DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Fakta terkuak


__ADS_3

Desakan embun membuat Melati ketakutan.  Dia yang masih berdiri di balik pintu kamar


yang baru saja ditutupnya gemetaran. Dia tidak mau membahas masalah ini.


Cukuplah hanya Ilham yang mengetahui semuanya. Tak ada gunanya orang lain tahu.


Karena, kebanyakan orang hanya ingin melihat kita sedih. Mana mungkin seorang


majikan mau ikut campur dalam urusan pribadi seorang pembantu.


“Kenapa Kakak menanyakan hal itu? Aku tidak hamil.” Melati


menunduk lemah. Dia tidak berani mengaku atau menceritakan semuanya.


Embun yang tadinya duduk di kursi meja belajarnya Melati,


akhirnya bangkit. Berjalan pelan penuh dengan penghayatan ke arah Melati. Dia


merangkul tubuh Melati yang ketakutan itu. “Bahasa tubuhmu ini adalah


jawabannya. Ceritakan pada kakak semuanya. Ceritakan kronologisnya seperti apa.


Kakak akan membantumu. Kalau benar mas ardhi melakukan pelecehan se8su8l


padamu. Kakak akan cari keadilan untukmu.” Melati yang sudah terduduk di tepi


ranjangnya, menatap sendu Embun yang juga duduk di sebelahnya.


Benarkah, jikalau dia menceritakannya pada Embunadalah jalan


terbaik. Melati kesusahan menelan ludahnya. Dia takut, setelah menceritakan


semuanya. Keadaan makin runyam.


“Percaya sama kak! Aku benar-benar menganggapmu saudara. Aku


akan membantumu Melati. Aku akan carikan keadilan untukmu. Ayo ceritalah!”


desakan Embun benar-benar membuat Melati tertekan. Tangannya yang bergetar


mengusap kasar wajahnya yang sudah mengeluarkan bintik-bintik cairan, terutama


di keningnya.


Melati memalingkan wajahnya, disaat Embun berusaha menatap


lekat wajah sembab wanita itu. “Percaya pada kakak. Aku akancari solusi


untukmu. Kenapa kamu masih ragu. Si anggun saja sudah kita penjarakan. Jado,


jangan ragukan kakakmu ini. Bila perlu kita akan hancurkan Si Ardhi berengsek


itu, bila dia nantinya terbukti bersalah dengan sengaja menodaimu.” Embun


begitu berrapi-api. Dia jadi kesal pada Ardhi. Dia tidak menyangka, Srdhi


sebejat itu. Syukur dia hanya pacaran satu bulan dengannya. Tapi, Kalau


dipikir_pikir dan dinilainya. Ardhi bukanlah pria seperti itu. Selama ini Ardhi


sopan dan begitu sayang padanya. Kenyataan-Kenyataan inilah yang membuatnya


pusing, dan ingin kejelasan. Apalagi saat di pesta tadi, Embun melihat


keputusasaan di rawut wajahnya Ardhi.


Embun meraih bahunya Melati dengan lembut. Mau tak mau,


Melati kini bersitatap dengan Embun. “Ayo ceritakan semuanya. Penjelasanmu di


pengadilan, saat Anggun menyerangmu, mencoba menghilangkan nyamu tidaklah masuk


akal. Pasti ada apa-apanya kamu dengan Mas Ardhi, sehingga Anggun, ingin


melenyapkanmu. Seperti kasus yang kak alami. Kakak juga sudah pernah ingin


dilenyapkan wanita gila itu. Tapi, laporannya kak cabut. Karean saat itu kak


kasihan pada Mas Ardhi.”


Mulutnya Melati membola mendengar ucapan Embun. Benarkah


Itu? Benarkah Anggun pernah ingin membunuh Embun?


“Percaya sama kak, ayo ceritalah!” Embun tak henti-hentinya


mendesak Melati. Sebelum dia memutuskan untuk bertemu dengan Ardhi. Dia ahrus


mencari informasi dari Melati.


Melati semakin merasa tertekan, hal yang tidak disukainya,


harus dibahas. Air mata terus saja becucuran tak terbendung lagi. Embun meraih

__ADS_1


tisu dari atas meja belajarnya Melati dan memberi pada wanita malang itu.


Melati menarik napas dalam dan panjang, sambil terisak-isak.


Embun memebelai kepala wanita yang ditutupi hijab itu. Dia harus memberi kenyamanan


dan perlindungan, Agar Melati mau bicara.


“ Ma—lam, Malam i—tu,!” Tangis Melati semakin kencang. Dia


sampai tidak bisa bicara lagi. Embun mengangguk-angguk. Dia memahami kondisi


dan kejiwaan Melati saat ini. Dia tidak boleh memaksa Melati untuk bicara.


Perlu kesabaran extra, untuk mengungkap sebuah kasus.


“Iya, kenapa malam itu adekku sayang?” Embun tidak tega melihat


kesedihan dirawut wajahnya Melati. Dia pun akhirnya meraih Embun kepelukannya.


Mengusap lembut punggumg wanita lemah itu.


“Ma-lam itu tu—an  Ar,


Tuan Ardhi merenggut kesucianku…! Huahuahua….. tangis Melati pecah, tubuhnya


bergetar hebat saat mengatakannya. Akhirnya beban berat itu tercurah juga.


Semoga Embun amanah, dan betul menepati janjinya, membantunya mendapatkan


keadilan.


“Astagfirullah…!” Embun tidak menyangka mantan kekasihnya itu


ternyata benar adalah pria bejat. Embun semakin menegratkan dekapannya pada


Melati yang lemah itu. Dia juga ikut menitikkan air mata. Kejadian malam saat


mereka menemukan Melati di tengah Malam, membuat Embun semakin kasihan pada


wanita itu.


“Apa pria berengsek itu memaksamu?” Embunmasih ingin cerita


detailnya. Melati mengangguk dalam dekapan Embun.  Air mata semakin deras saja mengalir.


Peristiwa malam kelam itu melintas lagi di otaknya. “ Tuan


Ardhi memaksaku, saat itu tuan Ardhi datang ke kantor dalam keadaan mabuk


Melati sembari mengusap lembut punggungnya Melati. Dengan sabar menungguncerita


Melati berikutnya.


Embun sebenarnya sedikit terkejut, mendengar bahwa Ardhi


mabuk-mabukan. Karena setahu dia pria itu anti minuman itu.


”Tuan Ardhi jahat, ja-hat.. dia menipuku!” Melati memegangi


dadanya yang terasa sesak, mengingat kebaikan Ardhi yang kamuflase. Ternyata


kebaikannya itu, hanya untuk mengelabuhinya. Sehingga dia percaya saja akan


perkataan pria itu. Termasuk menipunya, dengan pura-pura memberikan pekerjaan


tambahan di kantor. Ternyata, itu semua dilakuakn pria itum agar menyekapnya di


kantor itu.


“Iya, iya sayang. Pria itu memang jahat. Makanya kita akan


kasih dia hukuman yang setimpal. Tapi, kamu harus benar-benar bisa diajak


kerjasama. Jangan nantinya kiata sudah maju, kamunya mundur ya?” Ucapan Embun


membuat Melati goyah. Dia jadi tidak yakin bisa melawan ARDHi . Dia pun


mengurai pelukan Embun.


“Ayo sayang cerita lagi. Nanti Kak bisa jadi saksimu di


pengadilan. Tenang saja, jangan takut.” Embun melap air matanya Melati di pipi


putihnya itu.


“Sakit kak, sakit, sedikitpun dia tidak menggubris


permohonanku untuk dilepaskan. Dia malah semakin menjadi-jadi melakukannya. Dia


juga marah-marah padaku, mengatakan aku tidak setia dan menyebut nama kakak


berulang kali dalam kemarahannya menggagahiku.”

__ADS_1


“APA…?” Embun tersentak hebat. Dia sampai membusungkan


dadanya, karena tidak percaya dengan apa yang didenagrnya dari mulutnya Melati.


Ardhi menyebut-nyebut namanya saat merenggut kesuciannya Melati. Ini gila,


kenapa dia jadiikut-ikutan disebut dalam perbuatan keji itu.


“Namaku? Apa kamu tidak salah dengar? Kenapa Mas Ardhi


menyebut-nyebut namaku?” Embun menggeleng lemah. Dia pun akhirnya sadar,


mungkin Mas Ardhinya itu sedang galau berat, akrena baru diputuskannya. Sebesar


itukah cintanya pria itu padanya. Mengetahui fakta itu, dada Embun terasa


sesak. Dia kembali diseret ke masa lalu. Dia teringat kisahnya dengan Ardhi.


Pria itu begitu baik padanya. Kali ini Melati yang jadi terheran-heran dan


bingung melihat Embun yang menangis dalam diam. Air mata bercucuran deras,


tanpa suara. Fakta yang baru diketahuinya ini, membuatnya kasihan pada Ardhi.


“Ceritakan lagi dek!” pinta Embun lemah, melap air matanya


cepat. Kenapa dia jadi merasa kasihan pada ardhi.


Melati kembali melap air matanya dengan tisu. “Setelah Tuan


Srdhi melampiaskan hasratnya. Nyonya besar datang bersama Anggun. Mereka menghajarku


dan ingin membunuhku. Tapi, nasib baik masih berpihak padaku. Aku bisa lolos


pada tengah malam itu dan akhirnya di tolong oleh kakak.” Embun langsung meraih


Melati kepelukannya. DI jadi merasa bersalah pada Melati. Bisa dipastikan,


Melati adalah korban. Ardhi yang tidak bisa move on mencari pelarian dengan


meminum minuman keras. Dan sialnya, Melati kena imbasnya.


“Apa kamu mencintai tuanArdhimu itu?” Melati langsung


berontak dalam rengkuhan Embun. Pertanyaan bodoh apaa itu?


“ Oohh iya maaf, kalau kak salah bicara.” Embun tersenyum


tipis. “Kak pikir kamu suka Mas Ardhi, kalau kamu suka Mas Ardhi. Kakak akan


bicara padanya, memintanya bertanggung jawab dengan perbuatannya. Jadi masalahnya


kita seelsaikan secara kekeluargaan saja. Tidak perlu di proses hukum. Gimana,


kamu mau?” Senyum manis Embunlangsung hilang disaat melihat Melati mengeleng.


Wanita itu menolak menikah dengan Ardhi.


“Kenapa? Kenapa kamu tidak mau menikah dengannya. Nanti kak


yang urus semuanya. Kakak janji, akan membuatmu jadi miliknya.” Lagi-lagi Melati


menggelengkan kepalanya kuat. Tidak mungkin dia menikah dengan Ardhi. Yang ada


kalau dia menikah dengan pria itu, maka dia bisa lenyap selamanya sari dunia


ini. Karena ada Ibu Jerniati yang tidak menyukainya.


“Tidak Kak, aku tidak mencintai tuan Ardhi. Aku mencintai


pria lain. Menikah dengan pria yang menodai kita, tidak menjamin kebahagian.


Aku dan tuan Ardhi bagai langit dan bumi. Diantara kami juga tidak ada rasa.


Awalnya aku simpatik pada tuan itu, karena dia baik. Tapi, sekarang penilaianku


terhadapnya sudah berubah. Bagiku dia bukanlah manusia. Aku tidak mau


menghancurkan hidupku lagi. Menikah dengannya bukan solusi terbaik.” Melati


menunduk lemah. Harapannya saat ini hanya pada Ilham.


“Kamu hamilkan? Di sisni ada anaknya Ardhi. Apa kamu mau


anakmu lahir tanapa ayah?” Embun semakin kasihan kepada Melati yang keras


kepala itu. Dia memegangi kedua lengan melati, menyadarkan wanita itu. Bahwa


hidup ini sangatlah kejam. Dia akan kena bulyan, akan dapat sanksi soal dari


masyarakat, karena hamil di luar nikah.


“ Mas Ilham mau menerima keadaanku kak!” Melati kembali

__ADS_1


menangis histeris. Itulah hidup, harus ada pilihan. Kita harus memilih yang


terbaik, agar jangan terjerumus lagi dalam kesedihan karena salah pilih.


__ADS_2