DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Ronde


__ADS_3

Pukul 22.40 Wib, pasangan pengantin baru itu akhirnya menyudahi pergulatan panas mereka. Sebenarnya Ardhi masih ingin melanjutkan lagi untuk ronde ke empat. Tapi, Melati mengeluh ada rasa nyeri dan kram dibagian perut bawahnya, ditambah bagian sensitif dibawah pusatnya juga terasa perih. Sepertinya Ardhi melakukannya terlalu bersemangat. Sehingga miliknya Melati sedikit lecet.


Tisu berserakan di lantai, air minum juga ada yang tumpah di lantai. Itu semua terjadi, karena keduanya bermain dengan sangat panas. Meneguk nikmatnya surga dunia hingga titik *******.


"Masih nyeri sayang?" mengecup mesra keningnya Melati yang ada dalam pelukannya." Melati mengangguk lemah. Ardhi sungguh merasa bersalah. Dia sempat lupa diri, hingga permainan ketiga, dirinya terlalu bersemangat dan hampir melupakan kalau istrinya itu sedang hamil.


Melati sungguh menikmati pergulatan panas itu, wanita bahkan tidak bisa menghitung lagi, berapa kali dia terbang ke awang-awang. Kalau tidak merasa kram di perutnya mungkin, dia juga akan terus melayani suaminya itu hingga pagi.


"Besok kita periksa ya sayang." Kini tangan Ardhi menjulur mengusap lembut perut datarnya Melati.


"Maaf kan ayah ya Nak." Ucapnya sedih, Melati mendongak, ingin melihat wajah suami yang


dari tadi selalu merasa bersalah.


"Koq tertawa sayang? emang gak sakit lagi?" Mengecup bibir Melati sekilas, yang menertawakannya. Melati malah membalas kecupan itu. Wanita itu sudah tidak merasa malu lagi pada suaminya itu. Karena, Ardhi selalu mengatakan kata-kata pujian dan sangat menyukai apa yang ada di tubuh sang istri. Melati jadi percaya diri.


"Sudah berkurang Mas. Tapi, kenapa masih berdenyut-denyut." Ucapnya tersipu malu. Sungguh Melati masih ingin, tapi bagian intinya ada yang lecet. Gimana gak lecet, bibir lembut itu selalu digesek.


"Adek masih mau?" menatap mesum Melati dengan seringainya. Melati terdiam, dia ingin tapi takut terjadi hal buruk dengan kandungannya.


"Kalau adek masih mau, gak usah mas masukin. Mas, buat adek enak saja. Masih mau ?" Bertanya penuh harap. Melati menggeleng, dia harus bisa menahan gairahnya.


"Kenapa ya Mas, kalau adek keluar, perut bagian bawah adek akan terasa kram dan kadang ngilu gitu." Ini pengalaman pertama Melati berhubungan badan dan menikmatinya. Jadi dia masih belum mengerti dengan reaksi yang dialaminya setelah org*as*me.


Dulu saat dinodai sang suami, rasanya saat itu sakit sekali, benar-benar gak ada enaknya. Tapi, sekarang kenapa setelah merasakan enak. Malah meninggalkan rasa ngilu dan perih.


"Mungkin karena otot-otot panggul adek kontraksi." Masih mengusap-usap lembut rambut sang istri yang sudah tergerai itu.


"Besok kita periksa ke dokter. Tadi memang saat Abang periksa milik adek, ada sedikit lecet. Itu mungkin yang mebuat adek merasa perih."

__ADS_1


"Bisa jadi Mas." Memasrahkan kepalanya di dada bidangnya Ardhi. Pria itu tak henti-hentinya mengecup puncak kepala istrinya itu. Melati semakin merasa disayang.


"Milik adek masih rapat gitu, masih seperti perawan."


"Masak sih Mas?" bertanya dengan ekspresi wajah tidak percaya. Melati memang suka minum jamu rapet kewanitaan yang ramuannya adalah ramuan rahasia ini Khadijah.


"Iya dek. Maaf ya, seharusnya mas tidak menodai adek malam itu." Melati terdiam, dia kurang suka kalau malam kelam itu diungkit - ungkit.


"Kenapa diam sayang? gak mau maafin Mas?" Ardhi jadi merasa bersalah sekali. Dia pun mengecup lembut bahu sang isteri.


"Sudah dimaafkan Mas. Kalau gak dimaafkan, mana mungkin kita seperti ini." Ardhi semakin mengeratkan pelukannya, merangkul gemes Melati.


"Mas lapar, adek lapar juga kan? kita makan ya? terus kita mandi, lalu addk minum obat. Agar rasa nyeri dan demam adek hilang."


"Mas koq tahu adek demam?" tanya Melati bingung. Dia kan tidak mengatakan pada suaminya itu, kalau dia demam. Walau memang dia merasa demam sekarang.


"Tubuh adek sedikit hangat. Mungkin karena energi ada banyak terkuras. Mas gak menyangka, adek hot benar. Padahal tadinya malu-malu." Ardhi tertawa kecil. Melati mencubit gemes perut sixpack nya Ardhi. Suaminya itu selalu saja menggodanya.


"Sebenarnya belum puas sih? masih ingin main sayang."


"Gak mau lagi, masih sakit. Mas tu kalau sudah masuk itunya. Goyangnya kuat sekali."


"Iya, sayang. Maaf ya! habis enak sih? baru tahu rasanya seenak itu, kalau ada lawan main."


"Apa?" Melati bingung dengan maksud ucapan Ardhi.


"Jangan dibahas lagi. Nanti mas jadi pingin lagi." Mendudukkan tubuh keduanya. Dan sebelum beranjak dari ranjang. Ardhi masih menyempatkan mere*mas dua gunfukam kenyaal. Yang membuat Melati sempat terangs*ang. Entahlah gunung kembarnya, semakin besar saja, sebelum hamil, gunung kembai tak sebesar ini, ditambah sangat sensitif.


"Ya ampun Mas, kamar kita berantakan sekali." Melati yang sudah dalam gendongan Ardhi menuju kamar mandi. Tidak percaya dengan model ranjang mereka saat ini. Ditambah tisu berserakan di lantai.

__ADS_1


"Nanti Mas bersihkan. Sekarang kita mandi dulu." Melangkah dengan wajah bahagia menuju kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi. Ardhi menurunkan sang istri dengan pelan. Dengan cepat mengisi bathup dengan air hangat. Memasukkan ramuan yang Melati lihat seperti garam.


"Adek berendam dulu ya sayang." Menuntun. Melati untuk masuk ke dalam bathtub.


"Mas gak ikut berendam?" memperhatikan sang suami yang menjauh darinya.


"Gak sayang, adek saja, mas mandi di shower aja."


"Koq gitu." Melati meras tidak enak hati, memperhatikan suaminya yang mandi ekspres itu dan tetap mengerjakan rukun mandi wajib.


"Mas mau siapkan makanan untuk kita." Melati terdiam, disaat Ardhi yang sudah selesai mandi langsung mengecup keningnya. Keluar dari kamar mandi, meninggalkan sang isteri yang masih bengong. Tapi, akhirnya dia menikmati acara beremdamnya.


Sementara Ardhi dengan cepat memungut tisu bekas membersihkan ****** ***** mereka itu. Mengganti bedcover. Dan menyapu ruangan itu yang disematkan oleh bunga mawar dan tisu. Setelah membersihkan kamar, Ardhi menuju dapur. Memanaskan pizza yang ada di kulkas ke dalam microwave yang dibeli oleh Desi tadi sore. Walau dapur itu kecil, semua peralatan memasaknya lengkap. Karena, Ardhi tahu, Melati suka memasak.


Ardhi memeriksa lagi kulkasnya. Ternyata stok makanan sudah penuh di dalam kulkas sentuh itu. Desi memang kerjanya sangat bagus. Gak perlu diperintahkan, wanita itu tahu betul apa yang harus dilakukannya.


"Seperti dukun saja " Ucap Ardhi tersenyum tipis. Mengeluarkan buah jeruk dan pisang dari kulkas. Dia pun menghidangkan makanan di atas meja makan mungil yang ada di sudut ruang tamu.


Tugasnya sudah selesai. Dia pun masuk ke kamar mereka. Sesampainya di kamar, dia terkejut melihat sang istri yang bete, terduduk lemas di tepi ranjang dan hanya memakai handuk dengan rambut panjang basah tergerai.


"Adek kenapa mukanya kusut gitu?" Ardhi menghampiri sang istri.


"Baju adek mana Mas? kata Mas, di sini sudah ada baju." Menatap kesal, paper bag yang ada di sebelahnya.


"Ardhi sebenarnya meminta Desi untuk membelikan baju juga untuk sang istri. Tapi, kenapa istrinya itu mengatakan gak punya baju.


Ardhi memeriksa paperbag itu, dan pria itu pun tertawa keras, ternyata isi paper bag itu semuanya lingerie dengan warna dan model yang berbeda.Ada lima set lingerie di dalam dua paper bag itu.


TBC

__ADS_1


Like, coment vote yang sangat ku tunggu 🙂😍


__ADS_2