
"Dan wanita yang sangat dicintainya itu, ada dihadapannya saat ini."
Brakkk....
Embun yang terperangah mendengar ucapan suaminya itu dikejutkan dengan suara pintu yang dibuka dengan kasar. Hingga pintu itu terbentur kuat ke dinding.
Kini perhatian pasangan suami istri tertuju ke ambang pintu. Tampaklah Mama Mira yang ekspresi wajahnya penuh kecemasan.
Tara menghela napas dalam, dan menghembuskannya kasar. Dia merasa sangat lelah, seperti sedang baru saja selesai berperang. Saat dirinya mengungkapkan perasaannya tadi. Tapi, sepertinya usahanya sia-sia. Karena kehadiran Ibunya yang mendadak di pagi buta ini, membuat Embun tidak merespon ucapannya. Jangan kan direspon. Sepertinya Embun belum mencerna kata-katanya. Karena dia mengatakannya dengan perumpamaan.
"Bou?" Embun bangkit dari duduknya, menyambut Mama Mira yang akan memeluknya degan penuh kasih sayang.
"Bou tidak tenang, tidak bisa tidur semalaman ini, setelah dapat kabar dari Doly. Bahwa fobiamu kambuh." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca, dalam pelukan menantunya itu.
Doly yang merasa perlu memberi kabar mengenai Embun. Akhirnya mengirim pesan ke group WA yang diberi nama, Family Home squade. Group WA itu berisi kan anggota keluarga besar Tara dan Embun.
"Gak ada yang perlu dicemaskan Bou. Lihat, aku baik-baik saja sekarang." Embun merasa sangat bahagia dan tersentuh hatinya. Mendapat kasih sayang yang begitu besar dan tulus dari Ibu mertuanya itu.
Sesaat dia teringat nasehat ibunya, Mama Nur. Jikalau menikah dengan pria lain. Dia belum tentu akan mendapatkan ibu mertua yang begitu menyayanginya.
Misal, ibunya Ardhi. Setelah satu bulan resmi pacaran dengan pria itu. Ardi belum pernah mengenalkan Embun kepada keluarga besarnya. Karena keburu Embun Dipaksa Menikah dengan Tara.
"Ayah ikut Ma?" Ujar Tara dengan raut wajah sedih. Tara terharu melihat besarnya kasih sayang Mama Mira kepada Embun. Bagaimana nanti jadinya, jikalau Embun kembali kepada Ardhi. Tentu Keluarga besar akan kecewa kepada mereka.
"Gak sayang, lagi banyak kerjaan ayahmu. Minggu depankan ada acara panen raya di perkebunan kita. Embun harus ikut dalam acara itu." Mama Mira kini mengelus kepala Embun yang sudah memakai mukena.
"Ya sudah, kalian sholat. Sudah dapat waktu shubuh. Mama ke kamar dulu, mau istirahat. Semalaman Mama gak bisa tidur, mikirin Embun. Jangan sampai menantu kesayangan Mama ini kenapa-kenapa. Jadi, Mama maksain Ayahmu biar Mama diizinin kesini." Mama Nur merasa sangat legah setelah melihat keadaan Embun baik-baik saja.
Embun kemudian memeluk Ibu mertuanya itu. Dia sangat senang setiap dekat dengan Mama Mira.
"Jadi Mama naik pesawat kesini?" tanya Tara yang tidak mendengar pesawat pribadi mereka mendarat di lantai atas rumah mereka. Ya, lantai paling atas rumah Tara ada Helipad.
"Iya sayang, masak naik mobil. Bisa dua hari dua malam dari Lampung kesini." Mama Mira menguap, dia kantuk sekali. Dia pun meninggalkan ruangan itu menuju kamarnya.
Setelah kepergian Mama Mira, Tara dan Embun melakukannya sholat shubuh berjemaah. Kekhusukan sholat itu pun terganggu. Karena, ponsel Embun terus saja berdering di atas meja riasnya.
"Dek," Embun pun langsung menyambar tangan Tara. Setelah mereka selesai sholat.
"Adek angkat telepon dulu ya? seperti nya penting." Ucap Embun menyimpan mukena di lemari. Dia heran, siapa pagi buta begini yang menelponnya.
Embun bergegas ke meja riasnya. Tara pun mengekorinya.
Dengan cepat Embun mengangkat telepon itu. Karena merasa pasti ada hal penting yang akan disampaikan oleh si penelpon yang tidak ada namanya di kontaknya itu.
"Assalamualaikum sayang..!"
__ADS_1
Deg ...
Suara Mas Ardhi membuat jantung Embun berdetak cepat dan kuat. Sungguh dia sangat terkejut mendapat telepon dari cinta pertamanya itu, di pagi buta begini.
Embun terdiam, lidahnya terasa berat untuk menjawab salam kekasihnya itu. Saat ini Embun sedang dilema. Harusnya dia senang, Ardhi menghubungi. Tapi, entah kenapa dia jadi merasa bersalah. Jikalau masih berhubungan dengan pria itu. Karena dia sudah jadi istri orang.
Tapi, raut wajah sedih dan tatapan penuh kerinduan yang dilihatnya semalam pada diri Ardhi. Membuatnya iba pada kekasihnya itu.
"Waa,laikum salam Bang." Jawab Embun pelan, melirik Tara yang memperhatikan saat ini. Harus nya Embun bilang Mas. Koq jadi Abang?
"Bagaimana kabar Adek. Mas khawatir, Mas sangat rindu..Mas ingin bertemu. Dek, tolong temui Mas hari ini. Di tempat favorit kita." Hati Embun semakin sedih mendengar ucapan kekasihnya itu. Dia juga jadi merasa bersalah, karena sudah sempat berpaling dari pria itu. Ini sungguh tidak adil buat Ardhi.
Embun kembali melirik Tara, yang menatap tajam disebelahnya. Bahkan Tara bisa mendengar ucapan Ardhi, Karena suasana di pagi buta masih hening.
"Dek, sayang.. kenapa kamu diam saja? jangan bilang, kamu sudah tidak mencintai Mas. Jangan khianati Mas. Kamu tahukan sayang, betapa mas mencintaimu. Bicaralah, jangan diam saja." Ucapan Ardhi yang menggebu-gebu di udara kini terdengar jelas oleh Tara.
Dia pun merampas ponsel dari tangan Embun dengan cepat dan sedikit kasar. Dia cemburu, dan takut Embun meninggalkannya saat ini.
Embun terkejut dengan tindakan Tara. Dia pun menatap kesal Tara, yang ekspresi wajahnya seperti gunung es.
"Pak Ardhi, mohon kerja samanya. Anda tidak bisa mengajak istri saya untuk jumpa dengan anda. Sportif lah dengan isi perjanjian. Saya harap ini terakhir kali Anda menghubungi istri saya." Tara pun mematikan telpon tanpa salam. Dia tidak perlu mendengar senggahan dari rivalnya itu.
Baru hendak meletakkan ponsel. Ponsel itu kembali berdering. Tara tahu yang menelpon itu adalah Ardhi, yang tidak puas, karena ponselnya dimatikan.
"Saya pria yang memegang janji-janji saya. Lakukan ketentuan yang sudah kita sepakati. Jangan pernah coba untuk berkomunikasi lagi dengan istri saya. Saat ini dan empat bulan kedepannya. Embun masih istri saya. Sesuai dengan isi perjanjian yang kita sepakati.
"Jadi, banyak-banyaklah berdoa, agar anda diberi dada yang lapang nantinya. Disaat isi perjanjian kita dihanguskan. Tenang saja, disaat waktu itu tiba. Saya akan menyerahkan Embun kepada anda." Kini kedua mata Embun sudah tidak bisa membendung lagi kabut yang akan luruh itu. Dia benci Tara yang benar-benar tidak ingin mempertahankannya.
"Apa sih yang ada di otak pria ini. Bukannya tadi, dia seperti mengatakan cinta padaku? tapi, kenapa dia getol sekali ingin memberikan aku kepada Mas Ardhi." Embun membathin, menatap kesal Tara.
Embun yang kesal itu, memilih meninggalkan Tara, berjalan menuju balkon.
Sesampainya di balkon, dia merenggangkan kedua tangannya. Menghirup dalam-dalam udara segar, yang belum kena polusi itu. Dia harus menenangkan dirinya, dan perlu membuat pasokan udara yang banyak di paru-parunya, agar dia tidak sesak napas. Disaat Tara selalu mengatakan ingin memberikannya kepada Ardhi.
Merasa Tara mendatanginya. Diapun menghentikan kegiatannya itu.
"Abang harap, kita semua mengindahkan isi perjanjian itu. Adek ja,"
"Abang sepertinya sudah tidak sabar menunggu waktu itu tiba kan?" Embun yang kesal langsung memotong ucapan Tara. Dia berbalik menatap Tara dengan senyum tipis. Tapi raut wajah kesal sangat terlihat.
"Koq Adek bilang begitu?" Tanya Tara bingung. Siapa juga yang senang, istri sendiri diberikan pada orang lain.
"Ya aku bilang seperti itulah. Dari kemarin, itu-itu saja yang Abang bilang. Gak usah takut, aku juga akan pergi dari rumah ini." Embun kesal, kini tetesan air mata sudah jatuh membasahi pipi putihnya.
Tara semakin bingung.
__ADS_1
"Adek salah tanggap. Abang hanya ingin lihat Adek bahagia. Kalau kembali kepada Ardhi Adek bahagia. Abang tidak akan menghalanginya." Raut wajah Tara sedih saat mengatakan itu. Embun yakin, Tara tidak senang, jika dirinya kembali kepada Ardhi.
Embun tertawa sinis. Merasa kalau Tara pengecut.
"Jawab jujur, bagaimana perasaan Abang padaku? jangan buat perumpamaan-perumpamaan seperti tadi." Embun menilik penuh harap mendegar ucapan Tara. Tapi, Tara hanya diam. Embun pun kesal dibuatnya.
"Sudahlah, aku sudah tahu koq jawabannya. Abang itu memang pandai bersandiwara. Dan asbun." Embun pun mengibaskan tangan kanannya. Merasa buang waktu berbicara dengan Tara. Dia pun melangkah cepat melewati Tara.
Baru satu langkah melewati Tara. Dia merasakan pinggangnya dibelit tangan kokoh dari belakang. Tara memeluknya erat dan membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya itu. Saking eratnya, degupan jantung Tara bisa dirasakan Embun. Tentu saja, Embun sangat terkejut dengan tindakan Tara.
"Abang sangat mencintaimu, sangat mencintaimu, sangat mencintai Embunku. Benar-benar mencintai istriku. Kebahagiaanmu yang terpenting. Abang rela menderita, asal melihat Adek bahagia. Abang sangat mencintaimu." Ucapan Tara yang penuh penghayatan itu, membuat Embun terkaget-kaget. Dia tidak yakin dengan apa yang diucapkan pria yang memeluknya ini.
Terlalu lebai, kalau mencintai. Kenapa memberikannya kepada orang lain.
"Abang pandai sekali acting, Apasih gunanya untuk Abang?" Ucapan Embun yang meragukan pernyataan cintanya itu, membuat Tara down. Ini yang ditakutkannya. Istrinya itu tidak percaya padanya. Tara pun sedikit melonggarkan pelukannya, karena dia terhenyak mendengar ucapan istinya itu.
"Abang bilang cinta sama Adek. Tapi, ingin Adek kembali kepada Mas Ardhi. Apa Abang tidak ingin memilikiku? orang yang mencintai kita, pasti ingin kita bersama dengannya sehidup semati dengannya. Tapi, Abang malah ingin aku kembali pada mas Ardhi. Aneh gak sih? ya anehlah." Ketus Embun, melepas tangan Tara yang membelit pinggangnya. Tara sedih, karena Embun benar-benar tidak percaya kalau dia sangat mencintai istrinya itu.
Wanita itupun menghela napas dalam. Sungguh, tindakan Tara membuat jantungnya lompat-lompat. Syukur dia gak stroek, karena kagetnya mendengar ucapan Tara.
"Adek belum mengerti. Bedanya Sekadar Jatuh Cinta dan Benar-benar Mencintai Seseorang. Abang ini benar-benar mencintaimu. Bukan sedang jatuh cinta. Rasa cinta yang sesungguhnya bukan semata-mata hasrat ingin memiliki. Tanda bahwa Abang benar-benar mencintai Adek adalah ketika kehadiran Adek jadi begitu penting dalam hidupku. Bukan berarti hidupku tidak bahagia tanpa adek, tapi keberadaanmu di sampingku yang menjadikan hidupku sah dikatakan sempurna." Tara menatap lekat Embun, menyelami manik mata indah istrinya, yang tidak percaya bahwa dia sangat mencintainya.
"Jatuh cinta bisa membuat kita berubah menjadi egois. Kita berharap dibalas sepadan, minta diperhatikan, hingga menuntut untuk selalu dimengerti. Tapi, asal Adek tahu. Cinta justru harus banyak-banyak memberi. Ketika benar-benar mencintai, kamu akan merasa bahwa dia layak mendapatkan dirimu seutuhnya. Rasa cinta, kasih sayang, dan perhatian tidak pernah ragu-ragu untuk diberikan.
"Adek pernah bilang, Abang koq baik samaku. Padahal aku sudah kasar dan memaki-maki Abang. Adek tahu, kenapa Abang bisa bersikap baik, padahal Adek selalu mengatakan Abang najis. Itu semua karena Abang benar-benar mencintaimu. Menerima sifat burukmu, menerima kekuranganmu." Ucap Tara sedih, matanya nampak berkaca-kaca. Dia tidak menyangka, akan menunjukkan kelemahannya kepada Embun.
Embun terpelongok mendengar ucapan suaminya itu. Sungguh sangat melow sekali. Embun jadi merasa bersalah. Karena sudah salah paham kepada Tara. Ditambah sikap jahatnya dulu.
Dia jadi insecure, takut salah bicara lagi. Ternyata suaminya itu benar-benar tulus padanya. Embun jadi tidak percaya diri. Pria ini terlalu sempurna untuknya.
"Abang hanya mencintai Adek." Tara meraih jemari Embun yang dari tadi diremas-remas.
"Dari dulu, dari sejak kita kecil. Dari sejak, Abang bisa merasakan suka kepada lawan jenis. Abang sudah mencintai Adek. Sampai sekarang, cinta itu masih terus tumbuh. Walau Adek dulu membenci Abang dan tidak mau bertemu dengan Abang. Tapi, cinta ini terus tumbuh." Embun lagi-lagi merasa seperti disambar petir disiang bolong, mendegar ucapan suaminya itu. Benarkah sebesar itu rasa cinta Tara kepadanya? Karena, terlalu terkejut dengan apa yang didengarnya. Embun menarik kuat tangannya dari genggaman Tara.
Tara terkejut atas reaksi Embun, yang seperti tidak senang dengan pernyataannya.
"Baiklah, kalau Adek tidak bisa menerima ucapan Abang. Mungkin menurut Adek tidak masuk akal kan?" Tara mulai pesimis, dia sudah berkobar-kobar mengungkapkan isi hatinya. Bukannya dibalas dengan hangat, malah sikap dingin yang didapatkannya.
"Seperti yang Abang katakan tadi, kebahagiaan Adek yang paling penting. Kalau Adek bahagia. Maka Abang pun akan bahagia. Abang akan turuti keinginan Adek, sesuai isi perjanjian dengan Ardhi. Tapi, setelah benar-benar enam bulan. Kalau sekarang, Abang tidak akan menyerahkan adek kepada Ardhi.
"Abang akan benar-benar lakukan itu. Dan Abang mohon, dalam sisa waktu empat bulan ini. Marilah kita jalin komunikasi yang baik. Di depan keluarga besar, kita tunjukkan hubungan harmonis kita. Bagaimana, Adek setuju?" Tara memegang bahu Embun, menatap lembut istrinya itu. Embun pun mengangguk, matanya melirik tangan Tara yang memegang bahunya. Auto, Tara menjauhkan tangannya dari bahu Embun.
"Jangan kasihani Abang begitu. Tidak perlu merasa bersalah atau repot-repot untuk membalas perasaan Abang." Tatapan Embun, membuat Tara harus mengatakan itu. Dia tidak mau cinta yang terpaksa. Dia mau cinta yang tulus.
"Jadi, selama empat bulan ini. Marilah kita bangun komunikasi yang baik. Jikalau pun nantinya kita tidak berjodoh. Kita kan masih saudara." Ucapan Tara lagi-lagi membuat Embun terperangah. Sesimpel itukah jatuh cinta itu dikonsep otaknya? entahlah...
__ADS_1