DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Paborhat Boru part 1


__ADS_3

POV Embun


Tamu undangan sudah banyak berdatangan, kami pun harus duduk manis di pelaminan.


"Jangan cemberut dong say," Ucap si bencong, saat Dia memaksaku menggandeng tangan Tara menuju pelaminan.


"Kalian dijodohkan Ya?" tanyanya lagi, menatap ku heran kemudian beralih menatap Tara.


"Kepo banget sih loe. Gak usah banyak nanya, laksanakan saja tugas loe dengan baik." Jawab ku malas, didekat telinganya. Suara bising MC dipanggung mengharuskan ku bicara dekat dengan si bencong.


"Makanya nurut apa kata gue, disuruh gandeng ya gandeng. Kalau loe gak mau gandeng. Sini biar Aku saja gandengannya. Cowok cakep gini, sok-sok banyak gaya loe, dari tadi ku perhatikan loe sok jual mahal gitu." Ucap si bencong dengan muka tak berdosa. Dasar mahkluk jadi-jadian ngomong nya buat kesal aja.


Kesal gua, tahu ini MUA nya gak bakal Sudi gua. Tahu sendiri, makhluk aneh kek gini bawaannya sensi.


"Ayo sayang, tamu sudah pada berdatangan. Yuk jalan " Ucap Nantulang, ikut menuntunku ke pelaminan. Ku melirik Tara yang tangannya menggandengku dengan tersenyum ramah. Aku pun akhirnya ikut-ikutan tersenyum.


Setelah duduk di bangku pelaminan, si bencong dengan cepat membenahi gaunku yang panjang ekornya empat meter. Gaunnya memang sangat cantik, warna broken white dipadu dengan Swaroski berbagai macam warna. Tidak bisa dipungkiri, kerjaan si bencong memang bagus.


"Say, aduh kamu koq tampan begini sih?" Dia mendekati Tara dengan kecentilannya, membenahi dasi kupu-kupu Tara yang memang sudah rapi. Tara mengenakan stelan yang warnanya senada denganku. Postur tubuhnya yang bagus, membuat Dia nampak sangat tampan.


"Uuhhh... cakep banget sih setelannya. Berapa duit kemarin habis say?" ucapnya pada Tara. Si bencong, yang sudah menjadi musuhku satu hari ini, selalu bersikap cuek Kepada ku. Dia sibuk menggoda si Tara. Ku melirik Tara disebelahku. Baru ke ketahui gaun dan baju yang dikenakan Tara adalah baju yang dijaitkan khusus untuk kami pakai. Ku pikir gaun dan baju yang dikenakannya, adalah milik si bencong yang disewa.


"Murah koq, gak sampai 1 M." Ucap Tara datar. Aku pun terkejut mendengarnya Aneh ni pria, habiskan uang untuk pernikahan palsu. Mas kawin 5 Milyar dan satu set perhiasan emas 500 gram. Apa Dia gak merasa rugi, padahal kan nanti Aku balik sama Mas Ardhi.


Eeemmmm... Ayah ketimpuk durian runtuh. Dapat uang banyak dari si Tara cowok sok kecakepan ini.


"Beruntung loe, dapat suami kek Dia. Kaya, tampan, baik lagi. Gak kaya loe, sok kecantikan." Ucap si bencong, Aku terkejut mendengar ucapan Si bencong. Mulai dari tadi, ini si bencong cari gara-gara Mulu sama gue.


Dasar makhluk astral, membuat mood ku semakin jelek saja.


"Gue kan emang cantik, makanya Dia mau nikah sama Aku. Paham kamu sampai situ kan Cong?" jawabku malas, membuang muka dari si bencong menyebalkan.


"Eehhmmm--- coba kalian pakai baju adat juga hari ini. Pasti nampak lebih Kren dech." Ucapnya memperhatikan kami berdua yang kini sudah duduk dengan mode canggung.


Ya, karena di rumah Tara akan diadakan resepsi juga. Maka resepsi di rumah ini, pakaian nya yang modern saja. Tapi, nanti pesta adat di rumah Tara akan mengenakan pakaian adat, lengkap dengan Bulang yang kata orang sangat berat. Yang mempunyai tingkat sampai tujuh.


"Tangannya ditautkan Napa sih? biar para undangan melihat kalian enak, nampak mesra gitu,biar orang-orang pada iri." Ucap si bencong, Dia dengan cepat meraih tanganku dan Tara, sehingga tangan kami bertautan. Sesaat Aku dan Tara saling menatap, karena kelakuan si bencong. Tara terseyum, sedangkan Aku klabakan dan kesusahan menelan ludah sendiri. Melihat wajah Tara yang dihiasi senyum manis itu. Tangan Tara keras, tapi sedikit lembut dipegang. Genggamannya kuat dan terasa hangat.


Genggamnya juga membuatku nyaman, karena jujur tanganku yang mungil ini, sudah tenggelam di tangan nya yang kekar itu. Mungkin kepalan tangannya, sekali tonjok bisa buat orang pingsan kali ya.


"Dicium boleh gak?!" ucap Tara dengan cepat ngangkat tanganku yang digenggamnya. Aku berontak, tapi Dia menahannya kuat.


"Acting IBun," ucapnya terseyum, Aku pun akhirnya pasrah. Dia pun mengecup punggung tanganku. Aku heran saja, dengan kata IBun? apa itu IBun?


"Kesempatan dalam kesempitan kamu. Ingat perjanjian." Ucapku, mencoba melepas genggaman tangannya.


Dia melirikku, "Tidak ada kalimat diperjanjian tidak boleh cium tangan." Ucapnya pelan, menatapku lekat. Sehingga Aku memundurkan tubuhku.


Enak saja Dia itu, memang tidak ada isi perjanjian seperti itu. Tapi kan isinya tidak boleh menggauli, berarti tidak boleh kontak fisik?


"Jangan main-main, Aku serius. Aku hanya mau disentuh oleh pria yang ku cintai. Sepertinya kita perlu membuat perjanjian baru." Ucapku tegas, membalas tatapannya tajam.


"Terserah kamu IBun?" ucapnya, memutar tubuhnya hingga menghadap tamu undangan.


"IBun? apa itu IBun? kenapa kamu panggil Aku dengan sebutan IBun?" tanyaku, tapi kini tatapanku lurus ke arah tamu undangan. Menampilkan ekspresi bahagia.

__ADS_1


"IBun (Iban Embun)," ucapnya masih menatap para tamu undangan. Aku menoleh ke arahnya, enak saja Dia membuat panggilan khusus untukku.


"Namaku Siti Embun Harahap. Bukan IBun. Aku tidak mau dipanggil dengan sebutan itu." Ucapku kesal. Kami berdebat, dan sesekali tersenyum pada tamu undangan.


"Ya udah, Aku panggil kamu dengan panggilan Siti aja." Ucapnya cekikikan, Dia mengejekku.


"Gak mau, panggil Aku Embun." Jawabku melotot padanya.


"Kalau Aku gak mau. Emang kenapa?" tanyanya dengan muka tak berdosa. Sepertinya Dia sengaja menjahiliku. Tahu merasa dikerjain akhirnya Aku pun mencoba untuk diam. Tamu undangan pun sebagian datang menyalami dan mengucapkan selamat, bahkan banyak yang meminta foto bareng.


Setiap tamu dekat yang meminta berfoto, tingkah Tara sungguh menyebalkan. Banyak sekali gayanya. Dia selalu mengambil kesempatan dengan merengkuh pinggangku atau meggenggam tanganku.


Hingga waktu pun kian bergulir, sudah saatnya Aku akan diboyong kekediaman Tara. Tentu saja, setelah sesi potret dengan keluarga besar di atas pelaminan selesai. Aku yang harus ikut beracting itu. Akhirnya pasrah saja dengan instruksi si cameraman, yang memintaku berfose mesra dengan Tara.


Sebelum acara adat kepergian ku dari rumah ini berlangsung. Saat ini kami sedang makan siang di dalam kamar. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Aku dipaksa Nantulangku makan, karena saat istirahat untuk sholat Dzuhur, Aku tidak mau makan, karena tidak selera.


"Makan banyak Embun, kamu harus punya tenaga." Ucap Nantulang, menyuapiku. Sedangkan Tara yang sudah makan siang, nampak sibuk duduk di tepi ranjang dengan ponselnya. Rambutnya masih nampak basah. Karena Dia habis selesai sholat Ashar.


"Iya Nantulang," Ucapku, mulai mengunyah makanan dari suapan Nantulang, menggunakan sendok makan.


"Kamu sudah sholat ashar?" tanya Nantulang. Aku mengangguk.


"Kak, pengantinnya ku rias sambil makan aja ya?" tanya si bencong kepada Nantulang.


"Iya Dek, biar cepat. Ini waktu sudah mepet. Mereka harus di upah-upah lagi. Masih banyak ritual adat yang harus mereka lakukan." Ucap Nantulang, masih menyuapiku.


"Sudah Nantulang, Aku kenyang." Ucapku, menolak suapan darinya.


"Ini masih banyak nasinya. Kamu hanya makan lima sendok. Gak boleh nyisahin makanan." Ucap Nantulang.


"Kamu ini," Jawab Nantulang kecewa.


"Sini Biar Aku saja yang habiskan. Aku lapar, sepertinya harus banyak makan ini biar punya stok tenaga." Ucap Tara, mendekati Nantulang. Meraih piring dari tangan Nantulang.


Si bencong terdengar tertawa. "Iyalah, nanti malam kan malam pertamanya kalian." Ucapnya tanpa dosa. Padahal ada wanita yang dituakan di ruangan ini. Tak pantas ada yang bicara seperti itu.


"Bahhh..... ku pikir gak paham juga kamu Dek dengan malam pertama." Jawab Nantulang. Aakhhh ternyata Nantulang gaul juga. Biasanya hal-hal tabu seperti ini, dilarang dibahas.


"Eehhmmm--- anak kecil juga pada tahu kali." Jawab si bencong, mulai memintaku berganti pakaian. Aku pun mengambil kebaya dari lemari, permisi masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian. Tapi si bencong menahan langkah ku.


"Ganti disini saja," Ucap si bencong.


Aku menatapnya jengah. " Ngapain malu, kan sama suami sendiri juga." Tegas si bencong.


Ku melirik Tara yang begitu menikmati makanan sisa dariku. Ku bergidik ngeri. Katanya tidak suka padaku, Aku tidak selevel dengannya. Tapi, makanan sisaku diembatnya. Kalau Aku digaji 1juta ogah minum dari gelas bekasnya.


Saat Aku menatapnya, Dia pun melihat ke arahku. Dengan cepat Aku membuang pandanganku ke arah kamar mandi.


"Aku yang tidak sudih, kamu lihatin istriku ganti baju." Jawab Tara, yang membuatku menatapnya tambah heran. Apa Dia cemburu pada si bencong. Tapi, tidak mungkin juga, Dia kan tidak suka padaku?


"Aku mana tertarik smaa Dia, Aku sih tertariknya sama situ." Jawab si bencong, Tara langsung bergidik bahu. Akupun masuk ke kamar mandi.


"Waduhh... tombak bertemu tombak. Mental dong. Tobat kamu, jangan melawan kodrat." Ku dengar Tara berdebat dengan si bencong dari dalam kamar mandi.


"Dasar manusia, pikirannya banyak yang terkontaminasi dengan setan. Hewan jantan saja, tahu cari lubang. Lah ini manusia, yang diberi akal pikiran. Tidak bisa membandingkan mana yang baik dan buruk." Ku dengar Nantulang merepet sembari keluar dari kamar.

__ADS_1


Si bencong pun terdiam, disaat Aku keluar dari kamar mandi. Saat ini si bencong ku lihat sudah mendandani Tara.


❤️❤️❤️


POV Author


Acara yang paling mengharu biru pun segera di mulai. Tara dan Embun di dudukan di juluan (tempat terhormat) di dalam ruang utama acara ini berlangsung. Saat ini Tara dan Embun duduk  di atas amak lappisan atau tikar pengantin khusus acara adat.


Sebelum Hata Simora-Mora disampaikan, dihadapan mereka sudah dihidangkan makanan khusus disebut Hasaya atau pangupa.  


Hasaya atau makanan tersebut terdiri dari nasi, telur ayam, ayam jantan atau kambing jantan atau kerbau, ikan dan sayur mayur. Hewan yang dijadikan media (landasan) tersebut tergantung kepada besar kecilnya kemampuan orang tua. Hidangan makanan ditutup dengan daun pisang ujung (bulung ujung) yang menandakan berakhirnya masa remaja serta dimulainya hidup ber- tangga.


Ternyata upah-upah yang ada dihadapan mereka adalah hewan kerbau. Itu bisa dilihat dari ukurannya yang besar dalam wadahnya yang masih ditutupi oleh daun pisang. Biasanya kepala kerbau akan terhidang dihadapan mereka.


Nama acara adat ini adalah Makkobar dan mangalehen mangan atau acara pemberian nasehat dan memberi makan pengantin. dan lanjut pemberangkatan Boru ( Memberangkatkan pengantin wanita ke rumah pengantin laki-laki)


Dalam acara ini akan ada pemberian Hata Simora-Mora terhadap kedua mempelai yang baru saja melangsungkan pernikahan. Hata Simora-Mora secara sederhana diartikan sebagai Kata-Kata Nasihat yang disampaikan oleh orang tua, kaum kerabat dan tokoh masyarakat terhadap kedua mempelai pada waktu pemberangkatan.


Acara pemberangkatan ini dipandang sakral dan penuh rasa haru karena perpisahan dan ucapan selamat jalan serta pemberian nasihat-nesihat hidup ber-rumah tangga. Bagi boru (putri) yang akan pergi menuju rumah suaminya, acara ini merupakan perpisahan dengan orang-orang yang dicintainya. Di sinilah si boru dengan rasa sedih dan menangis meratap mengucapkan selamat tinggal kepada orang tua, saudara, kaum famili serta teman-teman sekalian sekaligus  mohon do’a restu dan mohon maaf atas segala kesalahan.


Mangupa Upa dalam kultur adat Batak dapat diartikan sebagai ungkapan doa diselingi nasehat dari para orang tua atau sesepuh.


Jadi seperti prosesi syukuran atau selamatan dalam pemahaman umumnya. Namun tentu saja dengan melekatkan unsur dari warisan leluhur Batak sebagai pembeda atau ciri khasnya.


Tara yang duduk disebelah kanan Embun saat ini, nampak tenang dan lebih pendiam. Sangat berbeda dengan sikapnya saat di pelaminan.


Tujuan acara adat pabuat boru dan pemberian Hata Simora-Mora ialah


Untuk menunjukkan perasaan kasih sayang dan kegembiraan. (Patidahon Holong ni Ama-Ina). Sesuai dengan falsafah “Holong Dan Domu” (Kasih sayang dan keharmonisan) yang direalisasikan dalam bentuk struktur Dalihan Natolu.


Untuk memberikan Nasihat kepada kedua mempelai. Dalam mencapai tujuan hidup “Hamoraon, Hagabeon dan Hasangapon”, Basyral Hamidi harahap (1987: 133) maka perlu diberikan Hata Simora-Mora. Demikian juga untuk mencapai tujuan hidup berumah tangga diperlukan bimbingan tentang Keluarga Sakinah, Mawaddah wa Rohmah.


Penyerahan orang tua pihak wanita kepada menantunya dan seluruh keluarga (rombongan). Penyerahan ni tondi dohot badan (lahir dan bathin), penyerahan nasi bungkus adat (indahan tungkus pasae robu), menandakan bahwa pelaksanaan adat boru marbagas sudah selesai dan sudah boleh saling mengunjungi dalam acara siriaon (kegembiraan) sekaligus dengan penyerahan barang boru marbagas (perabotan rumah tangga) seperti pakaian, tikar, lemari, periuk dan sebagainya.


TBC


kantuk banget say, besok kita sambung ya, terus dukung Novel ini dengan like coment positif dan Vote 😍🙏


Sebagian teks aku kutip, di atas juga disebut penulisnya.


Maaf kalau Ceritanya banyak penjelasan. Karena cerita ini memang sengaja kubuat untuk mengenalkan sedikit adat pernikahan Batak Angkola yang kata orang sering juga disebut batak Mandailing. Aku menjelaskannya hanya sedikit, jadi maaf kalau ada salah kata atau urutan acaranya.


Pada umumnya orang beranggapan Batak itu adalah orang Nasrani yaitu Batak Toba. Padahal jenis Batak itu sangat banyak dan masih memiliki kemiripan adat dan tradisi.


Kamus Bahasa Batak Mandailing dan Angkola


Bayo Pangoli: calon mempelai pria


Boru Na Ni Oli: calon mempelai wanita


Kahanggi: keluarga laki-laki dari garis keturunan orang tua laki-laki


Anak Boru: keluarga laki-laki dari suami adik/kakak perempuan yang sudah menikah


Mora: keluarga laki-laki dari saudara istri

__ADS_1


__ADS_2