DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Syarat


__ADS_3

Setelah menyeruput kopi buatan sang istri, Ardhi memperhatikan jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Adek tidur saja, ini sudah larut malam." Ardhi memperhatikan bahasa tubuh Melati yang gelisah. Melati menoleh pada sang suami, yang masih sibuk menatap layar datar dihadapan nya.


Sebenarnya Melati lagi sesak pipis. Dia tidak berani untuk keluar rumah. Karena sudah larut malam. Dia ingin Ardhi menemaninya, tapi dia malu untuk mengatakannya. Coba kalau dia belum menikah. Pasti dia sudah bangunin sang ibu untuk menemanin dia mengeluarkan urinenya.


"Adek kenapa? sakit perutnya?" Ardhi benar-benar penasaran dengan tingkah Melati yang selalu memegangi perut bagian bawahnya.


Melati mengeleng pelan.


"Sudah minum obat kan dek?" tanya Ardhi penuh kekhawatiran. Melati kembali menganggukkan kepalanya.


Wanita itu pun akhirnya menoleh pada Ardhi yang masih menatap lekat dirinya.


"Temenin adek ke belakang ya? adek sepi." Ucapnya dengan raut wajah memerah, karena malu.


Ardhi dibuat gemes dengan tingkah Melati yang salah tingkah itu. Dia pun bangkit dan menjulurkan tangan nya pada Melati. Dengan enggannya Melati meraih tangan nya Ardhi. Pria itupun membantu sang istri untuk bangkit.


Ardhi juga sebenarnya kebelet pipis. Di kampungnya Melati hawanya dingin bener. Ardhi yang pakai jaket saja masih merasa kedinginan.


"Ke parit saja mas, lebih dekat." Ucap Melati pelan. Kini keduanya sedang berpegangan tangan. Sedangkan tangan kiri Ardhi memegang handphonenya yang dibuat jadi senter.


"Ke kamar mandi Mesjid aja dek, lebih aman. Di parit kalau malam-malam begini biasanya ular pada keluar untuk berendam. Mas takut ular Mas, dipatuk ular." Jelas Ardhi cengengesan, langkahnya terus menuju Mesjid yang jaraknya ada sekitar seratus meter dari rumah. Melati sedikit kesal dengan guyonan garing sang suami. Tapi, dia tidak terlalu mempermasalahkan ucapan suaminya itu.


"Tahu kalau diajak ke Mesjid jalan jauh-jauh begini. Mending ambil air segayung, pipisnya di belakang rumah." Ucap Melati keceplosan. Dulu sih waktu kecil dia sering juga pipis di belakang rumahnya, kalau lagi kebelet.


"Sudah di bilang gak boleh kencing sembari." Mereka terus saja bicara, menuju kamar mandi yang ada di Masjid. "Eemmmm.... itu jorok namanya. Nanti belakang rumah jadi bau. Apalagi adek suka makan jengkol kan?" Kini mereka sudah sampai di kamar mandi Mesjid. Kamar mandi itu memang dipakai untuk umum di kampung itu.


"Iihh... gak bau juga Mas. Orang sesekali koq gak tiap jam." Melati entah kenapa merasa takut untuk masuk ke dalam kamar mandi mesjid itu.


" Iya, kalau pas lagi makan jengkol bau juga tu dek."


"Iihh apaan sih, dari tadi bahas jengkol mulu. Gara-gara si umak ini. Ceritain aku terus tadi saat makan." Melati malah diam mematung, gak mau masuk ke dalam kamar mandi.


"Napa, takut masuk ke dalam?" Melati mengangguk.

__ADS_1


"Ayo sama-sama masuk, Mas temenin, sekalian Mas juga jadi ingin pipis " Ardhi menarik tangan Melati. Mau tak mau Melati akhirnya masuk ke dalam.


"Iihh Mas, gantian dong. Adek malu." Jawabannya polos, dengan tertawa kecil, Ardhi keluar dari kamar mandi itu. Dan dengan cepat Melatimengunci pintu kamar mandi itu. Dia takut Ardhi nyelenong masuk.


Ardhi yang juga kebelet itu memilih masuk ke kamar mandi sebelah Melati.


Melati menghidupkan kran air dengan derasnya. Dia tidak mau Ardhi mendengar suara kencing nya yang deras, seperti sedang menggoreng itu. Melati memang sangat sesak.


"Pakai sabun apa tadi? koq wanginya enak banget." Ardhi begitu menyukai wangi sabun pencuci kewanitaannya Melati. Wanginya soft dan membuat pikiran tenang. Wanginya sampai tercium ke tempatnya saat buang hadast kecil itu.


"Sabun? aku gak bawa sabun." Jawab Melati bingung. Dia gak bawa sabun. Tapi, dia membawa sabun pembersih kewanitaan.


"Maksud nya Mas. Sabun untuk cuci itu. Bukannya adek tadi menggunakan itu?" jelas Ardhi. Melati jadi malu. Dia memilih diam, tak mau membahas sabun yang dimaksud oleh Ardhi. Melangkah terus menuju rumah, dan mereka masih bergandengan tangan.


"Beneran dek, Mas suka banget wanginya jadi pingin beli seperti itu."


"Kalau Mas mau boleh pakai punya adek nanti. Murah koq." Kini keduanya sudah sampai di rumah.


Pasangan suami istri itu sudah akrab. Mungkin karena kejadian di sawah yang membuat keduanya jadi semakin dekat.


"Boleh dikenakan ke badan kan?" tanya Ardi dengan penasarannya. Melati pun dibuat terkejut dengan ucapan sang suami.


"Kalau mas suka, boleh-boleh aja sih dipakai untuk badan." Jawabnya dengan tersenyum lucu. Biar saja badannya Ardhi jadi keset nanti.


"Oohh.. gitu ya? kalau tidur seranjang boleh?" Ardhi masih berdiri di dekat ranjang mereka, begitu juga dengan Melati.


"Iya Mas. Ini ranjang kita, masak Mas gak boleh tidur di sini. Ranjang ini juga dibeli pakai uang pemberian Mas. Jahat sekali aku gak izinkan suami sendiri tidur di ranjang yang dibelinya." Ucap Melati dengan raut wajah serius. Dia pun merangkak ke atas ranjang. Memilih tidur berbataskan dinding kamar itu. Menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Ardhipun akhirnya naik ke atas ranjang, dengan senyam-senyum. Dia merasa bahagia sekali. Hati istrinya itu cepat sekali melunak. Ardhi yang seneng itu. Menggerakkan-gerakkan kakinya, meresapi lembutnya seprei ranjang yang ditidurinya saat ini.


Melati hanya melirik tingkah aneh sang suami. Dia tahu, suaminya itu sedang cari perhatiannya.


Ardhi pun menghentikan aksi konyolnya yang seolah menyelam di ranjang itu. Karena Melati tak kunjung menegor kelakuannya. Kini pria itu memilih berbaring miring menghadap Melati.


Mendapati sang istri sudah mau berkomunikasi dengannya dia pun ingin sekali menanyakan banyak hal yang dialami istrinya itu saat ini, karena mengandung anaknya.

__ADS_1


"Adek sudah kantuk?" Ardhi ingin berbincang-bincang dengan sang istri dia penasaran dengan keadaan istrinya itu. Terkait kandungannya.


"Gak Mas." Jawab Melati pendek. Masih setia menatap asbes kamarnya. Dia belum berani bersitatap dengan Ardhi. Apalagi saat ini mereka satu ranjang. Rasanya begitu canggung, serta mendebarkan.


"Mas perhatikan sejak tadi siang, adek gak muntah-muntah lagi?" Masih menatap lekat Melati yang tidak berani menoleh ke arahnya.


"Iya Mas, mualnya sudah berkurang sejak tadi siang. Semoga seterusnya begitu." Ucap lembut dengan berusaha tenang, karena dadanya sedang berdebar-debar.


"Syukurlah, itu karena adek sudah lebih rileks. Jadi asam lambung adek tidak naik." Melati mengangguk pelan, matanya melirik Ardhi. Yang ternyata masih menatapnya.


"Mas senang sekali, kita bisa bicara santai seperti ini. Rasanya beban berat yang sedang mas pikul hilang sudah." Ucapan Ardhi yang terdengar menyedihkan itu, membuat Melati memberanikan diri untuk menoleh ke arah sang suami.


Wanita itu teringat perbincangannya dengan Pak Zainuddin. Saat ini, Ardhi lagi ada masalah besar. Sudah seharusnya dia sebagai istri membantu meringankan masalah itu. Kalau Ardhi mengatakan berbicara dengannya, membuat suaminya itu merasa tenang. Dia akan mendengarkan curhatan suaminya dengan senang hati.


"Perusahaan Mas lagi anjlok. Kalau Mas kembali jadi gembel, bagaimana?" Melati terkejut mendengar ucapan sang suami. Keningnya menyerngit tak suka.


"Ya, aku balik sama ayah. Aku gak mau jadi gembel lagi. Aku kan punya ayah yang kaya " Jawab Melati dengan ekspresi wajah penuh kepercayaan diri.


"Pilihan yang tepat. Kirain adek ingin kembali pada Ilham"


Deg


Wanita itu jadi teringat kembali pada Ilham. Sore tadi, Ilham terlihat menyedihkan.


"Kenapa Mas membahas Abang Ilham lagi?" raut wajah sedih, tak bisa ditutupi oleh Melati. Wajahnya langsung mendung.


"Mas ingin adek tenang, karena dengan rileks nya adek, akan mempengaruhi anak kita ke hal yang positif. Tadi Mas dengar adek bahas Ilham dengan Embun. Abang akan menemani Adek besok untuk menemuinya."


"Benarkah?" Melati terlihat semangat. Dia tidak menyangka suaminya itu punya jiwa yang besar. Menemaninya menemui Ilham.


"Benar, tapi ada syaratnya?" Ardhi tersenyum penuh arti. Kedua alisnya terangkat. Dengan mata dikedip-kedipkan.


"Syarat, syaratnya apa?" Melati mulai tak yakin.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2