DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Buah pisang


__ADS_3

Tara yang masih duduk di atas ranjang itu, akhirnya memberanikan diri untuk melancarkan aksinya untuk menyentuh isterinya itu. Dia yang merasa grogi itu, mulai berdoa dalam hati. Agar Embun yang sudah tertidur nyenyak, tidak marah jika aksinya itu akan membangunkan Embun. Ditambah ini adalah hal baru untuknya, tentu saja dia merasa dag dig dug.


Tara mulai melakukan aksi pertamanya dengan mendaratkan satu kecupan di keningnya Embun, dia tersenyum. Sembari memegangi dadanya yang bergemuruh. Kenapa dia merasa tidak tenang begini. Rasanya begitu mendebarkan. Apa semua orang yang akan melakukan malam pertama, jadi grogi seperti yang dia alami saat ini? sepertinya iya, bagi orang yang jarang melakukan kontak fisik dengan wanita.


Tara tipe pria yang benar-benar menjaga dirinya dari pergaulan bebas. Mungkin orang tidak akan percaya, bahwa Tara tidak pernah berciuman sebelum menikah dengan Embun.


Setelah lolos mendaratkan satu kecupan di kening Embun. Dengan gemetar, tangan kirinya Tara mulai bergerak, untuk meraih gundukan dibalik gaun yang dikenakan istrinya itu.


Puk....


Tara menyentuhnya terlalu keras. Maklumlah dia grogi. Karena, tingkahnya itu. Embun menggeliat. Sepertinya, istrinya itu akan terbangun.


Tara yang nervouse itu, jadi bingung harus berbuat apa. Akhirnya dia dengan cepat membaringkan tubuhnya. Dia takut Embun marah, karena memegang buah dada istrinya itu dengan kuat.


Benar saja, istrinya itu terbangun. Tara melirik Embun dengan sebelah mata. Dia melihat Embun mengucek-ucek matanya. Kemudian hendak menoleh ke arahnya. Tapi, sebelum Embun menoleh. Tara sudah berpura-pura menutup mata.


Embun memiringkan tubuhnya ke arah Tara. Bibir wanita itu, melengkung sempurna. Dia bahagia sekali, sehingga senyuman di bibirnya terus merekah.


Embun memperhatikan lekat wajah Tara yang begitu tampan bak dewa itu. Kenapa dia telat menyadari pesona paribannya ini. Perlahan-lahan jemari lentiknya Embun bergerak, menyusuri wajah tampan itu.


"Alis tebal, hidung mancung, rahang yang tegas, dan bibir ini. Bibir ini yang dulu selalu curi-curi kesempatan." Ucap Embun cekikikan, menempelkan jari telunjuknya di atas bibir itu dan menggerak-gerakkannya. Embun tidak sadar, bahwa Tara pura-pura tertidur.


Embun masih saja menyusuri wajah tampan tanpa cela itu. Sembari mengingat semua kejadian-kejadian menyebalkan yang pernah mereka alami.


Mulai dari insiden di kamar mandi sebelum mereka menikah. Tara yang mengganti pakaiannya saat fobianya kambuh. Kalau diingat-ingat, kejadian itu sangatlah lucu, romantis.


Tara yang pura-pura tidur itu, sudah tidak tahan lagi dengan tingkah istrinya. Dia ingin menggigit jari telunjuk Embun yang mengusap-usap bibirnya. Disaat Tara membuka bulatnya. Eehh... jarinya istrinya itu ditarik Embun. Bahkan Embun beranjak dari tempat tidur. Embun ingin mengambil fotonya bersama Tara.

__ADS_1


Dengan herannya, wanita itu meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja rias. Padahal kan ponselnya disimpan di tas.


Embun tidak mau memikirkan, kenapa ponselnya sudah berada di atas meja rias. Yang dia ingin lakukan sekarang adalah, mengambil foto dirinya dengan Tara disaat suaminya itu tertidur.


Cekrek...


Cekrek..


Dua pose pun berhasil diambil Embun.


"Sudah puas berselvi-selvinya?" Embun terlonjak kaget, disaat mendegar suara Tara. Wanita itu masih sibuk melihat hasil jepretannya.


Embun menoleh ke arah Tara dengan tersenyum tipis. Wanita itu langsung membuat lengan kiri Tara sebagai bantalnya. Tentu saja Tara sangat senang, Embun bermanja-manja kepadanya.


"Lihatlah, Abang sangat lucu saat tidur. Gemesin banget." Embun memperlihatkan foto hasil jepretannya. Mungkin karena kameranya Embun yang bagus, sehingga Tara kelihatan sangat tampan dan muda.


"Korban kamera jahat itu namanya dek." Tangan kiri yang digunakan Embun sebagai bantalnya. Kini tangan itu sudah mulai bergerak ke arah gunung kembarnya Embun.


"Abang menginginkanmu sayang, istriku!" ucap Tara lembut penuh penekanan. Embun dibuat malu dengan permintaan suaminya itu. Saat ini, tangan kiri Tara masih me*remas-re"mas benda kenyal itu.


"Tangan Abang kan masih sakit." Tanya Embun malu-malu. Dia sengaja mengatakan itu. Dia ingin mengetahui kesiapan suaminya itu.


"Iya sih, yang sakit kan tangan sayang. Bukan yang itu." Kedua mata Tara bergerak ke bagian bawahnya. Embun mengikuti gerakan mata suaminya itu.


Benar saja, organ tanpa tulang dibalik celana suaminya itu sudah menonjol. Embun jadi kesusahan menelan ludahnya.


Tara tidak berani memaksa Embun, dia ingin Embun benar-benar siap. Sepertinya istrinya itu masih takut dan malu.

__ADS_1


"Ooh iya Bang. Mulainya darimana?" ucap Embun polos. Mulai menempelkan tubuhnya dengan erat ke tubuh kekarnya Tara. Sepertinya istrinya itu juga menginginkannya. Tapi, ucapan polos istrinya itu malah membuat Tara tertawa kecil.


"Eehmmm dimulai dari mana ya? baiklah, dimulai dari mengenali organ-organ tubuh ya sayang? organ mana yang peka terhadap rangsangan." Tara pun mulai mengecup puncak kepala Embun, sedangkan tangan kirinya, mulai *******-***** buah dada istrinya itu.


"Pingin pipis, terus pingin makan. lapar Adek." Embun mendongak, memelas kepada Tara, agar aksinya dihentikan saja. Entah kenapa Embun jadi malu.


Wajah Tara mengkerut, birahinya sudah tersulut. Mana Istrinya minta makan lagi. Mau jam berapa lagi mereka akan unboxing. Ini saja sudah pukul tiga dini hari. Keburu dapat waktu shubuh. Mana Tara belum tidur semalaman ini.


"Iya sayang, Adek lapar." Embun mengangguk, menjawab pertanyaan suaminya itu.


"Kalau perut lagi kosong, bagusnya makan buah dulu. Makan buah pisang maksudnya Abang." Ucap Tara cengir. Kening Embun mengerut. Dia tahu maksud suaminya itu.


"Apaan sih?" Embun ingin beranjak dari dekapan suami nya itu. Tapi, Tara menahannya.


"Adek sepi," protes Embun. Tara pun melepas tangannya dari rengkuhan tubuh Embun.


Kini keduanya duduk di atas ranjang.


"Dek, coba lihat sebentar." Tara sudah melepas benda pusakanya dari sarangnya. Embun terkejut, walau dia sudah pernah melihat punya suaminya itu sebelumnya.


Karena terkejut nya itu, Embun malah melempar bantal ke benda pusakanya Tara yang sudah tegak lurus itu. Embun benar-benar salah tingkah. Dia tidak menyangka, suaminya itu akan bertingkah konyol.


Tara yang grogi itu juga tidak menyadari tingkah gilanya. Yang ada di otaknya saat ini adalah. Memamerkan punyanya yang besar dan panjang itu. Meyakinkan Embun, bahwa dirinya bisa memuaskan istrinya itu.


"Aduhhh.... koq dilempar sih dek? syukur tidak patah." Ucap Tara tanpa sadar. Mana mungkin patah, tulangnya saja tidak ada.


"Tutup ihhh.." Embun menghentak-hentakkan kakinya. Dia kesal dan geram dengan kelakuan suaminya itu.

__ADS_1


"Oohh iya, ditutup ya sayang " Tara Langsung menutup miliknya. Dia cengir kuda. Merasa malu pada Embun. Koq dia jadi bloon si? apa karena nervouse ya?


TBc


__ADS_2