
"Ardhi, anakku Ardhi." Ucap wanita yang melahirkan pria yang lagi patah hati itu. Dengan tangan bergetar, wanita itu menyentuh pipi anaknya itu. Dan air mata lolos sudah membasahi wajah pucat wanita itu.
"Iya Bu. Ardhi sudah disini." Meraih tangan ibunya, menggenggam tangan itu dan menciumnya. Dia sangat menyayangi Ibunya itu. Karena, hanya wanita itulah harta berharga yang dimilikinya.
"Anggun, Anggun sudah bebaskan Nak?!" Menatap sedih Ardhi yang masih menciumi tangan Ibunya itu.
"Nanti saja kita bahas Anggun ya Bu. Sekarang ibu makan dulu, terus minum obat. Ini sudah hampir jam dua siang." Ardhi meletakkan tangan Ibunya di atas perut wanita itu. Mengambil piring Stainles yang berisikan makanan wanita tua itu.
"Makan dulu Bu!" Wanita itu menggeleng kan kepalanya, menolak suapan dari Ardhi.
"Ibu tidak akan tenang, kalau belum dapat kabar tentang Anggun. Kata Asistennya, dia tidak bisa ditebus." Ibunya Ardhi itu malah menangis, Ardhi jadi semakin kalut. Dia juga lagi setres saat ini. Melihat ibunya juga tertekan, dia tentu saja semakin panik. Dia benar-benar tidak bisa menghibur ibunya. Akhirnya dia diam saja.
"Bu, sebaiknya ibu makan terus minum obat. Jangan bahas masalah dulu ya Bu." Ucap perawat perempuan itu. Mengambil piring dari tangan Ardhi. Perawat pun menyodorkan satu suapan kepada wanita itu. Tapi, ibunya Ardhi tidak mau membuka mulutnya.
"Bu makanlah, Anggun sudah bebas tadi pagi." Ucap Ardhi dengan ekspresi wajah datar. Mengingat wanita itu, membuatnya kesal bukan main. Beraninya dia ingin membunuh Embun.
Dasar wanita gila, psikopat. Umpat Ardhi dalam hati. Walau wanita itu sudah bebas, dia akan tetap membuat perhitungan dengannya.
__ADS_1
Seketika wajah sumringah terlihat di wajah wanita tua itu. Dia pun akhirnya mau makan. Ardhi merasa legah melihat ibunya makan juga.
"Anggun sangat mencintaimu sayang. Ibu akan merasa bahagia sekali jika kamu mau menikah dengannya."
DUARRRRR.... Dug...dug...dug...
Ardhi sangat terkejut mendengar ucapan Mamanya itu. Saat ini dia tidak ada kepikiran untuk menikah. Dia baru saja patah hati. Dia bahkan trauma dan tidak ingin jatuh cinta dan menjalin hubungan lagi sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.
Raut wajah frustasi langsung terlihat di wajah Ardhi. Dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan kegundahannya saat ini.
"Nak..!" Sang ibu memelas.
Ardhi jadi tidak tega melihat ibunya itu. "Bu, nanti saja kita bicarakan itu. Yang penting sekarang ibu sehat dulu. Kalau ibu sudah sehat, kita bahas lagi ya. Jangan sekarang kita bahasnya ya Bu." Ardhi menolak dengan cara halus. Tidak mungkin dia mengatakan langsung, tidak mau menikah dengan Anggun pada ibunya itu.
"Janji dulu nak, bahwa kamu mau menikah dengan Anggun?' Menatap lekat wajah Ardhi yang kini menunduk. Dia lelah, sangat lelah. Ibunya itu malah membahas hal yang sangat tidak disukainya saat ini. Apalagi wanita yang dijodohkan dengannya adalah Anggun, wanita yang tidak tipenya sama sekali.
Ardhi heran, kenapa ibunya itu menyukai Anggun. Padahal Anggun itu punya watak yang tidak bagus. Bahkan pergaulannya sangat bebas. Bajunya selalu kekurangan bahan lagi. Entah dari sisi mana ibunya itu menilai Anggun. Sehingga ibunya itu ngotot, agar dirinya menikahi wanita jadi-jadian itu.
__ADS_1
Bisa-bisa nantinya kalau dia menikah dengan wanita itu. Nyawanya bisa terancam. Disaat dirinya tidak sesuai dengan keinginan wanita itu.
"Iya Bu. Sekarang ibu harus minum obat." Ardhi memberikan empat macam tablet untuk ibunya itu. Ibunya itu meminumnya dengan cepat dan penuh semangat.
"Kita pulang ke rumah sekarang. Ibu sudah sehat. Mana ponsel ibu. Ibu akan menghubungi Anggun. Ibu ingin dia datang ke rumah." Wanita itu langsung beranjak dari ranjang dengan hebohnya. Mencari tasnya, dia harus menelpon Anggun, gadis yang sangat disukainya itu.
Ardhi dibuat tercengang dengan kelakuan ibunya itu. Sebenarnya ibunya itu sakit atau pura-pura sakit?
Ardhi menghela napas berat, mendudukkan bokongnya di sofa. Memandangi ibunya dengan terheran-heran, saat ibunya itu melakukan panggilan video Dengan Anggun dengan semangatnya.
Apa ini semua? kenapa wanita yang diinginkan ibunya. Mencoba menghilangkan nyawa wanita yang sangat dicintainya. Ardhi tidak akan tahu, bagaimana nantinya untuk bersikap pada wanita gila itu.
Wanita itu sangat terobsesi padanya, hingga melakukan segala cara agar mendapatkannya. Jangan-jangan ibunya itu telah diguna-gunai. Sehingga ibunya itu begitu getol menjodohkannya pada Anggun.
Kita lihat saja nanti, apa yang akan ku lakukan padanya. Jikalau ibu masih ngotot menikahkan kami. Akan ku beri kau kehidupan lebih menyakitkan daripada di neraka. Ardhi membathin, dengan ekspresi wajah devil.
Pria itu dalam semalam sudah berubah, dia bukan Ardhi yang hangat lagi. Tapi, Ardhi yang punya hati kejam.
__ADS_1