
Di sebuah kamar hotel, telah duduk dua pria dengan rawut wajah serius serta was-was. Dia adalah Pak Samsul dan Ardhi. Pak Samsul meminta waktu sebentar kepada Ardhi untuk menyampaikan sebuah fakta mengenai Melati.
"Ini terimalah." Pak Samsul memberikan selembar kertas HVS yang di dalamnya ada kalimat ucapan ijab kabul kepada Ardhi, rawut wajah sedihnya Pak Samsul membuat Ardhi semakin heran. Pria tua yang pakai peci hitam itu seolah tidak senang putrinya menikah.
Sang Asisten Rudi, meminta Pak Samsul menuliskan nama lengkap beliau. Karena, Ardhi tidak tahu nama orang tuanya Melati. Disaat itulah, Pak Samsul merasa harus berterus terang tentang siapa Melati sebenarnya.
"Eehhmmm.... Kenapa bukan bapak yang jadi wali nikahnya Melati. Kenapa diberikan izin pada wali hakim?" Ardhi benar-benar dibuat penasaran sekaligus cemas.
"Karena, saya tidak bisa jadi walinya. Melati bukan putri kandung saya." Pak Samsul melepas kaca matanya. Melap matanya yang sudah berair itu. Kemudian pria yang kulitnya hitam karena disengat cahaya matahari setiap hari, menghela napas panjang dan menghembuskannya pelan.
Fakta ini hanya Pak Samsul dan istrinya yang tahu. Orang kampung, tahunya Melati adalah anak kandung pasangan Pak Samsul dan Ibu Khadijah. Pria tua itu tidak mau mengaku-ngaku sebagai orang tua kandungnya Melati di hadapan Allah. Bisa-bisa pernikahan Melati tidak sah dimata agama.
"Melati tidak tahu fakta ini Nak." Pria itu langsung menyeka matanya yang terus mengeluarkan cairan bening itu. Ada rasa sedih serta haru, Melati menikah dengan pria baik serta kaya raya. " Bapak tidak menyangka, Melati akan menikah secepat ini " Kini pria tua yang lagi sedih itu, memegang tangan Ardhi. Memohon pada pria itu, agar benar-benar menjaga Melati dengan baik, karena, tanggung jawab terhadap seorang wanita akan berpindah dari ayahnya ke suaminya. Disaat dia telah menikah.
Fakta ini benar-benar membuat Ardhi semakin khawatir. Kenapa harus sekarang fakta ini terungkap. Bagaimana reaksi Melati nantinya, disaat Ijab kabul, dia malah diwalikan kepada wali hakim.
Ardhi tersenyum pada Pak Samsul yang masih menggenggam tangannya. Saat ini bukan saatnya menanyakan kronologis kejadian, kenapa Pak Samsul bisa jadi ayah angkatnya.
Ardhi juga tidak akan menceritakan hal buruk yang menimpa Melati. Sudah terlalu banyak masalah yang muncul hari ini.
Tepat pukul 10.00 WIb. Adalah waktu yang dipilih untuk melaksanakan Ijab Kabul. Di Aula Hotel sudah hadir Orang tuanya Melati beserta adik-adiknya, Pak KUA yang akan jadi Wali hakim, dua orang saksi. Saksi dari pihaknya mempelai wanita adalah Sutan Batara Guru Siregar. Dan saksi dari pihak mempelai pria adalah Pak Zainuddin.
__ADS_1
Semua rukun nikah sudah lengkap, hanya tinggal menunggu Melati agar hadir di ruangan itu.
Saat ini perasaan Ardhi sangat kacau. Pria tidak hanya merasakan gugup. Tapi, rasa khawatir dan cemas lebih mendominasi. Dia takut, Melati bertindak diluar jangkauan. Misalnya, tiba-tiba menolak menikah dengannya.
Ardhi buru-buru menepis pikiran negatif itu. Berusaha rileks dengan berulang kali menghela napas dalam. Menikah merupakan momen sakral yang paling indah sekaligus buat deg-degan, terutama bagi mempelai pria yang akan mengucapkan ijab kabul. Meski terlihat mudah dengan hanya mengucapkan satu kalimat saja, namun kesalahan bisa saja terjadi bila dalam keadaan gugup.
Lagi-lagi Ardhi mengulang-ulang kalimat Ijab kabul itu dalam hatinya. Dengan tangannya yang selalu saling meremas. Sebagai ekspresi gugupnya. Matanya selalu manatap ke arah pintu Aula. Sudah lewat lima menit dari waktu yang ditetapkan. Tapi, Melati belum muncul juga.
"Waktu yang ditetapkan sudah tiba. Kita mulai saja pak acara akad nikahnya?" tanya Pak Penghulu kepada Pak Samsul.
Para penghuni ruangan itu saling pandang. Dan tatapan semuanya berakhir kepada Ardhi yang kini sedang menekuk kepala. Dia yakin ada yang tidak beres dengan Melati. Kenapa lama sekali. Padahal Embun sudah ikut ke kamar nya Melati. Membantu wanita itu bersiap-siap.
"Gimana bagusnya lah Pak." Jawab Pak Samsul dengan lesuh. Memang bisa saja acara ijab kabul itu diadakan walau saat ini Melati masih berada di ruang yang berbeda. Tapi, alangkah lebih afdol dirasa apabila Melati juga ada di tempat itu.
"Pak Ardhi Shiraz, apa Bapak sudah siap, agar kita mulai acara ini?" lagi-lagi Ardhi tidak mendengar ucapan Pak KUA. Hingga Rudi sang Asisten mentoel lengan Bos nya itu. Auto dia menoleh ke samping, menatap Rudi dengan penuh tanda tanya.
"Apa?" ucapnya pelan dengan mengangkat alis kiri nya.
"Pak Ardhi, sebaiknya kita mulai saja acara ijab Kabul ini "
"Oohh iya pak!" ucapnya dengan cepat. Dia pun akhirnya mengangkat wajah nya. Menatap satu persatu orang di ruangan itu dengan tersenyum. Dia tahu semua orang sedang memperhatikan gerak geriknya.
__ADS_1
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh." Pak KUA mengucap salam dengan semangat dan sopan.
"Wa alaikumussalam...!" Jawab semua penghuni aula itu.
Pak KUA pun mulai dengan muqaddimahnya yang panjang. Semua orang yang ada di ruangan itu mendengar dengan khusus tausiah pak KUA tentang pernikahan. Hingga PaK KUA yang ternyata Ustadz juga di kampung itu, menyinggung tentang pergaulan bebas, serta efek dari pergaulan bebas itu.
"Zaman semakin tua, manusia sudah jauh dari adab dan moral. Maksiat merajalela, semaraknya perzinaan yang akhirnya membuat sang wanita hamil. Bolehkah, wanita yang hamil di luar nikah menikah dengan pria yang menghamilinya?
"Jawabannya boleh, Islam membolehkan laki-laki dan perempuan yang berzina untuk menikah atau dinikahkan. dan tanpa menunggu iddah jika siperempuannya hamil. sebagaimana pendapat Umar, Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, Imam Syafi'i dan Abu Hanifah.
"Sebagian Ulama seperti Qatadah, Ishaq dan Abu ‘Ubaid membolehkan kedua orang yang berzina menikah, dengan syarat kedua orang yang berzina tersebut itu bertaubat ; menyadari kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya."
Ardhi terhenyak mendengar ceramah Pak KUA. Seperti nya pak KUA, sedang menembak 12 pas dirinya. Apakah Pak KUA tahu kalau Melati hamil? ya Pak KUA mengetahuinya. Karena, saat Rudi menghadap kepada Pak KUA untuk mengurus semua dokumen yang diperlukan. Pak KUA yang curiga, karena mendesaknya waktu untuk menikah menanyakannya pada Rudi.
" Anak yang terlahir dari hasil hubungan di luar nikah itu nasabnya kepada ibunya bukan kepada laki-laki penzina. Karena nasab itu hanya terlahir dari hubungan yang sah (pernikahan).
Tubuh Ardhi bergetar hebat, mendengar ucapan Pak KUA. Karena kecerobohan dirinya, Melati serta anaknya jadi korban. Ardhi tidak bisa menahan emosinya lagi. Cairan bening itu akhirnya keluar dari sudut matanya. Pria itu menangis.
"Karena nasab anak (hasil) zina tersebut kepada ibunya, maka ibu dan atau kerabatnya yang memberi nafkah kepada anak tersebut. Sedangkan laki-laki penzina tidak bertangung jawab. Tetapi karena alasan kemanusiaan, seharusnya si suami tersebut bertanggung jawab terhadap nafkah anak tersebut. Jika si suami menolak, maka nafkah anak menjadi tanggung jawab istri dan atau kerabatnya.
"Siapa yang merugi di sini bapak ibu? tentulah para wanita. Maka, jagalah marwahmu wahai wanita).
__ADS_1
"Eehhh,..Eehh... Tolong, tolong...!"
TBC