
Seorang pria nampak sedang duduk dengan tidak tenang di dalam ruangan private di sebuah restoran mewah. Siapa lagi dia kalau bukan Ardhi. Pria itu sedang harap-harap cemas. Hatinya tidak tenang, asyik menduga-duga tentang maksud Embun ingin bertemu dengannya. Pasalnya mantan kekasihnya itu, tidak menyebutkan tujuan dari pertemuan mereka. Embun hanya meminta waktu untuk bertemu.
Ardhi yang belum bisa melupakan Embun, tentu saja ingin berjumpa dengan wanita itu. Walau hatinya sakit, karena dicampakkan. Tapi, dia masih ingin tahu kabar mantannya itu. Apakah dia bahagia dengan Tara, pria yang dipilihnya?
Ardhi berulangkali melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Rasanya waktu sangat lambat berjalan. Ardhi menarik napas dalam, dia merasa tidak tenang. Bagaimana pun Embun wanita yang pernah sangat dicintainya. Perjumpaan hari ini, tentu membuatnya nervous.
Kreekk...
Suara pintu di buka terdengar nyaring. Karena suasana di ruangan itu memang sangat hening. Seperti kuburan saja. Maklumlah orang di dalamnya adalah orang yang patah hati.
Mendengar suara pintu dibuka, membuat Ardhi menoleh ke ambang pintu dengan memegangi dadanya yang berdebar-debar. Senyum manis yang sempat terlempar kini susut sudah. Penampakan sepasang sejoli di ambang pintu, membuat suasana hati Ardhi memburuk. Dia belum ikhlas melepas Embun. Luka di hati belum sembuh.
"Oohhh datang bersama pak Tara ya?!" Ardhi kembali mengulas senyum tipis penuh keterpaksaan. Bangkit dari duduknya, menyambut kedatangan Tara dan Embun.
"Iya Mas." Tara mengeratkan belitan tangannya di pinggang Embun. Disaat istrinya itu memanggil Ardhi dengan sebutan Mas. Tara cemburu, padahal dari tadi, dia sudah berusaha menenangkan dirinya, agar tidak cemburu.
Embun melirik Tara dengan kesal. Suaminya itu kenapa jadi kekanak-kanakan. Ditatap Ardhi saja sudah membuatnya kesal. Apalagi kalau dia mendatangi Ardhi sendirian. Mungkin tamatlah riwayatnya.
Tara dan Embun sudah duduk di hadapan Ardhi. Tangan Embun yang berada di atas meja langsung digenggam Tara. Kedua mata Ardhi memperhatikan dengan lekat kelakuan Tara yang sok romantis di hadapannya. Tara mengusap-usap lembut punggung tangan istrinya itu. Embun dibuat tidak nyaman dengan kelakuan sang suami.
"Ada hal penting apa yang membuat dek Embun i.gim bertemu dengan Mas?" Ardhi yang sudah eneg dengan kelakuan Tara. Memilih menanyakan langsung maksud dan tujuan Embun bertemu dengannya.
Embun melirik Tara di sebelahnya. Pria itu nampak menatap lekat Ardhi. "Eehhmmm
... ehmmm..!" Embun nampak ragu untuk memulainya. Dia juga bingung, harus bicara dari mana terlebih dahulu.
__ADS_1
Ardhi nampak tidak sabaran menunggu kalimat selanjutnya yang keluar dari mulutnya Embun. Dia juga merasa semakin tidak nyaman di tempat itu Karena, kehadiran Tara yang nampak mengawasinya ketat.
"Bicaralah dek, pasti hal penting. Iya kan Pak Tara?" Ardhi sengaja ingin melibatkan Tara dalam percakapan ini. Agar Tara menghentikan aksi lebainya. Yaitu mengelus-elus jemari Embun.
"Baiklah, saya yang akan bicara. Biar masalah cepat selesai." Tara menampilkan ekspresi wajah serius. Saat itu juga Embun menjauhkan tangannya dari atas meja. Dan meletakkan tangannya di bawah meja. Tepatnya di atas pahanya.
"Saya akan melaporkan anda, atas perkara tindak pelecehan se*ksual."
"Apa..?" Ardhi terlonjak kaget. Apa maksud ucapannya Tara. Mulut Ardhi sampai mengaga mendengar ucapan suami mantan kekasihnya itu.
"Pak Ardhi jangan berakting seperti tidak tahu apa-apa." Tegas Tara, Embun langsung memegang tangan Tara. Memberi kode, agar jangan emosi. Tara tidak tahu ceritanya dengan detail. Pria itu hanya tahu, Melati adalah korban dari tindak pelecehan se*ksual yang dilakukan Ardhi.
"Pak Tara tolong bicaralah dengan jelas." Ardhi sangat bingung dengan ucapan Tara. Kenapa pria itu ingin memenjarakannya. Dia kan melakukannya dengan Anggun. Apa hubungannya Tara dengan Anggun. Lagian dia akan menikah dengan Anggun.
"Sekitar sebulan yang lalu, pak Ardhi telah menodai, tepatnya memp*erkosa seorang gadis yang bernama Melati."
Bahkan dia tidak menyadarinya.
Kenapa perbuatan nistanya itu harus diketahui oleh Embun dan Tara. Mau ditaruh di mana mukanya ini. Dia sungguh malu pada Embun. Embun wanita yang pernah sangat dicintainya dan bahkan saat ini dia masih mencintai wanita itu. Tapi, dia tidak mungkin tetap memupuk rasa cinta itu. Embun telah mencampakkannya.
Setelah menatap Embun dan Tara secara bergantian. Ardhi pun menundukkan kepalanya. Dia tidak sanggup menatap pasangan di hadapannya. Dia memejamkan kedua matanya. Mencoba menenangkan dirinya agar bisa tenang.
Masalah yang datang beruntun. Embun yang meninggalkannya. Terkuaknya kelakuan buruk sang ibu ditambah lagi masalahnya dengan Anggun dan terakhir dirinya yang terjadi telah menodai Melati. Seorang ART nya yabg baik hati.
"Kasus ini benar-benar akan saya lanjutkan ke jalur hukum. Bapak, dan ibu bapak harus mendapatkan hukuman setimpal. Karena, ibu bapak juga meneror Melati." Ardhi hanya terdiam seperti orang setres mendengar ucapan Tara. Dia tidak bisa membela diri. Karena, dia juga sempat kepikiran, bahwa Melati lah wanita yang bersamanya malam itu.
__ADS_1
Mengingat kejadian malam itu. Tangan Ardhi mengepal di atas pahanya. Tepatnya di bawah meja. Dia harus memberi pelajaran pada Anggun. Dia tidak akan mau dibodohi wanita itu lagi. Dia juga tidak akan peduli lagi dengan sang ibu. Karena, perbuatan ibunya sudah kelewat batas.
"Dari mana Abang tahu, ibu Jerniati meneror Melati?" bisik Embun di telinga sang suami. Seingat Embun, dia tidak menceritakan itu pada sang suami.
Tara menoleh kepada sang istri. "Itu hanya dugaan Abang. Abang teringat kejadian di Rumah sakit. Dan juga ucapan Melati yang rancu saat di pengadilan." Jawab Tara berbisik kepada sang istri. Dia hanya menduga-duga. Karena dia ada firasat bahwa Melati telah di teror.
Ardhi akhirnya mengangkat wajahnya
Karena, merasa aneh dengan tingkah sepasang suami istri yang berbisik-bisik.
"Pandai juga Bapak melarikan diri ya. Mentang-mentang yang bapak nodai orang lemah." Ardhi tidak terima dengan ucapan Tara. Pria itu menatap tajam pasangan suami istri itu. Tuduhan Tara membuatnya terpancing. Dia mulai naik pitam. Itu jelas terlihat dari ekspresi wajah nya yang merah padam.
Ardhi menarik napas dalam dan membuangnya pelan. Pria itu mengusap kasar wajahnya. "Aku ingin bertemu dengan Melati." Ardhi harus bisa mengontrol dirinya. Walau Tara menuduhnya tidak bertanggung jawab.
"Boleh, tapi bapak harus bertanggung jawab. Dia hamil saat ini."
Deg
Deg
Lagi-lagi ucapan Tara membuat Ardhi spot jantung. Untuk kali ini, dia mengutuk dirinya. Dia juga akan memarahi sang asisten yang lama dalam bertindak.
"Abang tahu dari mana kalau Melati hamil?" lagi-lagi Embun berbisik dan memukul lengan Tara. Suaminya itu terlalu kemajuan.
"Semalamkan dia muntah-muntah di warung bakso saat bersama Ilham." Ucapan Tara yang pelan bisa di dengar oleh Ardhi.
__ADS_1
Apa? Melati bersama Ilham? Ardhi membathin. Memperhatikan Tara dan Embun yang berbisik-bisik.
TBC