
"Aku tidak percaya, kamu harus mati!"
"Aakkhhhh.... Tidak....!" Teriak Melati, berusaha menghindar dari serangan Anggun yang seperti kerasukan setan itu. Melati tidak tahu lagi, apa yang dilakukannya. Yang jelas dia selalu bergerak menghindari serangannya Anggun. Hingga kini posisinya dia sudah mentok bersandar di bednya.
Pisau buah yang ada di tangannya Anggun sangatlah tajam, walau kecil. Tubuh Melati bergetar melihat pisau yang ada di tangannya Anggun. Saking takutnya, dia jadi membisu. Rasanya pita suaranya sudah rusak. Dia hanya bisa berdoa dalam hati, semoga dia tidak mati sia-sia ditangan wanita gila dihadapannya.
"Hebat juga kamu ya! rasakan ini." Melihat pisau akan menancap di perutnya. Melati bergerak cepat meraih bantal. Menangkis serangan tusukan pisau itu, sehingga kini pisau yang tajam itu mengoyak bantal dan membuat isinya berupa kapas berhamburan sudah.
Anggun tercengang, kesal, karena serangannya tidak tepat sasaran. Saat itu juga Melati menendang perut Anggun dengan sekuat tenaga. Moment saat Anggun tercengang benar-benar dimanfaatkan oleh Melati. Sehingga Anggun tersungkur. Kesempatan itu pun tak disia-siakan Melati. Dia berlari ke arah pintu, menekan handle pintu dengan napas ngos-ngosan. Berlari sekencang-kencangnya, menuju ruang tempat perawat berjaga. Sambil teriak minta tolong.
"Tolong... Tolong..!" Melati terus melangkah, menjauhi kamarnya dirawat. Saat itu juga Tara dan Embun sedang berjalan ke arah kamarnya Melati. Mereka terkejut melihat Melati, berlari dengan penuh rasa ketakutan.
"Dek Melati..!?" Embun berlari menghampiri Melati yang juga berlari ke arahnya. Melati tersungkur tepat di hadapan Tara dan Embun. Wanita itu kehabisan tenaga.
Para perawat pun akhirnya datang, karena mendengar suara gaduh. Sebagian berlari ke arah kamar tempat Melati dirawat dan sebagian lagi menenangkan Melati yang masih terduduk lemah.
"Apa yang terjadi, kenapa kamu berlari dalam keadaan takut begitu?" tanya Embun penuh kebingungan. Mensejajarkan tubuhnya dengan Melati, yang terduduk lemah di hadapannya.
"Dia ingin membunuhku." Ucapannya dengan bibir yang bergetar.
"Siapa?" tanya perawat berjenis kelamin wanita. Perawat itu juga membantu Melati untuk berdiri.
"Di--a, Di--a di sana." Melati masih ketakutan, Tara langsung berlari ke kamarnya Melati, sudah ada perawat juga di ruangan itu.
"Tidak ada siapa-siapa disini pak." Ucap perawat. Tara memeriksa ke kamar mandi. Merasa tidak puas dengan jawaban Suster.
"Kalian semua akan saya laporkan, apabila terbukti lalai dalam menjaga pasien. Aku akan melaporkan ini ke menager. CCTV harus diperiksa." Ucapan Tara membuat para suster ketakutan. Tapi, mereka tidak merasa seratus persen.
Ruangan Melati yang berada di pojokan dan sedikit jauh dari tempat perawatlah yang membuat suara teriakan wanita itu tidak terdengar. Ditambah suster, baru saja keluar dari ruangan Melati. Jadi mereka tidak menyangka akan ada insiden seperti ini.
__ADS_1
***
Pasangan suami istri Tara dan Embun langsung membawa Melati ke rumah mereka. Tara memerintahkan pegawainya mengurus kejadian yang baru saja menimpa Melati. Pelakunya harus dapat hukuman setimpal.
"Jangan takut, kamu aman bersama kami." Embun mengelus pelan lengan atas Melati yang duduk melamun dengan ekspresi wajah sedih itu. Mendengar ucapan Embun. Melati menoleh ke arahnya Embun yang tersenyum manis.
"Terimakasih banyak kak, sudah mau menolongku." Dia pun membalas tatapan ramah Embun dengan tersenyum tipis dengan mata yang berkaca-kaca. Melati sedih, kenapa masalah beruntun datang kepadanya. Masalah yang datang juga sangat berat.
Rasa sakit karena diper*ko*sa belum hilang. Dan sekarang dia ingin dibunuh. Dia benci Ardhi, Anggun dan Nyonya besar.
"Apa kamu kenal orang yang ingin mencelakai mu tadi?" Embun akhirnya memberikan tisu kepada Melati. Karena air mata sudah tergenang di mata indahnya wanita itu.
"Iya, aku kenal." Jawabnya masih menangis sesenggukan.
"Baiklah, kami akan membantumu. Jangan takut." Embun gak mau banyak bertanya saat ini. Dia tahu, suasana hatinya Melati sedang buruk.
"Sus, pasien yang ada di kamar X di mana?" tanya nya bingung penuh kekhawatiran. Dia takut, Melati diculik dan dibunuh.
"Sudah pulang pak." Jawab Suster dengan raut wajah masam. Pasalnya mereka akan dilaporkan Tara ke pihak berwajib, karena tidak telaten mengurus pasien. Suasana hati para suster sedang buruk.
Merasa tidak diopeni. Ilham pun keluar dari gedung itu. Ilham yang merasa lelah dan kantuk, memilih istirahat sebentar di Mesjid, setelah sholat Dzuhur. Ehhh, tak tahunya dia malah tidur pulas di Mesjid yang hawanya sejuk itu.
Ilham yakin yang membawa pulang Melati adalah Tara. Dia pun menghubungi pria itu. Panggilan pertama panggilan pun langsung tersambung.
"Assalamualaikum Pak, ini aku Ilham." Ucap Ilham sopan dan canggung. Dia merasa malu juga pada Tara. Karena tidak menjaga Melati.
"Oohh Adek Ilham." Jawab Tara pendek, dia memang kecewa pada Ilham. Karena, meninggalkan Melati sendirian di kamar itu.
"Maaf Pak, Apa Adek Melati ada bersama orang Bapak?" Ilham membuang napas berat. Dia benar-benar merasa bersalah, karena lalai menjaga Melati.
__ADS_1
"Iya, dia sudah kami bawa pulang." Lagi-lagi jawaban Tara singkat dan padat.
"Pak, tolong sharelock. Aku ingin menemui Melati."
"Baiklah. Assalamualaikum!" Tara mematikan panggilannya Ilham. Dia yang baru saja keluar dari kamar Melati. Memilih masuk ke ruang kerjanya. Sedangkan Embun masih berada di kamar, bersama Melati. Wanita itu masih menenangkan Melati.
Anggun yang ngos-ngosan masuk ke dalam mobilnya, langsung tancap gas, meninggalkan pekarangan Rumah sakit itu. Ibu Jerniati yang ketakutan hanya diam saja duduk di kursi sebelahnya Anggun. Dia tahu rencana mereka sudah gagal
Posisi ruangan Melati yang berada di pojokan yang dekat dengan tangga keluar. Membuat Anggun cepat melarikan diri.
Kini mereka sudah sampai di rumahnya Ardhi. Kedua wanita gila, beda generasi itu pun masuk dengan tergesa-gesa menuju kamarnya Ibu Jerniati.
"Aku gagal Mom. Sial..!" pekiknya, mendaratkan bokongnya di sofa yang ada di sudut kamar itu. Wanita itu pun menyambar air minum kemasan yang ada di atas meja di hadapannya. Meneguknya habis tanpa sisa air mineral itu.
Ibu Jerniati yang ketakutan hanya terdiam, ikut menduduk bokongnya di sofa, tepat di hadapan Anggun.
"Hadeuhh.... gimana ini, aku takut ada yang melaporkan ke pihak berwajib. Mana CCTV nya belum ku hancurkan." Raut wajah penuh kecemasan terlihat jelas di wajah cantiknya Anggun. Dia menyesalkan tindakannya yang gagal.
Ibu Jerniati masih saja diam. Sekarang dia sadar, bahwa terlalu mengikuti ide gilanya Anggun. Bisa membuatnya jadi hancur. Untuk apa membunuh orang, toh akan di penjara. Kenapa mereka tidak berpikir panjang. Ini kedua kalinya aksi mereka gagal.
Melihat Ibu Jerniati diam saja, membuat Anggun sedikit kesal. Harusnya wanita tua itu menenangkannya. Ini malah diam saja.
"Mom.. koq diam saja sih?" ketus Anggun, berdecak kesal.
Tok tok tok...
"Nyonya, ada Pak Polisi !" Suara Bi Kom, membuat keduanya telonjak kaget.
TBC
__ADS_1