
Embun berlari ke parkiran dengan hati yang hancur. Keputusannya sudah bulat, untuk berpisah dengan Tara. Tidak perlu lagi menunggu empat bulan. Karena, itu akan membuat hatinya semakin tersiksa disisi pria itu.
Seandainya Tara memaksa untuk tetap bersamanya, mungkin Embun akan memilihnya. Tapi, Tara suaminya itu selalu bilang. Ikhlas memberikannya kepada Ardhi. Asal dia bahagia. Kalimat itu yang tidak bisa diterima oleh Embun.
Kenapa suaminya itu tidak ngotot, tidak memaksa dirinya untuk tetap disisinya. Kenapa suaminya itu, selalu mengatakan ikhlas memberikannya kepada Ardhi. Dia benci pernyataan itu.
Embun masuk ke dalam mobil, menyumpal mulutnya dengan kedua tangannya. Tubuhnya bergetar karena, menahan tangisannya agar tidak terdengar orang disekitar tempat itu.
Kenapa dia harus jatuh cinta kepada Tara, sehingga dia jadi merasa sangat berat berpisah dengan suaminya itu.
"Keputusanku sudah bulat, sudah saatnya Abang Tara mendapatkan wanita yang baik. Lolita sangat cocok untuknya. Mereka berdua sama-sama dari keluarga kaya raya." Embun berbicara sendiri, meluapkan kegundahan di hatinya. Dia merasa sudah saatnya berpisah dari Tara.
"Aku harus menghubungi Mas Ardhi. Aku harus kembali padanya." Embun melap air matanya dengan tisu yang disambar dari tempatnya yang tergeletak di sebelah kirinya.
Dia pun mulai menenangkan dirinya, dengan menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan. Dia harus tenang, berulang kali dia melakukan itu. Setelah merasa tenang. Dia pun mengambil ponselnya dari tas jinjingnya yang dari tadi tertingggal di mobil.
Dug... dug... dug....
Embun terkejut melihat banyak panggilan dan pesan yang masuk ke ponselnya dengan menggunakan nomor baru.
Dengan perasaan tidak tenang, dia pun membuka pesan itu, yang dia yakini, itu adalah pesan dari kekasihnya Ardhi.
Ternyata ikatan bathin keduanya sangat kuat. Ardhi bisa merasakan kegelisahan Embun. Sehingga dia pun tidak bisa menahan dirinya lagi untuk komunikasi dengan kekasihnya itu.
Assalamu'alaikum sayang, Mas sangat merindukanmu, begitu mengkhawatirkanmu.
Mas ingin bertemu di tempat biasa. Pesan pertama Ardhi.
Dek, angkat teleponnya. Ini Mas Ardhi. Pesan kedua. Ternyata, Ardhi menelpon Embun lagi. Karena, wanita itu tidak kunjung membalas pesannya.
Kini air mata semakin deras saja bercucuran membasahi pipinya Embun, dia tidak menyangka. Dirinya yang kepikiran Ardhi terus, teryata karena kekasihnya itu juga sedang memikirkannya.
__ADS_1
"Dek, besok mas akan ke luar kota. Tepatnya ke kota Sibolga. Mas ada proyek disana, pembangunan pelabuhan. Mas mohon kita bertemu sebentar saja, sebelum Mas ke kota Sibolga. Pesan ketiga, Embun semakin yakin untuk kembali kepada Ardhi.
Dek
Balas pesan Mas
Dek, angkat telepon Mas
Dek, jangan benci Mas.
Baiklah, kalau Adek tidak mau bertemu. Mas doakan agar Adek bahagia. Tapi, ingat empat bulan lagi. Mas akan datang ke rumah Tara, untuk menjemput Adek.
Embun memegangi dadanya yang terasa sesak. Dia takut dan was-was setelah mendapat begitu banyak pesan dari Ardhi. kegundahan di hatinya semakin menjadi saja. Dia merasa sudah saatnya berpisah dari Tara.
Dengan tangan bergetar, Embun pun mulai mengetik, membalas pesan kekasihnya itu.
"Walaikumsalam... Maaf Mas, tadi Adek gak megang HP. Kita akan bertemu, waktu dan tempatnya akan ku beritahu lagi. Tidak usah balas pesan ini mas dan jangan menghubungiku, sebelum aku mengabari Mas.
Dia seperti pemain ulung dalam berselingkuh. Menghapus cepat pesan dari selingkuhan dan memberi kode agar jangan menghubunginya.
Embun merilekskan tubuhnya. Menutup kedua mata indahnya. Dia merasa kepalanya sangat pusing. Merasa tidak berdaya untuk menyetir. Dia perlu istirahat sebentar, mendinginkan kepalanya.
Baru juga terlelap semenit. Ketukan pintu pada kaca mobilnya terdengar sangat kuat dan kencang. Dengan bersusah payah, Embun berusaha membuka kedua kelopak matanya, yang terasa sangat berat, seperti ditimpah batu besar saja.
Ternyata tidur sebentar itu malah membuat kepala dan badannya terasa semakin sakit. Dengan sisa tenaga yang tersisa, Embun pun bisa membuka matanya. Melirik ke arah sumber suara bising yang menggedor-gedor pintu mobilnya dengan mata merem melek.
"Tara," Lirih Embun lemah, kembali mengucek kedua matanya. Guna memperjelas penglihatannya. Ya, yang mengetuk keras dan tak sabaran pintu kaca mobilnya adalah suaminya sendiri. Dia melihat Tara berusaha melihat keadaannya di dalam. Dengan memfokuskan penglihatannya dengan menangkupkan kedua tangannya di kaca mobil.
Embun pun terlonjak kaget, setelah kesadaran terkumpul. Dia langsung menyambar tisu di selah kirinya. Melap cepat mukanya yang kusut dan maasam.
"Embun, Embun, buka pintunya!" suara tak sabaran dan penuh kecemasan Tara membuat Embun dengan cepat membuka pintu mobilnya.
__ADS_1
"Adek kenapa? kenapa begitu lama berada di dalam mobil? apa mobilnya rusak?" Tara menatap lekat wajah Embun yang kusut dan sembab itu. Saat ini Tara beranggapan isterinya itu sedang lelah. Karena, seharian di kampus dan kini ke rumah sakit, menyetir sendiri.
"Abang kenapa disini?" ucap Embun lrmah tak berdaya. Embun merasa drop. Tara tidak menjawab pertanyaan Istrinya itu. Dia malah mengitari mobil dan membuka pintu mobil di sebelah supir.
"Adek sehatkan?" masih bertanya, karena Embun memang nampak memprihatinkan.
Embun mengangguk. "Abang ngapain kesini?"
Tara merapikan rambut Embun, menyisipkan ke daun telinga istrinya itu dengan penuh kasih sayang. Dan dia pun meraih Embun kepelukannya. Walau posisinya kurang nyaman saat ini. Embun membiarkan Tara memeluknya.
"Abang dan Doly ke sini untuk jeguk Lolita." Embun langsung berontak dari dekapan suaminya itu. Mendengar nama Lolita disebut oleh suaminya itu. Dia teringat ucapannya kepada Lolita. Bahwa dia akan bercerai dari Tara.
Tara tidak heran dengan sikap Embun ya g tiba-tiba dingin padanya, seperti saat ini. Karena memang dia sudah biasa tidak dianggap oleh istrinya itu.
"Adek kenapa? Adek sehatkan?" menatap lekat Embun yang membuang wajahnya. Tangan Tara bergerak mengelus kepala Embun dari samping. Saat itu juga Embun menepisnya. Dia tidak mau terperdaya oleh sikap lembut dan baik suaminya itu. Dia bisa gila lama-lama bersama Tara.
"Sebaiknya kita bercerai saja. Tidak perlu lagi menunggu lama." Air mata Embun berhamburan keluar saat mengatakan itu. Dia masih memalingkan wajahnya.
Sedangkan Tara dibuat syok mendengar ucapan istrinya itu. Dia hanya bisa terdiam, sebagai gambaran betapa kacau dan hancur nya hatinya saat ini. Tara pun mengubah posisinya, bersandar pasrah menatap lurus kedepan. Dan menghela napas kasar. Mengusap wajahnya dengan kesalnya.
"Besok aku akan menemui Mas Ardhi. Aku akan ikut dengannya." Ucapan Embun itu adalah suatu khianat, tentu rasanya sakit sekali. Tapi, Tara tidak mau mendebatnya lagi. Mungkin istrinya itu sudah memikirkan semuanya, baik dan buruknya.
"Tidak bisakah Adek kembali padanya, seperti kesepakatan di awal?" Embun berang, kalau mengingat kesepakatan itu. Dia jadi benci suaminya itu.
Embun menoleh ke arah Tara, menatap kesal suaminya itu. Tangannya mengepal kuat, ingin rasanya dia menumbuk habis mulut suaminya itu. Embun sangat benci dengan perjanjian itu. Embun sangat benci Tara yang membuat ide aneh seperti perjanjian itu.
"Apasih mau mu Abang Tara?" Abang benar- benar sukses membuat hidupku menderita dan hancur. Kalau benar apa yang Abang katakan. Bahwa Abang mencintai aku dari dulu. Kenapa Abang membuat kesepakatan gila seperti itu. Kamu tidak mencintaiku, kamu hanya ingin mempermainkanku. Harusnya kalau kita nikah, ya nikah saja. Kenapa harus menikah enam bulan.!" Embun yang kini sudah berada dihadapan Tara, memukul kesal lengan Tara, berulang kali.
TBC.
Mohon dukungannya dengan like coment positif dan Vote 😍
__ADS_1