DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Tidak mau kepo


__ADS_3

"Ap--pa tuan? laptop, ti---dak usah tuan. Aku tidak punya uang untuk membayarnya." Melati tergugup saat menjawab ucapan majikannya itu. Dia merasa tidak pantas mendapatkan barang dari majikannya itu.


"Yang bilang kamu untuk bayarnya siapa? ada saya bilang dibayar? tidak kan?" Melati melirik-lirik Ardhi dengan ekor matanya, kini Ardhi berjalan ke arahnya. Pria itu ternyata sudah selesai berolah raga.


Handuk kecil berwarna coklat melingkar di leher kokohnya. Melati memperhatikan seksama Ardhi yang melap keringat yang menempel di kulit wajah dan sekitar lehernya. Tetesan-tetesan keringat yang diterpa sinar matahari itu menghasilkan pelangi. Pagi ini Ardhi sang majikan, terlihat begitu mempesona. Eehh, bukan pagi ini saja, sebenarnya majikannya itu selalu mempesona tiap hari. Tapi, Melati merasa ada sesuatu hal aneh di hatinya. Sejak melihat keterpurukan majikannya itu kemarin sore.


Apakah wanita itu jadi simpatik dan mengasihi majikannya itu? iya, Melati kasihan pada pria sempurna dihadapannya.


"Maaf tuan, tapi aku merasa jadi tidak enak hati. Aku takut laptop tuan nanti rusak atau hilang, akunya gak bisa ganti." Tolak Melati halus, dia tidak mau berurusan panjang dengan majikannya itu. Seumpama laptop itu hilang dan majikannya minta ganti. Dia gantinya pakai apa? gajinya saja 3/4 dikirim ke kampung.


Lebih baik dia ketik makalah di warnet, atau minta tolong sama Ilham, untuk minjamkan laptopnya saat mereka di kampus. Ya Ilham sering membantu Melati. Bahkan mereka sering pergi kuliah bareng. Karena, disaat Melati menunggu angkutan, sering sekali Ilham melintas.


"Aku kasih buat kamu, bukan minjam." Ardhi berdiri tepat dihadapan Melati. Wanita itu langsung menunduk. Merasa malu melihat tubuh Ardhi yang menawan itu.


"Tidak tuan, saya lagi tidak membutuhkannya." Sudah terlalu banyak kebaikan yang diterima Melati dari majikannya itu. Dia tidak mau terlalu banyak berhutang Budi.


Melati tahu, Ardhi sang majikan hanya kasihan padanya. Buktinya sepulangan Ardhi dari Singapura. Dia sering mengajak Melati pergi bareng ke kampus. Karena kantor dan kampusnya Melati searah. Kata sang majikan sih, agar dia irit pengeluaran. Kan lumayan, ongkos ke kampus bisa buat keperluan lainnya.


"Tidak ada penolakan. Cepat ambil di ruang kerja saya. Setelah itu kamu keluar. Saya mau mandi." Kalau sudah majikannya bicara seperti itu, maka tidak boleh dibantah.


Melati menundukkan kepalanya, sebagai ungkapan terima kasih yang amat dalam.


"Terimakasih tuan, terima kasih banyak. Sebagai imbalan dari kebaikan tuan. Saya akan mendoakan tuan, agar kelak dapat jodoh yang begitu baik, Sholehah, dan cantik." Ucapan Melati yang polos, menurut Ardhi sangatlah lucu. Dia pun tertawa lebar penuh kebahagiaan.

__ADS_1


"Terimakasih, saya yakin. Doa mu itu akan diijabah Allah." Ucap Ardhi tersenyum tipis. Ardhi pun melenggang pergi ke kamar mandi dengan perasaan bahagia. Sedangkan Melati berjalan cepat ke ruang kerja majikannya itu. Mendekati meja dengan hati riang gembira.


Dia sudah punya laptop canggih, dia tidak perlu lagi ke warnet untuk mengerjakan tugas. Dia juga tidak akan merepotkan Abang Ilham


Pria yang sangat disukainya itu.


"Kenapa tidak ada foto tuan Ardhi dan kekasihnya itu disini? biasanya bertengger di atas meja ini?" Melati memperhatikan seluruh sudut ruang kerjanya Ardhi. Ya foto Ardhi dan kekasihnya yaitu Embun, sudah tidak ada satu bingkaipun di ruangan itu.


"Apa tuan Ardhi benar-benar ditinggalkan kekasihnya itu? kasihan sekali tuan Ardhi, dia kan begitu mencintai wanita itu." Melati bermonolog, tangannya mengusap-usap laptop yang ada didekapannya.


"Aahhh... untuk apa aku memikirkan masalah orang lain. Untuk apa kepo pada masalah majikan. Tuan itu tampan, kaya. Pasti banyak wanita yang mau jadi pasangannya. Termasuk Nona Anggun." Lagi-lagi Melati bermonolog. Dia pun keluar dai kamarnya Ardhi dengan senyum sumringah.


"Ya Allah, terima kasih atas karuniamu." Ucapnya, menyimpan laptop itu di tas ranselnya. Dia pun bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Mengganti pakaian yang lebih formal, yaitu tunik liris merah, dipadu rok plisket mayung. Dengan ciri khasnya memakai hijab yang besar, menutupi bagian dada.


"BI, Tuan Ardhi belum datang ya?" tanya Melati heran, kenapa majikannya itu belum turun juga.


"Sudah, tapi membelok ke kamar nyonya besar." Ucap Bi Kokom, menyimpan makanan di atas nampan.


"Biar aku yang bawakan Bi." Kedua sudut bibir Melati tertarik simpul, sehingga menciptakan senyuman manis. Bagi siapa yang melihat senyuman itu, pasti setuju, kalau Melati adalah wanita cantik, ayu dan manis.


"Gak usah, nyonya tidak menyukaimu. Bisa-bisa nanti kamu kena marah disana. Kamu disini saja, bantuin ArT yang lain, kalau kamu belum mau pergi kuliah.


"Iya Bi." Jawab Melati sendu. Ya Ibunya Ardhi tidak menyukai Melati. Karena, Ardhi menetapkannya sebagai pelayan pribadinya. Ibunya Ardhi takut, Melati akan menggoda putra semata wayangnya itu. Sehingga dia membenci Melati. Begitulah kesimpulan cerita yang didapatnya dari Bi Kokom. Disaat Melati yang selalu kena marah Ibunya Ardhi.

__ADS_1


Melati penasaran, sehingga bertanya pada Bi kokom kenapa ibu dari majikannya itu membencinya.


"Ya ampyun, ibunya Ardhi parnoan banget. Mana mungkin pembantu dilirik oleh pria sempurna seperti tuan Ardhi. Mana level dia sama pembantu. Oalah Nyonya!" Melati pun mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan tempat para pembantu dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian wanita itu, mengambil makanan untuk sarapannya.


Setelah sarapan, sang majikan tak kunjung keluar dari kamar nyonya besar.


"Mel, kamu kalau mau ke kampus, berangkat saja. Biar Bibi yang beresin meja makannya tuan nanti." Melati senang mendengar ucapan Bi kokom itu. Menunggu sang majikan selesai makan, bisa-bisa membuatnya terlambat ke kampus.


Melati meraih tangan Bi Kokom dan menyalimnya. "Terimakasih Bi " Bi Kokom sudah Melati anggap sebagai ibu sendiri. Walau Bi Kokom kadang ketus dan kejam padanya saat bicara. Melati tidak pernah memasukkannya ke dalam hati. Dia tahu Bi kokom punya hati yang baik, walau cara bicara yang tegas dan terlihat kasar.


"Iya, sana cepat. Nanti kamu telat lagi." Bi kokom tersenyum. Melati membalas senyuman itu dengan penuh ketulusan.


Sesampainya di kampus, Melati melangkah lebar melewati gerbang pintu 2 kampus itu dengan semangat. Di dalam tas ransel warna hitam motif Chanel itu, sudah berisi laptop mahal.


"MELATI..!" suara cempreng dengan penekanan huruf E yang kental, membuat orang menoleh pada wanita itu. Dari suara wanita itu saja, orang sudah tahu, kalau dia suku Batak.


"Apa kau, Apa lihat-lihat? bah, bah... Ku congkel mata kau nanti." Wanita yang bernama Butet Nabagak Samosir , itu merepet kepada orang-orang yang mengejek cara bicara si Butet yang logat bataknya kentara sekali.


"Butet," Melati membalik badan, menyambut kawan akrabnya itu. Maklumlah mereka jadi akrab, sejak ospek perkenalan mahasiswa baru. Butet, sering jadi bahan perbincangan, karena karakternya yang keras. Hanya Melatilah yang bisa menerima Butet apa adanya.


Melati juga dulu saat pertama sekali datang ke kota Medan, sering diejek. Karena cara bicara yang kentara sekali logat bataknya. Maklumlah di rumah, Melati dalam kesehariannya berbahasa daerah. Tapi, sekarang cara bicara Melati sudah lebih halus. Dan penekanan huruf E, juga sudah samar.


TBC

__ADS_1


__ADS_2