DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Meluapkan kekesalan


__ADS_3

Ilham menatap tajam Ardhi yang berjalan penuh kepercayaan diri di belakang Melati. Dia geram pada pria itu. Pria itu telah menodai wanita yang dicintainya, sedagkan Tara dan Embun bengong melihat Ardhi yeng benar-benar membawa Melati ke rumah mereka. Padahal Ilham baru saja sampai di


rumah mereka, melaporkan bahwa Melati telah diculik. Dan ternyata penculiknya adalah Ardhi.


“Assalamualaikum..?!” suara Ardhi terdengar penuh kepercayaan diri. Sehingga membuat Tara, Embun dan Ilham tersadar dari ketercengangannya.


“Walaikum salam..!” jawab ketiganya dengan tidak semangat, karena merasa bingung dan tercengang. Untuk apa ardhi menculik melati.


“Ayo kita masuk!” Embun mempersilahkan Ardhi dan Melati masuk ke dalam rumah. Melati masih saja menundukkan kepalanya,dia masih takut.  Sebelum masuk ke dalam rumah itu Melati melirik Ilham dengan ekor matanya.


Tadi siang Ilham mengatakan pada Melati.  Bahwa dia sudah memberitahu keluarganya di


kampung, seminggu lagi dia akan pulang dan membawa calon istri. Ilham yang tak


sabaran itu langsung meminta orang tuanya menyambutnya dan  mengumpulkan   tokoh adat serta  tokoh agama di rumah. Orang tua Ilham yang ingin anaknya cepat menikah, tentu saja senang dengan ucapan putranya itu.


Walau Ilham tidak mengatakan siapa calon istri yang dibawanya. Orang tuanya percaya, pasti Ilham akan menikahi wanita yang baik-baik.


“Dek,kita bicara sebentar di sini?” Melati menghentikan langkahnya untuk masuk ke dalam rumahnya Tara. Sedangkan Ardhi sudah masuk duluan ke dalam rumah.


Melati menatap sendu Ilham yang nampak bingung itu. Dia juga sedih melihat keadaan Ilham. Pria itu mengalami sedikit luka di sudut bibirnya, karena melakukan perlawanan kepada anak buahnya Rudi, saat ingin menculik Melati.


“Iya bang.” Jawabnya sendu.


Mendapat persetujuan dari Melati, Ilham melangkah ke taman samping rumahnya Tara. Dia mendudukkan tubuhnya di pinggir gazebo. Melati yang mengekor juga mendudukkan tubuhnya di gazebo itu.


“Kenapa adek bisa bersamanya?” Ilham menatap lekat Melati yang tidak berani melihat wajah sedihnya Ilham. Melati bingung mau jawab apa? Haruskah dia bilang bahwa Ardhilah yang menculiknya? Itu jawaban yang cukup aneh.


“Pria kaya sombong itu yang menculik adek?” tak kunjung mendapatkan jawaban Melati, Ilham akhirnya menduga-duga. Melati mengangguk


lemah.


“Kenapa dia tiba-tiba muncul?” Ilham menggertakkan giginya, mulai naik pitam mendapati kenyataan bahwa ardhi lah yang menculik Melati. Kenapa harus diculik? Apa pria itu ingin menyakiti Melati? Tapi, kenapa sekarang Melati malah diantar ke rumahnya Tara.


“Adek gak tahu bang.” Melati sudah terisak, dia tidak  sanggup lagi untuk diintrogasi. Dia tidak

__ADS_1


mengerti dengan apa yang terjadi. Dia juga heran, kenapa sang mantan majikan


tiba-tiba ingin mengajaknya menikah. Padahal pria itu menghilang setelah melihatnya di rumah sakit, setelah kejadian malam mengerikan itu.


Ilham mengepalkan kedua tangannya, dia geram pada Ardhi.  Urat-urat leher pria itu tercetak jelas, karena emosi yang tinggi. Ilham bangkit dan berjalan cepat ke dalam


rumah. Melati yang masih lemah dalam keadaan menunduk, dibuat terkejut dengan


Ilham yang meninggalkannya. Melati berjalan cepat utuk menyusul Ilham ke dalam


rumah. Saat Melati sampai di ruang tamu. Tontonan ekstrem membuat tubuhnya


layu, wanita itu ambruk tak berdaya. Dia hanya bisa menyaksikan dengan mata


sembabnya  Ilham sedang menghajar Ardhi


dengan membabi buta dan Tara berusaha melerai.


Pandangan wanita itu mulai kabur, Dia hanya mendengar suara teriakan Ilham. “Mampus kau, mampus kau..!” Melatipun pingsan.


Ilham menghentikan aksinya menghajar Ardhi, setelah mendengar teriakan Embun yang memanggil namanya Melati.


Ilham bangkit dari atas tubuhnya Ardhi. Menendang kaki Ardhi sekali lagi dengan penuh kekesalan. Ardhi tidak melawan saat dihajar Ilham. Dia pasrah saja, karena dia tahu, perbuatannya memang salah. Tak seharusnya dia menodai Melati. Tak seharusnya dia meminum-minuman keras itu.


Ilham seperti kerasukan setan saat melampiaskan amarah dan kekesalannya. Hingga Tara tidak bisa menghentikan Ilham saat memberi pelajaran pada Ardhi.


“Melati…!” Ilham medekati Melati yang pingsan dalam dekapan Embun.  Sedangkan Tara membantu Ardhi yang berusaha untuk bangkit. Ardhi hanya bisa menatap Ilham degan kesalnya, saat membopong Melati ke atas sofa. Embun memanggil ART nya untuk mengambilkan minyak kayu putih serta air hangat. Tara dengan cepat mengambil tisu dan


memberikannya pad Ardhi. Suasana di ruang tamu rumah itu, sangatlah menghebohkan


saat ini. Sungguh totontonan yang sangat dramatis.


“Dek, Dek Melati..?!” Ilham dan Embun berusaha menyadarkan Melati. Embun mendekatkan minyak kayu putih ke lubang hidungnya Melati. Sedangkan Ilham menggoyang-goyang pelan lengannya Melati, berharap wanita itu sadar.


Ardhi terduduk lemah di lantai mengkilap rumahnya Tara. Hanya bisa melihat dengan tidak berdaya Melati yang masih pingsan. Tara yang bingung, akhirnya menghubungi Dokter pribadi mereka.

__ADS_1


ART nampak membawakan  segelas teh manis. Embun mulai menyendok teh


manis itu dan menyodorkan nya ke mulutnya Melati.


“Aku saja yang memberikannya!” Ilham meraih sendok dan gelas berisi the manis hangat dari tanganya Melati. Pria itu mulai memasukkan satu sendok the manis ke mulutnya Melati yang sedikit meganga. Sedangkan Embun terus


saja mendekatkan minyak kayu putih ke dekat lubang hidungya Melati, sembari memeijat kepala melati yang ditutupi hijab itu. Usaha Embun dan Ilham membuahkan hasil. Embun mulai tersadar, bola mata yang tertutup kelopaknya nampak bergerak-gerak. Dia pun membuka matanya yang terasa sangat berat itu.


“Syukurlah Adek sudah sadar.” Ilham kembali menyendokkan teh manis ke mulutya Melati. Wanita itu pun menyambut suapan Ilham itu. Ardhi hanya bisa melihat tontonan di hadapannya deg mencoba meredam amarah dan kesal. Ini kedua kalinya dia kena hajar, hanya karena wanita.


Dulu Ayahnya embun menghajarya habis-habisan dan sekarag Ilham menghajarnya sampai babak belur. Ardhi merasa down, dia yang terduduk


lemah itu hanya terdiam dengan pikiranya jauh menerawang. Sepertinya tak ada


kebahagiaan lagi untuknya. Dia hanya membuat kekacauan. Lihatlah, karena


perbuatanya Melati jadi menderita.


Melati sudah merasa memiliki tenaga, setelah menghabiskan setengah gelas tehh manis. Dia pun berusaha untuk duduk yang dibantu oleh


Embun. Setelah wanita itu duduk di sofa. Matanya langsung menatap tidak


percaya, Ardhi yang babak belur masih terduduk lemah di hadapannya. Keadaan Ardhi


sangat memprihatinkan. Penampilannya saat ini bukan seperti pengusaha sukses


lagi, tapi seperti gembel yang dihakimi masa.


“Sebaiknya Pak Ardhi dan dek Ilham pulang dulu. Biar kami yang jaga Melati.” Ujar Tara tegas, kedua kubuh sebaiknya menenangkan diri dulu.  Akan lebih baik, jika masalah ini


dibahas esok hari, setelah semuanya tenang.


Ardhi yang mendengar ucapan Tara, akhirnya berusaha bangkit dengan memegangi perutnya yang terasa sakit, akibat tinju membabi buta dari Ilham. Melati kembali menitikkan air mata, melihat Ardhi yang berjalan tertatih-tatih ke hadapannya.


“ Saya mau mempertanggungjawabkan perbuatan saya dan sayatidak mau memaksa kamu untuk mau menikah dengan saya.” Tegas Ardhi denganekspresi wajah datarnya. Berjalan dengan sempoyogan keluar dari rumah itu. Sepeninggalannnya Ardhi, penghuni ruang tamu itu dibuat tercengang.  Terutama Ilham, harapannya untuk bersama Melati pupus sudah.

__ADS_1


__ADS_2