
Sesampainya di rumah, Tara membopong tubuh Embun dengan hati-hati dia begitu mengkhawatirkan istrinya itu. Keadaan Embun begitu memprihatinkan, wajah pucat, susah bernafas, membuat Tara semakin panik, melihat keadaan isterinya itu. Baru kali ini dia menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya, kejadian disaat pobia Embun kumat.
"Bos, Dokter gak bisa datang. Beliau sedang berkabung." Doly memberi laporan, mengekori Bosnya itu ke kamar. Dia juga sangat mengkhawatirkan Embun, teman masa kecilnya. Yang kenangan indah semasa kecil, tidak bisa diingatnya. Karena Amnesianya bersifat permanen. Hanya foto-foto mereka saat kecil, yang ditunjukkan oleh Tara ya g membuat Doly yakin, bahwa mereka dekat saat masih anak-anak.
"Baiklah, kamu tunggu perintah dari saya. Kamu jangan pulang dulu." Ucap Tara dengan tidak tenang. Doly memilih menunggu di ruang keluarga. Sedangkan Tara memasuki lift, menuju kamarnya..
Tara jadi teringat, ucapan Mama Nur kepada Tara. Ibu Mertuanya itu, mengatakannya kepadanya, bahwa sejak kejadian hanyutnya Doly dibawa arus sungai. Embun jadi pobia petir, kilat dan hujan deras. Karena, saat kejadian belasan tahun silam itu. Embun hampir tersambar petir. Itu yang membuat Embun ketakutan yang sangat luar biasa.
"Embun, Dek, istriku..!" Tara terus saja memanggil-manggil Embun dalam dekapannya. Dia tidak mau Embun pingsan. Embun hanya mengaduh kesakitan, matanya menatap sayu.
"Kenapa dia merasa kesakitan? dia kan tidak cidera." Tara membathin. Meletakkan Embun dengan penuh kehati-hatian di ranjang. Mulai mencopoti seluruh pakaian yang menutupi tubuh istrinya itu.
Saat melancarkan aksinya, tentu saja Tara ter*angsang melihat Embun dalam keadaan polos. Itu wajar, karena dia lelaki normal. Ditambah wanita yang polos dihadapannya adalah istri yang sangat dicintainya.
Tapi, tidak saatnya menuruti hawa *****, karena saat ini istrinya itu dalam keadaan tidak berdaya.
"Mama---- Tolong....!" Embun teriak lagi, disaat suara petir terdengar menggelegar. Tara yang sedang di ruang ganti. Dibuat kocar-kacir berlari menghampiri Embun. Dia belum selesai mengganti pakaiannya. Dia baru selesai memakai Ko*lor saja.
Dia naik ke ranjang dan langsung mendekap Embun. Yang sedang membungkuk menutupi tubuhnya dengan selimut. Suara petir yang kuat dan pantulan cahaya terang yang tiba-tiba muncul lagi, semakin membuat Embun ketakutan. Dia masih saja bisa melihat kilatan itu di jendela.
"Sayang, tenang ya. Adek aman, jangan takut dan panik. Abang akan terus disini menjaga Adek." Embun tidak peduli lagi, siapa sekarang yang didekapnya. Embun hanya butuh perlindungan.
Tara mendekap Embun dengan penuh kelembutan dan penuh kasih sayang. Dia kasihan melihat istrinya itu. Harusnya trauma ini bisa sembuh disaat sudah dewasa. Tapi, itu tidak berlaku untuk kasusnya Embun.
Tara mengelus lembut kepala Embun, memperhatikan wajah cantik istrinya yang masih pucat dan nampak kelelahan itu. Embun tertidur pulas dalam pelukan suaminya itu.
Saat itu juga, Lolita membuka pintu kamarnya Embun dengan perlahan. Dia ingin mengetahui keadaan Embun. Karena selama ini, hanya dirinyalah yang selalu ada disaat pobia Embun kumat.
Hati Lolita hancur luluh lantak, melihat tontonan dihadapannya. Rasa penasarannya saat di restoran terjawab sudah. Dengan tubuh bergetar, dia meninggalkan ruangan itu. Tanpa diketahui Tara, bahwa wanita itu melihat keintiman Embun dan Tara.
Lolita mengusap-usap dadanya yang terasa sangat sakit. Perih, denyutannya terasa begitu pilu.
Sahabat sendiri tega mempermainkannya. Membuatnya sebagai bahan lelucon. Inikan balasan yang didapatnya dari sahabatnya sendiri. Lolita sudah tidak tahan lagi membendung air matanya. Kini air mata itu tumpah ruah, membanjiri pipi putihnya.
Lolita yang yang dari tadi menyumpal mulutnya agar tidak menangis histeris. Akhirnya usahanya itu gagal juga. Setelah keluar dari lift. Tangisannya pecah, Dia terduduk lemah di lantai marmer mengkilap itu. Seperti orang yang kehilangan arah. Embun sukses mempertahankannya.
Doly yang berada di ruang keluarga, langsung berlari mencari asal suara. Dia tidak tahu, bahwa mobil yang mengikutinya adalah mobilnya Lolita. Ya, saat acara makan bersama di Restoran, Lolita meminta di jemput oleh supirnya.
"Dek Lolita, kamu kenapa?" Doly panik bercampur bingung mendekati Lolita. Menyentuh bahu wanita yang lagi galau itu. Doly yakin, Lolita baru turun dari kamarnya Embun.
"Kenapa? kenapa Embun tega melakukan ini padaku? Dia istrinya Abang Sutan. Tapi, kenapa dia ingin aku menikah dengan Abang Sutan. Dan, dan kejadian di restoran tadi. Apa maksudnya itu?" Lolita menangis histeris, menatap Doly dengan sedihnya. Doly pun jadi ikut sedih, melihat ekspresi wajah Lolita yang kacau itu.
__ADS_1
"Ayo Adek duduk dulu. Tenangkan pikiran, lapangkan hati. Embun pasti punya alasan, kenapa dia menjodohkanmu sama Tara. Adek, bisa menanyakannya nanti kepada Embun. Disaat dia sudah baikan." Doly memapah Lolita ke sofa yang ada di ruang keluarga. Dia mendudukkan wanita itu dengan hati-hati. Dan Dia pun ikut duduk di sebelah Lolita.
Lolita meraih tisu dari atas meja. Melap air matanya yang sudah membasahi pipi nya.
"Apapun alasan yang akan dikatakan Embun. Aku tidak akan terima. Dia menodai kepercayaanku. Aku teman yang selalu ada untuknya disaat suka dan duka. Tapi, ternyata dia tidak menganggapku teman. Tega dia menyembunyikan statusnya, dan malah sok baik ingin mendekatkanku pada suaminya. Padahal aku yakin, dia juga mencintai Abang Sutan." Lagi-lagi air mata Lolita berhamburan keluar. Sakit banget rasanya di prank oleh sahabat sendiri. Dia malu, malu pada diri sendiri. Kalau dia tahu, Tara adalah suaminya Embun. Mungkin dia tidak akan memupuk rasa cintanya kepada pria itu.
Tapi, kini setelah cintanya tumbuh subur, fakta yang menyakitkan terkuak sudah. Itu rasanya sangat sakit.
"Tidak boleh begitu. Semua orang bisa berbuat khilaf. Jangan main simpulkan sendiri. Adek perlu tahu alasannya, kenapa Embun berbuat seperti itu." Doly kasihan juga melihat keadaan Lolita. Jelas saja kita merasa sakit hati, merasa dipermainkan seperti itu.
"Tidak perlu aku tahu alasannya. Aku kecewa kepadanya. Tidak seharusnya dia memberi harapan palsu padaku. Sakit, sakit di sini." Lolita menunjuk dadanya yang sakit seperti ditusuk-tusuk jarum itu. Dia begitu kecewa kepada Embun.
"Dia saja tega mempermainkanku. Kita lihat saja, apa yang akan ku perbuat padanya. Dia saja tidak menjaga perasaanku. Tidak mengingat semua pengorbanan yang ku lakukan untuknya. Kecewa--- aku sangat kecewa...!" Lolita bicara penuh dengan kebencian. Doly terkejut melihat ekspresi wajah penuh kebencian itu.
"Sabar Dek, Jangan ada niat untuk balas dendam. Jangan ikuti hasutan setan. Istighfar, kalau kita lagi emosi, maka sebaiknya kita diam saja. Karena semakin kita banyak bicara, maka semakin ngaur. Dan jika kita sudah mengatakan ujaran kebencian itu. Maka itu akan terkirim ke otak. Biasanya apa yang terkonsep di otak. Maka otak akan memerintahkan untuk kita lakukan." Doly berusaha memberi pengertian pada Lolita yang sedang emosi itu.
"Dia saja, tidak menghargai aku sebagai teman. Aku pun bisa berbuat demikian." Lolita bangkit dari duduknya, dengan Ekspresi wajah penuh dengan dendam. Dia pun meninggalkan rumah itu. Doly terkejut bukan main, melihat bahasa tubuh wanita itu. Sepertinya wanita itu, merencanakan sesuatu yang bisa mencelakakan Embun. Jangan sampai wanita itu, berniat menyingkirkan Embun, agar bisa bersama Tara.
❤️❤️❤️
Embun terbangun karena merasa sepi (sesak pipis). Dalam keadaan mata masih terpejam dia mulai meraba, benda yang memeluknya. Perasaannya sudah mulai tidak tenang. Hatinya menduga, bahwa pria yang memeluknya dengan erat ini adalah Tara. Ya Embun yakin itu. Karena saat tidur dia memang suka memeluk benda yang bisa dijangkaunya.
Masih dalam keadaan menutup mata. Embun mengingat-ingat kejadian di restoran sampai dirinya polos seperti saat ini. Bahkan jikalau Embun bergerak, maka kulitnya dan Tara bergesekan.
Dia pun tersadar, kejadian semalam tidaklah benar. Semalaman dia tidur berpelukan dengan Tara. Padahal, dia akan kembali kepada Mas Ardhinya. Dan Tara juga akan menikah dengan Lolita.
Mengingat fakta itu, Embun jadi panik. Dia membuka kedua bola mata indahnya yang masih sayu. Mendapati wajah Tara yang tidur dengan nyenyaknya.
Embun mulai melepas lengan Tara dari belitan tubuhnya. Tara pun terbangun, karena merasa pergerakan dari Embun.
Pria itu membuka matanya, dan pada saat itu juga, Embun kembali pura-pura tertidur. Dia merasa sangat malu sekali. Dia malu, karena Tara melihat tubuh polosnya. Padahal ini bukan yang pertama kali, Tara melihatnya dalam keadaan polos seperti bayi yang baru lahir.
"Tara menatap Embun penuh dengan cinta dan kasih sayang. Mengelus pelan pipi istrinya itu.
"Abang pikir Adek sudah bangun, ternyata kamu masih tidur sepulas ini." Tara tersenyum sembari memandangi wajah cantiknya Embun. Kembali mengelus-elus pipi mulusnya Embun. Wanita itu masih saja berpura-pura tidur. Padahal dia sudah sesak pipis. Dia kesal pada diri sendiri, kenapa dia malah berpura-pura tidur.
"Semalam, Adek sukses membuat Abang takut setengah mati. Wajah cantik ini. Pucat seperti tidak dialiri darah. Napas Adek yang wangi ini juga terengah-engah." Tara mendekatkan wajahnya ke wajah Embun. Merasakan hembusan napas Embun yang mulai kasar, karena sudah tidak tahan berakting pura-pura tidur.
"Jangan benci Abang. Abang ingin melihatmu bahagia dan tidak membenci Abang lagi, Seperti saat kita kecil dulu. Kalau kembali kepada Mas Ardhimu bisa membuatmu bahagia. Abang akan lakukan itu, Abang akan serahkan kamu padanya. Mengantarkan kamu dengan selamat kepelukannya." Mata Tara berkaca-kaca, saat mengatakan itu. Dia teringat kejadian di restoran, saat Embun berontak dalam dekapannya dan ingin pergi kepelukan Ardhi.
Embun sangat terkejut, sekaligus merasa sedih, mendengar semua curahan hati suaminya itu. Begitu panjang uneg-uneg yang diungkapkan suaminya itu. Tapi, tidak ada kalimat pernyataan cinta. Yang ada hanyalah ungkapan kasih sayang sebagai saudara.
__ADS_1
"Mungkin inilah hikmahnya kita menikah. Kesalahpahaman antara kita sewaktu kecil jelas sudah." Tara menepuk jidatnya, merasa bodoh bicara sendiri.
"Apa coba gunanya aku bicara sendiri." Ucapnya lirih, melap matanya yang berkaca-kaca itu. Dia pun mencium kening Embun, turun dari ranjang. Kemudian membenahi selimut Embun, agar selimut itu menutupi seluruh tubuh polos istrinya itu.
Embun pun membuka matanya, disaat suaminya itu berjalan ke kamar mandi. Dia pun menyentuh keningnya yang baru saja dicium Tara.
Embun merasa sangat bahagia mendapat kecupan dari suaminya itu.
"Haruskah? aku bertanya padanya, tentang perasaannya padaku? atau semua yang diucapkannya tadi, adalah isi hatinya? tidak mungkinkan dia mencintaiku? karena, dia hanya mencintai wanita yang menolak cintanya." Embun berbicara pelan, sembari menatap ke kamar mandi.
"Kalau dia mengatakan cinta padaku, lalu bagaimana dengan Mas Ardhi." Embun kembali teringat kejadian di Restoran. Dia kasihan melihat kekasihnya itu. Sungguh Ardhi begitu mencintainya?
"Aku perlu sholat istikharah, seperti saran Doly waktu itu. Aku tidak boleh mengambil keputusan dari duga-dugaanku saja.
Saat itu juga, Tara keluar dari kamar mandi. Dan Embun yang melamun itu, tetap saja melihat ke arah Tara.
"Adek sudah bangun?" Tara bergegas mendekati Embun. Wanita itu pun tidak bisa berpura-pura lagi. Dia membalas senyuman Tara dan mengangguk.
"Adek mau ke kamar mandi?" Tara tahu saja apa yang dimau Embun. Wanita itu kembali mengangguk.
"Abang mau apa?" Embun menepis tangan Tara yang sudah berada di bawah pahanya. Dia ingin menggendong isteri nya itu.
"Mau menggendong adek ke kamar mandi." Jawabnya tersenyum. Saat itu juga perut Embun keroncongan.
"Adek lapar?" tanya Tara penuh dengan kasih sayang.
"Iya, lapar banget." Jawabnya sambil membelitkan selimut di tubuhnya, hingga seperti memakai kemben.
"Buka aja, ribet amat selimut tebal gitu dibelitkan." Ucap Tara tersenyum jahil.
Embun melirik sinis. "Itu sih maunya, dasar mesum." Jawab Embun ketus, bergerak turun dari ranjang. Tara pun mengekori Embun ke kamar mandi.
"Abang mau apa?" Menghentikan langkahnya.
"Mau bantuin Adek. Adek masih lemah itu."
"Gak usah, nanti Abang curi-curi kesempatan." Jawab Embun ketus. Ternyata wanita itu sudah bertenaga berdebat dengan Tara.
"Sama istri sendiri koq, ya gak apa-apa." Jawab Tara spontan.
"Istri? istri yang bagaimana yang Abang maksud? sedangkan abang saja mau memberikan aku kepada pria lain."
__ADS_1
Deg...
Mohon dukungannya dengan like coment positif dan Vote.