
"Iya Ardhi, seperti nya Melati tidak percaya bahwa Bapak Ini adaalah ayahnya." Pak Zainuddin kembali menitikkan air mata. Rasa cemasnya semakin menjadi saja, disaat melihat ekspresi bingung nya Melati saat ini.
"Test DNA itu, proses nya lama Bapak. Bisa seminggu lebih, dan kita harus ke kota Medan untuk melakukan test itu. Di sini tidak ada." Ardhi ingin segera menikah dengan Melati. Kalau masih mengurusi test DNA, bisa-bisa pernikahan nya diundur lagi, setelah test keluar.
Pak Samsul yang orang udik dan tahunya hanya ke sawah, dan ladang itu. Tidak tinggal diam, dia juga yakin Melati adalah anaknya Pak Zainuddin.
"Kenapa harus test DNA. Bukti bahwa Melati adalah anak Pak Zainuddin kan sudah jelas. Saya percaya bahwa Melati adalah putrinya Bapak. Wajah Melati ada kemiripan dengan Bapak." Jelas Pak Samsul.
Pak Zainuddin kembali menoleh kepada Melati yang bingung. "Kamu putrinya Aby. Anaknya Aby, hari ini kamu akan menikah dengan Nak Ardhi kan? Aby akan jadi wali nikahmu ya Nak." Pak Zainuddin pun tidak mau membahas test DNA lagi. Pria itu sungguh merasa bahagia. Akhirnya dia bisa menjadi wali nikah putrinya yang sudah dianggapnya telah tiada.
"Tujuh belas tahun yang lalu, seorang putri kecil, kira-kira usia 3-4 tahun, menangis didepan gubuk kami. Keadaannya sungguh memprihatinkan. Dia dalam keadaan basah kuyup, menggigil, bibir sudah membiru, begitu juga dengan kukunya memanggil-manggil ayah dan Ibunya. Itu kamu Nang.
"Ayah dan Ibu sudah memberi laporan kepada kepala desa waktu itu, bawa kami menemukan seorang anak kecil berjenis kelamin wanita. Tapi, dari hari ke hari, bulan ke bulan dan tahun ke tahun, tak ada yang mengaku sebagai orang tuamu." Melati menatap lekat Ibu Khadijah yang bercerita dengan serius dan penuh ketulusan. Ibunya itu juga bicara pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mungkin karena ada Pak Zainuddin dan Ardhi di ruangan itu, yang ikut mendengarkannya.
Ternyata wanita lemah lembut dan pekerja keras yang ada di hadapannya saat ini bukanlah orang tuanya. Melati masih ingat, gimana besarnya kasih sayang Ibu Khadijah padanya. Disaat dia sakit, pasti Ibu Khadijah akan memijat seluruh tubuhnya yang terasa pegal itu. Sungguh perlakuan Ibu Khadijah padanya selama ini, tak seperti ini angkat. Cinta kasihnya begitu tulus.
Dengan perasaan sedih, karena fakta yang baru terkuak tentang dirinya. Melati memeluk sang Ibu dengan eratnya.
__ADS_1
"Iya Umak. Terima kasih sudah membesarkanku, mendidikku, Maaf kan aku belum bisa membalas kebaikan kalian selama ini." Derai air mata kembali membasahi pipi pucatnya Melati.
"Iya inang." Lagi-lagi Ibu Khadijah menangis tersedu-sedu. Ibu Khadijah mengurai pelukannya dari Melati. Menatap Ardhi dengan tajam. Sungguh Ardhi dibuat ketakutan dengan tatapan tajam Ibu Khadijah. Padahal tadi siang, saat dia meminta maaf. Tatapan bersahabat yanh didapatnya dari wanita yang membesar Melati itu.
"Pak Zainuddin, ayah angkatmu kan Nak. Karena, kebaikan beliau kamu bisa seperti sekarang kan? tapi, kamu telah menyakiti putrinya. Menyakiti putriku, mulai detik ini, aku tidak mau melihat putriku menderita lagi. Aku akan marah padamu, jikalu dia pingsan-pingsan lagi." Ucapan Ini Khadijah yang tegas, membuat Ardhi ketakutan. Ini sungguh ancaman yang mengerikan. Sempat Pak Zainuddin terprovokasi, bisa tamat riwayatnya.
Ibu Khadijah mengetahui semua tentang Ardhi, dari suaminya, tadi siang. Saat Ardhi keluar dari kamar itu. Sebelum acara ijab kabul tadi pagi. Pak Samsul dan Pak Zainuddin sempat berbincang-bincang. Saat itu, Pak Samsul, penasaran dengan Ardhi. Jadilah dia mengulik informasi tambahan mengenai Ardhi dari Pak Zainuddin.
Pak Zainuddin bercerita, Ardhi dulunya pemuda miskin, gelandangan. Berkat bantuan beliau, Ardi sudah jadi miliader saat ini. Perusahaan kontruksinya ada di setiap kota besar di Indonesia.
"Pak, tolong hukum dia. Dia benar-benar jahat dan tidak tahu berterimakasih." Ucap Ini Khadijah dengan ekspresi wajah kesal pada Pak Zainuddin.
"Ibu, saya sudah tahu kejadian yang sebenarnya. Ardhi tidak tahu, kalau Melati putriku. Dam Ardhi tidak seburuk itu. Dia khilaf, manusia tidak luput dari kesalahan Bu." Pak Zainuddin malah membela Ardhi dihadapan semuanya. Melati dibuat tercengang dengan ucapan Pak Zainuddin, ayah kandungnya itu.
Melati pun akhirnya menoleh kepada Ardhi, yang nyatanya, dari tadi pria itu selalu curi-curi pandang padanya. Saat mata keduanya bertemu, Melati langsung memalingkan wajahnya. Rasanya aneh bersitatap dengan pria yang akan jadi suaminya dalam hitungan jam kedepan.
"Iya Pak Zainuddin, Iya benar yang bapak katakan. Yang aku takutkan nanti, disaat pria ini punya masalah, terus dia melampiaskannya dengan minum-minum keras lagi, bagaimana? aku tidak mau punya menantu seperti itu." Ibu Khadijah menatap Ardhi yang memilih diam itu. Untuk apa berdebat lagi. Nyata nya dia memang salah.
__ADS_1
"Saya kenal Ardhi Bu. Kalau dia tidak baik, mana mungkin aku habiskan uang untuk dia buka usaha." Lagi-lagi Pak Zainuddin membela Ardhi. Ibu Khadijah jadi kesal sendiri. Kenapa Ardhi seolah tidak bersalah.
"Iya, semua miliknya bapak dihabiskannya. Termasuk putri bapak juga." Ibu Khadijah melongos kesal. Dia kesal banget pada Ardhi. Kenapa putri kesayangannya itu diperkosa.
"Taing, namahua Doho. Asi buat keributan. Nak Ardhi madung ra bertanggung jawab, Aha dope?" Pak Samsul mencoba memberi pengertian pada Ibu Khadijah yang sensitif, karena takut Melati nantinya menderita setelah menikah dengan Ardhi. (Kamu kenapa? kenapa mau buat keributan. Nak Ardhi sudah mau bertanggung jawab, apa lagi?)
"Ibu, percaya pada saya. Saya akan memperlakukan Melati dengan sebaik-baiknya." Ucap Ardhi dengan tulus, menatap Ibu Khadijah dengan mengibah. Berharap Ibu Khadijah tidak mengucilkannya lagi dan memperpanjang masalah. Ibu Khadijah masih menampilkan ekspresi wajah kesal. Jujur dia tidak terima, Melati yang dinodai oleh Ardhi.
Tapi, mau gimana lagi. Waktu tidak bisa diulang lagi. Tak ada gunanya disesali. Ibu Khadijah pun akhirnya menarik napas dalam. Dia harus tenang. Lagian Ardhi sudah mengaku salah.
" Kita lihat saja nanti setelah menikah. Kalau putriku kamu buat menitikkan air mata lagi.Aku akan bawa putriku ke rumah. Dan ku pastikan kamu akan kembali jadi gembel." Ucap Pak Zainuddin tegas. Dia rasa kalimat itu, bisa membuat hati Ibu Khadijah legah.
"Iya, saya setuju Pak." Lah kan benar, wajah penuh semangat langsung terlihat di wajah tuanya Ibu Khadijah. Kepastian yang mengancam seperti ini yang ditunggunya, sebagai ganjaran dari kesalahan Ardhi, yang merenggut kesucian anak gadisnya.
"Iya Bu, sudah, sudah, ini sudah Magrib. Kita sholat dulu. Pukul 20.00 Wib, kita masih ada kegiatan menikahkan anak-anak kita. Ayo, ayo kita berwudhu." Ucap Pak Samsul dengan perasaan legah dan semangatnya. Dia senang, Melati akhirnya bertemu dengan orang tuanya.
TBC
__ADS_1
Nex episode pernikahan. Akankah ada Malam kedua?
Tulis komentar nya say. like vote ya