
"Ada 3 hal di dunia ini yang paling aku sukai. Matahari saat pagi hari, bulan ketika malam hari dan yang terakhir adalah kamu untuk selamanya." Tara meraih jemari Embun dengan tersenyum lebar. Menatap Embun dengan mata yang berbinar-binar.
Embun sangat cantik pagi ini. Wanita itu sudah merubah style nya. Hanya untuk menutupi stempel yang tersebar acak di leher putihnya. Kini wanita itu memakai gamis syar'i yang satu set dengan hijabnya.
"Masyallah, cantiknya istriku ini." Tara mencium jemari Embun dengan penuh penghayatan. Embun tersipu malu. Hatinya senang riang tak terkira, dapat pujian dari Tara.
Pak supir hanya bisa tersenyum. Ikut merasakan kebahagiaan, seperti yang dirasakan Tara saat ini. Pak supir selalu curi-curi pandang dari kaca spion. Penasaran dengan apa yang dilakukan bosnya itu pada isterinya.
Melihat keromantisan Tara pada Embun
Membuat pak supir jadi merindukan istrinya. Hadeuhh... Pak supir jadi sakit kepala. Semoga bosnya itu, cepat pulang ke kota Medan.
"Mas senang banget, Adek mau hijrah. Semoga Istiqomah ya sayang." Tara semakin gemas saja pada Embun. Dia tidak salah pilih. Embun benar-benar istri Soleha sekarang. Tahu betul melayani suaminya di ranjang. Kalau di dapur, Tara belum bisa menilai. Habisnya Embun belum pernah memasak untuknya. Hanya menyiapkan makanan sih sudah pernah.
"Iihh.... sudah dong memujinya. Aku takut jatuh, terlalu tinggi terbangnya. Karena dipuji terus." Embun menarik tangannya dari genggaman Tara. Suaminya itu memajukan bibirnya, Kat tidak terima, Embun melepas tangannya dari genggaman Tara. Embun membuang muka. Merasa malu sendiri. Embun baper.
"Iya istriku. Jangan buang muka dong? Abang masih mau lihat wajah cantiknya istri Abang pakai hijab." Tara meraih bahu Embun. Wanita itu pun kini menatap suaminya itu dengan tersipu malu.
Tara menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak kagum. "Cantik banget sih sayang?" ucap Tara lagi. Embun pun cemberut.
"Abang memuji atau meledek sih? dari tadi, Adek seperti dibuat lelucon saja. Sudah aahh, gak usah muji-muji lagi. Seperti dibuat-buat saja." Embun pun kembali membuang wajah. Dia merasa suaminya itu, tidak ingin memujinya lagi. Tapi, membuatnya sebagai hiburan.
"Ya marah deh. Padahal Abang serius. Abang merasa bersyukur, Adek mau menutup aurat. Ternyata stempel milik Abang di leher Adek, mendatangkan hidayah."
Embun menoleh kepada Tara, menempatkan jari telunjuknya di bibir suaminya itu.
"Bisa gak sih, ngomong nya pelan. Malu tahu sama pak Budi." Ucap Embun berbisik di daun telinga Tara. Pria itupun bergidik geli. Dia mengangkat bahunya. Dan tersenyum nyengir.
Tak terasa Mereka sudah sampai di rumah orang tuanya Embun. Rumah besar itu sudah dua bulan tidak dipijaknya. Sejak dia menikah, dia belum pernah pulang ke kampung mereka.
Dengan terseyum lebar Embun berjalan cepat menghampiri keluarganya yang sudah menunggunya di teras rumah. Tara mengekori istrinya itu dengan terseyum lebar. Tara merasa bahagia sekali.
Kedatangan mereka disambut dengan lagu Batak yang sedih yang berjudul Tondi-Tondiku.
Setelah Embun menikah. Pak Baginda, jadi menyukai lagu itu. Setiap diwaktu luangnya. Maka lagu itu selalu diputar rumah itu. Kedua mata Embun berkaca-kaca saat menyalami dan memeluk kedua orang tuanya.
Acara pertemuan itu pun jadi semakin mengharu biru, karena lagu itu.
Pak Baginda yang seperti tuan Takur, kini berubah jadi melow. Pak Baginda pun mulai bernyanyi.
"Au do Baoa Naparjolo
Diida Ho Diportibion
Au do Baoa Naparjolo
Dihaholongi ho
Au Na ma Haduan
Hamagoan Sian Ho
Molo Marhasohotan ho
Ho do Gabe Panggoaranki
Jala ho na lao Manjujung Goarhi
Ala Sasada ho dilehon Tuhan i
Tu Damang Dainang mon
Unang Mandele ho
Marnida Dongan mi
Ho do Arthaku dingolukki
Unang huida ho Marsak
Nasa tolap ni gogoki Hubaen do
Unang hubege ho tangis
Maniak ate-atekki manaon i
__ADS_1
Tondi-tondi hu do ho
Hagogoonku do ho
Boru hasianku
Sai dapot ho ma haduan
Naboi manghaholongi ho
Songon Nahubaen tu ho
Ho do Gabe Panggoaranki
Jala ho na lao Manjujung Goarhi
Ala Sasada ho dilehon Tuhan i
Tu Damang Dainang mon
Unang Mandele ho
Marnida Dongan mi
Ho do Arthaku dingolukki
Unang huida ho Marsak
Nasa tolap ni gogoki Hubaen do
Unang hubege ho tangis
Maniak ate-atekki manaon i
Tondi-tondi hu do ho
Hagogoonku do ho
Boru hasianku
Sai dapot ho ma haduan
Naboi manghaholongi ho
Songon Nahubaen tu ho
Akulah lelaki pertama
Yang kau lihat di dunia ini
Akulah lelaki pertama
Yang kau sayangi
Akulah kelak
Yang sangat kehilanganmu
Jika kau menikah
Kau lah anak pertamaku
Dan kaulah menjungjung tinggi namaku
Karena kaulah satu-satunya diberi Tuhan
Kepada kami orang tua mu
Jangan engkau bersedih
Melihat temanmu
Kaulah harta di hidupku.
Jangan ku lihat kau bersedih
__ADS_1
Semua akan kulakukan untukmu
Jangan ku dengar kau menangis
Sakit hatiku menanggungnya
Kaulah penyemanagatku
Kaulah kekuatanku
Putri kesayanganku
Semoga dapat mu nanti
Yang bisa menyayangimu
Seperti aku menyayangimu
Kau lah anak pertamaku
Dan kaulah menjungjung tinggi namaku
Karena kaulah satu-satunya diberi Tuhan
Kepada kami orang tua mu
Jangan engkau bersedih
Melihat temanmu
Kaulah harta dihidupku
Jangan ku lihat kau bersedih
Semua akan kulakukan untukmu
Jangan ku dengar kau menangis
Sakit hatiku menanggungnya
Kaulah penyemanagatku
Kaulah kekuatanku
Putri kesayanganku
Semoga dapat mu nanti
Yang bisa menyayangimu
Seperti aku menyayangimu
Kaulah penyemanagatku
Kaulah kekuatanku
Putri kesayanganku
Semoga dapat mu nanti
Yang bisa menyayangimu
Seperti aku menyayangimu.
Pak Baginda sangat bersyukur. Putrinya itu mendapatkan pasangan yang sangat menyayanginya. Dia tidak salah pilih. Berenya Tara is the best.
"Terimakasih Bere Tara. Kamu benar-benar suami yang Soleh." Pak Baginda kembali memeluk Tara dengan bangganya, penuh kehangatan. Keponakan sekaligus menantunya itu, sungguh luar biasa. Embun yang tukang membangkang kini sudah jinak. Penampilannya juga sudah berubah. Pak Baginda terharu, kedua matanya kini berkaca-kaca. Dia pun akhirnya melepas kaca matanya. Dan melap air matanya.
"Terimakasih Bere. Sudah mau menikah dengan putriku yang tak berguna ini."
"Ayah, apaan sih.!?" Embun kesal, masak Ayahnya bicara seperti itu. Embun pun menghentakkan kedua kakinya. Berjalan cepat ke kamar. Ayahnya itu selalu merendahkannya. Baru juga tadi mereka meluapkan rasa kangen dengan mengharu biru. Kini sudah terjadi salah paham.
"Bere Tara, tidak usah disusul. Ayo temani tulang main catur." Pak Baginda merangkul Tara, mengajaknya ke taman belakang.
Tara yang mengkhawatirkan Embun itu, hanya bisa terdiam. Tidak mungkin dia menolak permintaan pak Baginda. Kalau Tulang nya itu marah. Bisa-bisa Embun ditahannya di rumah.
__ADS_1
Tara menarik napas dalam, dan membuangnya kasar. Memulai permainan catur dengan tidak konsentrasi. Dan akhirnya pria itu selalu kalah. Pak Baginda senang tak terkira. Akhirnya dia jadi pemenang juga.
TBC