
Bang, kenapa kita berhenti di- di-sini?" Melati tergagap, tidak mau turun dari jok motornya Ilham. Kini mereka sedang berada di depan sebuah klinik.
"Kondisi adek harus diperiksa." Ilham sudah turun dari motornya, sedangkan Melati masih getol berada di atas motor itu. Dia tidak mau masuk ke dalam, dia tidak mau diperiksa. Dia tidak mau mendapati kenyataan, kalau dia didiagnosa hamil. Tanda-tanda kehamilan sudah dirasakannya. Dia belum siap menerima kenyataan pahit itu.
"Ayo turun dek! nanti cangkak motor Abang bisa patah, tidak kuat menahan bobot tubuh adek yang berat itu, kalau terlalu lama duduk di situ." Ilham masih saja mencoba membuat guyonan, agar Melati tidak terlalu tegang. Tapi, nyatanya usaha Ilham tidak membuah hasil. Melati tetap tidak mau turun dari motornya.
"Iya aku berat, berat dosanya." Melati yang tadinya menahan diri agar tidak menangis. Akhirnya tidak tahan juga. Wanita itu pun akhirnya menangis tersedu-sedu di atas motornya Ilham.
"Mau sampai kapan adek di atas motor Abang?" Tingkah Melati menurut Ilham jadi lucu.
"Adek gak mau turun, kita pulang saja. Aku tidak mau diperiksa. Aku tidak apa-apa. Aku hanya kecapekan, jadi masuk angin." Melati getol tak mau turun.
"Iya, makanya kita periksa. Biar dikasih obat, biar adek gak masuk angin lagi." Ilham menarik tas selempangnya Melati. Sehingga tas itu kini berpindah tangan.
Melati pun akhirnya turun dari atas motor nya Ilham. Wanita itu memilih duduk di trotoar klinik tersebut. Ilham juga mendudukkan bokongnya di sebelah kanannya Melati. Kebetulan sekali tempat yang merreka duduki sepi.
Ilham menepuk-nepuk kedua tangannya. Karena, pria itu sebelum duduk, membersihkan lantai dengan tangannya. Kemudian pria itu menarik napas dalam.
Melati menoleh kepada Ardhi yang duduk dengan menekuk satu kaki, sedangkan satu kakinya lagi berseloncor.
"Kalau adek hamil bagaimana?" suara Melati terdengar sendu, menyayat hati. Siapa yang akan kuat apabila mendapati kenyataan hamil di luar nikah.
"Kita secepatnya menikah." Keduanya tenggelam dalam pandangan satu sama lain. Saat menatap netra hitam miliknya Ilham. Melati tidak mendapati kebohongan di dalam nya. Pria itu tulus dengan ucapannya padanya.
__ADS_1
Melati menggeleng. "Tidak, tidak, Abang tidak harus menikahiku. Mau berbagi suka dan duka seperti ini saja, sudah membuatku bersyukur. Abang tidak harus berkorban sebesar itu pada saya." Melati memutus tatapannya pada Ilham. Menunduk lemah dengan. Jemarinya mengusap lembut air mata yang membasahi pipi pucatnya.
"Bagaimana pun keadaan Adek. Abang ridho, setelah selesai ujian semester, kita pulang ke kampung. Kita menikah, rencana semula tetap berjalan." Ilham hanya bisa memandangi Melati dari samping.
Melati kembali menggeleng. "Adek tidak mau melibatkan Abang lebih jauh lagi." Kini Melati menoleh kepada Ilham, yang ternyata sedang menatapnya.
Keputusan Abang tidak boleh dibantah. Ayo bangkit, adek harus diperiksa." Ilham sudah bangkit dari duduknya. Melati mendongak, melihat Ilham yang menjulang tinggi di hadapannya. Dengan terpaksa Melati mengikuti kemauan Ilham. Yaitu masuk ke dalam klinik dan diperiksa.
Setelah berada di dalam klinik. Ilham langsung mendaftarkan Melati. Sesekali dia melempar senyum manis pada Melati yang sedang duduk menunggu nya di kursi tunggu. Melati jadi terharu. Air mata yang dari tadi dicoba dibendung, akhirnya jebol juga. Melati benar-benar emosional. Pria itu terlalu baik untuknya. Dia tidak pantas, untuk pria sebaik Ilham.
Melihat Ilham berjalan ke arahnya.
Melati dengan cepat melap air mata ya g membasahi pipinya.
"Abang bilang saja, kita baru menikah dan belum membuat kartu keluarga. Syukur tadi dia gak minta buku nikah." Hehehe... Ilham tertawa. Melati heran, entah apa yang lucu. Koq pria itu malah tertawa.
"Maaf ya Bang, jadi merepotkan. Sudah adek bilang tadi, gak usah diperiksa." Jawab Melati sendu.
"Itu harus diperiksa. Biar jelas, kalau adek hamil. Adek harus banyak makan, minum vitamin, susu dan banyak istirahat. Agar Adek dan sidebay sehat." Ilham tersenyum manis. Ucapan Ilham, benar-benar membuat Melati speaclesh. Ada pria sebaik ini. Dia begitu mengkhawatirkan anak dalam kandungan Melati. Kalau benar Melati hamil.
"Adek tidak hamil. Adek hanya masuk angin saja." Jawabnya lemah.
"Pemeriksaan yang akan membuktikan." Jawab Ilham tegas.
__ADS_1
Melati pun sudah dapat antrian untuk diperiksa. Klinik yang mereka datangi, lengkap dengan Bidannya.
"Ayo bu Melati, silahkan berbaring." Titah sang perawat. Melati berbaring dengan perasaan yang berdebar-debar. Dia menatap Ilham dengan canggungnya. Ilham tahu apa yang ada dipikiran wanita itu. Akhirnya dia memilih keluar dari ruang pemeriksaan.
"Loh, bapak koq keluar? ayo sini temani istri. Bapak harus lihat dan dengar sendiri keadaan anak bapak loh!" seru dokter dengan ramahnya. Ilham pun tidak jadi keluar dari ruangan itu.
Perawat mulai memeriksa tekanan darahnya Melati. "80/60mmhg kak." Bu Bidan hanya mengangguk saat perawat mengatakan tekanan darahnya Melati. Sembari Bu Bidan tersebut, nampak menulis di dalam buku berwarna pink.
Perawat kembali memeriksa denyut nadi Melati. Kemudian Melati di minta menekuk kakinya. Perawat mulai meraba perut Melati bagian bawah, setelah menarik tunik nya Melati sedikit ke atas. Sehingga tampaklah sedikit perut Melati yang putih mulus itu. Saat itu juga, Ilham memalingkan wajahnya. Dia tidak mau melihat ke arah Melati lagi. Dia merasa malu, sekaligus canggung. Seandainya Melati adalah istrinya. Dia tidak akan malu, seperti pada saat ini.
"Belum ada kak. Aku belum merasakannya." Bu Bidan langsung beranjak dari duduknya. Setelah mendapat laporan pemeriksaan dari perawat.
"Ibu sudah berapa hari telat datang bulannya?" Dokter masih meraba-raba pelan perut Melati bagian bawah.
Melati nampak mengingat-ingat, kapan terakhir dia datang bulan. "Saya sudah telat sekitar sepuluh atau dua belas hari gitu Bu Bidan." Jawabnya setelah menghitung tanggal dia terakhir datang bulan. Sang bidan manggut-manggut.
"Ibu ada merasa mual?" masih menatap Melati yang nampak pucat itu.
"Iya Bu Bidan, aku baru merasa mual hari ini." Jawabnya pendek.
Bu Bidan memeriksa kembali denyut nadinya Melati dan memperhatikan pembuluh darah wanita itu.
"Dari hasil pemeriksaan sih, ibu sedang hamil. Tapi, untuk lebih pastinya. Ada baiknya orang Ibu dan Bapak periksakan ke rumah sakit, di USG dulu pak, Bu. Di klinik kita ini, belum ada alat untuk USG. Jadi saya sarankan Ibu Pakai Testpack saja. Tapi, di tes nya setelah ibu telat datang bulan, dua belas hari ke atas dari seharusnya jadwal Ibu menstruasi." Jelas sang Ibu Bidan. Penjelasan Bidan itu cukup membuat Melati bingung. Tapi, diiyakan nya saja. Sedangkan Ilham, duduk dengan tidak tenangnya di ruangan itu. Dia baru kali ini membawa seorang wanita periksa kehamilan. Jadi dia tidak terlalu mengerti dengan apa yang dikatakan sang Ibu bidan. Yang dia tangkap dari ucapan ibu bidan adalah. Bahwa Melati hamil.
__ADS_1