
Pagi ini begitu cerah, sinar mentari mulai masuk melalui celah jendela kamarnya Embun. Hangatnya sinar mentari, membuat Embun menyibakkan selimut yang memeluknya.
Dia telat bangun, karena semalaman ini tidak bisa tidur. Ucapan Tara terus terngiang-ngiang di kepalanya. Ditambah dia lagi menstruasi, jadilah Dia malas untuk bangun cepat.
Tara mengatakan, kalau jodoh takkan kemana. Lihatlah begitu banyak orang yang pacaran, tapi tidak berjodoh. Dan begitu banyak pasangan suami istri yang tidak pacaran. Tapi, tetap langgeng sampai maut memisahkan.
Tara melarang keras Embun untuk komunikasi dengan Ardhi, isi perjanjian tidak boleh dilanggar. Kalau dilanggar, maka Embun tidak akan bisa kembali kepada Mas Ardhinya lagi. Dia tidak mau itu terjadi. Dia sangat mencintai Ardhi. Tapi, jikalau suatu waktu terjadi pertemuan tidak disengaja. Antara Embun dan Ardhi, maka itu tidak menyalahi isi perjanjian.
Mendengar ucapan Tara, Embun sedikit tenang. Dalam hati dia berdoa, agar bisa bertemu dengan Ardhi tanpa direncanakan.
"Aku cemburu? mana mungkin aku cemburu padanya. Aku hanya iri saja, Lolita kini ada yang merhatiin. Lah aku, tidak ada yang perhatiin. Tidak ada yang nanyain kabarku, tidak ada yang ingatin aku untuk jaga kesehatan. Hhuuffff... sebel...tidak bisa komunikasi dengan kekasih sendiri---!" Teriak Embun, Dia membuang napas kasar dan kembali menarik selimutnya.
Dia sengaja teriak-teriak. Melampiaskan kegundahan di hatinya. Karena tahu, Tara tidak ada di kamar itu. Karena pria itu setiap jam enam pagi sudah berolah raga.
Tapi, Embun salah. Penglihatannya sedang tidak bagus, dia tidak fokus. Tara ada di kamar itu, duduk manis di sofa memperhatikannya yang mengomel, karena ingin diperhatikan.
"Dulu Abang care koq sama Adek. Tapi, Adek ketus Mulu sama Abang." Ucapan Tara membuat Embun membuka matanya di balik selimut. Dia pun mengutuk kelakuan sendiri yang bicara tanpa memperhatikan sekeliling. Dia malu, ternyata Tara mendegar ucapannya.
"Siapa juga yang mau diperhatikan sama Abang. Aku tu pinginnya diperhatiin sama kekasihku sendiri." Jawab Embun kesal dari balik selimut.
__ADS_1
"Ooohh... Gak mau diperhatiin oleh suami sendiri?"
Embun pun keluar dari balik selimut. "Sudah dech jangan mulai lagi napa? Kitakan hanya nikah settingan, bukan nikah sungguhan." Embun berdecak kesal.
"Iya, iya, becanda. Serius amat, kalau Adek gak mau Abang perhatiin gak apa-apa. Ada Lolita yang selalu minta diperhatiin. Emang ya temen Adek itu unik ya. Ternyata Lolita itu, selain pintar lucu juga. Mana dia manis banget kalau tertawa lepas gitu. Auranya benar-benar hidup " Tara tersenyum, tangannya bergerak mengikuti cara bicaranya sendiri.
Ucapan Tara di pagi hari ini benar-benar membuat Embun bad mood. Mana dia mau belajar untuk sidang skripsi besok.
"Umur Abang berapa sih? norak tahu, cem baru pernah jatuh cinta saja." Embun mencibikkan bibirnya. Dia jengkel melihat Tara. Seminggu terakhir ini, Tara suka sekali membahas Lolita, setiap mereka komunikasi.
"Lah emang iya, baru kali ini merasakan cinta terbalas."
"Masak sih? Orang mana cewek yang menolak cinta Abang itu? coba ceritakan tentang dia. Kalau aku kenal, aku akan bicaranya padanya." Embun penasaran tentang wanita yang dicintai Tara. Kini Dia sudah duduk di tepi ranjang. Begitu tidak sabaran menunggu jawaban suaminya itu.
"Adek aneh, si Lolita mau dikemanakan? belum clear dengan Lolita. Malah mau bantuin deketin Abang sama cewek lain." Tara tersenyum kecut. Menarik napas dalam, ingin dia mengatakan bahwa wanita dihadapannya inilah yang dia cintai dulu. Tapi, itu tidak akan mungkin dikatakannya. Dia yakin, Embun tidak akan percaya.
"Iya juga sih. Aku penasaran saja, seberapa hebat sih cewek itu. Masak dia tidak suka sama Abang. Cewek itu bodoh atau buta sih?" Embun tertawa sinis, merasa kasihan dengan nasib Tara. Cowok yang sempurna, tapi cintanya tidak terbalas.
"Gak ada gunanya lagi kita bahas. Dia mencintai pria lain. Abang tidak mau memaksa kehendak. Abang akan bahagia, jika melihat dia juga bahagia." Tara menghembuskan napas kasar, dia merasa dadanya sesak menceritakan dirinya sendiri yang lemah soal cinta.
__ADS_1
"Ooohhh nasib Abang memprihatinkan juga ya. Sudah cinta bertepuk sebelah tangan, dipaksa menikah lagi denganku. Hahaha....!" Embun merasa lucu kisah cintanya Tara. Masak pria tampan kaya cintanya ditolak.
"Memprihatinkan? gak juga, kan sudah dapat gantinya si Lolita." Tara bangkit dari sofa, dia merasa malu dan kesal, karena Embun menertawakannya. Jangan sampai Embun tahu, kalau wanita yang dicintainya adalah dirinya sendiri.
"Oh iya, sudah dapat gantinya Lolita." Embun memperhatikan Tara yang melenggang meninggalkan kamar mereka. Pria itu membuat kode ok dengan tangannya. Kalau dia sudah klik dengan Lolita.
Sepeninggalannya Tara, Embun berpikir keras. Jemarinya terus saja bermain-main di wajahnya. "Aku penasaran sekali, siapa sih wanita yang dicintainya itu. Apa Doly tahu? apa wanita itu adalah Rose? tapi, dari gerak-gerik Tara, Dia tidak menyukai Rose. Dia juga mengatakan bahwa Rose hanya dianggapnya sebagai teman. Siapa wanita itu? aku harus mencari informasinya. Seberapa hebat wanita itu, sehingga menolak Sutan Batara Guru Siregar." Embun menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa tertarik dengan kehidupan Tara, sebelum mereka menikah.
Semakin bergulirnya waktu, semakin seringnya dia berkomunikasi dengan suaminya itu, rasa bencinya pun semakin terkikis kepada Tara. Ditambah fakta, bahwa Doly masih hidup, membuat Embun menyesali sikapnya selama ini. Dia benar-benar istri durhaka.
Harusnya dia bisa bersikap dewasa. Toh dia juga sudah dewasa. Tapi, lihatlah sikapnya pada Tara, masih seperti anak-anak. Sehingga kelakuan tidak sopannya, jadi penyesalan buatnya. Syukurlah Tara tidak membalas perlakuan nya dulu. Walau pria itu sering menyindirnya.
Embun pun Manarik napas dalam, dan menghembuskannya pelan. Sudah saat nya dia bersikap baik kepada Tara. Dan Dia tidak boleh melakukan kesalahan kedua kali, dengan cemburu kepada Lolita. Toh, dia yang ingin menjodohkan Lolita kepada Tara.
"Aku tidak cemburu kepada Lolita. Aku hanya iri saja melihat kedekatan mereka. Secara aku tidak ada yang memperhatikan. Rasa gelisah dan kesal saat melihat kedekatan Tara dan Lolita, adalah perasaan iri bukan karena, aku mulai menyukai Abang Tara. Aku tidak mungkin menyukainya." Ucap Embun dia frustasi sendiri dengan dirinya. Dia tidak mau membenarkan perasaannya, yang mulai kepo dengan kehidupan Tara.
"Lebih baik aku belajar, biar besok dapat nilai A. Tidak perlu ku pikirkan apa yang dilakukan Tara dan Lolita hari ini." Embun kembali membaca buku dan skripsinya. Tadi setelah makan siang, Tara pamit padanya. Tara akan pergi ke rumah Lolita.
"Fokus..... Fokus Embun.... Kenapa kepikiran Tara sih? ingat, ada Mas Ardi yang menunggu jandamu. Dia cinta sejati mu." Embun bicara sendiri, memposisikan dirinya sebagai orang lain untuk menasehati dirinya sendiri.
__ADS_1