DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Terbentur


__ADS_3

Melati yang tak tenang itu merasa kepalanya sakit sekali. Dia pun mencoba untuk bangkit dari duduknya. Akan lebih baik dia di kamar saja. Mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah, karena tengang sejak sore tadi.


Saat hendak melangkah, kepalanya Melati terasa pusing tujuh keliling. Rasanya dia tak punya tenaga lagi untuk berjalan ke kamarnya yang ada di lantai dua. Akhirnya dia kembali mendudukkan tubuhnya di sofa tempat dia tadi duduk.


"Ya Allah, beri aku kesehatan dan kekuatan." Ucapnya sembari mengelus perutnya yang masih datar itu. "Ternyata hamil itu menyakitkan juga." Ucapnya berkeluh kesah, gimana pun Dia manusia biasa yang kadang bisa jadi lemah. Tak selamanya orang bisa berfikiran positif.


Melati yang lemah itu, memilih untuk istirahat saja di sofa itu. Dia pun berkonsentrasi untuk bisa istirahat. Tak mau memusingkan sang suami dan memikirkan pembicaraannya dengan Ilham di telpon.


Dia lagi hamil, hamilnya juga parah. Jangan setres sedikit. Dia pun akan jadi lemah. Mengetahui kondisinya dirinya seperti itu. Melati harus pandai-pandai menyiasatinya. Agar dia tidak drop.


Wanita yang lagi banyak pikiran itu pun, mencoba merilekskan tubuhnya. Berkonsentrasi penuh untuk bisa tidur. Tubuhnya perlu dichas, agar bertenaga.


❤️❤️❤️


"Terimakasih banyak ya Ayah " Ardhi menoleh ke arah Pak Zainuddin yang baru saja duduk di kursi mobilnya. Pak Zainuddin tersenyum tipis pada Ardhi yang nampak sudah lebih tenang. Setelah duduk di dalam mobilnya pak Zainuddin tak henti-hentinya menguap, beliau kantuk sekali.


Ardhi tadi siang di tangkap pihak yang berwajib di kantornya. Dia diintrogasi polisi, atas video po*rno, yang didalam video itu ada dirinya. Rudi ternyata tidak bisa meyakinkan pihak berwajib, kalau Ardhi sang asisten adalah korban. Sehingga pihak berwajib perlu memintai keterangan dari Ardhi.


Ardhi yang terkejut dengan penangkapan dirinya. Membuat pria itu tidak bisa meyakinkan pak polisi kalau dia adalah korban. Pak Zainuddin yang mengetahui Ardhi ditangkap polisi, akhirnya turun tangan. Hingga pukul 04.15 WIb subuh, semuanya bisa tuntas.


Ardhi tidak jadi tersangka. Karena Pak Zainuddin bisa membuktikan bahwa Ardhi adalah korban. Dia dijebak, terlihat dari video itu. Bahwa sikap Ardhi dalam video itu seperti gedebong pisang didalam adegan panas itu.


"Ngebut aja Pak." Titah Pak Zainuddin pada supirnya. Pria tua itu ingin cepat sampai rumah. Dia sangat lelah, kantuk sekali. Dia tidak mood lagi untuk berbincang-bincang dengan Ardhi di dalam mobil itu.


Melihat Pak Zainuddin yang begitu lelah. Ardhi pun akhirnya memilih untuk diam. Dia pun sebenarnya sangat lelah dan kantuk. Tapi, dia tidak bisa untuk tidur di dalam mobil, walau bareng sekejap. Pikirannya belum tenang. Banyaknya rentetan pertanyaan di kantor polisi, benar-benar membuat mentalnya diuji. Kejadian hari ini benar-benar pengalaman yang tak bisa dilupakannya.

__ADS_1


Hanya dalam waktu lima belas menit. Ardhi dan Pak Zainuddin sudah sampai di rumah. Jalanan yang sunyi membuat mereka cepat sampai di tempat tujuan. Pak Zainuddin yang lelah, langsung turun dari mobil, tanpa banyak bicara dengan Ardhi.


Ardhi tersenyum kecut. Dia merasa malu pada Pak Zainuddin. Dia benar-benar membuat susah ayah mertuanya itu. Dia juga tahu, Pak Zainuddin sedikit kecewa padanya.


"Lihatlah putriku sampai ketiduran di sofa karena menunggumu." Suara Pak Zainuddin terdengar dingin, menoleh kepada Ardhi yang mengekor di belakangnya.


Ardhi tidak mengetahui kalau Melati tertidur di ruang keluarga. Langkahnya terhenti saat hendak masuk ke dalam lift, karena ucapan dingin ayah mertuanya itu.


Kelopak mata Ardhi yang tadinya kantuk berat, kini segar lagi, karena hatinya tersentuh melihat sang istri yang menunggu kepulangannya. Dia pun berjalan ke sofa dengan kedua bibir melengkung sempurna, sehingga menghasilkan senyuman tipis yang manis.


Rasa lelah seharian ini terbayar sudah, setelah melihat pemandangan di hadapannya. Istrinya menunggu kedatangannya sampai tertidur di ruang keluarga? apakah itu artinya, istrinya itu sudah membuka hati untuknya? Memikirkan itu, membuat Ardhi semakin semangat.


Ardhi dengan perasaan bahagianya, menghadiahi keningnya Melati dengan kecupan lembut. Mengusap lembut lengan sang isteri. Ternyata istrinya itu sudah tidur dengan pulas. Sampai-sampai perbuatannya tidak mengusik tidur wanita itu.


Ardhi menyelipkan kedua tangannya dibawah tubuh sang istri dengan pelan. Dia pun menggendong Melati ala bridal style menuju kamar mereka di lantai dua.


Dugggg....


"Aawwww......" Pekik Melati, sakit karena terjedut, membuatnya terbangun. Seketika wanita itu pun membelalakkan matanya. Tangannya refleks memegang keningnua yang terasa sangat sakit.


"Dek, maaf Dek..!" Ardhi yang panik mempercepat langkahnya menuju ranjang. Dia tidak sengaja menjedotkan kepala Melati ke kusen pintu kamar mereka. Saat pria itu asyik memandangi wajah sang istri setelah sukses membuka pintu kamar mereka. Ardhi benar-benar tidak memperhitungkan langkahnya dan keberadaan Melati dalam dekapannya.


"Sakit, sakit.!" rengek Melati setelah Ardhi mendudukkan sang istri di tepi ranjang. Wanita itu memegangi keningnya yang ternyata sudah benjol. Ardhi panik melihat keadaan Melati.


"Mana yang sakit dek? mana yang sakit?" ucapnya dengan bingungnya. Dia tahu koq bahwa keningnya Melati sudah bengkak dan memerah. Tapi, pria itu malah bertanya. Ardhi benar-benar dibuat merasa bersalah, karena telah mencelakai istrinya sendiri.

__ADS_1


"Ini, ini " Melati meringis kesakitan, air mata lolos juga membasahi pipinya. Rasanya memang sangat sakit. Rasanya seperti tulang kering kita kena benturan.


"Iya dek, aduh maafkan Mas ya?" Pria itu. merangkum kepala sang istri menciumi keningnya Melati berulang kali dengan gemes dan merasa bersalah.


"Sakit...!" rengek wanita itu lagi makin histeris. Saat ini bukan kecupan yang diinginkannya. Tapi, pertolongan pertama pada lukanya. Dikecup ya makin sakit.


"Aduhhh gimana nih?" Ardhi malah meniup- niup keningnya Melati yang benjol itu. Bukan pertolongan seperti itu yang diinginkan Melati. Tapi, melihat ekspresi wajah Ardhi yang begitu merasa bersalah itu. Membuat Melati terdiam, dengan kelakuan Ardhi yang terus meniip-niup keningnya.


"Sakit dek?" Melati mengangguk pelan. Melihat begitu besarnya kekhawatiran sang suami padanya. Membuat Melati tersentuh. Dia jadi percaya bahwa Ardhi memang tulus padanya. Sudah saatnya dia mencoba membuka hati untuk pria itu. Karena, membenci bukanlah sifat asli wanita itu.


"Loh loh koq semakin besar benjolnya. Gimana ini?" Ardhi benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana memperlakukan sang istri.


"Dikonfres Mas." Ucap Melati cemberut sembari melap air matanya.


"Ohh iya, sebentar." Ardhi bergerak cepat turun ke lantai bawah. Dia akan minta bantuan pada ART untuk menyiapkan kompres.


Setelah mendapatkan apa yang dia mau. Ardhi bergegas naik ke lantai dua kamar mereka


Pria itu ngos ngosan setelah sampai di hadapan sang istri.


"Masih sakit?" ucapnya lagi dengan napas tersengal-sengal. Melati tetap mengangguk-angguk.


"Mas kompres ya?" Ardhi pun dengan hati-hati mengompres dahi istrinya itu. Melati yang sesekali meringis kesakitan membuat Ardhi semakin tidak tega.


Dia tidak mau Pak Zainuddin nantinya tahu, dahi Melati benjol, karena ulahnya. Dia yakin pria tua itu pasti akan memarahinya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2