DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
kita menikah


__ADS_3

"Aib, Aib apa?" Melati kesal mendengar ucapan Ilham. Dia pun melepas pelukan pria itu. Menatap Ilham penuh kekecewaan. Dia menganggap Ilham tidak memahaminya saat ini.


"Yang terjadi padaku adalah aib. Aku tidak mau orang-orang mengetahuinya." Melati membalik badannya dengan lemah. Sungguh dia tidak sanggup lagi membahas ini. Pria yang menodainya, orang kaya. Dan keluarga pria itu tidak mau aib itu tersebar.


Kalau dia ingin menuntut keadilan, dia akan kalah. Karena tidak rahasia lagi, terkadang hukum itu bagai pisau tumpul ke atas, tajam ke bawah. Ilham menatap Melati yang memunggunginya penuh dengan kekecewaan. Kenapa wanita itu sepesimis itu.


"Itu tidak aib, adek di sini korban. Adek harus dapat keadilan." Ilham bicara tegas, Melati masih memunggungi pria itu. Air mata semakin deras saja bercucuran membasahi pipi pucatnya. Melati tidak sanggup membahas masalah ini. Dia trauma berat. Dia akui, dirinya memang bodoh. Karena begitu percaya pada sang majikan, yang kelihatan baik. Tapi, ternyata berprilaku seperti bi*natang.


Melati membalik badan, menatap Ilham dengan sendunya. Dari pancaran matanya jelas terlihat, wanita itu sudah menyerah sebelum berperang. Karena dia yakin, dia akan kalah.


Ilham harus bertindak, dia tidak mau mengikuti pemikiran bodohnya Melati, yang pasrah begitu saja. Tapi, dia harus membuat tenang sang wanita pujaan hati. Melati semakin didesak, maka wanita itu akan semakin mempertahankan pendiriannya.

__ADS_1


"Kalau Abang benar peduli padaku. Aku ingin, Abang tidak memperpanjang masalah ini lagi. Aku ingin melupakan kejadian itu. Semakin dibahas, membuatku semakin tidak berdaya. Aku ikhlas dengan takdirku." Ilham benar-benar tercengang mendengar ucapan wanita itu. Ilham menggelengkan kepalanya, merasa tidak percaya dengan ucapan bodoh wanita dihadapannya.


Melati melap buliran bening yang menganak sungai di pipi putihnya. Dia tahu, Ilham pasti menganggapnya bodoh. Tapi, menurut Melati. Itulah keputusan terbaik. Dia tidak mau berurusan dengan Ardhi dan Ibu Jerniati lagi.


"Terkait pernyataan cinta Abang waktu itu, saat ini Adek beri jawabannya. Adek tidak pantas untuk Abang!" tegas Melati, lagi-lagi air mata bercucuran jatuh membasahi pipi pucatnya. Dia pun menunduk setelah mengatakan hal pahit yang bertentangan dengan keinginannya yang paling dalam.


Dia sangat mencintai Ilham. Dia ingin Ilham bahagia dengan wanita yang suci, yang tidak ternoda seperti dirinya. Dia akan merasa bahagia, apabila Ilham mendapatkan wanita yang suci.


"Stop bang, a--ku, aku," Melati melap air matanya yang kembali membasahi pipinya itu. Ucapan Ilham, benar-benar membuatnya merasa terharu. "Abang tahu sendiri kondisiku sekarang. Adek ini kotor. Adek tidak pantas untuk Abang." Melati yang merasa lelah itu, akhirnya berjalan lemah ke kursi.


"Tidak ada alasannya kenapa Abang jatuh cinta kepada adek. Bagaimana pun kondisi adek Abang menerimanya." Ilham berjalan ke arah Melati. Mendudukkan bokongnya di kursi, tepat di hadapan Melati.

__ADS_1


"Abang tidak memiliki alasan ketika mencintaimu, maka Abang tak akan memiliki alasan berhenti mencintaimu."


Syur.... ucapan Ilham harusnya bisa membuat Melati melambung tinggi. Tapi, pernyataan pria itu menurutnya sangatlah bodoh. Pernyataan Ilham, jadi sebuah beban untuk Melati.


Melati menggeleng lemah. "Tidak..!" wanita itu kembali menggeleng. "Tidak, tidak bang. Kamu berhak mendapatkan wanita yang suci." Kali ini Melati menatap dalam kedua mata Ilham yang berkaca-kaca itu.


"Jangan mendebat keputusan Abang. Setelah ujian semester, kita pulang ke kampung. Kita menikah." Ilham beranjak dari duduknya. Menyambar tas ranselnya di kursi kosong sebelahnya. Melati masih menatap Ilham dengan tercengang. Dia tidak salah dengarkan? Ilham masih mau menerimanya, padahal pria itu tahu sendiri keadaannya bagaimana.


"Kita pulang." Ilham kini sudah berdiri di sebelah Melati yang masih terbengong-bengong melihatnya.


"Kenapa masih bengong? ayo kita pulang." Ilham melempar senyum manis pada Melati yang masih syok itu. Melati menunduk, menghindari tatapan sendu penuh ketulusan. Melati pun meraih tasnya. Dia mengekori Ilham keluar dari ruangan itu, dengan debaran jantung yang tak beraturan.

__ADS_1


__ADS_2