DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Istri orang


__ADS_3

"Bos, jangan marahi Nyonya. Rangkul dia Bos. Arahin Bos, sebelum Nyonya terjerumus semakin dalam." Rudi masih saja bicara bijak. Padahal dia sudah mabuk berat.


Ardhi tersenyum getir mendengar ucapan Asistennya itu. Sanggupkah dia merangkul dan memahami ibunya itu? padahal jiwanya juga masih tergoncang, karena masalah dirinya dengan Embun, belum hilang dari ingatan dan hatinya.


"Entahlah Rud, rasanya aku tak sanggup." Ardhi pun kembali menenggak minuman haram itu.


"Embun---- Embun--- kau wanita pengkhianat--!" Teriak Ardhi histeris. Merasa tingkah nya salah. Dia pun menutup mulutnya dengan tangannya sendiri. Kemudian pria itu tertawa cekikikan.


"Kamu sudah mabuk Bos." Rudi malah menambah minuman ke gelasnya Ardhi.


"Ayo bersulang..!" mereka malah cheers. Sambil tertawa terbahak-bahak. Rudi yang mabuk malah ngeluarkan kalimat-kalimat lucu. Sedangkan Ardhi selalu memanggil-manggil namanya Embun.


"Sebenarnya istri orang, adalah istri kita juga. Karena kita orang Bos..!" ujar Rudi, memancing emosi Ardhi yang lagi mabuk itu.


Ardhi tersedak mendengar ucapan asistennya itu. Dia berfikir, mencerna ucapan ngawur nya Rudi.


"Istri orang adalah istri kita. Karena kita orang. Hahaha... Berarti Embun bisa ku miliki. Dia kan istri orang!" Ardhi berbicara sudah tidak dengan logika. Saat ini dia beranggapan Embun adalah istrinya juga. Dia berhak menggaulinya.


Hahaha... Rudi tertawa sambil memegangi perutnya. "Iya Bos, Embun harus kamu miliki Bos. Ayo semangat..!" kedua pria yang kecewa dengan perjalanan hidupnya, benar-benar menggila malam itu. Keduanya sudah mabuk berat. Tapi, Rudi masih bisa mengendalikan dirinya, beda dengan Ardhi yang sudah tidak sadar lagi apa yang diucapkannya.


"Istri? kalau punya istri tentu bisa begituan kan?" Ardi dengan wajah mesumnya, memainkan jari telunjuknya, mematuk-matukkan jari telunjuk itu. Membayangkan dirinya menjamah Embun.


"Aduh Bos, Anda sudah mabuk berat. Sepertinya kita harus pulang Bos." Rudi yang terbiasa dengan dunia malam, mengetahui betul, apa yang akan menimpa Bos nya itu, jikalau tidak pergi cepat dari tempat itu.


Dia takut, wanita malam akan memanfaatkan situasi, menjebak Ardhi hingga memerasnya.


"Aku tidak mau pulang Rud. Aku masih kecewa pada Mama. Aku belum siap bertemu dengannya." Walau sudah mabuk, Ardhi masih mengingat masalah Ibunya. Dia tidak mau bertemu dengan ibunya itu saat ini. Karena, dia takut kebablasan dan akhirnya bertengkar dengan sang Ibu.

__ADS_1


"Kalau gak mau pulang ke rumah, mau nginap di mana Bos? di hotel?" tanya Rudi dengan menahan cekukannya.


Ardhi menggeleng-gelengkan kepala nya kuat.


"Aku mau pulang ke rumah istriku. Embun--!" Teriak Ardhi frustasi. "Istriku lagi ada di kantor. Aku mau pulang ke kantor saja. Embun pasti menungguku " Ardhi bangkit dari duduknya. Dia pun mencoba berdiri tegak. Melangkahkan kakinya dengan sempoyongan.


Rudi langsung memapah Ardhi yang berjalan sudah tidak seimbang lagi. Tapi, karena dia juga lagi mabuk. Mereka malah ambruk secara bersamaan.


"Akkhhh kamu payah Rud, jalan pun tidak becus." teriak Ardhi, mencoba bangkit. Tapi,dia malah jatuh lagi.


Melihat kedua pria itu sudah tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Pelayan club' itu pun membantu mereka keluar dari Club itu.


Ardhi masuk ke mobilnya, yang dikendarai sulit pribadinya. Sedangkan Rudi mengemudi sendiri. Rudi sering mabuk, tapi dia masih bisa nyetir.


"Pak Harto, kita pulangnya jangan ke rumah. Aku benci Mama, aku belum mau bertemu dengan Mama." Ucapnya sambil menahan dirinya agar tidak muntah. Dia sempoyongan di kursi penumpang. Bahkan pria itu kini sudah terbaring dengan kaki menjuntai.


"Jadi kita pulang ke mana Bos?" pak Harto, bingung mau membawa ke mana Bos nya itu. Pak supir juga heran, kenapa Bosnya itu mabuk-mabukan. Padahal dia tahu Bos nya itu tidak suka mabuk-mabukan.


"Oohhh aku tahu pak. Kita pulang ke kantor saja. Di kantor ada istriku. Dia sedang menungguku." Celetuknya, sambil menahan agar tidak muntah.


"Baik Tuan." Supir pun akhirnya membelok ke arah kantor. Dia menuruti permintaan Bos nya itu. Ya, Ardhi sering juga nginap di kantornya itu. Jadi, disaat pria yang mabuk itu minta diantar ke kantor, sang supir tidaklah heran.


Saat sang supir ngerem di parkiran, yang letaknya di basement. Saat itu juga Ardi memuntahkan semua isi perut. Pak Harto langsung meraih Ardhi yang terduduk lemas di dalam mobil.


"Pak, Tuan, tuan Ardhi." Sang supir yang panik tidak tahu lagi mau memanggil Ardi dengan sebutan apa. Kadang Bapak kadang tuan.


Sang supir mengeluarkan Ardhi dari dalam mobil. Muntahnya Ardhi sangat bau, yang sudah mengotori mobil mewahnya.

__ADS_1


Saat Ardhi bisa dikeluarkan dari mobil, pria itu lagi-lagi muntah. Pakaian Ardhi sudah kotor, kena muntahan yang sangat bau itu.


Pak Harto yang panik, malah membaringkan Ardhi di lantai basment. Dia kesusahan mengurus Bosnya itu.


Pak Harto mengambil tisu, berusaha membersihkan baju Ardhi yang kena muntahannya. Tapi, partikel muntahan yang menempel di baju nya Ardhi tidak bisa dibersihkan.


Pak Harto, akhirnya melepas baju yang sudah kena muntahan itu. Melap bibir dan wajah Ardhi dengan tisu basah yang diambilnya dari dalam mobil.


Dengan tenaga yang tersisa, Pak Harto memapah Ardhi, ke dalam lift. Sepanjang perjalanan menuju ruangannya pria itu selalu memanggil-manggil nama Embun.


"Embun---- Embun--- istriku! Istri orang adalah istriku... Hahahaha... hahhahaha..!" pria itu masih saja tidak sadarkan diri, atas apa yang diucapkannya. Pak Harto hanya bisa menghela napas dalam. Dia merasa kelelahan memapah bosnya itu.


"Embun---- istriku---- Eehhh---- istri orang lain. Tapi, isrtriku juga!" Ucapnya dengan suara keras. Pak Harto sampai budeg mendengarnya.


Shhiiffttt.... Ardhi meletakkan jari telunjuk nya di bibirnya.


"Pak Harto diam di sini, jangan ikut masuk ke dalam. Istriku sedang tidur. Dia sudah tidur nyenyak. Pak Harto tidak boleh melihat istriku Embun.!" Ucapnya dengan raut wajah sedih. Pak Harto dibuat bingung dengan ucapan Bos nya itu. Kadang suaranya menyedihkan. Kadang menyebalkan.


"Iya tuan, saya tidak akan masuk, saya hanya ingin mengantar tuan sampai ke dalam." Pak Harto masih bersih keras memapah Ardhi. hingga kini Ardhi sudah berada di dalam ruangannya.


"Sana, bapak keluar...! jangan ribut!" Ardhi meletakkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri.


"Shiifft....


"Silent...!" ucapnya cekikikan.


Ardhi pun menutup pintu dengan keras dan kuat dan mengunci ruangan itu. Pak Harto hanya terdiam di balik pintu. Merasa kasihan dengan bosnya itu.

__ADS_1


"Embun.... Embun... kamu jahat...!" teriaknya histeris, tergeletak di lantai dengan bertelanjang dada.


"Embun... Embun...! istriku, istri orang lain. Orang lain istriku. Di mana istriku?!!" Teriaknya.


__ADS_2