DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Pura-pura perhatian


__ADS_3

Si Butet terbengong-bengong melihat mobil mewah merk Mercedes warna hitam mengkilap di hadapannya. Butet yang tidak tahu malu itu, langsung masuk di jok belakang supir. Dia penasaran dengan Melati. Kenapa majikannya menjemput nya segala. Dia juga ingin merasakan naik mobil mewah.


"Asyik juga jadi kamu Mel. Sang majikan menjemput ke kampus segala." Si Butet menepuk pelan paha Melati, sehingga Melati terlonjak kaget dengan kelakuan sahabat nya itu. Dia memegangi jantungnya yang hendak copot dari tempat nya itu. Melati menatap kesal pada Butet. Memilih tidak menanggapi ucapan si Butet.


Ardhi yang duduk di sebelah supir hanya melirik, sesekali Si Melati dan si Butet dari kaca spion. Kehadiran si Butet di dalam mobil itu, jadi riwuh.


"Asi sip sajoho, kepo Hian AU sannarion. Aha hubunganmu dohot majikanmi?" Si Butet tidak akan diam, sebelum mendapatkan jawaban yang jelas dari si Melati. (Kenapa kamu diam saja. Kepo banget aku sekarang. Apa hubunganmu dengan majikanmu itu.)


Si Butet menggunakan bahasa Batak. Dia tidak mau Ardhi mengetahui apa yang ditanyakannya pada temannya itu. Tapi, tetap di Melati memilih diam. Si Butet kesal, sahabat nya itu mengacuhkannya. Dia pun akhirnya memilih diam dengan wajah masamnya.


"Abang tampan yang pakai masker bibir tersenyum, jalan mau ke kost an ku sudah lewat." Ujar si Butet tersenyum tipis. Walau moodnya jadi buruk, karena Melati mengabaikannya. Dia harus tetap bersikap ramah pada pria yang memberinya tumpangan.


Ardhi menoleh ke arah si Butet. "Oh ya, jadi kita muter nih. Atau adek cantik, mau ikut bareng kita?" Melati terbengong mendengar ucapan Ardhi. Dia akhirnya menoleh ke arah si Butet yang nampak tiang gembira itu.


Melati menatap tajam si Butet, memberi kode tidak usah ikut. Melati takut, Ardhi keceplosan nantinya. Dia tidak mau orang lain tahu, tentang dirinya yang hamil karena diperk*osa.


"Eemmm.... mau dong Abang ganteng." Jawab si Butet dengan sumringah. Bodoh sekali dia menolak tawaran hang out.


"Kalian maunya ke mana?" tawar Ardhi masih memperhatikan kedua wanita beda karakter itu. Ardhi sengaja mendekatkan diri dengan Melati. Karena, Tara yang memberi usul itu, tadi pagi saat mereka berbincang-bincang di ruang tamu.


Tara mengatakan itu, agar Melati tidak menolak menikah dengannya. Karena ada Ilham yang mau menikah dengan Melati. Kalau Ardhi menunjukkan sikap perhatian, siapa tahu penilaian buruk Melati pada Ardhi berubah.


"Ke Mall yang paling megah itu ya Abang ganteng." Celotoh Si Butet, tak tahu malu. Dia selalu saja menggoda Ardhi.


"Ok cantik." Ardhi mengatakan tempat tujuan mereka pada sang supir.


Sesampainya di Mall yang dimaksud si Butet. Dia langsung keluar dari mobil dengan semangatnya. Sedangkan Melati yang dari tadi nampak lemas itu. Tetap diam ditempat.


Ardhi membuka pintu mobil untuk Melati. Berharap Melati keluar dari dalam mobil. Tapi, nyatanya si Melati tetap bergeming di tempat. Mendapati Melati tak kunjung keluar. Ardhi menunduk, menatap ke arah Melati. Sontak pria itu terkejut melihat keadaan Melati yang wajahnya pucat pasi dengan butiran-butiran air bening memenuhi kening wanita itu.


"Kamu kenapa?" Ardhi nampak mengkhawatirkan Melati. Si Butet pun memperhatikan kawannya dari pintu mobil yang terbuka di sebelahnya.

__ADS_1


"Kamu sakit Mel?" tanya Si Butet tak kalah paniknya.


Melati masih saja diam sambil meringis kesakitan. Dia memegangi kepalanya yang terasa sakit. Perutnya terasa seperti diaduk-aduk.


Melati beranjak dari duduknya dengan menutup mulutnya. Ardhi langsung menjauh, memberi jalan pada Melati.


Huuuoooekkkk.... Huuoooekkkk....


Melati memuntahkan isi perutnya. Rasanya begitu sakit, saat seluruh makanan yang ada di lambungnya itu dipaksa keluar.


Huooekk... Huooekk... Huuooekkkk....


Si Butet langsung membantu Melati untuk mengeluarkan isi perutnya. Memijat tengkuk wanita itu dengan lembut. Sedangkan Ardhi hanya memperhatikan Melati dengan terbengong-bengong. Dia merasa enggan untuk ikut campur.


Huuoooeekk.... Huuooekkk... Muntahan kali ini sangat menyakitkan. Karena isi perut wanita itu sudah keluar semua. Tetapi tubuhnya masih tetap ingin mengeluarkan isi perutnya yang kosong. Melati sampai memegangi perutnya yang terasa sangat sakit itu.


"Tet, bawa aku ke toilet." Ucap Melati lirih dengan air mata yang sudah bercucuran membasahi pipinya.


Si Butet celingak-celinguk, memperhatikan sekitar. Pasalnya tempat mereka sekarang sangat jauh dari toilet.


Ardhi yang dari terbengong, dikejutkan dengan teriakan Si Butet.


"Woi Abang, ambilkan air minum dong?! bengong saja dari tadi. Kayak keserupan." Ketus si Butet, yang kesal lihat Ardhi yang dari tadi hanya menonton saja.


Ardhi pun mengambil air mineral botol kemasan dari mobilnya. Menyodorkannya pada Melati yang lemah tak bertenaga itu. Bahkan kini Melati merasa tulang-tulangnya sudah lagu, tak mampu lagi menopang tubuhnya.


"Kasihkan minum dong bang. Gak lihat apa si Melati sudah mau tumbang. Aku lagi menahan tubuhnya ini." Ujar si Butet. Ardhi seperti anak buahnya si Butet saja sekarang. Patuh kepada perintah si Butet.


Ardhi seperti itu, karena sedang kalut dan banyak pikiran. Dia bingung dengan dirinya sendiri. Awalnya dia ingin menikah dengan Melati, hanya karena ingin bertanggung jawab, atas perbuatannya. Tapi, melihat keadaan Melati yang lemah. Membuatnya jadi bingung dengan keputusan awalnya.


Haruskah dia menseriusin hubungannya dengan Melati. Haruskah dia membuka hatinya. Agar tidak canggung kepada pembantunya itu. Karena jujur, Ardhi merasa canggung dan enggan pada pembantunya itu. Karena, dia tahu Melati tidak mencintainya.

__ADS_1


"Kita ke rumah sakit." Ardhi berjalan ke arah mobilnya. Sedangkan si Butet dan Melati masih berdiri di tempat. Si bUtet masih memegangi tubuh Melati agar tidak tumbang.


"Ayo jalan Mel." Si Butet mencoba memapah Melati.


"Mel, aku gak ada tenaga. Kepala ku pusing, aku mau jatuh."


Bruggggkkk...


Melati terjatuh di lantai parkiran. Si Butet menoleh ke arah mobilnya Ardhi. Pria sedang memegang handle pintu, hendak masuk ke dalam mobil.


"Gila itu majikan loe. Tujuan dia ajak kita jalan-jalan apa sih? mana bisa aku gendong kamu Mel." Ucap si Butet keras. Ardhi pun mendengar ucapan si Butet. Pria itu akhirnya menoleh ke arah kedua wanita itu. Si Butet sedang merangkul Melati dari belakang. Si Melati tidak punya tenaga untuk berjalan. Kepala nya pusing tujuh keliling.


Ardhi pun menghampiri keduanya. Pria itu hendak membopong Melati. " Tidak usah tuan. Kami naik taksi saja." Tolak Melati lemah. Di menoleh ke kakinya. Gamis bagian bawahnya sudah kena material muntahannya. Bahkan muntahnya Melati mengenai flatshoes nya.


"Kenapa ingin naik taxi Mel?" Si Butet bingung dengan temannya.


"Aku kotor Tuan. Nanti mobil tuan jadi bau." Jawab Melati dengan lemah.


Ardhi tidak menanggapi ucapan si Melati. Dia pun membopong Melati dan mendudukkkannya di jok belakang supir. Dengan cepat si Butet duduk di sebelahnya Melati.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Banyak sekali hal yang ingin ditanyakan di Butet. Tapi, dia urung bertanya. karena, kondisinya tidak memungkinkan.


Sedangkan Melati memilih diam. Perutnya sudah terasa di aduk-aduk. Mules dan sakit, dia berharap agar masuk ke kamar mandi.


"Pak, antarkan adik ini pulang." Ujar Ardhi ke supirnya. Si Butet dibuat heran. Kenapa dia disuruh pulang. Dia masih ingin menjaga dan mengetahui keadaan Melati.


"Aku mau temani Melati ke dalam." Si Butet, tidak mau disuruh pulang. Dia melihat ke arah Melati yang diam saja. Dia tidak tahu bahwa si Melati sudah ingin BAB.


"Tidak perlu, adik pulang saja." Ardhi pun akhirnya membopong Melati masuk ke IGD.


"Tu--- an, tuan, aku ingin ke kamar mandi sekarang!"

__ADS_1


TBC.


Like, coment positif dan vote ya say.❤️


__ADS_2