
Baru juga masuk kelas dan duduk di kursinya untuk ujian. Ponselnya Melati bergetar di tas selempangnya. Butet yang duduk di sebelah kirinya Melati, dibuat terkejut, melihat ponsel yang dipegang wanita itu. Matanya membulat penuh, dengan mulut menganga. Butet menutup mulutnya yang menganga itu, dia tidak percaya, Melati punya handpone mahal.
"Ponsel baru Mel?" Si Butet menilai Melati. Akhir- akhir ini kawannya itu rada aneh.
"Iya Tet, dibelikan majikan." Jawab Melati cepat dengan tersenyum. Dia menyimpan ponsel itu kembali ke tas nya. Setelah membaca pesan dari Ardhi. Yang mengatakan tidak bisa menjemputnya. Karena, jam empat sore dia ada meeting dengan klien.
Siapa juga yang ingin dijemput. Aku bisa pulang sendiri. Melati membathin, sambil menghela napas dalam. ia melirik jam yang bertengger di dinding kelas mereka. Masih ada sepuluh menit, agar ujian dimulai.
"Tet, nitip tas. Aku ke toilet dulu. Sesak pipis nih." Melati berlari ke kamar mandi, tanpa menunggu persetujuan dari si Butet. Melati seminggu terakhir ini, bawaannya sesak pipis terus. Padahal nanti yang keluar juga sedikit.
Kayak orang bunting saja. Sebentar-sebentar mau pipis, muntahlah. Si Butet membathin memperhatikan Melati yang keluar dari kelas itu.
Si Butet yang penasaran dengan ponsel mahalnya Melati. Akhirnya memberanikan diri. Merogoh tasnya Melati. Dia mengambil ponsel Melati dari pouch, ia menyentuh layar ponsel itu. Lagi-lagi Si Butet dibuat terkejut, melihat foto Ardhi yang jadi wallpapernya.
"Apa sebenarnya yang terjadi." Ucapnya dengan suara pelan, saking pelannya, setan pun tak bisa mendengarnya. Si Butet menggeleng dengan ekspresi wajah tercengang, mengotak-atik ponselnya Melati.
"Oohh ini toh Bos nya. Kirain tadi diberikan Bos Baru. Ternyata Bos lama." Ucapnya mengembalikan ponsel Melati. Saat wanita itu memasukkan ponselnya Melati, ke pouchnya Melati. Tak disengaja kedua mata penasarannya, menemukan tiket travel ke kampungnya Melati.
"Cepat sekali dia pesan tiket?" Ucapnya memperhatikan tiket travel itu. Aku minta ikut nanti aahh, mau liburan di sana." Ucapnya dengan tersenyum. Kembali menyimpan tiket nya Melati.
Sejenak si Butet berfikir. Kalau Melati tidak mengizinkannya ikut ke kampungnya bagaimana?
"Aku beli tiket sendiri saja. Moga masih ada bangku kosong di mobil travel itu." Di Buteri bermonolog sambil tersenyum manis. Dia sudah membayangkan, akan bertamu ke rumahnya Ilham. Jikalau dia di kampungnya Melati.
❤️❤️❤️
__ADS_1
Pukul lima sore Ardhi baru selesai meeting. Dia pun akhirnya menghidupkan ponselnya. Tadi saat meeting dia mematikan ponselnya. karena sang Ibu, tak henti-hentinya menghubunginya. Dia yakin, Ibunya itu sudah tahu kabar tentang dirinya yang akan menikah. dia sengaja tidak mengatakan kabar baik itu pada sang ibu. Karena, Ibunya memang tidak suka pada Melati. Wanita yang melahirkan itu, inginnya dia nikah dengan Anggun.
Baru juga ponselnya nyala. Panggilan video dari sang ibu langsung masuk. Ardhi pun mengangkatnya.
"Kamu di mana sih Nak? sudah berapa hari kamu gak pulang ke rumah? apa kamu tidak mengkhawatirkan keadaan Ibu. Menanyakan kabar ibu pun kamu tidak pernah." Rawut wajah sedih Ibu Jerniati, tidak membuat Ardhi simpatik kali ini.
"Ini Ardhi akan pulang." Jawabnya singkat dan mematikan panggilan itu.
Setelah mengetahui fakta, bahwa Melati lah wanita yang dinodainya malam itu. Ardhi begitu kecewa kepada sang Ibu. Sang Ibu, telah berbohong padanya. Mengatakan bahwa Anggunlah wanita yang bersamanya.
Sudah cukup permainan sang Ibu padanya. Dia tidak akan terpengaruh lagi, dengan ucapan Ibunya itu. Dan Anggun, dia tidak perlu lagi menggubris wanita itu. Toh, dia tidak menghamilinya. Kalau wanita itu memang hamil. Itu sudah bisa sebagai bukti kuat, kalau Anggun bukan wanita yang baik-baik.
Ardhi akan menentang Ibunya kali ini. Berperang dengan Anggun serta orang tuanya, dia tidak akan ladeni. Jikalau orang tuanya Anggun menuntutnya. Karena membatalkan pertunangan.
Sesampainya di rumah. Ibu Jerniati langsung menyambut sang putra dengan senyum manis dan pelukan hangat. Dia sedang mengambil hati sang anak.
Ardhi menghela napas dalam. Dia sempat mengira sang ibu akan marah-marah padanya. Ternyata ibunya itu mengakui kesalahannya. Tentu saja, Ardhi senang melihat sang ibu yang nampak bijak saat ini. Pria itu pun menuntun sang ibu masuk ke kamar. Lebih baik membicarakan itu di ruang tertutup.
"Anggun tidak ingin pernikahannya gagal denganmu. Makanya malam itu, dia berpura-pura seolah telah terjadi sesuatu diantara kalian."Ibu Jerniati telah duduk di tepi ranjangnya. Dia berbicara seolah semuanya adalah rencananya Anggun.
"Iya Bu. Ardhi mengerti, tidak perlu lagi ibu jelaskan semuanya ya, saat ini yang Ardhi butuhkan adalah dukungan Ibu, atas keputusan yang Ardhi ambil. Ardhi dan Melati akan menikah di kampung.
"Ardhi mohon, hormati keputusan Ardhi kali ini. Jangan Ibu halangi niat baik Ardhi. Jangan benci dia Bu. Dia ketakutan lihat Ibu." Ardhi berjongkok di hadapan sang Ibu. Meraih tangan Ibu Jerniati, merangkum tangan itu. Menciumnya dengan penuh rasa bakti yang tinggi, terhadap orang tua.
"Dia juga ketakutan lihat Ardhi." Ucapnya lirih. Memasrahkan kepalanya di pangkuan sang Ibu. Melihat sikap Ardhi itu, Ibu jerniati sedih, karena anaknya itu begitu perhatian pada pembantu itu. Tak pantas rasanya anaknya yang kaya raya Menikah dengan Ardhi.
__ADS_1
"Iya sayang, maafkan ibu ya?"
"Iya Bu." Ardhi melap air mata sang Ibu. Tatapan penuh kasih dan bakti putranya itu, membuat Ibu jerniati legah. Ternyata anaknya itu tidak membencinya.
***
Pukul tujuh malam, Ardhi bertolak ke rumahnya Embun. Dia ingin mengajak Melati bersilahturahmi ke rumahnya Pak Zainudin. Ardhi akan mengenalkan Melati kepada pria yang sudah menolongnya itu. Dia juga akan meminta Pak Zainudin sebagai saksi saat pernikahan nya dengan Melati.
Rencana untuk memeriksa kandungan Melati gagal hari ini. Karena, Melati tidak bersedia periksa kandungannya sekarang.
Saat sampai di pekarangan rumahnya Tara. Suara tawa penuh kebahagiaan terdengar jelas olehnya. Dari taman samping rumahnya Tara. Langkah Ardhi bergerak ke asal suara. Dia tahu suara itu, itu adalah suaranya Embun. Wanita yang sampai saat ini belum bisa dilupakannya.
Ardhi penasaran apa yang dilakukan sepasang suami istri itu di taman malam-malam begini, sampai tertawa lepas seperti yang didengarnya tadi. Ehmmm... ternyata Tara dan Embun sedang main Ludo di ponsel. Siapa yang kalah, maka akan kena gelitik. Tentu saja Embun tertawa lepas, karena geli, digelitikin oleh Tara. Wanita itu kalah terus.
Ardhi memundurkan langkahnya. Tidak baik untuknya, menyaksikan keromantisan Tara dan Embun. Tidak ada gunanya lagi, menyesali perpisahan nya dengan Embun. Mereka tidak berjodoh. Mungkin Melati lah wanita yang baik, untuk jadi istrinya.
Ardhi mengetuk pintu rumah yang terbuka lebar itu. Karena, tidak sopan sekali rasanya langsung masuk, walau pintu rumah terbuka.
Kep
Kepala ART menyambut kedatangan Ardhi. Ya, Tara selalu memberi tahu para ARTnya, untuk menghormati tamu yang datang.
"Mau berjumpa dengan Melati ya Dek?" tanya kepala pelayan itu dengan ramahnya.
"Iya Bu." Jawab Ardhi sopan dan ramah.
__ADS_1
"Sebentar saya panggil dulu. Melati sedang di ruang loundry." Kepala ART pun pergi ke ruang loundry. Saat itu juga Ardhi yang penasaran, mengekori kepala pelayan itu
TBc