DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Kamu harus mati


__ADS_3

Anggun dan Ibu Jerniati sudah sampai di Area Rumah sakit. Kini mereka masih berada di dalam mobil. "Anggun, Mommy merasa takut dengan rencana kamu tadi." Ibu Jerniati, menatap Anggun yang sedang menatap lurus ke depan. Wanita itu seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Hanya itu jalan satu-satunya Mommy." Ucapnya dingin, tatapan matanya masih lurus ke depan.


"Mommy takut, kalau gagal, gimana?" kali ini Ibu Jerniati memegang lengannya Anggun. Wanita itu pun akhirnya menoleh kepadanya.


"Semua tindakan pasti ada resikonya Mom." Menatap Ibu Jernati dengan penuh keyakinan. Anggun kalau sudah punya keinginan. Tekad nya jadi bulat. Dia akan menghalalkan segala cara, gimana tujuannya harus tercapai. Dia harus menikah dengan Ardhi. Hanya pria itu harapan satu-satunya, untuk membantu masalah keuangan perusahaannya.


"Aku saja yang melakukannya. Mommy tunggu di sini." Memegang tangan Ibu Jerniati yang berkeringat. Nyalinya wanita tua itutak kuat lagi. Dia tidak rencana mereka gagal


"Bagaimana kamu akan melakukannya. Ada kekasihnya di ruangan itu." Ibu Jerniati menatap heran Anggun yang tersenyum padanya.


"Kalau ada orang lain di ruangan itu, ya rencana kita gak jalan. Jadi, perlu menyusun rencana baru." Jelas Anggun masih tersenyum pada Ibu Jerniati.


"Aku perlu memastikannya dulu. Semoga tidak ada orang lain di ruangan itu." Anggun pun merapikan rambut hitam, lurus panjangnya. Dia harus tampil dengan sempurna.


Ibu Jerniati terlihat ketar ketir. Dia melirik Anggun yang merapikan penampilannya. Baru kali ini dia menemukan wanita yang benar-benar nekad.


"Mommy tunggu di sini saja." Anggun tersenyum simpul. Dia sangat yakin dengan ide briliannya.


Ibu Jerniati hanya mengangguk pelan. Berdoa dalam hati, agar rencana mereka berhasil.

__ADS_1


"Oh ya Mom, dia dirawat di ruangan apa?" Anggun menoleh kepada Ibu Jenrniati. tangannya sudah memegang handle pintu mobilnya.


Mama Maryam menyebutkan nama ruangan tempat Melati dirawat. Anggun pun turun dari mobil dengan begitu percaya dirinya.


Setelah Anggun keluar dari dalam mobil. Ibu Jerniati, kembali menghubungi no ponselnya Ardhi. Ternyata no ponsel anaknya itu tidak aktif. Dia sampai sepuluh kali menelpon sang anak.


"Kenapa No ponselnya tidak aktif?" Ibu Jerniati berbicara sendiri, mata ketakutannya masih memperhatikan Anggun yang berjalan ke gedung, tempat Melati dirawat.


Kini Anggun sudah menghilang dari pandangan Ibu Jerniati, bisa dipastikan, wanita itu sudah masuk ke ruang rawat inapnya Melati. Dia jadi was-was, merasa tidak yakin dengan tindakan yang akan dilakukan calon menantunya itu. Menurutnya itu sangatlah berbahaya.


Dia pun berniat menyusul Anggun, ide gila itu harus dihentikan. Ibu Jerniati pun keluar dari mobil, bergegas cepat menyusul Anggun. Saat itu juga matanya membelalak sempurna. Karena, melihat pasangan suami istri Tara dan Embun sudah masuk ke gedung itu.


Dengan tangan bergetar, Ibu Jerniati merogoh ponselnya dari tas jinjing warna merah berbahan kulit itu. Dia akan menghubungi Anggun. Dia pun melakukan panggilan kepada Anggun. Tapi, Anggun tidak kunjung mengangkat telepon darinya. Ibu Jerniati semakin panik dan kalut. Sepertinya sesuatu hal yang buruk telah terjadi di dalam.


Sementara di kamar inapnya Melati. Anggun benar-benar berusaha melenyapkan Melati dengan cara membekap mulutnya Melati dengan bantal.


Tadinya Anggun masuk ke dalam kamar Melati, menampilkan wajah penuh keramahan dengan senyum manis lebar. Melati yang terlonjak kaget dengan kehadiran Melati, mengubah posisi tubuhnya jadi duduk. Tapi, buru-buru Anggun menyamperin Melati. Meminta wanita itu untuk berbaring lagi.


Melati berontak, saat Anggun memaksanya untuk berbaring. Karena Anggun sudah menekan bahunya Melati


Saat itulah, Anggun tidak terima atas sikap berongaknya Melati.

__ADS_1


Anggun yang punya tenaga kuat, akhirnya bisa membuat melati terbaring. Tangannya dengan cepat menarik bantal yang ada di bawah kepala Melati. Dia membekap Melati dengan bantal itu. Melati lengah, karena, tidak menyangka, akan diserang oleh Anggun.


Melati berontak, tangannya berusaha menggapai apa yang bisa diraihnya. Dan akhirnya Melati menjambak rambut Anggun dengan sekuat tenaganya. Hingga beberapa helai rambut wanita itu copot dari akarnya.


Anggun yang merasa kesakitan, melepas bekapan bantal dari wajahnya Melati. Dengan sigap Melati turun dari ranjang.


"TOLONG..... TOLONG....!" hanya itu yang bisa Embun ucapkan. Saat ini posisinya sudah mentok di dinding. Anggun menghalanginya untuk lari keluar dari kamar itu.


Anggun menggoyang-goyangkan kepalanya yang masih terasa sakit itu. Tarikan Melati sangat kuat. Dia yakin rambutnya sudah pada rontok, kulit kepalanya sudah terluka. Anggun benci dengan pemberontak Melati. Amarahnya sudah semakin tersulut.


Wanita itu melihat ada pisau di atas nakas, yang dekat kepadanya. Anggun meraih pisau itu. Tatapan matanya penuh kebencian.


"Kalau kamu hidup, kamu akan jadi penghalang semua rencanaku. Aku tidak mau melarat!" Ucapan Anggun membuat Melati semakin ketakutan. Dia tidak mau mati konyol di tangan perempuan gila yang ada di hadapannya.


"Ja---ngan Nona, a---ku tidak akan mengganggu hidupmu, tuan Ardhi dan Nyonya besar. A--ku akan menutup mulut." Melati terbata-bata, dia sungguh ketakutan. Kenapa tidak ada orang yang mendengar teriakannya tadi.


"Aku tidak percaya, kamu harus mati!"


"Aakkhhhh.... Tidak....!"


TBC

__ADS_1


__ADS_2