DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Jadi guru


__ADS_3

"Nanti supir yang jemput adek ke kampus ya sayang." Memperhatikan Melati yang merapikan gamisnya yang sudah rapi. Melati salah tingkah ditatap oleh sang suami.


"Iya mas, coba adek bisa bawa mobil. Mungkin gak akan repotin supir, untuk jemput segala." Ucapnya spontan, membalas tatapan Ardhi yang selalu tak lepas darinya.


"Apa? adek mau bawa mobil." Melati mengangguk dengan senyum manisnya


"No, no no.. Adek gak boleh belajar nyetir. Nanti kakinya jadi panjang. Lagian, bawa mobil itu capek. Mas gak mau adek capek-capek. Kalau adek sudah capek, mana mood lagi kalau mas minta jatah sebelum tidur."


"Mas, bicara apa sih?" Melati langsung membungkam mulutnya Ardhi dengan telapak tangannya. Masak bicara seperti itu, padahal pak supir masih di mobil itu juga.


Membicarakan hal-hal seperti itu sangat tabu buat Melati. Apalagi saat ini ada orang lain di mobil mereka.


Ya itulah hal baru yang diketahui Melati dari sang suami. Suaminya itu aneh. Kenapa aneh, ya anehlah. Suaminya itu tidak akan lupa minta jatah sebelum tidur, disaat dirinya lelah seharian kerja. Buat sang suami, setelah melakukan aktifitas intim dan melibatkan emosi itu, dia akan jadi rileks dan cepat tertidur.


"Aauuuwww... Mas koq kasar, main gigit segala." Teriaknya, dia yang merepet masih saja menyumpal mulut sang suami. Tentu saja, Ardhi menggigitnya. Karena ia ingin bicara.


"Siapa suruh naroh tangannya disitu." Jawabnya dengan memberi kode dengan jentikan jari. Dan sang supir pun sudah turun dari mobil itu.


"Habis Mas gak ada sopannya. Masak bicara seperti itu didepan orang lain." Cemberut, tapi hatinya sebenarnya senang. Menoleh sekilas ke pak supir yang keluar dari mobil itu.


"Itu hal biasa sayang. Dan sekarang hanya kita berdua di dalam mobil ini."


"Terus..!" Melati tahu apa maksud dari ucapan suaminya itu. Tapi, dia sok polos.


"Mas akan sibuk seharian ini sayang. Menyelesaikan masalah di kantor yang tak ada habisnya. Jadi mas lagi butuh energi tambahan, selain dari zat makanan." Ucapnya mulai mendekatkan wajahnya ke arah Melati.


Melati merasa lucu dengan kelakuan suaminya itu. Dia pun memundurkan tubuhnya, dia masih mau bermain-main. Tentu saja, Ardhi jadi merengut. Melati tertawa kecil. Gak mau mengukur waktu, Ardhi langsung merangkum wajah sang istri. Dan mel*umat habis bibir merah ranum nan manis itu.


"Mas stop...!" ciuman panas itu pun terhenti. Karena Melati mendorong kuat tubuh sang suami. Pasalnya tangan sang suami sudah mulai memainkan gunung kembarnya yang masih ditutupi pakaian itu.


Akhir-akhir ini Melati tidak akan bisa menahan dirinya. Jikalau benda kembar kenyal itu dimainkan. Birahinya langsung tersulut, karena gunung kembarnya itu semakin hari semakin sensitif saja. Bahkan saat ini, Melati sudah terangsang karena aksi singkat itu.

__ADS_1


"Iya sayang, di stop. Mas juga takut gak bisa nahan." Ucapnya dengan frustasi, menarik cepat tangan sang istri dan menempatkannya di area sela**ngka"ngannya.


"Mas, apaan sih? adek gak fokus nanti belajarnya." Ucap Melati dengan tersipu malu. Ya pengantin baru ini, masih ketagihan melakukan itu. Karena ini adalah hal baru untuk mereka.


Huuffttt...


Ardhi merilekskan dirinya dengan menarik napas panjang secara berulang kali. Dan Melati juga melakukan hal yang sama. Keduanya harus bisa tenang dan mengendalikan diri.


"Mas, adek turun ya?" Melati yang sudah merasa sedikit baikan. Menjulurkan tangannya kepada sang suami. Ardhi pun menyambut tangan sang istri. Melati mencium punggung tangan itu dengan tersenyum.


"Adek gak usah kuliah dulu lah selama hamil ini?"


"Apa?" Melati terkejut mendengar ucapan sang suami. Dari dulu Melati suka belajar. Makanya dia bisa masuk di perguruan tinggi itu. Karena otaknya. Masak disuruh berhenti kuliah.


"Adek lagi hamil, mata kuliah adek juga banyak. Lima hari seminggu masuk kuliah. Mas takut, adek kecapean." Kini tangannya sudah membelai perut sang istri. Dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Wanita itu pun terdiam mendengar ucapan sang suami yang terlihat begitu mengkhawatirkannya itu.


"Ini masih masuk semester dua kan sayang?" Melati menganggukkan kepalanya.


"Iihhh mas kenapa sih? masak gak mendukung adek menuntut ilmu?" percakapan keduanya semakin panjang saja. Hingga waktu sudah lewat pukul 10 pagi. Istrinya itu kan masuk kuliahnya jam 10.


"Bukan gak mendukung sayang. Kan mas bilang, disambung lagi kuliahnya setelah anak kita lahir dan sudah harus asi eksklusif."


"Asi eksklusif bukannya enam bulan?"


"Iya sayang, tapi pas enam bulan itu adek sudah hamil lagi. Hahahaha...!" Ardhi tertawa, istrinya itu gak jadi kuliah lagi, karena sudah hamil lagi. Membayangkan itu semua membuat nya bahagia. Punya anak banyak, adalah impian Ardhi. Makanya dia cari istri yang gak banyak neko-neko. Misalnya Embun, dulu mereka pernah sepakat akan punya anak yang banyak.


"Mas...iihh..!" Melati mendumel kesal.


"Bukannya adek pernah bilang, mau jadi konsultan ekonomi. Kenapa sekarang kuliahnya mau jadi guru." Ucap Ardhi, membujuk sang istri agar tidak merengut dengan membelai pipinya yang merah merona, karena kesal pada sang suami.

__ADS_1


"Adek gak lulus dipilihan pertama. Lulusnya ya di sini. Jadi guru adek mau koq." Ucapnya sumringah.


"Oohh... gitu toh. Baiklah kita pulang. Adek kuliahnya tahun depan saja. Mukai jadi mahasiswa baru. Ok!" Ardhi membuka kaca pintu mobilnya, itu tanda kalau dia memanggil sang supir.


"Mas, mas, jangan main putuskan begitu. Adek harus memikirkannya dulu." Melati menekan handle pintu. Dia mau keluar dan masuk kuliah. Lagian dia ingin bertemu dengan si Butet.


"Baiklah sayang, hati-hati ya? nanti pak Andi yang jemput." Ardhi gak bisa mencegah Melati. Karena wanita itu sudah turun dari mobil mewah itu. Melati melambaikan tangannya pada sang suami. Hingga mobil itu hilang dari pandangan matanya.


Melati melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ternyata sudah pukul 10.30 wib. Itu artinya dia sudah telat tiga puluh menit. Dia melangkah kaki dengan lebar menuju kelasnya.


Tok


Tok


Tok


Melati tersengum tipis pada sang dosen yang menatapnya dengan ekspresi datar.


"Apakah saya masih boleh ikut perkuliahan saat ini pak." Dosen mereka hari ini, terkenal disiplin, tidak suka dengan mahasiswanya yang telat. Biasanya telat lima menit saja, sudah dianggap absen.


Melati mencoba menenangkan dirinya yang ketakutan itu. Ditambah semua tatapan mata tertuju padanya.


"Oohh... ayo silahkan masuk. Lain kali jangan telat lagi ya?!"


"Whaat....!" terdengar suara protes dari mahasiswa lain yang sedang mengikuti pembelajaran itu. Mereka tidak menyangka Melati diperbolehkan masuk.


"Terima kasih banyak pak." Melati berjalan dengan sopannya mencari kursi yang kosong. Sembari matanya mencari sosok Si Butet.


Dapat posisi yang strategis di pojok belakang. Melati mengeluarkan perlengkapan belajarnya. Kedua matanya kembali mencari sosok sahabat yang sudah tidak pernah masuk kuliah, setelah libur semester.


Si Butet, kenapa tidak pernah masuk? ponselnya juga tidak pernah aktif lagi. Ada apa dengan Si Butet? aku harus mencari tahu. Setidaknya aku akan selidiki dari umak di kampung. Melati membathin, dengan tatapan lurus ke Pak Dosen yang mengajar dengan power point itu.

__ADS_1


TBC.


Wajar ya, kalau aku suka dengan karya sendiri. kalian suka gak dengan novel ini. Tinggalkan komentar positif. Aku koq gak rela namatinnya😁🤭


__ADS_2