
"Hasian, sini deh!" Embun menggerakkan tangannya dengan gemulai, melempar senyum menggoda pada sang suami. Wanita itu memberi kode meminta suaminya itu mendekat padanya. Tara nampak sibuk dengan ponsel pintarnya, duduk dengan kaki menyilang di sofa yang terletak di sebelah kanannya Embun.
Tara yang begitu mencintainya istrinya itu, langsung bergerak disaat Embun membutuhkan bantuannya. Saat ini Embun sedang mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer.
"Kenapa senyam-senyum?" Tara memperhatikan pantulan wajah cantiknya Embun di cermin. Saat ini Tara sedang menggunakan hairdryer, untuk mengeringkan rambut sang istri.
"Eehmmmm... Seneng aja, punya suami pengertian." Embun mendongak, menatap Tara yang berdiri di belakangnya.
"Terpaksa sih..!" Tara pura-pura cemberut, saat mengeringkan rambut Embun yang panjang hitam lebat itu.
"koq terpaksa?" Embun menampilkan ekspresi wajah cemberutnya. "Aawww.,.. sakit..!" Embun menepis kasar tangan Tara. Embun langsung memegangi kepalanya yang terasa panas, karena hairdryer bersuhu panas itu terlalu dekat, mengenai kepalanya Embun. Tara menjauhkan tangannya cepat, Karena pria itu sedikit terkejut dengan sikap Embun yang sedikit kasar menepis tangannya.
Keduanya saling pandang dalam pantulan cermin. "Ya terpaksalah, kalau Abang gak mau bantuin adek, keringkan rambut Adek yang indah ini. Nanti Abang gak dikasih jatah." Tara akhirnya melanjutkan kegiatannya, membantu Embun mengeringkan rambutnya.
Embun tersenyum tipis. "Hati-hati, nanti kepalaku bisa botak, kalau setiap hari kena kulit kepalaku."
"Maaf sayang, lain kali Abang akan lebih hati-hati lagi." Melanjutkan kegiatan mengeringkan rambutnya Embun, yang masih senyam-senyum ditahan itu. Padahal di rumah megah itu ada salon. Tapi, Embun selalu meminta Tara untuk mengeringkan rambutnya, sehabis mandi junub. Kalau Tara gak mau, Embun gak mau diajak mantap-mantap. Kan jahat banget itu namanya sebagai istri.
"Iya sayang, terimakasih." Embun masih saja senyam-senyum. Suaminya itu polos atau bodoh. Ancaman dari Embun ditakutinya.
"Kasus Pak Ardhi aneh ya?"
__ADS_1
Awwww....
Lagi-lagi hairdryer terlalu dekat ke kepala Embun. Sehingga kepalanya kesakitan. Wanita itu terkejut, mendengar Tara menyebutkan nama Ardhi.
"Maaf hasian."
"Maaf, maaf, dari tadi kerjaannya minta maaf Mulu." Embun merajuk.
"Adek sih banyak gerak." Tara masih melanjutkan kegiatannya. Embun menekuk bibirnya kesal.
"Masih sering kaget ya, kalau nama mantan disebut?" Tara menampilkan ekspresi wajah datar. Dia tidak suka, kalau Embun belum bisa melupakan Ardhi.
"Ya begitulah," Embun mencibir. "Namanya juga pernah spesial di hati." Embun malah memancing-mancing keributan.
"Koq berhenti?" memperhatikan Tara yang, yang merapikan rambutnya dengan jemarinya.
"Rambut adek sudah kering. Cepat sedikit, acaranya di mulai pukul 20.00 Wib " Tara kembali duduk di sofa, membaca email dari Rudi, tentang kasusnya Ardhi.
Rudi sang asisten melaporkan, bahwa Ardhi melakukan pelecehan seksual kepada tunangannya Anggun.Tapi, kasus itu tidak dipublikasikan. Hanya interen kedua keluarga. Tara heran saja, koq Ardhi yang nampak baik, bisa lakukan hal seperti itu.
Embun dengan cepat menyelesaikan make up nya, sambil sesekali melirik Tara yang masih sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
"Emang kasus apa?" Akhirnya Embun penasaran dengan kasus yang dikatakan Tara.
Tara mengalihkan pandangannya kepada Embun yang kini juga sedang memperhatikannya.
"Katanya dia menodai tunangannya." Jawab Tara singkat. Kembali fokus ke ponselnya.
"Menodai?" tanya Embun kaget, dia memutar tubuhnya, dan kini mereka saling bersitatap. Tara mengangguk lemah.
"Mas Ardhi melakukan tindakan asusila?" Embun membathin, merasa tidak percaya dengan berita yang barusan didengarnya. Kenapa banyak sekali hal buruk yang didengarnya tentang Ardhi. Dulu saat mereka berpacaran, pria itu sangat baik dan sopan.
"Dari mana Abang tahu?"
"Dari Rudi." Embun langsung beranjak dari duduknya. Kini dia mendudukkan bokongnya di sofa di sebelah sang suami.
"Ini baca." Tara menyodorkan ponselnya kepada Embun. Kedua bola mata wanita itu membelalak, saat membaca email tersebut.
"Masak sich Mas Ardhi seperti itu?" Embun masih tidak percaya.
"Ya namanya laki-laki. Mana tahan dia melihat penampilan Anggun yang selalu menggoda." Tara ingin tertawa melihat ekspresi wajah Embun yang nampak bingung dan terheran-heran itu. Embun hanya mengangguk lemah.
"Aku yakin, si Melati juga korbannya dia." Tara berbisik di telinga Embun. Wanita itu terlonjak kaget, dengan kekakuan sang suami. Dia juga merasa geli, karena Tara meniup telinganya Embun.
__ADS_1
"Iyakah?" Embun menggeleng, tidak percaya dengan ucapan sang suami.
"Kalau adek kepo, tanyakan langsung pada Melati." Tegas Tara.