DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Kita lenyapkan


__ADS_3

Ibu Jerniati kehilangan jejak anaknya Ardhi. Dia pun berusaha terus menghubungi ponsel sang anak. Tapi, Ardhi tak kunjung mau mengangkatnya. Dia pun akhirnya mengirimkan pesan kepada Ardhi.


Nak, Ardhi sayang, kamu di mana? kita harus bicara. Pesan terkirim, tapi tidak dibaca.


Ibu Jerniati tambah kesal saja, dia tidak bisa mendikte anaknya itu. Kalau seperti ini cerita, dia akan gagal punya menantu yang satu server dengannya.


Dia pun akhirnya menghubungi Anggun.


"Ada apa Mom?" suara Anggun terdengar ceria diujung sana.


"Kami sibuk sayang?"


"Gak sih Mom?"


"Ada yang harus kita bicarakan."


"Iya Mom, aku share lokasi kita untuk ketemuan." Panggilan pun terputus.


***


Dert... dert.... dert...


Ponsel Melati bergetar, di atas nakas. Dia yang sudah lelah menangis. Akhirnya hanya bisa termenung saat ini. Memikirkan nasibnya kedepan. Apakah Ilham akan menerima dirinya yang kotor itu? Melati menggeleng lemah, dia tidak sanggup mengatakan peristiwa menyakitkan itu pada Ilham.


Ponsel itu terus saja bergetar. Dengan menghela napas dalam, dia pun meraih ponselnya itu.


Ternyata yang menghubunginya adalah Umaknya. Melati menatap lama ponselnya itu. Dia ragu untuk mengangkat panggilan itu. Dia takut tidak bisa menahan diri dan akhirnya menangis. Tentu itu akan membuat orang tuanya di kampung bertanya-tanya. Kenapa dia menangis.


Ponselnya itu terus saja bergetar. Dia pun akhirnya mengangkatnya.


"Assalamualaikum Umak." Ucapnya dengan semangat. Mencoba menutupi kesedihan di hati.


"Walaikum salam Nang. Bia kabarmu disi Inang? Saborngin on, umak mamikkiro go Torus." Terdengar suara penuh kecemasan dari sang Ibu. Saat ini Ibunya Melati sedang istirahat di pondok. Sudah saatnya makan siang. ( Walaikum salam Nak. Apa kabarmu di sana? semalaman ibu keepikiran kamu terus).

__ADS_1


"Melati sehat Umak. Sannari Melati lagi di kampus, masih belajar. Annon borngin hu telepon umak da." suara Melati terdengar sedih. (Melati sehat Umak. Sekarang Melati lagi di kampus, masih belajar).


"Assalamualaikum Umak." Melati yang tak sanggup lagi menahan diri. Akhirnya memutuskan panggilan telepon. Sang Ibunda tercinta, hanya termangu, melihat layar ponselnya.


Saat itu juga Melati membuka pesan dari Ibu Jerniati. Apalagi isinya, kalau bukan ancaman untuk menutup mulut.


Krekk...


Melati terlonjak kaget, disaat pintu kamarnya dibuka oleh dua orang perawat dan seorang Dokter.


"Apa kabarnya Dek?" ucap Dokter berjenis kelamin perempuan dengan ramahnya. Melati menjawabnya dengan lemah dan berusaha tersenyum. Sang Dokter pun mulai memeriksa denyut nadi, dada dan perutnya Melati dengan alat stetoskop. Kemudian sang perawat mengukur tensi darahnya.


"Adek sudah boleh pulang, semuanya sudah normal. Luka di kening dan sudut bibir juga nanti akan sembuh dengan cepat asal adek harus rutin minum obatnya." Dokter masih tersenyum ramah.


"Adek tidak ada yang jaga?" Dokter nampak celingukan. Mencari orang lain di ruangan itu.


"Ada Dok, lagi keluar sebentar." Jawab Melati tersenyum tipis. Walau wanita itu hatinya hancur dan rapuh. Dia masih bisa menutupinya.


"Iya Dok. Terimakasih banyak." Melati menunduk, tidak berani menatap matanya Dokter. Dia tidak mau orang banyak bertanya tentang dirinya yang nampak frustasi itu.


Perawat pun melepas jarum infusnya Melati. Setelah itu Dokter dan perawat itu, meninggalkan Melati sendirian di ruangan itu.


Dalam kesendiriannya, Melati kembali berfikir. Apa rencananya selanjutnya. Apakah dia menerima tawaran untuk bekerja di rumahnya Embun. Mantan kekasihnya Ardi. kalau dia menerimanya, maka kemungkinan besar dia akan susah melupakan kejadian pahit yang menimpanya. Karena, bayangan Ardhi akan terus menghantuinya.


Jikalau dia tidak menerima tawaran itu, dia mau kerja apa? dia mau ke mana? Melati terus saja berfikir, tanpa disadarinya petugas pengantar makan siangnya sudah ada di ruangan itu.


"Sudah boleh pulang ya dek?" tanya wanita paruh baya yang mengantarkan makan siangnya Melati.


Melati terkejut mendengar ucapan wanita itu. Dia pun membalikkan badannya


Karena, memang tadi posisi Melati membelakangi pintu kamar.


"Iya Bu." Jawabnya lemah, mengubah posisi tubuhnya jadi duduk.

__ADS_1


"Oohh syukur lah. Silahkan di makan!"


"Iya Bu, Terimakasih banyak." Melati membalas senyuman wanita itu. Petugas pengantar makanan pun meninggalkan ruangan itu.


Setelah kepergian wanita itu, dia kembali termenung. Meratapi lagi nasibnya yang malang. Air mata kembali lagi jatuh dengan sendirinya. Harapan dan impian hancur sudah.


Sementara di sebuah Restoran mewah. Ibu Jerniati dan Anggun nampak sedang santap siang di sebuah ruangan privat.


"Mom, aku jadi tidak tenang. Walau Mommy sudah mengancamnya. Aku masih ragu gitu. Apa sebaiknya kita lenyapkan saja dia?" Mendengar ide gilanya Anggun. Ibu Jerniati menghentikan acara makannya. Wanita itu menatap heran Anggun yang nampak semangat saat berbicara. Ide calon menantunya itu selalu ekstrem.


"Kalau kita tidak melenyapkannya. Rencana kita bisa gagal Mom. Apa Mommy mau punya menantu miskin dan bekas pembantu?" Anggun melirik Ibu Jerniati yang nampak sedang berfikir itu, dengan tersenyum puas.


"Apa harus seperti itu?" tanya nya ragu. Dia tidak mau berurusan dengan pihak berwajib lagi. Dulu saja, syukur Anggun tidak melibatkan dirinya, saat ingin melenyapkan Embun.


"Iya Mom. Kalau dia masih hidup. Anggun yakin dia akan mengganggu hubungan ku dengan Bang Ardhi nantinya. Apalagi seumpama dia hamil Mom. Apa Mommy mau punya cucu dari orang miskin?" hasutan Anggun benar-benar dahsyat. Ibu Jerniati, nampak sudah terpengaruh dengan ide gilanya Anggun.


"Kalau rencana kita gagal lagi, seperti Embun kemarin bagaimana? sebelum bertindak, pikirkan dulu dong sayang. Mommy tidak mau mendekam di penjara." Ucap Ibu Jerniati lemas. Dia takut juga mengikuti ide gilanya Anggun.


"Ya itu resiko Mom. Semua tindakan ada konsekuensi. Kalau keinginan kita cepat terwujud, kita harus cepat bergerak." Anggun menatap lekat Ibu Jerniati yang nampak bingung itu.


"Sukses atau gagalnya, kita tidak mau Ma. Yang penting kita bertindak dulu."


"Iya sih sayang!" Ibu Jerniati sudah mulai terhasut.


"Ayo kita ke rumah sakit. Aku bisa lenyapkan dia nanti." Anggun bangkit dari duduknya dengan tergesa-gesa. Tentu saja Ibu Jerniati mengikuti langkah semangat nya Anggun. Akhirnya dia pun bisa mensejajarkan langkahnya dengan Anggun.


"Dia di rumah sakit kan Mom?" Anggun melirik Ibu Jerniati di sebelah kanannya.


"Iya Sayang." Jawab Ibu Jerniati lemah. Dia sebenarnya takut, apabila rencana itu gagal.


"Kita lenyapkan dia di rumah sakit. Mommy harus tenang. Percaya sama Anggun." Kini kedua wanita itu sudah masuk ke dalam mobil. Anggun memacu mobilnya dengan sangat kencang. Dia sudah tidak sabar untuk melenyapkan duri penghalang.


TBC

__ADS_1


__ADS_2