
Embun membuang muka dari Ardhi. Dia menatap lurus ke depan. Wanita itu menutup kedua mata indahnya yang masih basah, karena air mata yang terus bercucuran. Dia harus tenang, persetan dengan dua pria yang sukses membuatnya terluka.
Embun Menarik napas dalam dan membuangnya pelan. Dia melakukan itu berulang kali, sembari memegangi dadanya yang terasa sesak.
Ardhi yang merasa Embun telah berubah. Akhirnya bangkit, dia langsung merangkum tangan Embun yang tergeletak di atas meja.
"Dek, Adek kenapa? kenapa bersikap dingin kepada Mas. Adek tidak mengkhianati mas kan?" pertanyaan Ardhi yang beruntun itu, membuat Embun semakin tertekan.
Dia jadi merasa bersalah kepada kekasihnya itu. Tapi, tidak mungkin dia kembali kepada Ardhi. Keputusan yang terbaik adalah melanjutkan pernikahannya dengan Tara.
"Mas, ini semua salah. Drama yang kita lakoni ini salah. Maaf Mas, ini harus diakhiri." Embun menatap intens Ardhi yang tertegun disebelahnya.
Ekspresi wajah pria itu mendadak berubah. Yang tadinya penuh semangat dan kemenangan. Kini jadi lemah tak berdaya. Sikap Embun menunjukkan, wanita itu tidak memilihnya. Ardhi patah hati, Ardhi merasa dikhianati.
"Jangan bilang, kamu memilih Tara. Jangan bilang, kalian tidak akan bercerai." Ardhi nampak sedih sekali mengatakan itu. Bahasa tubuhnya tidak percaya diri lagi.
"Dia suamiku Mas, tentu saja aku memilihnya."
"Embun---!" Ardhi tidak bisa lagi membendung kekesalan di hatinya. Dia langsung memotong ucapan Embun. Dia tidak sanggup mendengar Embun, akan mengeluarkan kata-kata pujian untuk Tara. Pria itu menahan dirinya agar tidak berteriak, dia tidak mau membuat Embun ketakutan. Dia sangat mencintai wanita itu. Rela menentang keinginan ibunya, dengan menjodohkannya.
"Kau mengkhianatiku," ucap Ardhi lirih. Kini matanya sudah memerah, karena menahan amarah dan kekecewaan, Dia kalah.
Embun terdiam, hanya suara tarikan ingus yang terdengar. Dia sangat mengasihani Ardhi saat ini. Kekasihnya itu nampak begitu terpukul. Tapi, Embun harus bisa bersikap tegas. Dia tidak mungkin mengorbankan kebahagiaan keluarga besarnya.
"Kau kejam Dek. Apa yang tidak kulakan untukmu. Semuanya mas korbankan. Apa kau kira mas tidak setres selama dua bulan ini? sungguh tega sekali kamu dek." Ardhi terduduk lemah di kursinya. Dia mencoba meredam amarah yang sudah naik ke ubun-ubun.
Pria itu berdecak kesal, mengusap wajahnya kasar, dan berulang kali menghela napas dalam.
"Maaf Mas!" Embun bangkit dari tempat duduknya. Melangkah pelan, dan menatap sekilas Ardhi yang menundukkan wajahnya. Tidak perlu lagi banyak cerita, yang akhirnya akan memperkeruh suasana. Yang penting saat ini dia sudah membuat keputusan.
__ADS_1
Grappp....
"Jangan begini, jangan tinggalkan Mas!" seru Ardhi, memeluk Embun dari belakang. Pria itu tidak menyiapkan hatinya untuk ditolak. Sejak dua hari yang lalu, dia sudah membayangkan akan bersama dengan Embun.
Embun menatap sedih, tangan Ardhi yang melingkar di pinggangnya dengan erat. Air mata kembali jatuh deras. Bahkan mengenai tangan Ardhi.
"Mas ini yang terbaik. Adek doakan agar mas bahagia." Ucap Embun masih terisak, berusaha melepaskan tangan kekar Ardhi yang membelit pinggangnya.
"Tidak, tidak sayang." Ardhi masih bersikeras tidak mau melepaskan Embun.
"Mas, cinta tidak harus memiliki. Bukan aku wanita yang terbaik untukmu Mas." Embun pun akhirnya memutar tubuhnya. Hingga dia bisa melihat wajah Ardhi yang begitu menyedihkan itu.
"Kita tidak berjodoh." Tangan Embun bergetar merangkum wajah kekasihnya Ardhi. Bagaimana pun di hatinya dari dulu sampai sekarang Ardhi yang terhebat. Ardhi pria yang mengerti apa maunya Embun. Tidak seperti Tara, yang sudah dikatakan pun maunya tidak peka juga.
"Menikah bukan hanya penyatuan dua insan
Tapi, penyatuan dua keluarga yang berbeda. Ada wanita yang sangat mencintai Mas. Saya harap, mas bisa menikah dengannya." Ucapan Embun membuat Ardhi menatap wanita itu dengan menggeleng kan kepalanya. Darimana Embun tahu?
"Apa maksud mu dek?" Ardhi melepas rengkuhan tangannya dari pinggang Embun. Memegang bahu wanita itu dengan kuat.
Embun menatap tangan Ardhi yang ada di bahunya. Melepas satu persatu tangan itu.
"Nanti juga Mas akan tahu. Saya harap, setelah mas mengetahuinya. Mas akan mengikhkaskanku." Embun tersenyum tipis. Berusaha tegar, mengingat insiden penculikan yang didalangi oleh wanita yang dijodohkan Ibunya untuk Ardhi.
Embun mengetahuinya, karena ada SMS yang masuk ke ponsel Tara, disaat ponsel suaminya itu ketiggalan di hotel.
"Mas tidak mengerti apa maksudmu. Tolong Bicaralah dengan lebih jelas." Ardhi semakin bingung. Kekasihnya itu, pandai sekali membuat alasan.
Embun melap air matanya. Merapikan rambutnya dengan mengusapnya sampai kebelakang.
__ADS_1
"Tidak bisa Adek jelaskan. Kalau nanti mas perlu bantuan dari Adek. Adek akan bantu. Sekali lagi Adek minta maaf, jikalau disaat kita bersama Adek ada salah. Jujur, asal Mas tahu, hati ini sangat sakit, untuk mengakhiri hubungan ini. Tapi, keputusan ini lah yang harus diambil, untuk kebaikan kita bersama." Kali ini Embun yang meraih bahu kekasihnya itu. Memberi penguatan dan keyakinan. Bahwa ada kebahagiaan lain untuk kekasihnya itu.
Ardhi membalas tatapan tulus kekasihnya itu dengan tatapan penuh kekecewaan.
"Moga Mas bahagia." Embun langsung berlari keluar dari ruang privat itu dengan linangan air mata. Tanpa menghiraukan Ardhi yang berteriak histeris, melempar meja, kursi dan barang-barang yang ada di ruangan itu.
Embun tidak henti-hentinya menangis saat melewati koridor dan ruangan hotel menuju lobby Hotel. Tidak peduli lagi dengan pandangan dan penilaian orang yang ada di hotel itu kepadanya.
Dia harus cepat keluar dari hotel itu. Berharap masih menemukan Tara suaminya di sekitar hotel itu. Setelah sampai di lobby hotel. Mata sembabnya Embun mencari keberadaan Tara. Tapi, dia tidak menemukannya di tempat itu.
Dengan tak sabaran dan hati yang berdebar karena ketakutan. Embun kembali berlari ke parkiran, berharap mobilnya Tara masih ada di tempat itu. Tapi sial, mobilnya Tara tidak ada lagi di tempat parkir itu. Itu artinya suaminya itu telah pergi.
Embun melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat itu. Tapi, dia merasa tidak punya tenaga. Kakinya terasa layu. Perdebatan bathin dan mengambil keputusan penting dalam hidupnya, membuat tenaga wanita itu terkuras habis. Apalagi dia belum makan malam. Terakhir kali dia mengisi perutnya sat makan siang di Danau Toba.
Embun yang tidak punya tenaga itu, akhirnya memilih untuk istirahat, menenangkan sejenak dirinya. Dengan duduk di sisi bangunan hotel, masih di area parkir.
Dia melap air matanya yang tak kunjung berhenti mengalir. Hatinya sangat sakit. Suaminya tidak peduli padanya. Sambil terisak-isak, Embun memijat-mijat kakinya yang terasa layu itu. Berharap aliran darah lancar ke bagian alat geraknya itu. Sehingga dia bisa melanjutkan perjalanan. Setidaknya mencari angkutan, membawanya mencari makanan.
Kalau makan di restoran hotel itu. Uangnya tidak cukup. Dia tidak punya uang. Hanya ada uang pecahan 10 ribu tiga lembar di dompetnya.
Setelah merasa sedikit baikan. Embun memegangi kerongkongan yang terasa kering. Dia kehausan, karena kelamaan menangis.
"Ya Allah, kenapa nasibku seperti gelandangan begini." Lirihnya, mulai memeriksa dompetnya.
"Apa masih ada angkutan ke kampung halamanku?" ucapnya sendiri, yang hanya bisa didengar olehnya.
Jarak kota Sibolga ke kampungnya Embun, yaitu di PSP, sekitar 90 km. Jika naik angkutan, maka diperlukan ongkos sebanyak 30 ribu. Itu artinya uang yang ada di dompetnya, hanya bisa untuk ongkos.
"Ma, Ma..!" ucapnya sambil menangis. Embun yang tertekan, jadi bloon di parkiran itu. Dia menjadi pusat perhatian, orang yang datang memarkirkan mobilnya.
__ADS_1
Sepertinya dia akan menghubungi orang tuanya saja. Dia tidak berani menelpon suaminya itu.
TBC