
Desakan embun membuat Melati ketakutan. Dia yang masih berdiri di balik pintu kamar
yang baru saja ditutupnya gemetaran. Dia tidak mau membahas masalah ini.
Cukuplah hanya Ilham yang mengetahui semuanya. Tak ada gunanya orang lain tahu.
Karena, kebanyakan orang hanya ingin melihat kita sedih. Mana mungkin seorang
majikan mau ikut campur dalam urusan pribadi seorang pembantu.
“Kenapa Kakak menanyakan hal itu? Aku tidak hamil.” Melati
menunduk lemah. Dia tidak berani mengaku atau menceritakan semuanya.
Embun yang tadinya duduk di kursi meja belajarnya Melati,
akhirnya bangkit. Berjalan pelan penuh dengan penghayatan ke arah Melati. Dia
merangkul tubuh Melati yang ketakutan itu. “Bahasa tubuhmu ini adalah
jawabannya. Ceritakan pada kakak semuanya. Ceritakan kronologisnya seperti apa.
Kakak akan membantumu. Kalau benar mas ardhi melakukan pelecehan se8su8l
padamu. Kakak akan cari keadilan untukmu.” Melati yang sudah terduduk di tepi
ranjangnya, menatap sendu Embun yang juga duduk di sebelahnya.
Benarkah, jikalau dia menceritakannya pada Embunadalah jalan
terbaik. Melati kesusahan menelan ludahnya. Dia takut, setelah menceritakan
semuanya. Keadaan makin runyam.
“Percaya sama kak! Aku benar-benar menganggapmu saudara. Aku
akan membantumu Melati. Aku akan carikan keadilan untukmu. Ayo ceritalah!”
desakan Embun benar-benar membuat Melati tertekan. Tangannya yang bergetar
mengusap kasar wajahnya yang sudah mengeluarkan bintik-bintik cairan, terutama
di keningnya.
Melati memalingkan wajahnya, disaat Embun berusaha menatap
lekat wajah sembab wanita itu. “Percaya pada kakak. Aku akancari solusi
untukmu. Kenapa kamu masih ragu. Si anggun saja sudah kita penjarakan. Jado,
jangan ragukan kakakmu ini. Bila perlu kita akan hancurkan Si Ardhi berengsek
itu, bila dia nantinya terbukti bersalah dengan sengaja menodaimu.” Embun
begitu berrapi-api. Dia jadi kesal pada Ardhi. Dia tidak menyangka, Srdhi
sebejat itu. Syukur dia hanya pacaran satu bulan dengannya. Tapi, Kalau
dipikir_pikir dan dinilainya. Ardhi bukanlah pria seperti itu. Selama ini Ardhi
sopan dan begitu sayang padanya. Kenyataan-Kenyataan inilah yang membuatnya
pusing, dan ingin kejelasan. Apalagi saat di pesta tadi, Embun melihat
keputusasaan di rawut wajahnya Ardhi.
Embun meraih bahunya Melati dengan lembut. Mau tak mau,
Melati kini bersitatap dengan Embun. “Ayo ceritakan semuanya. Penjelasanmu di
pengadilan, saat Anggun menyerangmu, mencoba menghilangkan nyamu tidaklah masuk
akal. Pasti ada apa-apanya kamu dengan Mas Ardhi, sehingga Anggun, ingin
melenyapkanmu. Seperti kasus yang kak alami. Kakak juga sudah pernah ingin
dilenyapkan wanita gila itu. Tapi, laporannya kak cabut. Karean saat itu kak
kasihan pada Mas Ardhi.”
Mulutnya Melati membola mendengar ucapan Embun. Benarkah
Itu? Benarkah Anggun pernah ingin membunuh Embun?
“Percaya sama kak, ayo ceritalah!” Embun tak henti-hentinya
mendesak Melati. Sebelum dia memutuskan untuk bertemu dengan Ardhi. Dia ahrus
mencari informasi dari Melati.
Melati semakin merasa tertekan, hal yang tidak disukainya,
harus dibahas. Air mata terus saja becucuran tak terbendung lagi. Embun meraih
__ADS_1
tisu dari atas meja belajarnya Melati dan memberi pada wanita malang itu.
Melati menarik napas dalam dan panjang, sambil terisak-isak.
Embun memebelai kepala wanita yang ditutupi hijab itu. Dia harus memberi kenyamanan
dan perlindungan, Agar Melati mau bicara.
“ Ma—lam, Malam i—tu,!” Tangis Melati semakin kencang. Dia
sampai tidak bisa bicara lagi. Embun mengangguk-angguk. Dia memahami kondisi
dan kejiwaan Melati saat ini. Dia tidak boleh memaksa Melati untuk bicara.
Perlu kesabaran extra, untuk mengungkap sebuah kasus.
“Iya, kenapa malam itu adekku sayang?” Embun tidak tega melihat
kesedihan dirawut wajahnya Melati. Dia pun akhirnya meraih Embun kepelukannya.
Mengusap lembut punggumg wanita lemah itu.
“Ma-lam itu tu—an Ar,
Tuan Ardhi merenggut kesucianku…! Huahuahua….. tangis Melati pecah, tubuhnya
bergetar hebat saat mengatakannya. Akhirnya beban berat itu tercurah juga.
Semoga Embun amanah, dan betul menepati janjinya, membantunya mendapatkan
keadilan.
“Astagfirullah…!” Embun tidak menyangka mantan kekasihnya itu
ternyata benar adalah pria bejat. Embun semakin menegratkan dekapannya pada
Melati yang lemah itu. Dia juga ikut menitikkan air mata. Kejadian malam saat
mereka menemukan Melati di tengah Malam, membuat Embun semakin kasihan pada
wanita itu.
“Apa pria berengsek itu memaksamu?” Embunmasih ingin cerita
detailnya. Melati mengangguk dalam dekapan Embun. Air mata semakin deras saja mengalir.
Peristiwa malam kelam itu melintas lagi di otaknya. “ Tuan
Ardhi memaksaku, saat itu tuan Ardhi datang ke kantor dalam keadaan mabuk
Melati sembari mengusap lembut punggungnya Melati. Dengan sabar menungguncerita
Melati berikutnya.
Embun sebenarnya sedikit terkejut, mendengar bahwa Ardhi
mabuk-mabukan. Karena setahu dia pria itu anti minuman itu.
”Tuan Ardhi jahat, ja-hat.. dia menipuku!” Melati memegangi
dadanya yang terasa sesak, mengingat kebaikan Ardhi yang kamuflase. Ternyata
kebaikannya itu, hanya untuk mengelabuhinya. Sehingga dia percaya saja akan
perkataan pria itu. Termasuk menipunya, dengan pura-pura memberikan pekerjaan
tambahan di kantor. Ternyata, itu semua dilakuakn pria itum agar menyekapnya di
kantor itu.
“Iya, iya sayang. Pria itu memang jahat. Makanya kita akan
kasih dia hukuman yang setimpal. Tapi, kamu harus benar-benar bisa diajak
kerjasama. Jangan nantinya kiata sudah maju, kamunya mundur ya?” Ucapan Embun
membuat Melati goyah. Dia jadi tidak yakin bisa melawan ARDHi . Dia pun
mengurai pelukan Embun.
“Ayo sayang cerita lagi. Nanti Kak bisa jadi saksimu di
pengadilan. Tenang saja, jangan takut.” Embun melap air matanya Melati di pipi
putihnya itu.
“Sakit kak, sakit, sedikitpun dia tidak menggubris
permohonanku untuk dilepaskan. Dia malah semakin menjadi-jadi melakukannya. Dia
juga marah-marah padaku, mengatakan aku tidak setia dan menyebut nama kakak
berulang kali dalam kemarahannya menggagahiku.”
__ADS_1
“APA…?” Embun tersentak hebat. Dia sampai membusungkan
dadanya, karena tidak percaya dengan apa yang didenagrnya dari mulutnya Melati.
Ardhi menyebut-nyebut namanya saat merenggut kesuciannya Melati. Ini gila,
kenapa dia jadiikut-ikutan disebut dalam perbuatan keji itu.
“Namaku? Apa kamu tidak salah dengar? Kenapa Mas Ardhi
menyebut-nyebut namaku?” Embun menggeleng lemah. Dia pun akhirnya sadar,
mungkin Mas Ardhinya itu sedang galau berat, akrena baru diputuskannya. Sebesar
itukah cintanya pria itu padanya. Mengetahui fakta itu, dada Embun terasa
sesak. Dia kembali diseret ke masa lalu. Dia teringat kisahnya dengan Ardhi.
Pria itu begitu baik padanya. Kali ini Melati yang jadi terheran-heran dan
bingung melihat Embun yang menangis dalam diam. Air mata bercucuran deras,
tanpa suara. Fakta yang baru diketahuinya ini, membuatnya kasihan pada Ardhi.
“Ceritakan lagi dek!” pinta Embun lemah, melap air matanya
cepat. Kenapa dia jadi merasa kasihan pada ardhi.
Melati kembali melap air matanya dengan tisu. “Setelah Tuan
Srdhi melampiaskan hasratnya. Nyonya besar datang bersama Anggun. Mereka menghajarku
dan ingin membunuhku. Tapi, nasib baik masih berpihak padaku. Aku bisa lolos
pada tengah malam itu dan akhirnya di tolong oleh kakak.” Embun langsung meraih
Melati kepelukannya. DI jadi merasa bersalah pada Melati. Bisa dipastikan,
Melati adalah korban. Ardhi yang tidak bisa move on mencari pelarian dengan
meminum minuman keras. Dan sialnya, Melati kena imbasnya.
“Apa kamu mencintai tuanArdhimu itu?” Melati langsung
berontak dalam rengkuhan Embun. Pertanyaan bodoh apaa itu?
“ Oohh iya maaf, kalau kak salah bicara.” Embun tersenyum
tipis. “Kak pikir kamu suka Mas Ardhi, kalau kamu suka Mas Ardhi. Kakak akan
bicara padanya, memintanya bertanggung jawab dengan perbuatannya. Jadi masalahnya
kita seelsaikan secara kekeluargaan saja. Tidak perlu di proses hukum. Gimana,
kamu mau?” Senyum manis Embunlangsung hilang disaat melihat Melati mengeleng.
Wanita itu menolak menikah dengan Ardhi.
“Kenapa? Kenapa kamu tidak mau menikah dengannya. Nanti kak
yang urus semuanya. Kakak janji, akan membuatmu jadi miliknya.” Lagi-lagi Melati
menggelengkan kepalanya kuat. Tidak mungkin dia menikah dengan Ardhi. Yang ada
kalau dia menikah dengan pria itu, maka dia bisa lenyap selamanya sari dunia
ini. Karena ada Ibu Jerniati yang tidak menyukainya.
“Tidak Kak, aku tidak mencintai tuan Ardhi. Aku mencintai
pria lain. Menikah dengan pria yang menodai kita, tidak menjamin kebahagian.
Aku dan tuan Ardhi bagai langit dan bumi. Diantara kami juga tidak ada rasa.
Awalnya aku simpatik pada tuan itu, karena dia baik. Tapi, sekarang penilaianku
terhadapnya sudah berubah. Bagiku dia bukanlah manusia. Aku tidak mau
menghancurkan hidupku lagi. Menikah dengannya bukan solusi terbaik.” Melati
menunduk lemah. Harapannya saat ini hanya pada Ilham.
“Kamu hamilkan? Di sisni ada anaknya Ardhi. Apa kamu mau
anakmu lahir tanapa ayah?” Embun semakin kasihan kepada Melati yang keras
kepala itu. Dia memegangi kedua lengan melati, menyadarkan wanita itu. Bahwa
hidup ini sangatlah kejam. Dia akan kena bulyan, akan dapat sanksi soal dari
masyarakat, karena hamil di luar nikah.
“ Mas Ilham mau menerima keadaanku kak!” Melati kembali
__ADS_1
menangis histeris. Itulah hidup, harus ada pilihan. Kita harus memilih yang
terbaik, agar jangan terjerumus lagi dalam kesedihan karena salah pilih.