
"Aku itu tidurnya lasak, bisa berputar sampai 360 derajat. Aku tidak mau bersentuhan denganmu. Karena itu, kita harus tidur terpisah." Ucapnya masih menutup mata.
Tara tersenyum lebar dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Dia sedang menahan dirinya agar tidak tertawa terbahak-bahak. Dia tidak menyangka, sifat Embun begitu kekanak-kanakan.
Dengan masih menahan tawa, Tara tidak menanggapi ucapan Embun. Dia malah mengubah posisinya jadi terlentang dan menautkan kedua tangannya di atas perutnya. Sedangkan matanya masih menatap lekat Embun yang duduk dengan mata terpejam. Menunggu Tara menanggapi ucapannya.
Lama Embun terdiam dan masih menutup matanya, sehingga Dia pun penasaran. Kenapa Tara tidak bersuara.
Dengan penuh kewaspadaan Embun membuka sedikit kelopak matanya sebelah kanan
Guna melihat keadaan Tara yang tidak merespon ucapannya.
Saat mata kanannya itu terbuka, Dia pun melihat Tara yang tersenyum kepadanya yang langsung mengedipkan sebelah matanya. Ekspresi wajah Tara benar-benar menggoda.
Embun geram, dengan cepat Dia meraih bantal di sebelahnya dan melemparnya kepada Tara. Tapi, dengan cepat Tara menangkapnya, kemudian memeluk bantal itu, kemudian menutup matanya.
"Kamu, kamu..!" Embun berteriak.
Tara dengan cepat menempatkan jari telunjuknya di bibirnya. Masih dengan keadaan menutup matanya.
"Kamu brisik dan terlalu baper. Kamu tidak ingin bersentuhan dengan Abang. Abang juga demikian. Aku juga tidak tertarik untuk menyentuhmu. Lebih baik kamu tidur dengan tenang. Tidak usah suruh-suruh Abang tidur di sofa. Kalau kamu keberatan satu ranjang denganku. Kamu saja yang tidur di sofa." Ucap Tara dengan ekspresi wajah serius, dan masih menutup matanya.
Embun terperangah mendengar ucapan Tara. Ya tidak seharusnya Dia mempermasalahkan tempat tidur untuk mereka.
Akhirnya Embun malu sendiri. Dia pun mulai membaringkan tubuhnya di ranjang itu dan menempatkan guling sebagai pembatas di tengah. Tentunya area ranjang untuk Embun lebih luas dari Tara.
Hening sesaat. Tidak ada interaksi keduanya.
Tapi, Embun grasak grusuk. Dia tidak bisa memejamkan matanya. Apalagi lampu kamar itu masih menyala dengan terang.
Dia pun akhirnya turun dari tempat tidur nya, berniat mematikan lampu utama. Dia mencari stop kontak lampu di kamar itu, setelah menemukannya Dia pun menekan tombol off. Ternyata lampu yang mati adalah lampu balkon.
Dia menekan stop kontak di sebelahnya. Dia pun bingung, tidak ada lampu yang padam.
"Aneh ini lampu, cara mematikannya gimana ya?" ucapnya pelan, masih menekan stop kontak yang ada di dinding kamar itu, berulang-ulang dan berkali-kali. Tapi, lampu utama di kamar itu tak padam juga.
__ADS_1
Dengan kesalnya Dia menghentakkan kakinya sambil mendumel.
"Ini kamar aneh, seperti pemiliknya." Ucapnya dengan wajah masam. Dia pun kembali naik ke ranjang dengan pergerakan pelan. Dia merasa enggan meminta Tara untuk mematikan lampu.
Setengah jam kemudian, Embun tetap tidak bisa tidur. Dengan menghela napas berat Dia pun merubah posisinya menghadap Tara.
"Hei, Hei Bangun...!" ucapnya lembut.
Tara tidak merespon
"Apa Dia sudah tidur sepulas itu. Hei, hei Bangun.... Matikan lampunya dong.!" Akhirnya Embun menggoyang lengan Tara.
Tara membuka matanya dan melirik ke arah Embun.
"Apa tidak bisa Adek memanggil Abang dengan sopan. Hei, Hei, Hei.... Benar-benar tidak ada sopan santun." Ucap Tara menampilkan ekspresi kesal. Dia pun merubah posisinya membelakangi Embun.
"Abang kantuk, kamu jangan berisik. Kalau Adek tidak mau tidur di sini. Sana keluar masih banyak kamar tamu yang kosong di lantai satu." Ucap Tara tegas, Dia tetap membelakangi Embun.
"Aku tidak bisa tidur kalau lampunya terang begini. Tolong lampunya dimatikan ya? lagian, mana mungkin Aku tidur di kamar tamu. Bisa-bisa orang di rumah ini pada heran." Jawab Embun, Dia memandangi punggung Tara yang membelakangi nya.
"Lampu mati..!" Seru Tara, masih dalam posisi membelakangi Embun.
"Hebat sekali, hanya dengan perintahnya lampu jadi padam." Ucap Embun pelan. Mulai masuk ke dalam selimutnya yang tebal dan lembut.
Dia melirik Tara yang masih membelakanginya. Embun benar-benar tidak bisa rileks. Sehingga Dia sangat kesusahan menutup matanya. Apalagi cuaca saat ini di kota PSP sangat dingin. Tidak perlu ada AC. Kamar mereka sudah sangat dingin.
Setelah membaca Doa tidur, Embun pun konsentrasi untuk bisa terpejam. Dia menutup tubuhnya dengan selimut, hanya kepalanya saja yang masih nampak.
❤️❤️❤️
"Hangat, ini guling kok hangat begini." Ucap Embun dalam hati. Dia pun kembali menggerakkan tubuhnya mencari kehangatan lebih saat memeluk gulingnya.
"Koq gulingnya beda ya, koq keras begini. Bentuknya pun tidak lonjong dan tidak empuk. Kenapa seperti bentuk boneka? ada tangan dan kakinya juga." Embun masih membathin, dan meraba-raba gulingnya. Dia yang sudah terbangun. Tapi mata masih dalam keadaan tertutup. Karena semalaman kedinginan, sehingga Embun merasa ingin pipis. Padahal belum saatnya Dia terbangun. Karena waktu masih pukul empat dini hari.
Embun terus saja mencari kehangatan pada guling baru itu. Dia sudah sepi(sesak pipis). Tapi, rasanya malas sekali untuk bangkit dari tempat tidur.
__ADS_1
Tangan halusnya terus saja meraba guling baru itu, sehingga tangan itu menyentuh satu organ seperti tongkat.
"Koq aneh, koq ada gagang cangkul di sini?" Embun masih saja membathin. Dia pun memegang benda yang di anggapnya gagang cangkul itu.
"Kenapa kerasnya beda ya dengan gagang cangkul." Embun masih saja meremas gagang cangkul itu. Sehingga yang punya gagang cangkul terangsang dan mengubah posisinya mencari posisi yang uenak saat organ sensitif nya dibelai.
Saat itu juga Embun tersadar, karena Dia heran kenapa gulingnya bisa bergerak-gerak.
"Aawwwww.......!" teriak Embun dengan kuatnya. Dia pun langsung berbalik badan. Jantungnya berdebar kencang dan rasanya mau copot.
Sedangkan Tara langsung terbangun, karena mendengar suara teriakannya Embun.
Embun memang begitu, Dia akan berteriak dengan kuatnya sampai membuat kuping sakit mendengarnya, disaat Dia terkejut. Itu salah satu latahnya.
Tara langsung mendudukkan tubuhnya, setelah Dia memerintahkan lampu kamar itu menyala. Dia menatap Embun yang sembunyi di dalam selimut yang bergerak-gerak.
"Adek kenapa berteriak? mau buat bahan gunjingan di rumah ini?" Ucap Tara kesal. Dia yang masih tertidur nyenyak, terpaksa bangun karena suara Embun yang melengking
Embun diam, pura-pura masih tidur.
"Tidak usah pura-pura tidur. Bangun.... Jelaskan kenapa kamu teriak?" ucap Tara menarik selimut yang menutupi tubuh Embun.
"Apaan sih? ganggu orang tidur saja." Embun menarik selimutnya, kembali menutup semua tubuhnya. Dia bahkan menahan dirinya untuk tidak ngompol di celana Karo sesak pipis.
"Adek itu yang ganggu tidur orang. Kenapa teriak-teriak. Ini kamar tidak ada kedap suaranya. Teriakan mu itu pasti terdengar keluar. Di luar orang masih ramai, karena mempersiapkan acara untuk besok." Ucap Tara kesal, Dia masih terduduk memandangi Embun yang menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Aku bermimpi, mimpinya ngeri sekali. Aku bermimpi tanpa sengaja memegang ular kobra. Makanya aku terkejut." Jawab Embun, masih sembunyi dalam selimut.
"Masak sih?" tanya Tara tidak percaya.
"Iya," ucap Embun. Dia pun keluar dari selimut. Turun dari ranjang tanpa melihat ke arah Tara dan berjalan cepat menuju kamar mandi.
Tara pun kembali berbaring, setelah melihat Embun masuk ke dalam kamar mandi. Dia pun mematikan lampu kamar.
Sedangkan Embun merutuki dirinya yang begitu bodoh saat tidur. Dia memang payah, tidur suka sekali memeluk apa saja yang ada di dekatnya. Dia juga tidur sangat lasak. Bergerak kesana-kemari. Bahkan kalau Dia kelelahan, Dia bisa ngingau saat tidur.
__ADS_1
"Apa Dia tidak sadar, bahwa Aku sudah meremas-remas oto ononya." Istilah barunya Embun dengan benda keramat miliknya Tara.
"Syukurlah, sepertinya Dia memang tidak sadar." Ucap Embun, Dia pun keluar dari kamar mandi. Kembali berniat melanjutkan tidurnya.