otaknya sudah korslet, karena melihat miliknya Tara.
Setelah selesai mandi, Embun keluar dengan malu-malu, memegangi handuk yang membelit tubuhnya bagian atas. Dia takut handuknya melorot.
Tara menatap takjub Embun yang menghampirinya dengan dada yang terbuka itu, ditambah leher jenjang putih mulus miliknya Embun, sungguh menggoda. Betapa bodohnya dia akan memberikan istrinya pada pria lain. Tapi, mau bagaimana lagi, dia terikat dengan perjanjian yang dibuatnya sendiri.
"Mana pakaian untukku?!" Embun masih menunduk, sesekali menoleh ke arah Tara dengan malu dan canggung. Suaminya itu sudah berpakaian lengkap. Celana pendek dipadu dengan kemeja lengan pendek.
Ya, Tara hanya bisa mengenakan itu. Karena pergelangan tangan kanannya terluka. Kalau dia memakai kaos oblong. Maka dia kesusahan memasukkannya melalui lehernya.
"Adek pilih saja, Abang gak tahu Adek mau yang gimana? kalau menurut Abang, ya seperti ini saja. Gak usah pakai baju." Ledek Tara, dia pun tertawa renyah, saat Embun melototkan kedua matanya.
Embun kesal, dia memukul manja dada suaminya itu, dari dulu Tara selalu sukses menggodanya.
"Itu sih mau ya Abang, dasar mesum!" ketus Embun mulai berjongkok untuk memilih pakaian di dalam kopernya Tara yang tergeletak di lantai.
Kening Embun mengerut, dia bingung dengan isi kopernya Tara. Kebanyakan kaos lengan pendek dan celana pendek. Hanya ada satu kemeja dan satu celana panjang.
Salah dia juga sih, kenapa sebagai istri tidak pernah menyiapkan pakaian suami sendiri. Semua ART yang menyiapkan.
Akhirnya Embun memilih kaos polo ketat warna maron, serta celana pendek milik suaminya itu. Dia pun beranjak hendak ke kamar mandi.
"Adek mau kemana?"
"Ke kamar mandi, pakai baju." Jawabnya berbalik badan, pakaian sudah ada di tangan.
"Pakai disini saja, Abang tidak akan lihat." Jawab Tara tersenyum tipis. Pria itu kini duduk di tepi ranjang dan sibuk dengan ponselnya.
"Gak mau, aku malu." Jawabnya pelan, Embun pun langsung ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, dia melihat penampilannya dengan berdecak kesal. Kaos yang dikenakannya longgar di tubuhnya. Tapi, baju itu, berbahan jatuh, sehingga tetap mencetak tubuhnya.
"Aahhh masak bodoh, dia juga sudah pernah lihat. Masak sekarang aku jadi malu." Ucap Embun, keluar dari kamar mandi dengan tidak percaya diri. Dia terus saja, menarik kaosnya bagian dada. Maksud hati agar Tara tidak melihat tonjolan itu. Tapi, kelakuan Embun malah menarik perhatian Tara. Sehingga pria itu melihat ke arah tangannya Embun yang menarik-narik kaos bagian depan itu.
Tara tertawa tipis, penampilan istrinya itu sedikit lucu. Celana pendek yang dikenakan Embun kedodoran, ditambah tingkah Embun yang berusaha menutupi gunung kembarnya, membuat penampilan wanita itu jadi lucu.
"Ayo kita makan, Abang sudah pesan makanan." Tara tidak mau mengomentari penampilan istrinya itu. Semakin dibahas, dia takut tidak bisa mengendalikan dirinya.
Embun duduk di kursi, tepat di sebelah Tara. Dia malu, kalau harus duduk dihadapan suaminya itu.
Mereka pun mulai makan, Embun menoleh ke arah Tara yang sedang makan, menggunakan tangan kiri. Karena, tangan kanannya terasa sakit, apabila banyak bergerak. Tadi saja, saat berpakaian, Tara kesakitan.
"Adek suapin ya? makan pakai tangan kiri, tidak baik." Embun langsung menyodorkan sendok yang berisi makanan kepada Tara. Tentu saja dia sangat senang, disuapi oleh istrinya itu.
__ADS_1
Tara jadi merasa bersyukur, tangannya terluka. Dia jadi dapat perlakuan istimewa dari Embun.
Setelah satu suapan lolos ke mulut nya Tara. Wanita itu menyendok makanan dari wadahnya dan memasukkannya ke mulutnya. Kini mereka makan dengan menggunakan sendok yang sama.
Sesaat Tara teringat kejadian saat Embun mengatakannya najis, bahkan wanita itu, tidak mau dekat dengannya. Tapi, lihatlah sekarang mereka bahkan makan dengan menggunakan sendok yang sama.
"Abang kenapa? Kenapa menatapku seperti itu? ada yang salah?" tanya Embun, merasa risih dengan tatapan Tara yang nampak sedih dan penuh kekecewaan.
"Tidak ada, Abang hanya terharu. Bisa makan disuapin istri sendiri. Suapan pertama dan terakhir ini namanya." Ucap Tara Tersenyum getir, berusaha membuang rasa sakit hatinya. Karena, mengingat sikap Embun yang kasar padanya.
Embun menangkup tangan kiri Tara yang tergeletak di meja. Menatap Tara lekat dan penuh penyesalan.
"Maaf, sekali lagi Adek minta maaf. Adek salah, tak seharusnya Adek bersikap tidak sopan kepada Abang. Adek tahu, perlakuan ku itu tidak akan pernah Abang lupakan. Karena memang itu menyakitkan. Aku saja sakit hati, jikalau mengingat itu semua.
"Tolong Abang maklumin aku yang dulu. Aku sekarang hanya ingin memberi yang terbaik untuk Abang. Embun doakan, kelak Abang akan dapat istri yang baik, lembut, sopan, kaya, cantik. Pokonya perfect deh, sempurna. Seperti Abang yang begitu sempurna." Mata Embun berkaca-kaca saat mengatakan itu, dia masih menggenggam erat tangan Tara yang tergeletak di meja.
Embun merasa tidak pantas, untuk suaminya itu. Tara terlalu sempurna. Dia bukan yang terbaik untuk Tara. Itulah sebabnya dia lebih memilih Ardhi.
"Kenapa bahas itu lagi. Kita kan sudah pernah membahasnya. Adek juga sudah tahu, bagaimana perasaan Abang pada Adek. Tapi, sepertinya Abang ini tidak bisa menggantikan Mas Ardhimu." Ucap Tara lemah, membuang wajah dari Embun. Dia sedih mengatakan itu. Rasanya dia tidak punya harga diri sebagai suami.
"Iya, maaf sekali lagi. Tidak ada niat mengungkitnya " Embun bangkit, meraih tisu dari nakas dekat ranjang.
Saat itu juga ponsel Tara berdering. Dia pun mengangkat telpon itu. Pak Budi yang menelpon.
Embun hanya melihat Tara dengan begitu penasarannya, saat suaminya itu menjawab telpon pak Budi.
"Apa dalangnya sudah diketahui?" tanya Embun penasaran. Karena, dia tadi kurang mengerti inti pembicaraan Tara dan pak supir. Karena tidak mendengar semuanya.
"Sudah Dek." Jawab Tara sedih, menatap istrinya itu. Dia sungguh tidak tega memberikan Embun kepada Ardhi. Tapi, istrinya itu ingin kembali kepada Ardhi.
"Siapa?" tanya Embun dengan raut wajah penuh selidik.
"Rekan bisnis Abang." Jawab Tara bohong, tidak mungkin dia akan mengatakan siapa dalang dari kejahatan tadi.
"Oohh, koq bisa. Tapi, kata penjahat tadi. Ingin aku mati. Kalau rekan bisnis Abang tidak mungkin. Mana ada orang tahu, bahwa kita sudah menikah." Cercah Embun, merasa tidak puas dengan jawaban Tara.
"Sudah jangan dipikirkan lagi ya dek. kemarikan obat Abang!" Tara menjulurkan tangannya. Embun mendekati Tara dan memberikan obatnya satu persatu. Tara pun memakannya dalam satu tegukan.
"Apa dia Rose? dia yang begitu membenciku. Dan dia juga menginginkan Abang. Rose itu cinta sama Abang." Ucap Embun serius, Tara juga menanggapi ucapan Embun dengan serius. Seolah membenarkan dugaan istrinya itu.
"Dasar wanita itu, aku benci sekali sama dia. Pecat aja dia bang?!" pinta Embun kesal, memegang lengan Tara.
"Iya, dia sudah Abang pecat." Tara pun bangkit dari duduknya merasa malas membahas Rose.
"Ranjangnya hanya satu, sofa juga tidak ada disini? bagaimana ini?" Tara mengalihkan topik pembicaraan, dia juga sudah sangat kantuk. Efek lelah, karena berkelahi. Dia pun merebahkan tubuh dengan hati-hati agar tangannya yang dijahit tidak sakit.
Aauughhh... Tara meringis, saat punggungnya mendarat di sofa.
Embun mendekati Tara penuh kekhawatiran.
__ADS_1
"Punggung Abang, ada yang keseleo. Adek akan memijatnya. Atau kita cari jasa tukang pijat?" Embun duduk ditepi ranjang, memperhatikan Tara yang masih meringis.
"Sebentar Abang telpon pak Budi. Abang akan minta dia mencarikan tukang urut." Tara berusaha bangkit, Embun ikut membantunya.
"Tidak usah, aku saja yang urutnya." Ujar Embun, dia tidak mau ada orang lain di kamar itu. Lagian dia pakaiannya aneh.
"Adek bisa?" tanya Tara tidak percaya, senyum tipis menghias wajah tampan nya.
"Jangan mengejek, aku bisa memijat." Jawabnya, dia pun membantu Tara membuka pakaiannya. Setelah itu, Embun mengambil minyak zaitun dari tas make-up nya.
Dia membutuhkan itu, agar mempermudah dirinya saat memijat Tara.
Aksi pijat memijat pun mulai, Tara malah merasa kegelian. Pijatan Embun terlalu lembut dan tidak terasa di otot punggung nya Tara. Bahkan kini bagian bawahnya sudah mulai hidup. Ini tidak bisa dibiarkan, akan sangat berbahaya.
"Dek, punggung Abang sudah baikan. Besok pagi aja lanjut lagi. Abang juga sudah sangat mengantuk." Ucap Tara sambil menguap, dia tidak mau tersiksa dengan sentuhan istrinya itu.
"Iya kah? apa ku bilang. Aku mahir dalam mengurut, lihatlah baru juga sepuluh menit, Abang sudah merasa baikan." Ucap Embun penuh kemenangan. Dia bangga dengan dirinya sendiri.
"Iya Dek, Adek hebat, sangat hebat." Ucap Tara, dengan menghela napas berat. Dia pun bergidik, karena tera"ngsang.
Embun tertawa, membantu Tara berpakaian. Dan pria itu pun berbaring terlentang. Embun ikut berbaring di sebelah kirinya Tara.
Keduanya lama terdiam, mereka hanya menatap langit-langit kamar hotel. Tara terdiam, karena ingin menenangkan diri. Sedangkan Embun, terdiam karena grogi.
"Malam ini kita tidur seranjang dalam keadaan sadar dan hati yang damai." Ucap Embun memulai perbincangan. Dua bulan menikah, mereka selalu tidur terpisah. Pernah satu kali tidur seranjang, dimana Embun membuat Tara jadi bantal gulingnya.
Tara menoleh ke arah Embun, yang kini sudah
berpangku Isang di sebelahnya.
"Coba tangan Abang tidak sakit, aku akan menjadikan Abang gulingku malam ini."
"Jangan, itu bahaya." Jawab Tara, membalas senyum manisnya Embun.
Hehehehe... Embun tertawa. Dia mengerti maksud ucapan suaminya itu.
"Rukun seperti ini asyik ya bang." Kening Tara menyergit mendegar ucapan bodohnya Embun. Ya namanya rukun, pasti damai dan menyenangkan.
"Iya, coba Adek gak benci Abang."
"Sekarang gak benci lagi koq!" Embun memotong ucapan Tara.
"Gak benci lagi?" tanya Tara penasaran. Menatap Embun di sebelahnya.
Embun mengangguk, dan tersenyum manis
"Adek itu tidak benci lagi. Tapi, Benar-benar, tau aakkhh gelap, kantuk mau tidur." Ucapnya, menempatkan guling di tengah sebagai pembatas, wanita itu pun berbalik memunggungi Tara. Dia malu, untuk mengatakannya.
TBC.
__ADS_1