
"Siapa pasangan yang di sawah itu Ma? Apa mereka yang menyewa areal persawahan, sehingga hanya mereka berdua di tempat itu?" tanya Embun, dengan menatap wajah Mamanya dengan tidak sabar menunggu jawaban.
"Apa mereka pasangan?" tanya Mama Nur balik. Yang membuat Embun menyergitkan keningnya. Dia nanya, Weh Mamanya malah balik nanya.
"Mana ku tahu." Ucap Embun dan meringis kesakitan. Saat Dia menggerakkan kakinya.
"Yang ada di tempat kejadian perkara kan hanya kalian bertiga. Yang cowok itu Tara. Berarti yang cewek itu?"
"Yang cewek itu yang membuat putrimu ini babak belur, pacarnya si Guru Gendut itu." Timpal Embun dengan kesalnya. Ucapan Embun membuat Mamanya terkejut dan tidak percaya.
"Apa yang kamu bilang Nak? tidak mungkin Nak Tara membawa kekasihnya kesini. Sudah jelas Dia kesini mau menikah denganmu." Ucap Mama Nur dengan menggelengkan kepalanya. Dia merasa Embun terlalu mengada-ada.
"Ma, Si Guru Gendut itu." Embun menghentikan ucapannya saat Dokter sudah masuk ke ruangan tersebut. Sedangkan Tara yang sempat menguping pembicaraan Embun dan Nantulangnya itu terdiam mematung dibalik dinding kamar yang ditempati Embun.
Dia merasa sedih, ternyata setelah tidak ada komunikasi selama belasan tahun. Embun masih membencinya. Bahkan panggilan untuknya pun tidak berubah. Selalu menyebut Tara dengan sebutan Guru Gendut. Ya memang dari kecil sampai remaja Tara badannya gendut sekali.
Sekarang tambah masalah baru, gara-gara Ros yang brutal itu Embun babak belur. Memang kesalahan bukan seratus persen kepada Ros. Tapi, tindakan Dia yang terlalu ekstrem itu akan menambah masalah. Tidak mungkin orang tua Embun akan berdiam diri saja, melihat putrinya babak belur.
Dengan langkah gontai Raja masuk ke kamar mandi, mengganti pakaiannya. Dia tidak mau masuk ke kamar yang sering ditempatinya kalau berkunjung ke rumah Ompungnya. Karena orang yang berada di ruang tengah akan mengetahui kejadian pertengkaran Embun dan Ros.
Dengan cepat Tara mengganti pakaiannya. Dia mengetuk pintu kamar yang masih terbuka itu, dimana Embun, Mama Nur dan Dokter berjenis kelamin laki-laki masih ada di kamar tersebut.
Melihat Tara izin untuk masuk. Mama Nur pun mengizinkannya. Dengan cepat Embun menyambar handuk kecil warna putih yang ada disebelahnya dan menutupi bagian dadanya yang tidak tertutup kain sarung.
Entah kenapa Embun merasa malu tulang selangka, bahu dan lehernya terpampang dan pastinya akan terlihat oleh Tara. Padahal tadi saat Dokter memeriksa luka-lukanya serta kakinya yang terkilir Dia tidak malu sama sekali.
__ADS_1
"Masuk Nak Tara." Ucap Mama Nur dengan tersenyum. Embun memperhatikan Tara dari ujung kaki sampai ujung kepala saat berjalan menghampiri mereka. Sesaat Embun kesulitan menelan ludahnya. Matanya melotot dengan mulut sedikit menganga.
Rasa sakit di sekujur tubuhnya terasa hilang sejenak. Karena sosok Tara yang dihadapannya sangat berbeda dengan sosok Tara yang dibenaknya selama ini. Yang membuat Embun semakin tidak bisa berkata-kata. Apalagi ternyata Pria yang di bandara yang dipeluk-peluknya berarti adalah Tara.
Embun dengan cepat menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Karena mulutnya hampir saja menjerit, tubuhnya dan jiwanya tergoncang mengetahui fakta. Bahwa Tara adalah pria yang dipeluknya di bandara itu. Embun menyoroti pergerakan Tara, yang kini sudah berada di sebelah Mama Nur berdiri.
Mama Nur terseyum melihat Embun yang tidak berkedip melihat Tara yang menghampiri mereka. Mama Nur beranggapan Embun menyukai Tara. Padahal Embun hanya terkejut saja mengetahui fakta. Bahwa Dia sudah memeluk-meluk Tara.
"Tidak ada yang boleh tahu, bahwa aksi melarikan diriku gagal lagi. Gara-gara pria ini membawaku kemari. Aku akan manfaatkan keadaan ini, agar pernikahan ini gagal." Gumam Embun dalam hati. Dia kini sudah mengalihkan pandangannya ke arah Mamanya yang juga menatapnya.
"Dokter, bagaimana keadaannya." Ucap Tara mencairkan suasana. Karena Dia merasa kehadirannya membuat suasana kamar menjadi hening dan canggung.
"Tidak terlalu parah, hanya memar di wajah. pergelangan tangan dan kaki terkilir. Sebaiknya Adek ini ditangani tukang pijat juga. Paling lama dua Minggu sudah sembuh." Ucap Pak Dokter tersenyum kepada Embun.
Dokter yang muda itu ternyata naksir kepada Embun. Makanya Dia berlama-lama memeriksa keadaan tubuh Embun.
"Oohhh syukurlah. Terimakasih banyak Dokter. Kalau bisa cepat datang tukang pijatnya. Biar Embun dengan segera ditangani." Ucap Mama Nur, melihat ke arah Pak Dokter.
Pak Dokter pun melakukan panggilan ke tukang pijat yang juga adalah saudaranya.
Embun hanya bisa diam, dengan wajah sedikit tegang dan tentunya menahan sakit. Karena tangan dan kakinya yang terkilir masih terasa sakit. Dia tidak berani menatap Tara, karena Tara selalu melihat ke arah Embun.
Tara tidak menyangka Paribannya ini tumbuh menjadi gadis yang cantik, manis dan sifatnya masih tetap seperti dulu, suka melakukan hal-hal yang ekstrem tanpa pikir panjang.
Mama Nur yang ingin mendekatkan Tara dan Embun itu, pamit keluar kamar dengan alasan akan mengikuti kembali acara Martahi yang masih berlangsung di ruang utama.
__ADS_1
Mama Nur meminta Dokter keluar dari kamar itu. Tapi, Dokter yang masih lajang itu tidak mau keluar dengan alasan masih menunggu tukang pijat yang direkomendasikannya. Sehingga Mama Nur menarik lengan Dokter muda tersebut dari kamar itu.
"Dokter kita tunggu diluar saja tukang pijatnya. Ayo, kita ngeteh atau makan dulu ya Dok..!?" Mama Nur menarik paksa Dokter dengan menampilkan senyuman skeptis. Sehingga Dokter pun mau tak mau keluar juga dari kamar itu.
Kini tinggallah dua manusia yang sudah lama tidak komunikasi itu. Kecanggungan jelas terasa. Karena keduanya bingung harus bersikap apa. Terutama Tara, Dia memang yang dari dulu menyukai Embun. Menjadi grogi, Dia berdoa dalam hati. Semoga Embun tidak lagi membencinya seperti dulu saat mereka masih kecil.
Kegugupan Tara jelas terlihat dari bahasa tubuhnya. Dia terus saja meremas-remas kedua tangannya yang saling bertautan itu sambil tersenyum kepada Embun. Sedangkan Embun ogah melihat ke arahnya.
Walau Tara sekarang berbeda sekali dengan Tara yang dulu gendut. Tapi, Mas Ardi nya tidak ada yang bisa menggantikannya. Yang membuat Embun sedikit penasaran adalah. Wangi parfum Tara dan Ardi sama. Makanya saat di bandara Embun betah memeluk tubuh Tara. Karena Dia menyukai aroma yang ada di tubuh Tara.
"Apa Dia masih ingat wangi parfum kesukaanku. Sehingga parfum mereka sama. Atau memang selera parfumnya sama dengan Ardi." Gumam Embun dalam hati, Dia melirik sekilas ke arah Tara yang masih berdiri disisi ranjang yang nampak grogi itu.
Melihat Tara tidak kunjung bicara. Akhirnya Embun pun mengeluarkan ucapan yang membuat Tara malu.
"Kenapa masih disini, kamu mau ngomong apa?" ucap Embun dengan wajah menantang, yang membuat Tara semakin sulit bersikap. Benar saja, Paribannya itu masih membencinya.
Tara masih diam, Dia pun tidak tahu mau bilang apa. Akhirnya Dia pun bersuara juga.
"Abang minta maaf, atas perlakuan,"
"Perlakuan pacar mu itu? dengar Aku tidak akan memaafkannya. Dia harus masuk penjara, karena sudah melakukan tindak kekerasan." Ucap Embun, memotong cepat ucapan Tara. Dia akan memanfaatkan kesempatan ini. Dia akan mengarang cerita, bahwa Tara dan wanita yang menghajarnya adalah sepasang kekasih.
TBC.
Mampir juga ke novel ku yang berjudul
__ADS_1
Misteri Jodoh