DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Kecewa


__ADS_3

"Mel, bagak Hian laptopmu bah." Si Butet terkagum melihat canggihnya aplikasi yang ada di laptopnya Melati. (Mel, bagus banget laptopmu)


"Olo, dikasih sang majikan." Melati tersenyum bahagia. Siapa yang tidak senang dikasih laptop mahal.


"Bah...bah... burju nai majikanmi. Naadonng do rakku Rohana tuho. Naksir ia mungkin." Si Butet tampak antusias mendengar jawaban si Melati. Ya si Butet dan Melati kalau lagi berdua, lebih sering menggunakan bahasa daerah. Si Butet yang dari Batak Toba dan si Melati dari Batak Mandailing. Bahasanya hampir sama, tapi intonasi bicara orang Batak Toba lebih keras. (Bah.. bah.. baik banget majikanmu. Mungkin dia ada hati padamu. Naksir dia itu.)


Kenapa begitu? daerah Batak Toba. Penduduknya kebanyakan tinggal di pegunungan. Dan jarak rumah masih jauh, ditambah kencangnya angin. Sehingga mengharuskan seseorang jikalau berbicara harus dengan nada kuat dan keras. Begitulah mitosnya, kenapa orang Batak Toba cara bicaranya keras.


"Ho nian, nga mungkin orang kaya suka tu Hita halak namiskin on." Ucap Melati tegas, dia gak mau baper dengan kebaikan majikannya itu. Melati tahu, Ardhi orang baik. Mungkin majikannya itu hanya kasihan padanya. (Kau ini, mana mungkin orang kaya suka sama kita orang miskin ini.)


"Bah, Unang dokkon songoni. Bahat do halak miskin marjodoh tu nakayo." Ucap Si Butet, kini pandangannya beralih ke pintu perpustakaan. Tersenyum manis kepada seseorang, yang datang menghampiri mereka. (Bah, jangan bilang gitu. Banyak juga orang miskin berjodoh dengan orang kaya).


"Hai Butet Toba, Hai Melati!" sapa cowok yang bernama Ilham. Pria ini sudah lama disukai oleh Melati. Sepertinya pria itu juga suka padanya. Buktinya pria itu sering membantu Melati.


"Jangan gitu lah bang. Manggil namaku biasa saja. Namaku Butet Nabagak Somosir. Bukan Butet Toba." Butet cemberut, dia tidak suka dibully. Melati menatap Ilham dan tersenyum, Ilham membalas senyuman Melati tak kalah manisnya.


"Kalau kamu gak suka dibully. Maka kalian jangan pakai bahasa daerah lagi, kalau lagi komunikasi. Pakai bahasa persatuan kita, bahasa Indonesia." Ilham mendudukkan bokongnya di hadapan Melati.


"Ya pakai bahasa daerah, rasanya lebih dekat gitu. Kayak lagi di kampung" Ucap Butet.


"Kalian kalau sudah bertemu berdebat mulu. " Melati merapikan buku yang sudah dibacanya. Dia juga sudah mematikan laptopnya. Kalau sudah kumpul begini, jadinya gak fokus kerjakan tugas.


"Wiihh laptopmu merk mahal ini Dek." Ilham memperhatikan dengan detail laptop miliknya Melati. "Harganya puluhan juta ni." Ilham malah menekan tombol on/of. Jadilah laptop milik Melati kembali menyala.


"Dikasih sama majikannya." Jawab Butet datar.


"Ooh ya, koq bisa. Bahaya ini!" Ucap Ilham spontan. Dia jadi takut sekarang. Menatap Melati dengan tatapan sendu. Pria itu tidak mau kehilangan Melati. Dia menyukai Melati. Tapi, dia tidak berani mengutarakan cintanya. Karena, Melati bukan tipe wanita yang suka pacaran.

__ADS_1


Dia belum lulus kuliah dan belum punya pekerjaan. Mana mungkin dia mengutarakan cinta pada wanita itu.


"Kenapa? takut kamu, makanya tembak Melati sekarang." Butet pun akhirnya menggunakan bahasa Indonesia sesuai PUEBI.


Melati terkejut dan malu, mendengar ucapan Butet. "Butet, kamu bicaranya sering asal." Menatap tajam temannya si Butet.


"Maaf ya Bang, ucapan Butet jangan diambil hati." Melati takut, Ilham akan menjauhinya. Apabila pria itu mengetahui isi hatinya.


"Iya Mel, santai saja. Si Butet memang suka asal. Kau aja ku tembak Butet. Mau gak?" goda Ilham, tersenyum tipis kepada Butet.


Hahahaha.... Si Butet tertawa kencang. "Maulah, tapi syaratnya Abang harus makan B-2." Melati kembali tertawa.


"Bebek, bebek kan?" tanya Ilham sok polos. Ikutan tertawa.


"Iya Bebek yang kakinya empat." Balas Butet.


Ketiganya pun akhirnya keluar dari Perpus dengan perasaan bersalah. "Abang sudah siapkan makalah kamu. Nanti Abang kasih. Kita pulang bareng ya!" ucap Ilham pelan, saat mereka menuruni anak tangga menuju lantai dasar perpustakaan itu.


Melati tersenyum manis dan menganggukkan kepala, sebagai jawaban dari ucapan Ilham.


❤️❤️❤️


Acara demi acara telah terlewati. Embun senang sekali hari ini. Selain Tara memproklamirkan cintanya di depan khalayak ramai. Tara juga mengajaknya berdansa. Bahkan mereka kompak, ikutan perlombaan antar pasangan, yaitu menggendong pasangan masing-masing. Tentu saja mereka yang jadi pemenangnya.


"Abang kenapa sih?" protes Embun, disaat Tara berusaha melepas belitan tangan Embun dari pinggangnya. Tara yang baru keluar dari kamar mandi. Langsung dikejutkan oleh tingkah Embun yang memeluknya dari belakang.


Pria itu hanya diam, melanjutkan langkahnya. Embun yang kesal, menarik kasar handuk yang membelit tubuh Tara, tepatnya bagian aurat pria itu.

__ADS_1


Tara tidak terpancing, dengan Embun yang menertawakannya. Menurut Embun suaminya itu sangat lucu saat ini. Berjalan dengan tubuh polos. Seperti anak kecil yang bermain lari-larian.


Embun geram, ada apa dengan suaminya itu. Kenapa tidak merespon kelakuannya. Tadi juga, Embun ajak Tara mandi bareng. Tapi, Tara menolak dengan alasan sedang sibuk membalas email dari perusahaan. Padahal selama ini, Tara yang terus mengajak untuk mandi bareng. Tentu saja disaat mandi bareng, acara mantap-mantap tak bisa dilewatkan.


Embun menarik napas dalam, dan menghembuskan kasar. Wajah yang menertawakan Tara kini sudah berubah mendung dan muram. Dia benci suaminya itu.


Embun mengekori Tara ke ruang ganti. Menatap tajam Tara yang sedang memakai bajunya. Dasar Embun egois, pinginnya dirayu terus. Tiba rayuannya tidak digubris, dia langsung sakit hati.


Tara tidak memperdulikan Embun yang menatapnya seperti mangsa yang siap diterkam itu.


Grappp...


Embun menahan lengan Tara, saat pria itu hendak keluar dari ruang ganti.


"Abang kenapa sih? dasar bunglon, munafik. Abang jahat, jahat...!" Embun tidak mau melepaskan tangannya dari lengan Tara, padahal suaminya itu sudah menarik tangan Embun, agar lepas dari tangannya. Air mata yang sedari tadi ditahan, kini tak terbendung lagi. Wajah Embun sudah banjir air mata.


"Abang itu gak cinta sama adek. Abang itu pria psikopat. Dihadapan orang sangat manis memperlakukan adek. Tapi, lihatlah sekarang. Abang itu selalu mengabaikanku." Embun melotot kepada Tara, sifat barbar istrinya itu keluar juga.


"Adel yang gak cinta sama abang." Tara kembali meninggalkan Embun termangu di ruang ganti. Ucapan suaminya itu, membuatnya terkejut. Kenapa pula, Tara mengatakan tidak mencintainya. Padahal dia sangat mencintai suaminya itu. Dia juga sudah menepis Ardhi jauh-jauh dari pikirannya.


Embun berjalan cepat menyusul Tara yang hendak keluar dari kamar itu. Dia menghadang Tara didepan pintu.


"Apa maksud abang? kenapa Abang bisa menyimpulkan seperti itu?" Tanya Embun panik, menghalangi Tara untuk menekan handle pintu.


"Adek tidak mencintai Abang. Adek tidak ingin punya anak dari pernikahan kita. Jadi kenapa adek sibuk sendiri dan marah, disaat Abang tidak mau menyentuh Adek. Apa abang ini hanya lelaki pemuas saja buatmu dek? Abang kecewa mengetahui Adek minum pil KB.


TBC

__ADS_1


__ADS_2