DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Beli ponsel baru


__ADS_3

"Assalamualaikum Dek, ini Mas. Kenapa no ponsel Mas, Adek blokir!?" suara itu membuat Embun terkejut bathin. Suara Ardhi membuatnya sedih. Ternyata mantan kekasihnya itu belum bisa move on darinya.


Embun hanya bisa diam termangu. Lidahnya terasa keluh untuk menjawab pertanyaan mantan kekasihnya itu. Embun merasa bersalah pada Ardhi. Kekasihnya itu sangat mencintainya, begitu juga dengan dirinya dulu. Pria itu lah cinta pertamanya. Tapi, sekarang dia sudah menikah. Tidak mungkin dia menguras pikirannya dengan memikirkan Ardhi lagi. Mungkin ini lah yang terbaik untuk mereka.


"Dek, kenapa terdiam? belum puas Mas mendengar alasanmu meninggalkan Mas. Apa yang tidak mas ikuti dari perjanjian itu. Mas menuruti semua point' dalam perjanjian. Tapi, kenapa Adek meninggalkan Mas." Suara Ardhi yang frustasi, membuat Embun semakin merasa bersalah.


Ini masalah, tidak boleh dibiarkan.


"Dek, jangan begini.!"


"Mas, tolong bijak lah. Aku sudah menikah. Tidak mungkin kita bersama. Mungkin bukan Adek wanita yang terbaik untuk mas. Sehingga, Allah membuat kisah kita seperti ini. Ada wanita yang sangat mencintaimu Mas." Ucap Embun dengan mata berkaca-kaca. Dia mengelus dadanya yang terasa ngilu itu. Berpisah dengan Ardhi membuat Embun terpukul. Karena, selama ini pria itu begitu baik padanya.

__ADS_1


"Kamu kejam dek. Tega kamu melakukan ini pada Mas."


"Ini yang terbaik Mas. Adek minta maaf!" Embun langsung memutus panggilan. Disaat itu juga, ternyata Tara sudah berdiri di belakangnya. Embun yang panik itu, tidak menyadari kedatangan suaminya.


"Astaghfirullah...!" Embun memegangi dadanya yang hampir copot itu. Suaminya itu sungguh mengagetkannya. Apalagi tatapan Tara yang nampak tidak bersahabat. Embun jadi ketakutan, seperti pencuri yang tertangkap basah saja.


"Dia bilang apa?" tanya Tara dingin, masih menatap Embun dengan tatapan penuh selidik.


"I--tu, Mas Ar.."


Embun yang terdiam, membuat Tara jadi salah tanggap. Dia mengira Embun masih kepikiran Ardhi dan ingin kembali padanya.

__ADS_1


Pertanyaan Tara yang tepat sasaran itu, membuat Embun jadi serba salah. Sangat bingung mau menjawab apa. Tidak mungkin dia mengiyakan pertanyaan suaminya itu.


Tara meraih ponsel dari genggaman Embun dengan gerakan cepat dan sedikit memaksa. Embun kembali terlonjak kaget.


"Abang tidak mau, Adek memikirkannya lagi. Sebaiknya Adek ganti no saja. Dan ini ponsel dibuang." Tara langsung melempar ponselnya Embun ke tempat sampah. Lagi-lagi Embun dibuat terlonjak kaget.


"Itu ponsel pemberiannya kan?" Embun semakin terheran-heran melihat sikapnya Tara. Dulu suaminya itu biasa saja sikapnya membahas Ardhi. Kenapa sekarang jadi posesif gini.


"Abang juga pernah membeli ponsel untuk Adek. Tapi, Adek tidak mau memakainya. Gak usah sedih gitu, nanti Abang belikan ponsel baru dan nomor baru juga.


"Jangan bilang Adek sedih, karena ponsel pemberiannya Abang buang?" Tara menatap lekat Embun yang nampak sedih itu. Entah kenapa Tara jadi cemburu mengetahui Ardhi menelpon Istrinya itu. Padahal dulu, dia bisa mentolerir dirinya. Jikalau Ardhi dan Embun berkomunikasi.

__ADS_1


"Apaan sih bang? kenapa jadi bersikap berlebihan begitu. Adek lapar, mau makan. Gak usah pakai ponsel sekalian. Kalau akhirnya buat aku jadi serba salah begini. Gak usah belikan ponsel untuk Adek." Embun mendudukkan bokongnya di kursi, dengan kesalnya.


Embun melirik Tara yang mendekatinya. Dia memalingkan mukanya. Embun malas membahas Ardhi. Karena wanita itu juga merasa bersalah kepada mantan kekasihnya itu. Jujur, tak semudah itu melupakan pria itu. Mereka tidak ada masalah. Karena perjodohan lah yang membuat mereka terpisah. Disini yang jadi korban adalah Ardhi dan dirinya.


__ADS_2