DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Jangan bermain-main


__ADS_3

Melati menutup tirai jendela kamarnya dengan sedih. Dia tidak tega melihat sang suami yang berkelahi dengan anak buah sang ayah. Dia harus turun ke bawah menghentikan perkelahian itu. Apa gunanya berkelahi. Semuanya bisa dibicarakan dengan baik-baik.


Untuk kali ini. Melati sedikit kecewa kepada sang ayah, yang menurutnya kurang bijak dalam menyelesaikan masalahnya. Tadinya dia ingin tinggal bersama sang ayah. Untuk menenangkan diri. Dia belum siap tinggal di rumah besarnya Ardhi. Sedikit pun tak niat di hatinya untuk berpisah dengan suaminya itu.


Melati menghela napas kasar. Berjalan cepat ke pintu kamar. Saat pintu kamarnya terbuka. Ternyata sang ayah sudah ada di hadapannya.


"Mau ke mana kamu nak?" Melati terdiam, dan menatap sang ayah dengan raut wajah sedih.


"Kamu sholat dulu, jangan karena seorang pria. Kamu lalai dalam menjalankan kewajibanmu sebagai umat muslim." Titah sang ayah dengan ekspresi wajah datar. Sungguh, ayahnya nampak menakutkan dan buat penasaran. Melati yang tidak bisa membantah. Masuk lagi ke kamar. Dengan perasaan tidak tenan Kenapa ayahnya itu, ingin memisahkannya dengan Ardhi?


Melati berwudhu dengan cepat. Keluar dari kamar mandi, melirik sang ayah, yang masih mengawasinya di daun pintu kamarnya.


Wanita itu pun mulai melaksanakan sholatnya


Tentu saja dia sangat susah untuk khusuk. Dia kepikiran Ardhi yang masih berkelahi di luar.


"Duduklah, ayah ingin bicara." Melati pun menuruti keinginan sang ayah. Dia sudah selesai sholat. Duduk di sofa tepat di hadapan sang ayah.


"Kamu pasti heran nak, kenapa ayah bersikap kasar pada Ardhi." Melati mengangguk dan menatap serius sang ayah, yang nampak sedih.


"Kenapa kamu gak pernah cerita, tentang kelakuan ibu mertuamu itu." Melati terkejut mendapati pertanyaan ayahnya. Melati malas sekali untuk membahas wanita gila itu. Hatinya langsung tidak tenang dibuatnya.

__ADS_1


"Ayah sedih, saat mengetahui apa yang kamu alami. Saat tinggal di rumahnya Ardhi. Darah ayah mendidih jikalau melihat Ardhi saat ini. Ingin rasanya Ayah membunuhnya. Karena, ayah tak tak terima atas perlakuannya serta ibunya. Dia harus merasakan sakit, seperti sakit yang kamu rasakan dulu nak." Pak Zainuddin tak bisa membendung air matanya lagi. Dadanya terasa sesak, karena emosi yang membuncah. Membayangkan penderitaan sang putri dulunya.


"Ayah, aku sudah melupakan kejadian kelam itu. Aku tidak ingin membahas itu lagi ayah " Melati melap air mata yang terus jatuh membasahi pipinya.


"Untuk apa ayah membalas kejahatan Nyonya besar kepada Mas Ardhi."


"Dia juga salah, dia yang menodaimu. Ayah tak bisa membayangkan betapa sakitnya yang kamu rasakan saat itu nak. Setelah dia menodaimu. Ibunya menganiayamu nak. Ayah tidak akan tinggal diam. Ayah akan jebloskan Anak dan ibu itu ke dalam penjara." Tegas Pak Zainuddin dengan ekspresi kesalnya. Dia sampai memegangi dadanya yang terasa nyeri itu. Koq ada manusia jenis seperti itu hidup di dunia ini.


Melati yang mengetahui kondisinya. Memilih untuk tenang. Dengan beberapa kali menarik napas dalam. Dia tidak boleh setres. Karena dia tak mau perkembangan janinnya terganggu.


"Ayah, terima kasih sudah begitu sayang padaku. Tapi, apa gunanya lagi ayah. Semuanya sudah terjadi. Dan aku sudah menikah dengan Mas Ardhi. Kenapa ayah malah ingin memisahkan kami. Padahal dulu ayah mendukungnya untuk menikahiku. Saat itu ayah juga tahu kan kejadian yang menimpaku." Meraih tangan keriput sang ayah. Menggenggam nya erat, seolah meminta sang ayah bersabar.


"Ayah, yang berlalu biarlah berlalu. Tadi saat ayah dan Mas berdebat di teras. Aku mendengar semuanya ayah. Aku percaya, Mas Ardhi akan melindungiku, jikalau nyonya besar. Tetap membenciku. Dan aku yakin, mas Ardhi tidak akan menduakanku ayah." Meyakinkan sang ayah dan masih merangkum tangan keriput ayahnya itu.


"Ayah sangat khawatir dengan masa depanmu nak. Gimana kalau Ardhi nantinya berubah, jadi seperti ibunya. Tua-tua keladi, makin tua makin. menjadi." Untuk kali ini, Melati jadi tersenyum tipis. Ayahnya itu kenapa jadi berpikiran pendek. Hal-hal yang belum terjadi sudah dipikirkannya jauh.


"Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan kita di masa depan ayah. Semoga, apa yang dikhawatirkan ayah itu tidak akan pernah terjadi. Dan sekarang asal ayah tahu. Aku sangat bersyukur, masih mendapatkan kesempatan bertemu dengan ayah. Melati tahu, apa yang akan risaukan saat ini tentang rumah tanggaku. Yang bisa kita lakukan sekarang hanyah berdoa untuk kebaikan kita semua. Dan berusaha bersikap yang baik pada sesama." Suara ketukan pintu kamar, membuat Melati menghentikan ucapannya. Menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka itu.


"Tuan, tuan, di luar sedang terjadi perkelahian hebat. Turun tuan, turunlah. Jangan sampai ada pertumpahan darah tuan." Ucap pelayan yang bernama Bi Romlah. Pak Zainuddin, menatap sang putri sejenak, kemudian menoleh ke arah Bi Romlah. Karena Pak Zainuddin sedikit terkejut mendengar laporan kepala pelayannya. Dia tahu ada perkelahian diluar. Tapi, pak Zainuddin sudah memperingati anak buahnya. Hanya memberi pelajaran pada Ardhi. Bukan menghabisi nyawa menantunya itu.


Saat ini Melati benar-benar kalut dan takut. Apakah suaminya itu sudah tiada. Melati beranjak dari duduknya dan berlari menuju lift. Begitu juga dengan pak Zainuddin.

__ADS_1


Sesampainya di halaman rumah Pak Zainuddin. Melati menggeleng dengan terkejutnya. Kedua bola matanya melotot penuh, dengan mulut menganga. Dadanya juga merasa sesak saat ini. Dan kakinya terasa layu tak berdaya. Sungguh perkelahian sengit di hadapannya membuat syok. Dua melawan empat orang. Yaitu Geng Tara dan Ardhi yang melawan anak buahnya Pak Zainuddin yang bertambah satu orang.


Melati menutup mulutnya yang menganga itu dengan jemarinya. Karena kini anak buahnya Pak Zainuddin sudah seperti kesetanan. Bahkan menggunakan benda tajam.


"Ayah.... Ayah.... Tolong hentikan ini semua ayah..!" teriak Melati dengan histerisnya dengan derai air mata. Bahkan tubuhnya bergetar hebat saat ini. Kenapa jadi menegangkan seperti ini.


Ardhi yang terkejut mendengar suara Melati yang tak jauh darinya. Dibuat lengah, menatap sang istri dengan penuh kecemasan. Karena Melati berteriak-teriak dengan histeris. Dan saat itu juga, dia melihat sang istri berlari ke arahnya dengan kencang.


"STOP...!" teriak Pak Zainuddin, disaat melihat anak buahnya hendak membacok Ardhi dari belakang. Melati juga melihat itu. Itulah yang menyebabkan dia berlari ke arah Ardhi. Dan kakinya kesandung


Bruuggkkkk...


Melati tersungkur tak jauh dari hadapannya. Di halaman rumah ayahnya itu.


"Melati...!" Teriak Embun. Embun yang dari tadi mematung karena ketakutan melihat pertengkaran itu, akhirnya pusing tujuh keliling. Ditambah tubuhnya sudah bergetar hebat dari tadi. Disaat menyaksikan perkelahian itu.


Tara yang melihat istrinya, sempoyongan itu. Akhirnya dengan cepat berlari meraih tubuh sang istri, sebelum terjatuh.


TBC


Tetap dukung, dengan like, coment dan vote ya say.

__ADS_1


__ADS_2