
"Sebentar saya panggil dulu. Melati sedang di ruang loundry." Kepala ART pun pergi ke ruang loundry. Saat itu juga Ardhi yang penasaran, mengekori kepala pelayan itu.
Ardhi merasa sedih, apabila nantinya mendapati Melati sedang bekerja di ruang loundry itu. Apalagi ini sudah malam. Ditambah wanita itu sedang hamil.
Saat kepala pelayan dan Ardhi sampai di ruang loundry. Ternyata mereka tidak menemukan keberadaan Melati di ruangan itu. Tapi, suara orang muntah-muntah jelas terdengar dari kamar mandi yang ada di ruang laundry. Siapa lagi yang muntah-muntah kalau bukan Melati.
Ardhi panik sekaligus sedih mendengar Melati yang muntah-muntah itu. Ingin rasanya dia langsung masuk ke kamar mandi itu. Membantu wanita itu mengeluarkan material yang memberontak ingin keluar dari pencernannya itu. Tapi, dia tidak selancang itu. Karena, ada kepala pelayan yang sudah masuk ke kamar mandi yang tidak di kunci itu.
"Kamu belum sembuh, tapi maksa mau kerja. Lihatlah, kamu jadi muntah." Suara keras kepala pelayan, terdengar jelas keluar. Ardhi semakin khawatir saja kepada wanita itu. Gara-gara dia, Melati tersiksa, karena mengandung anaknya. Ardhi jadi kasihan sekai pada Melati.
Melati keluar dari kamar mandi, dengan bantuan Kepala pelayan yang bernama Bik Siti. "Saya bisa sendiri Bik." Ucap Melati, dia masih menunduk fokus melihat ke bawah. Karena, kalau dia berjalan dengan pandangan lurus, kepalanya masih sakit.
"Gak apa-apa saya bantu. Sini hijabmu, saya pegang.". Bik Siti, menarik hijabnya Melati dari tangannya. Hijabnya Melati, kena muntahannya. Makanya dia membukanya. Melati yang tidak ada tenaga itu diam saja. Tangan kanannya, menyeka keringat dingin sebiji jagung yang keluar dari pori-pori kulitnya. Rasanya sangat sekali disaat muntah. Setiap selesai makan, dia pasti akan mual. Tadi setelah selesai makan dan sholat Magrib. Melati langsung ke ruang loundry. Dia merasa tidak enak an sama Embun. Karena, dia sudah tiga hari tidak kerja.
"Bik, aku istirahat di sini saja." Melati berjalan, ke arah ambal lembut yang digelar di ruang itu. Melati yang lemah, tidak menyadari keberadaan Ardhi di ruangan itu.
"Baiklah." Bik Siti, membantu Melati untuk duduk dan bersandar di dinding ruangan itu. Ardhi menatap Melati dengan lamat-lamat. Baru kali ini dia melihat wajahnya Melati langsung.
Rambut hitam legam lebat itu, di ikat dan nampak sedikit berantakan dengan anak rambut di dekat telinga. Leher putih mulusnya Melati tak lepas dari tatapan terpesonanya Ardhi. Kecantikan Melati benar-benar alami putih bersih seperti bunga Melati.
Pantas Ilham begitu mencintai Melati. Memandangi wajah Melati tak ada bosannya. benar-benar meneduhkan. Mata bulatnya yang indah, hidung yang mancung dan mungil, serta dagu yang lancip.
__ADS_1
Sesaat Ardhi teringat dengan wajah kedua orang tuanya Melati di kampung. Benar-benar tidak ada mirip-miripnya.
"Kamu baik-baik saja?" Melati yang baru saja duduk di ambal itu, langsung terlonjak kaget. Dia bahkan beranjak dari duduknya dengan tergopoh-gopoh. Bingung harus apa, karena keberadaan Ardhi di ruangan itu. Dia pun kocar-kacir mencari kain untuk menutupi kepalanya.
Akhirnya Melati menemukan taplak meja ditumpukan kain yang belum di setrika sebagai penutup kepalanya. Dan dalam posisi membelakangi Ardhi. Wanita itu mengelus-elus dadanya yang masih berdebar-debar, karena terkejut itu. Sungguh, setiap melihat Ardhi dia akan jantungan.
"Maaf, kalau mengagetkanmu." Ucap Ardhi, karena melihat reaksi Melati yang berlebihan saat melihatnya.
"Sa- Saya baik-baik saja tuan " Melati tergagap masih membelakangi Ardhi.
"Kita ke Dokter malam ini ya?" Saat mengatakan itu, Ardhi melirik Bik Siti. Melihat tatapan Ardhi yang memintanya keluar dari tuangi itu. BI Siti pun akhirnya meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.
"Kamu lagi tidak baik-baik saja. Harus diperiksa, dan kamu harus minum obat untuk mualmu. Kalau setiap hari muntah. Anakku yang ada di rahimmu bisa tidak berkembang."
"Bukannya itu maunya tuan, jadi Tuan tidak perlu menikahiku."
Deg..
Ucapan Melati benar-benar menyakitkan. Niat tulus nya Ardhi untuk bertanggung jawab, sedikit pun tidak dihargai wanita yang membelakanginya saat ini. Ardhi terdiam, dia sadar. Melati masih marah padanya. Karena, dirinya hidup wanita itu hancur.
"Aku akan baik-baik saja, jikalau Tuan menjauh dariku. Berbicara dengan tuan, membuat dadaku sesak dan nyeri. Tuan, Ibu nya Tuan dan Tunanganmu itu jahat. Kalian jahat ...!"
__ADS_1
Ardhi semakin merasa bersalah, hatinya juga sakit, mendengar ucapan Melati. Ingin dia merengkuh wanita yang menangis di hadapannya. Tapi, itu tidak mungkin, Melati pasti berontak.
"Apa maumu? benarkah kamu tidak ingin ku nikahi?"
Melati kembali meremas dan mengusap-usap dadanya yang berdenyut nyeri itu. Air mata semakin deras saja jatuh membasahi pipi pucatnya.
Dia ingin menikah dengan Ardhi. Tapi, ada Ilham pria yang dicintainya juga mau menikah dengannya menerima kekurangannya. Dia dan Ilham juga berada dari status yang sama. Tentu, masuk dan menyesuaikan diri ke dalam keluarga Ilham lebih mudah nantinya. Dari pada menikah dengan Ardhi. Ada Ibu Jerniati yang selalu ingin menghabisinya.
"Aku ingin kita tidak usah berkomunikasi lagi." Melati menutup matanya saat mengatakan itu. Keputusannya menikah dengan Ilham sudah bulat.
"Itu tidak akan terjadi, kita harus menikah. Aku ingin anak itu. Aku tidak akan menjumpai mu dalam tiga hari ini. Semoga kamu bisa tenang tanpa melihat diriku selama tiga hari ini." Ucap Ardhi tegas, merogoh dompet dari sakunya.
"Ini ada uang, kamu periksa kandunganmu. Tiga hari lagi, saya harus dapatkan hasil USG nya. Aku tidak main-main dengan ucapanku. Jangan pernah lari dan menolak untuk menikah. Pikirkan baik-baik, kamu harus lebih ikhlas menerima takdir." Ardhi keluar dari ruangan itu dengan perasaan hancur. Niat baiknya sedikit pun tidak dihargai wanita itu. Dia sudah berusaha mendekatkan diri pada Melati. Agar, wanita itu bisa menerima kehadirannya. Tapi, lihatlah wanita itu mengatakan tidak ingin berkomunikasi dengannya.
Setelah kepergian Ardhi. Melati terduduk lemah di lantai. Tangannya memukul lantai dengan kesalnya. Kenapa kesuciannya harus direnggut oleh pria itu. Harapannya untuk bisa bersanding dengan Ilham jadi tidak jelas. Walau Ilham mau menikah dengannya. Tapi, terkadang dia juga ragu. Dia merasa tidak pantas, untuk Ilham.
Melati yang duduk terkulai lemas itu. Memikirkan konsekuensi-konsekuensinya apabila menikah dengan Ardhi dan Ilham. Keduanya punya resikonya.
"Ya Allah, mohon petunjuknya!" lirihnya dengan menutup wajah dengan kedua tangannya. Akhirnya Melati pun memutuskan, siapa pria yang duluan mengajak nya menikah. Berarti dia harus ikhlas dengan itu semua.
TBC.
__ADS_1