
"Ayah, ayah jangan bercanda. Melati sedang mengandung anakku. Wanita yang hamil tidak bisa diceraikan. Ayah tahu hukum. Tapi, kenapa ayah malah bicara seperti itu padaku?" Ardhi sungguh tidak percaya dengan ucapan ayah mertuanya itu. Ayah mertuanya itu kenapa Semarah itu padanya. Dia sudah menjelaskan semua. Biasanya, kalau sudah dijelaskan. Pak Zainuddin tidak akan ngeyel seperti saat ini.
"Mau tahu alasanku kenapa ingin kamu berpisah dengan Melati?" Menatap tajam Ardhi yang hanya menganggukkan kepalanya, pertanda penasaran dengan ucapan sang ayah mertua.
"Kamu duduk di sini. Jangan coba-coba untk menerobos ke dalam. Kalau kau masih ingin menatap hari esok."
Deg..
Ardhi benar-benar terkejut dengan ucapan dan sikap ayahnya. Sikap ayah mertuanya itu, seperti bukan Ayah Zainuddin. Dengan perasaan yang semakin tidak tenang. Ardhi hanya bisa menatap punggung pria tua itu masuk ke dalam. Hatinya sungguh penasaran, apa yang ingin dilakukan ayah mertuanya itu selanjutnya.
Ardhi duduk dengan tidak tenangnya. Menunggu Pak Zainuddin keluar. Pria itu memegangi wajahnya yang memang bank belur dibuat pak satpam. Dia bahkan bisa melihat pantulan wajah nya yang memear dan memerah di kaca dinding rumah pak Zainuddin.
Ardhi terlonjak kaget. Tiba-tiba beberapa lembar foto di lemparkan ke atas meja, tepat dihadapan Ardhi. Pria itu menoleh ke arah Pak Zainuddin yang masih berdiri dengan raut wajah kesal, benci dan sedih. Bergabung jadi satu.
"Lihat, lihat foto itu baik-baik." Kedua mata Ardhi membulat penuh melihat foto itu. Darahnya mendidih melihatnya. Itu kan fotonya Melati. Foto hasil visum dengan tanggal yang berbeda. Foto yang pertama adalah hasil visum, saat dia merenggut kesucian wanita itu. Saat itu Ardhi juga sudah lihat wajah Melati sewaktu dia menjenguk wanita itu ke rumah sakit. Terus foto lainnya dengan tanggal yang berbeda juga. Berarti si Melati dua kali di aniaya.
"Aku juga akan melaporkanmu ke pihak berwajib. Atas tindakan pemerkosaan, dan juga ibumu. Dengan tuduhan percobaan pembunuhan."
"Ayah? apa-apaan ini. Kenapa yang sudah berlalu diungkit lagi. Aku sudah jadi suaminya. Mana mungkin di penjarakan lagi?" Ardhi naik pitam, ini sudah keterlaluan.
"Di sini, di sini sakit Ardhi." Pak Zainuddin menepuk kuat dadanya yang memang terasa sesak.
"Aku tidak tahu, kalau putriku begitu menderita saat jadi ART di rumahmu. Hatiku sakit membayangkan penderitaannya. Aku, aku yang membuatmu jadi seperti ini. Dan Ibumu dan dirimu membuat luka yang amat dalam di hati putriku. Sehingga dia traumah." Ucap Pak Zainuddin sedih, pria itu menitikkan air mata.
__ADS_1
"Ayah dendam padaku? ingin memenjarakanku. Menghancurkan Bisnisku, memenjarakan ibuku juga. Lakukanlah ayah. Tapi, kumohon, izinkan aku untuk bertemu Melati sekali saja." Ardhi pun mengatupkan kedua tangannya. Menatap mengibah sang ayah mertua.
"Melati tidak ingin bertemu denganmu lagi. Sebaiknya kamu pergi dari sini dan bersiap-siaplah, kamu akan ditahan pihak berwajib." Ardhi menatap tajam pak Zainuddin. Dia heran, kenapa ayahnya itu tidak bersikap bijak dalam menanggapi masalah ini. Sebegitu kecewanya pria tua dihadapannya. Padahal Ardhi selama ini selalu berbuat baik pada Melati. Iya memang sang ibu sudah kelewat batas. Tapi, kenapa dia yang jadi kena imbasnya.
"Sana kamu urus ibumu. Kamu anak yang berbakti kan? tidak mau mengecewakan sang ibu. Walau istrimu sudah tersakiti."
"Aku tidak pernah menyakiti Melati Ayah. Aku sayang dan cinta sama dia. Mana mungkin aku menyakitinya. Ayah bisa tanyakan pada Melati, sewaktu dia bekerja di rumah. Aku juga Selakau bersikap baik padanya. Soal ibu jahat kepada Melati. Aku juga baru tahu, setelah kami akan menikah. Untuk kesalahan ibu, saya mewakilinya minta maaf " Ardhi langsung memotong ucapan sang ayah mertuanya.
Pak Zainuddin memalingkan wajahnya. Dia tidak tahan melihat keadaan Ardhi yang memprihatinkan saat ini. Wajah babak belur dan menurun harga dirinya untuk kesalahan ibunya.
"Kamu pergilah dari rumah ini. Aku tidak akan memberikan Melati lagi untukmu. Ada pria yang benar-benar mencintainya. Mau menerima keadaannya walau dia mengandung anak orang lain. Itu baru namanya pria sejati. Aku ragu padamu Ardhi. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Jadi bisa saja, nantinya kelakuanmu, sama dengan ibumu. Sebelum itu terjadi. Aku harus menjaga putriku mulai dari sekarang. Kamu pergilah, jangan sampai aku bertindak kasar. Karena kamu tidak bis dibilangin." Oak Ardhi langsung melangkah, meniggalkan Ardhi. Saat itu Ardhi langsung mengejar Pak Zainuddin. Tapi, langkah dihentikan bodyguard Pak Zainuddin.
Ardhi benar-benar bisa gila, kenapa semuanya jadi runyam begini.
"Pak Ardhi silahkan keluar dari rumah ini. Jangan paksa kami untuk berbuat kekerasan." Ardhi berontak dari belitan tangan kekar bodyguard di lengannya.
"Aku tidak mau pergi dari sini, sebelum bertemu dengan istriku." Ucapnya berusaha lepas dari ketiga pria kekar itu.
Duar....
Duar....
Duar..
__ADS_1
Suara Ardhi sama kuatnya dengan suara petir di sore hari itu. Langit sudah gelap ditutupi awan pekat, hujan petir sepertinya akan turun.
Para bodyguard memperhatikan langit yang kelabu. Mereka harus selesai melaksanakan tugas, sebelum hujan turun. Dan waktu magrib sudah akan tiba. Tidak ingin gagal dalam melaksanakan perintah Pak Zainuddin. Ketiga pria itu menggotong tubuh Ardhi. Tentu saja Ardhi terus berontak. Dia sungguh kesal, dia diperlakukan seperti tidak manusia saja.
"Turunkan saya, lepaskan! saya bisa berjalan sendiri...!" teriaknya berulang kali. Dan tepat didepan gerbang rumah. Dia pun diturun dengan kasar. Karena gerakan Ardhi yang masih berontak.
Ardhi yang cerdas, bersikap seolah menepati ucapannya. Sehingga ke tiga bodyguard itu, kurang waspada dan saat itulah, Ardhi mulai melancarkan serangannya. Menendang dengan cepat dua bodyguard sehingga tersungkur dan membenturkan kepala bodyguard satunya lagi ke pintu gerbang besi hitam itu. Sebelum kedua bodyguard yang tersungkur itu bangkit. Dia kembali menghadiahkan satu tendangan ke dada kedua pria itu. Dan dengan cepat menangkis tinju bodyguard lainnya. Pertarungan sengit tiga lawan satu terus berlanjut ditemani suara Adzan dan hujan yang lebat. Kilatan petir dan suara amukan Ardhi menciptakan suasana yang semakin menegangkan.
Melati yang mengintip di balik tirai kamarnya dibuat ketakutan dan sedih. Dia tidak menyangka suaminya itu, akan mempertahankannya.
Dia memang sempat menguping pembicaraan sang suami dan Ibu Jerniati. Saat dirinya berjalan untuk mencari sang suami ke ruang makan. Saat melintas di depan kamar sang ibu mertua. Dia pun akhirnya menguping. Dia pun pergi cepat dari tempat itu. Disaat melihat sang ayah dari kejauhan berjalan ke arah kamar itu. Jadi, saat itu Melati memang mendengar ucapan sang suami yang tidak menerima atau menolak permintaan sang ibu, terkait Ardhi yang ingin dinikahkan dengan sang pengacara Lidya.
Melati memilih pergi ke kampus dengan perasaan yang kalut dan tidak tenang. Dia jadi ragu pada sang suami. Jadi, disaat sang ayah datang ke kampus untuk menjemputnya, ia pun mengiyakan ajakan sang ayah. Karena, dia ingin berkonsultasi dengan sang ayah.
Setelah konsultasi dengan sang ayah. Melati bukannya jadi tenang. Malah semakin panik dan kalut Karena sang ayah ingin dirinya pisah dengan Ardhi. Tentu saja Melati tidak setuju dengan hal itu. Tapi, keyakinan Melati kembali goyah disaat sang ayah mengatakan. Bahwa, bisa saja, nantinya Ardhi, bersikap seperti ibunya disaat mengalami puber selanjutnya.
Ucapan sang ayah itulah yang membuatnya, jadi diam. Belum bisa mengambil keputusan. Dia takut juga, jika apa yang ditakutkan sang ayah terjadi nantinya. Makanya dia ingin menenangkan diri. Meminta petunjuk kepada sang Khalik. Tapi, lihatlah sekarang. Perjuangan sang suami untuk berjumpa dengannya penuh dengan pengorbanan. Suaminya itu sudah babak belur.
TBC.
vote ya say 😍😁🙏
Adaloh pria yang begitu mencintai sang ibu. Walau ibunya jahat. Apalagi mertua yang bermuka dua banyak. JADILAH ORANG TUA YANG BIJAK, YANG JANGAN MERASA ANAKNYA YANG PALING BENAR, DAN ANAK ORANG LAIN SELALU SALAH.
__ADS_1