DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Komunikasi


__ADS_3

"Adek yang tidak mencintai Abang. Adek tidak ingin punya anak dari pernikahan kita. Jadi kenapa adek sibuk sendiri dan marah, disaat Abang tidak mau menyentuh Adek. Apa abang ini hanya lelaki pemuas saja buatmu dek? Abang kecewa mengetahui Adek minum pil KB." Tara menatap sedih istrinya itu. Sedangkan Embun dibuat terlonjak kaget atas ucapan Tara. Jantungnya hendak copot dari tempatnya. Embun tidak menyangka bahwa Tara akan Semarah ini.


"Abang mau keluar, adek minggir." Tara berusaha menyingkirkan Embun dari hadapannya. Tapi, Embun tetap bergeming, Sikap Tara saat ini benar-benar membuat Embun sakit hati. Ternyata suaminya tak baik seperti dugaannya selama ini.


Air mata bercucuran sudah membasahi wajah cantiknya Embun. Tara tidak tega melihat istrinya itu menangis. Dia pun berbalik badan dan mendudukkan bokongnya di sofa. Meraih remote TV di meja yang ada di hadapannya. Menyalakan Televisi itu, tanpa mau melihat ke arah Embun yang menghampirinya.


Embun dengan tubuh bergetar, mendudukkan bokongnya di sebelah Tara.


"Ini sifat Abang yang sebenarnya. Abang tidak sungguh-sungguh mencintaiku. Seperti yang Abang bilang tadi di acara perayaan. Kalau benar-benar Abang mencintaiku, Abang pasti bisa menerima kekuranganku." Embun bicara sambil menunduk, dia mengutarakan isi hatinya saat ini dengan meledak-meledak.


Tara menyimpan remot di atas meja. Bagaimana pun salahnya istrinya itu, dia tidak tega juga melihat Embun menangis seperti saat ini. Merangkum wajah cantiknya Embun, melap air mata itu dengan jemarinya


"Abang sangat mencintaimu, sangat... Tapi, Abang kecewa dengan tindakan sepihak yang adek ambil. Jadi Abang butuh waktu untuk memikirkan semuanya. Ini harus kita diskusikan baik-baik, tapi, adek mengambil keputusan sendiri." Memperhatikan detail raut wajah yang merasa bersalah itu.


"Adek menyesal karena memilih Abang. Menyesal sekarang, karena dipikiran adek. Kita akan menghasilkan keturunan yang abnormal? cara berfikir adek itu yang Abang benci. Kemarin-kemarin sudah Abang jelaskan panjang lebar. Bagaimana pun kelak anak kita. Kita harus ikhlas menerimanya.


"Kalau anak kita nantinya tidak normal. Berarti itulah rezekinya buat kita. Berarti Allah itu sayang sama kita. Menitipkan amanah yang harus ditangani khusus." Embun menggelengkan kepalanya.


"Tidak, tidak. Aku tidak mau melahirkan anak seperti itu. Dia akan dikucilkan dunia, dia.."


"Sudah, sudah, kita sudah pernah membahas ini. Abang tidak mau mengulangi pembicaraan. Harusnya Adek berdiskusi dulu sama Abang, saat adek memutuskan untuk menggunakan alat kontrasepsi." Ucapan Embun kembali membuat hati Yara sakit, dia bangkit dari duduknya. Tapi Embun menahan tangan Tara.

__ADS_1


"Maafkan Adek, jangan diamkan adek seperti ini. Adek juga lagi kalut, seharusnya Abang mengerti dengan kekhawatiranku." Embun sudah menangis tersedu-sedu di tangannya Tara. sehingga air matanya membasahi tangan suaminya itu.


Tara yang tidak tega itu, akhirnya kembali duduk di sofa. Menatap Embun dengan ekspresi wajah sedih.


"Masalah ini bisa kita bicarakan sayang. Jangan ambil tindakan sendiri. Sebuah hubungan itu yang mendasarinya adalah komunikasi. Coba adek cerita sebelumnya, mungkin Abang tidak akan sekecewa ini." Melap air mata Embun yang bercucuran deras.


"Adek pikir Abang tidak tersiksa dari semalam?" Meraih Embun kepelukannya. Menciumi puncak kepala istrinya itu dengan penuh kerinduan. Embun semakin mempererat pelukannya, mencurahkan rasa rindu yang amat sangat. Karena dua hari ini, mereka jarang melakukan kontak fisik.


"Jangan minum lagi pil itu. Besok kita ke dokter kandungan. Kita konsultasikan ke khawatiran adek itu."


"Kalau benar nanti anak kita tidak normal gimana?" lagi-lagi Embun mengeluarkan kata-kata menyebalkan. Tara hanya bisa bersabar dalam hati saat ini.


"Gak mau." Embun kembali menggelengkan kepalanya dalam dekapan suaminya itu.


"Jangan sampai Allah marah kepada kita, dengan adanya pikiran negatif Adek itu. Jangan gara-gara sikap Adek ini, nantinya kita tidak punya anak."


"Adek contohnya, adek kan hasil dari pernikahan pariban, Adek normal. Jadi kenapa adek jadi ketakutan seperti itu." Menatap lekat Embun yang nampak sedang berfikir.


"Iya, aku kan sudah bilang. Tidak semua pernikahan sepupu akan melahirkan anak abnormal. Hanya 2-3 persen kemungkinannya. Siapa tahu kemungkinan itu nantinya kita alami bagaimana bang?" kembali memeluk Tara, setiap membayangkan punya anak tidak normal, Embun pasti ketakutan.


"Kalau itu terjadi pada kita, kita ikhlas. Berdoa sama Allah, agar anak selanjutnya normal. Pokoknya kita harus punya anak banyak. Sebanyak-banyaknya. Jadi, sekarang kita jangan bahas itu lagi. Kalau adek tidak ingin Abang jadi bersifat dingin." Tara mengurai pelukan Embun, sehingga kini ia bisa menatap lamat-lamat istrinya itu, menatap istrinya itu dengan tatapan mendamba.

__ADS_1


"Abang ingin anak sayang!" suara Tara yang serak, karena menahan gejolak *****, membuat bulu Roma Embun meremang. Apalagi tangan kiri Tara sudah mere"mas gundukan milik wanita itu. Tara sangat merindukan istrinya itu, dia juga setres dengan sikapnya yang mencoba dingin kepada istrinya itu. Tapi, syukur lah sikapnya, ternyata membawa kepada sebuah kebaikan hubungan mereka.


******* Embun membuat Tara ingin lebih. Ini yang disukai Tara dari istrinya itu. Embun pandai sekali menyulut birahinya. Baik dari desahannya, maupun dari cara istrinya itu membalas setiap sentuhannya. Tara dibuat gemes.


Puas saling berpangutan bibir, keduanya kembali saling bersitatap penuh kehangatan dan cinta yang membuncah. Tara kembali mendekatkan wajahnya kepada Embun, mencium bibir istrinya itu dengan penuh kelembutan, secara bergantian dari bibir atas dan bawah.


Perlakuan Tara yang menurut Embun lambat dan memancing-memancing itu membuatnya frustasi. Dari semalam dia sudah menginginkan suaminya itu. Jadi Embun ingin yang lebih hot. Tidak alone-alone lagi.


Embun mencengkram tengkuk suaminya itu dan mel#umat habis bibirnya Tara. Bahkan wanita itu menjatuhkan Tara, menimpa suaminya itu, sehingga pria itu berbaring di sofa. Memandangi wajah suaminya dengan puas, karena pria itu dibawah kekuasaannya. Tidak tahan lagi untuk melakukan lebih.


Dengan tergesa-gesa, Embun melepas kaos lengan pendek yang menutupi dada bidangnya suaminya itu. Tentu saja Tara membantu Embun melepaskannya. Ciuman panas pun kembali terjadi.


Tangan Tara sudah merayap kemana-mana disaat istrinya itu mengeksplor mulutnya. Dengan satu kali tarikan, akhirnya piyama yang dikenakan Embun terlepas, kancing berserekan di lantai. Tara melempar piyama istrinya itu. Tangannya langsung meraih gundukan kembar. Embun yang ingin lebih, dengan cepat membuka sendiri pengait BRA itu. Sehingga kini terpampanglah gundukan kembar itu dihadapan Tara. Sedikit menggantung, yang membuat Tara tidak sabar untuk melahapnya.


Di saat Tara me#remas gundukan itu. Embun asyik menggesek-gesek bagian inti mereka. Tentu saja perlakuan Embun membuat miliknya frustasi ingin lebih.


Embun mendekat kan gundukan kembar itu ke wajah suaminya. Menyapu wajah tampan itu, dengan kedua gundukannya. Mulut Tara langsung menyambar satu pucuk gundukan itu. Menyesapnya dalam-dalam dan gundukan satu lagi, dalam remasannya. ni permainan mereka yang sangat panas, tempat nya juga di sofa.


Permainan liar dengan berbagai gaya pun usai sudah. Sangat puas, ternyata bercinta setelah perang dingin itu, sangat mengasikkan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2