DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Tara pesimis


__ADS_3

Mama Nur keluar dari kamar Embun dengan perasaan takut, cemas dan penuh kekhawatiran. Kejadian yang mereka tutupi tentang Doli, ternyata masih diingat oleh Embun.


Kalau Embun masih mengingat kejadian itu, maka kebenciannya kepada Tara tidak akan hilang. Baru Mama Nur sadar, ternyata itu alasannya kenapa Embun membenci Tara.


Mama Nur mengira, Embun tidak akan mengingat kejadian itu lagi. Karena mereka melihat kesehatan Embun sejak kejadian itu sudah pulih.


"Nantulang.." Teguran Tara mengejutkan Mama Nur yang masih berdiri di depan pintu kamar Embun yang sudah ditutupnya. Mama Nur terlalu memikirkan ucapan Embun yang membuatnya tidak fokus. Bahkan Tara yang sudah berdiri di depan kamar Embun selama lima menit, tidak dilihat oleh Mama Nur.


"Ooohh... Kamu Bere, Ayo ikut Nantulang." Ajak Mama Nur menarik lengan kanan Tara. Mau tidak mau Tara pun mengikuti langkah Mama Nur ke taman belakang. Mereka duduk di sebuah gazebo.


Mama Nur menghela napas dalam. Tara terheran-heran melihat sikap Nantulangnya itu pagi ini.


"Apa kamu masih sering bertemu Doli?" tanya Mama Nur, dengan wajah cemas.


"Aku menemuinya sekitar sebulan yang lalu." Jawab Tara, menatap lekat Nantulangnya yang nampak bingung dan cemas itu.


"Oohh... Apa Dia pernah menanyakan tentang Embun kepadamu?" tanya Mama Nur dengan penuh selidik.


"Tidak Nantulang, Dia kan tidak mengingat Embun lagi. Dia kan masih Amnesia?" jawab Tara ikut bingung juga.


"Oohhh.... Untuk saat ini jikalau Embun menanyakan tentang Doli atau mengingat kejadian yang menimpah kalian 14 tahun yang lalu, kamu jangan menceritakan apapun. Kecuali setelah kalian menikah." Ucap Mama Nur dengan serius. Dia memegang tangan Tara, untuk meyakinkannya.


"Iya Nantulang, Aku pun sedih bila mengingat kejadian itu." Jawab Tara datar. Matanya menatap jauh kedepan, mengingat kejadian tragis itu.


Mama Nur mengangguk. " Nantulang, Aku sangat mencintai Embun. Tapi, sepertinya Dia tidak menginginkan pernikahan ini. Aku tidak bisa melihatnya sedih dan malah semakin membenciku. Sebaiknya pernikahan ini dibatalkan saja." Ucap Tara Sedih dan menunduk.


Mama Nur terkejut mendengar ucapan Berenya itu. Bukannya semalam mereka sudah membahas nya. Disaat Tara mengantarnya ke perkebunan salak mereka yang terbakar. Bahwa pernikahan ini tidak boleh dibatalkan. Kenapa lagi Tara menyerah setelah satu hari.


"Kalau itu terjadi maka akan banyak korban. Kamu mau penyakit Ompungmu kumat. Hanya pernikahan kalian yang akan membuatnya semangat hidup. Jangan menambah masalah baru lagi, dengan kamu yang terlalu terbawa perasaan. Karena sikap Embun yang kekanak-kanakan itu. Disinilah tantangannya, bagaimana kamu bisa meluluhkan hatinya. Disinilah seni cinta kalian.


"Kamu bilang cinta sama Embun, tapi mau melepasnya begitu saja. Itu tidak cinta namanya. Itu pesimis." Jelas Mama Nur dengan menatap lekat mata Tara. Jangan sampai pernikahan ini gagal, maka akan banyak sekali masalah yang akan timbul.

__ADS_1


"Aku kasihan kepada Embun Nantulang, Dia tidak menginginkanku. Sepertinya, Dia mencintai pria lain. Karena cintaku yang begitu besar dan tulus itulah, Aku tidak mau melihatnya menderita menikah denganku pria, yang tidak dicintainya." Ucap Tara mulai mengasihani dirinya sendiri. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi kayu dengan kepala menggantung.


"Kenapa kamu jadi lemah begini?" Mama Nur mendekati Tara dan menepuk bahunya. Tara menegakkan tubuhnya dan menghela napas dalam.


"Aku jadi lemah, kalau sesuatu itu berhubungan dengan Embun." Tara membathin. Dia mengusap wajahnya kasar. Menyisir rambutnya yang masih rapi dengan tangannya sampai kebelakang kepalanya.


"Jangan ada niat membatalkan pernikahan ini." Ucap Mama Nur pelan, karena Dia melihat Pak Baginda berjalan ke tempat mereka sekarang duduk. Sempat Suaminya itu mendengar topik pembicaraan mereka. Maka suaminya itu akan berang.


" Tara kamu disini?" ucap Pak Baginda dengan tersenyum. Tara membalas senyuman Tulang nya itu. "Kata Ayahmu, kamu mau ke kota Medan hari ini?" Pak Baginda mendudukkan bokongnya dihadapan Tara.


"Iya Tulang, berangkat agak siangan nanti." Jawabnya sopan.


"Jangan lama-lama di Medan. Ingat pernikahan kalian tinggal sepuluh hari lagi." Ucap Pak Baginda tegas memperhatikan Tara yang nampak sedang bingung. Tara, tidak yakin dengan pernikahan ini. Karena sikap Embun yang tidak menyukainya. Jadilah Tara seperti orang linglung.


"Paling lama tiga hari tulang, mau memastikan semua urusan mengenai perusahan yang baru dibuka di kota Binjai beres. Agar menjelang hari H, semua kerjaan sudah clear." Ucapnya sambil melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan.


"Lapar ni Nantulang, sarapan yuk...!?" ucap Tara tersenyum sambil memegangi perutnya yang keroncongan.


Mama Nur tersenyum. "Biasa aja kali meliriknya. Sekali-kali makam sendiri, jangan tergantung Mulu sama istri." Ucap Mama Nur tersenyum, karena dipandangi oleh suaminya itu.


"Makan sama istri nikmat." Ucap Pak Baginda, merangkul istrinya dan menuntunnya berjalan meninggalkan gazebo yang diikuti oleh Tara.


Tara tersenyum melihat keromantisan calon mertuanya itu. Apa Dia bisa seperti itu kepada Embun. Jangankan untuk merangkul, memegang tangannya saja pun pasti tidak diperbolehkan Embun.


Tara menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal itu, sambil berjalan mengekori calon mertuanya. Dia sedikit bingung nantinya jikalau Dia menikah dengan Embun, pasti tidak akan ada kebahagiaan didalamnya. Secara Embun tidak menyukainya.


Acara sarapan pun selesai. Mama Nur meminta Tara mengantar sarapan Embun ke kamarnya. Tara menolak, karena Dia merasa tidak enakan masuk ke kamar seorang wanita. Walau wanita itu adalah calon istrinya.


"Bukannya kamu mau bertemu dengan Embun? ya sudah sana masuk, bawakan makanan ini kepada Embun. Dia sudah telat makan. Dia harus makan, karena mau minum obat." Ucap Mama Nur memaksa Tara memasuki kamar putrinya itu.


Tara enggan untuk masuk seorang diri ke kamar itu. Kemarin Dia tidak seorang diri masuk ke kamar itu. Ada Mama Nur bersama nya. Walau Mama Nur akhirnya meninggalkan mereka berdua. Tapi, pagi ini Dia merasa berat hati masuk ke kamar Embun.

__ADS_1


"Ayo sana bawakan makanan ini. Kamu tunjukkan perhatianmu kepadanya. Ini saat nya kamu memperhatikannya. Dia kan masih sakit. Jalan saja masih pincang." Mama Nur memaksa Tara.


"Tulang dan Nantulang mau ke kantor polisi mau melaporkan perkebunan salak kita yang terbakar. Sepertinya itu sengaja dibakar." Ucap Mama Nur. Kembali menyodorkan nampan berisi makanan untuk Embun.


Dengan perasaan yang tidak enak Tara pun meraih nampan itu. Tara, Mama Nur dan pak Baginda, berjalan beriringan menuju kamar Embun.


Mama Nur mengetuk pintu kamar putrinya itu.


"Embun, kamu harus sarapan dan jangan lupa minum obat. Ini sarapan mu sudah di antar." Teriak Mama Nur dari balik pintu yang masih ditutup. Berharap ada jawaban dari dalam. Tapi nyatanya tidak ada jawaban. Tapi, sebenarnya Embun mendengar teriakan Mamanya itu.


"Lihatlah, sipat kekanak-kanakan nya itu. Karena sebel dengan kita. Ucapan Mama pun tidak disahuti. Ya sudah, tanggung jawab mu sekarang Tara didik calon istrimu itu. Ayo Ma, kita berangkat." Ucap Pak Baginda. Meraih tangan istrinya itu dan Mengenggam nya. Kemudian mereka berjalan cepat menuju mobil mereka yang sudah terparkir di halaman rumah. Mereka akan dibawa supir ke kantor polisi.


Tara membuka pintu Embun dengan perasaan berdebar. Disaat pintu sudah terbuka lebar. Dia menyoroti kamar Embun. Dia tidak melihat Embun dikamar itu. Dia pun berjalan menuju meja belajarnya Embun dan meletakkan nampan yang berisi makanan itu di atasnya.


Terdengar suara percikan air di dalam kamar mandi yang tidak tertutup. Ya, Embun yang berjalan pincang dan merasa kebelet. Tidak sempat lagi menutup pintunya.


Setelah selesai membuang hajat nya. Tiba-tiba saja Dia pingin berendam air hangat. Berharap setelah berendam, kakinya yang terkilir terasa baikan. Jadilah Dia berendam selama satu jam, sambil memijat-mijat tangannya yang masih terasa sakit itu. Benar saja, setelah berendam air hangat. Embun merasa tubuhnya lebih ringan dan enakan.


"Ma, tolong dong ambilkan handukku yang tergantung digantungan besi." Teriak Embun dari dalam kamar mandi. Dia yang tadi mendengar suara Mamanya mengantar makanan. Meyakini bahwa Mamanya yang masuk ke dalam kamarnya.


Tidak ada sahutan, yang membuat Embun mengulang ucapannya.


"Ma,..... Ambilkan handuk dan bawa kesini.... Aku sudah kedinginan ini Ma. Bi Siti, mencuci handuk dan jubah mandi yang sering tertinggal disini. Bahkan kain salin pun diambilnya Ma. Aku sedang tela*Jang ini Ma. Cepat bawa handuk atau jubah mandi kesini Ma....!" ucap Embun sedikit kuat. Agar Mamanya mendengar ucapannya itu.


Embun kesal bukan main, coba kakinya tidak sakit. Dia mana mau mandi dalam keadaan polos. Dia risih, tapi karena kakinya sakit. Dia malas mengambil kain salin dan handuk. Karena jalan bolak balik. Mau pakai baju tidur untuk mandi, Embun malas memakai nya lagi. Karena terlanjur membukanya.


"Ma.....?!" Suara Embun kembali mengangetkan Tara. Otaknya langsung lari kemana-mana, mendengar Embun tela*njang. Dulu sih sewaktu masih kecil, mereka sering mandi tela*njang di sungai dekat sawah Ompungnya.


Tapi itu dulu, saat tubuh masih belum ada yang berkembang dan menonjol. Kalau melihat Embun sekarang tel*anjang, pasti Dia akan lari mendekat.... atau lari menjauh....?


Kwkwkkw... Ujian buat Tara.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2