DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Paborhat Boru part 3


__ADS_3

POV Embun


Membangun biduk rumah tangga idealnya dilandasi dengan perasaan saling mencintai di antara dua insan. Namun itu tidak berlaku kepadaku. Ketika rasa cinta belum juga berpihak, mungkinkah kisah tersebut bisa berakhir dengan bahagia? Toh, menikah tanpa cinta lazim terjadi. Aku tidak berharap pernikahan ini berakhir bahagia. Karena kebahagiaan ku hanya pada Mas Ardhi.


Faktanya, memang tidak semua orang dianugerahi keberuntungan bisa menikah dengan orang yang ia cintai. Ada yang karena perjodohan terpaksa berpasangan dengan sosok yang tak disukainya. Seperti yang terjadi padaku saat ini. Ada pula yang dengan rela hati menikah tanpa dilandasi perasaan cinta sama sekali. Cinta tumbuh karena biasa, konon begitu kata pepatah.


Tapi, pernikahan yang ku lakoni ini berbeda dari pernikahan orang pada umumnya. Aku hanya dititipkan dan akan kembali kepada pria yang sangat ku cintai.


Terdengar aneh, tapi. begitulah isi kesepakatan konyol yang dibuat oleh kedua pria yang saat ini selalu ada dipikiranku. Satu pria yang sangat ku cintai dan satu lagi pria yang begitu ku benci.


Hari ini begitu melelahkan. Lelah hati, pikiran dan badan. Semua yang ku lakoni bertentangan dengan hati. Tidak ada keihklasan di dalamnya yang membuatku semakin tertekan.


Ditambah nasehat-nasehat dari Mama, ayah, Tulang, Nantulang, dan masih banyak lagi, membuat kepalaku mau pecah. Otakku tidak sanggup lagi untuk menyerap semua nasihat itu. Aku merasa sudah mau pingsan.

__ADS_1


Nasehat mereka begitu mendalam, Aku jadi merasa bersalah ikut dalam pernikahan sandiwara ini.


Aku tidak habis pikir, Tara kelihatannya biasa-biasa saja. Apa motifnya Menikahiku hanya enam bulan?


Bodoh sekali pria yang jadi suami sementara ku ini. Mas kawin yang diberikannya tak tanggung-tanggung 5 M. Apa Dia tidak merasa rugi?


Bodoh amat, untuk apa ku pikirkan. Pokoknya, aku harus kembali kepada Mas Ardhi nantinya.


Lamunanku pun terhenti disaat suara adzan dikumandangkan dengan merdunya, disaat Aku hendak melangkah dari rumah ini dan diboyong ke rumahnya Tara.


Ku tarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya pelan. Aku harus bisa tenang, karena saat ini Aku merasa dadaku sudah semakin sesak dan sakit.


Bahkan Aku merasa kepalaku pusing tujuh keliling. Tubuhku terasa tidak bertenaga.

__ADS_1


Ku mengerjap-ngerjap kan kedua mataku, guna melihat lebih jelas lagi orang - orang di hadapanku. Karena Aku merasa penglihatanku sedikit buram. Aku merasa sudah ingin pingsan, terlalu banyak yang harus kubawa.


Ayam betina dalam gendonganku. Tangan kanan dan kiriku berisi tentengan. Belum lagi Aku harus menjujung bakul. Walau setelah melangkah dari rumah. Bakul yang ku jujung akan diturunkan dan diambil alih oleh Pandongani. Atau pengiring pengantin.


Dengan pandangan kabur, ku lihat Tara menjulurkan tangannya untuk meraihku. Dia langsung merangkulku, ada perasaan dongkol dan kesal. Kenapa pria ini yang akan jadi suamiku.


Dia merangkulku dari samping dengan erat, menuntun langkahku yang lemah, menuju mobil yang sudah terparkir tak jauh dari rumah.


Dalam adat Batak Angkola, ada tradisi Mangolat Boru Tulang. Tapi, karena, aku menikah dengan Paribanku sendiri. Maka acara itu tidak diadakan lagi.


Mangolat Boru Tulang adalah acara ketika pengantin perempuan akan keluar dari rumah. Ia akan dihadang oleh sepupunya yang laki-laki yang meminta uang, kepada mempelai pria.


Uang tersebut berupa upah telah menjaga si pengantin perempuan selama belum menikah.

__ADS_1


Acara ini biasanya akan mengundang riuh sorak dan tawa dari tamu undangan yang menyaksikan.


TBC


__ADS_2