DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Suport dia


__ADS_3

Eeemmmmm.... Suara putus asanya Ardhi terdengar memprihatinkan. Pria itu menarik napas panjang dan menghembuskannya kasar. Dia pun akhirnya membaringkan tubuhnya di ranjang yang baru dibeli oleh Pak Samsul itu.


"Boleh ya Mas tidur di sini?" Melati akhirnya kembali menoleh pada sang suami. Pertanyaan bodohnya Ardhi membuatnya sedikit kesal. Masak mau tidur di ranjang itu minta izin segala. Melati juga tahu, yang beli spring bed import itu pasti uangnya dari Ardhi.


"Iya Mas." Jawab Melati cepat. Ardhi tersenyum tipis. Pria itu pun langsung menutup matanya. Pria itu perlu istirahat. Sudah dua hari dia kurang istirahat. Otaknya sekarang sudah panas, memikirkan solusi untuk masalah yang datang.


Melati menatap bingung sang suami yang kini sudah menutup matanya itu. Melati yakin, ada yang tidak beres. Wanita itu pun akhirnya mengambil baju gantinya dari kopernya. Dia akan mengganti pakaian di kamar mandi umum. Gaun yang dikenakannya kurang nyaman dikenakannya. Lagian acara sudah selesai.


Setelah selesai berganti pakaian. Melati tidak masuk lagi ke kamar itu. Dia menyimpan gaunnya di plastik dan menggantungkannya di dapur. Dia mencari Ibu Khadijah, tapi dia tidak menemukan ibunya itu. Saat mencari Ibu Khadijah di luar. Melati melihat Pak Zainuddin duduk sendiri di kursi plastik menghadap jalan lintas. Ya pemandangan sangat indah di depan rumahnya Melati.


"Ayah!" Pak Zainuddin terkejut, dia lagi memikirkan sesuatu. Pak Zainuddin tersenyum pada sang putri dengan mata yang berkaca-kaca. Menepuk pelan kursi kosong di sebelahnya. Berharap Mati duduk di kursi itu. Melati pun akhirnya duduk di kursi itu dengan tersenyum, dengan mata yang berkaca-kaca. Wanita itu bahagia sekali sekaligus terharu, dia tidak menyangka kalau pak Zainuddin lah ayah kandungnya.


"Mana Ardhi?" Pak Zainuddin celingak-celinguk mencari keberadaan Ardhi. Dia beranggapan Melati bersama Ardhi.


Melati masih tersenyum manis pada sang ayah. "Mas Ardhi istirahat Ayah " Ucapnya dengan membalas tatapan tulis sang ayah.


"Kapan kalian pulang ke kota Medan?" Ayah dan anak itu masih saking tatap.


"Gak tahu Yah. Belum ada pembicaraan kesitu " Jawabnya dengan lembut. Pak Zainuddin akhirnya mengalihkan pandangannya ke jalan lintas.


"Ayah rencananya pulang malam ini Nak."


"Koq cepat sekali Ayah?" tanya Melati sedih. Dia masih ingin sang ayah bermalam di rumah mungil mereka.


"Banyak kerjaan Nak." Mengusap lembut kepala Melati yang ditutupi hijab itu. Pak Zainuddin kembali memandangi wajah cantik sang Putri. Walau bukan dia yang membesar kan sang anak. Tapi, Melati tumbuh dengan baik. Bahkan punya karakter yang bagus.


"Nanti kalau sudah sampai di Medan. Ajak Ardhi datang ke rumah "


"Iya Ayah, itu sudah pasti." Jawab Melati cepat. Jangankan diajak berkunjung. Bahkan Melati ingin tinggal di rumah sang Ayah. Dia tidak akan mau tinggal bareng dengan Ibu Jerniati. Untuk kali ini Melati ingin tegas.


"Kalau Ayah izinkan, Melati malah ingin tinggal di rumah Ayah." Ucap Melati dengan mata berkaca-kaca. Dia jadi teringat dengan semua perlakuan jahatnya Ibu Jerniati.


"Apa Nak? tentu saja ayah sangat senang mendengar itu. Tapi yang jadi masalahnya. Apa Ardhi mau tinggal di rumah kita? sepertinya tidak, dia punya banyak rumah. Masak mau tinggal di rumah mertua."


"Iya sih Ayah. Apalagi di suku kita, hal seperti itu tidak baik. Itu namanya jadi Sumondo." Melati tersenyum tipis.


"Nah itu kamu tahu nak. Ardhi di mana?"


"Lagi tidur Yah. Seperti nya Mas Ardhi kelelahan."

__ADS_1


"Bukan hanya lelah, dia lagi pusing itu mikirkan masalah nya."


"Masalah apa ayah?" Melati sungguh penasaran.


"Nanti tanyain sendiri pada Nak Ardhi ya Nang." Melati mengangguk lemah. Dia jadi teringat ekspresi wajah Ardhi yang kusut kayak kertas yang diremuk tadi. Tapi, suaminya itu masih sempat-sempatnya tersenyum manis padanya.


"Menantu Ayah yang baik itu lagi diuji keimanannya. Dia lagi ketiban masalah yang rumit. Kamu sebagai istri harus mensuportnya." Ucap Pak Zainuddin tegas pada sang putri.


"Ayah juga tidak akan tinggal diam. Ayah akan bantu Nak Ardhi. Mana mungkin, Ayah akan membiarkan perusahaan menantu ayah bangkrut." Kedua bola mata Melati membulat sempurna mendengar ucapan sang ayah. Ternyata suaminya itu memang lagi ada masalah serius.


"Iya Ayah." Jawabnya lemah. Keduanya pun kini kembali terdiam. Memandang indahnya pegunungan di seberang sana.


Serangga-serangga pun berterbangan pertanda waktu Magrib tiba. Senja membuat  warna langit terlihat lebih indah dan memesona. Membuat pikiran kalut jadi tenang.


Pak Zainuddin dan Melati masuk ke dalam rumah. Rumah itu sudah kembali sepi seperti biasanya. Hanya ada keluarga Melati di rumah itu saat ini.


Pak Zainuddin memilih pergi ke Mesjid, sedangkan Melati masuk kembali ke kamarnya. Di kamar itu, dia mendapati Ardhi masih tertidur dengan pulasnya.


Dia yang berdiri di dekat ranjang itu, memperhatikan lekat Ardhi yang tidur dengan wajah tersenyum. Seolah pria itu sedang tidak punya masalah.


Sudah saatnya Melati bersikap bijak, dan menjauhkan ego. Membuang rasa benci dan sakit hati atas perlakuan kasar sang suami saat menodainya. Lagi pula, Ardhi sudah menjelaskan semuanya.


Melati menjulurkan tangannya, dia mnyentuh lengan sang suami yang ada di atas perutnya itu.


"Mas, Mas Ardhi bangun! Mas Ardhi, ini sudah Magrib " Melati menggoyang pelan tangan Ardhi.


Eemmm... Ardhi merasa terganggu. Dia mengubah posisi nya jadi membelakangi Melati. Tapi, tangan Melati sudah didekap oleh Ardhi.


"Mas bangun..!" berusaha mengeluarkan tangannya dari jepitan tangan Ardhi. Bukannya lepas, Ardhi malah memegang erat tangnnya Melati. Tentu saja Melati jadi sedikit panik atas tingkah Ardhi. Sebenarnya suaminya itu sudah bangun atau belum?


"Mas...?" Akhirnya tangan yang tersisa menggoyang bahu Ardhi. Dan tangan yang diganggam Ardhi terus saja berusaha untuk lepas dari genggaman sang istri.


Ardhi pun terbangun, karena Melati menggoyang keras tubuhnya. Dia membalik badannya hingga kembali terlentang. Dan tangan Melati masih digenggam kuat olehnya.


Ardhi merasa tubuhnya sakit semua, karena terbangun dengan terpaksa. Kepala juga sedikit pusing.


"Adek," Ucapnya menatap Melati dengan wajah bantalnya. Masih kantuk gitu. Saat itu juga Melati menarik kuat tangannya yang digenggam Ardhi. Sehingga tangan itu lepas. Ardhi dibuat terkejut dengan gerakan cepat sang istri. Sebenarnya Ardhi tidak sadar, kalau dia sedang menggenggam tangan nya Melati.


Ardhi langsung mendudukkkan tubuhnya. "Maaf Dek, Mas tidak ada maksud apa-apa. Mas gak ada niat."

__ADS_1


"Iya Mas, gak apa-apa koq." Melati akhirnya berjalan ke arah kopernya mau mengambil mukena. Barang Melati masih dikoper semua. Belum dipindahin ke lemari.


Ardhi mengacak rambutnya kasar. Dia benar-benar kalut saat ini.


"Sudah magrib rupanya?" tanya Ardhi masih menguap.


"Iya Mas, sudah adzan juga."


"Iya kah? telat dong untuk berjamaah di Mesjid. Mana Mas belum mandi." Ucapnya mulai membuka kemejanya.


"Iya Mas. Tapi, masih sempat kalau berjemaah di rumah." Jawab Melati malu-malu. Rasanya canggung sekali untuk bersikap manis pada sang suami.


Mas masih mau mandi, nanti kelamaan adek nungguinnya. Adek sholat saja dulu. Mas sholat di mesjid aja. Mandi juga terpaksa disitu." Ardhi bergerak ke arah kopernya. Mengambil handuk dan baju gantinya. Dia juga punya wadah sabun sendiri.


Melati menatap sedih apa yang dilakukan oleh Ardi. Pria itu menyiapkan sendiri keperluannya. Tadinya Melati hendak menawarkan sabunnya pada Ardhi. Tapi, ternyata pria itu punya sabun juga. Tentu saja sabun miliknya Ardhi bukan sabun seperti miliknya. Sabun Ardhi hargai hampir jutaan. Melati tahu itu, karena saat kerja di rumahnya Ardhi, dialah yang bertugas membersihkan kamar serta kamar mandi suaminya itu.


Melati yang terbiasa hidup miskin, hanya punya sabun batangan Lifebuoy. Facial wash nya juga hanya biore.


"Mas mandi dulu." Melati mengangguk dan menunduk. Tapi suaminya itu bukannya pergi, malah mengubek-ubek wadah sabunnya.


"Mana gosok gigiku?" ucap Ardhi dengan bingungnya. Kemudian pria itu kembali membongkar kopernya, mencari sikat gigi. Taki, gak ketemu juga.


Ardhi bangkit dan menghampiri Melati. "Pinjam sikat gigi adek!" langsung menengadahkan tangan. Sontak Melati dibuat terkejut.


"Gosok gigiku?" tanya Melati memastikan.


"Iya Dek, mas gak terbiasa mandi gak sikat gigi."


"Yang baru gak ada Mas. Kalau gak tunggu sebentar aku beli ke toko dulu. Tapi, di toko sikat giginya yang biasa. Yang harga 3 ribu." Jelas Melati, Ardhi tersenyum mendengar penjelasan sang istri. Kapan lagi dia sholat nya kalau nunggu beli sikat gigi dulu.


"Mas pakai sabun adek saja. Mana?" desak Ardhi.


"Sabunku? sabunku gak wangi Mas, gak bagus." Tolak Melati cepat.


"Iya gak apa-apa dek. Mana?" menengadah kan tangan pada Melati.


"Ada di dapur Mas. Melati pun keluar dari kamar itu dan langsung diikuti oleh Ardhi. Di rumah itu ternyata gak ada orang. Seperti nya semua nya pergi sholat ke Mesjid.


Dengan tergesa-gesa serta tidak percaya nya Melati meraih tempat sabunnya yang digantung di dinding kayu itu. Ardhi menerimanya dengan tersenyum tipis. Keluar dari pintu belakang untuk pergi mandi ke kamar mandi Mesjid.

__ADS_1


TBC


__ADS_2