DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Apa Kamu mencintainnya?


__ADS_3

Tara akhirnya ikut bergabung dengan keluarga besarnya, setelah mendengar keputusan Ompungnya itu. Mana mungkin Dia akan memecat Ros. Padahal mereka sedang menjalankan banyak kerja sama dengan perusahaan lain, terkait Tara yang sedang membangun perusahaan nya di Kota M. Bahkan Ros yang akan banyak ambil bagian di proyek besarnya ini.


"Ros tidak mungkin dipecat Ompung. Kami sedang membuka cabang perusahaan di Kota M. Tara masih ingin memakai Ros sebagai sekretaris. Bahkan Dia itu bisa diandalkan melebihi sekretaris. Lagian kami sudah lama berteman. Hanya Dia yang Tara percaya saat ini." Tara berusaha meyakinkan keluarga besarnya dengan mimik wajah minta dukungan.


Orang tuanya, Orang tua Embun dan Ompung mereka saling pandang. Masih berusaha mencari solusi terbaik.


"Tapi kehadiran Ros dalam hidupmu, sepertinya kurang bagus untuk rumah tangga kalian nantinya. Ompung perhatikan Dia tipe wanita yang suka ikut campur." Ucap Ompung Boru dengan raut wajah sedikit kesal. Kerutan diwajahnya semakin jelas terlihat karena Nenek tua itu cemberut.


Tara menatap semua orang yang sedang duduk di sofa itu. "Tidak Pung, Dia itu baik. Memang Dia orangnya tegas. Ada kesalahpahaman yang terjadi saat di tengah sawah tersebut. Ros tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Karena memang Embun yang duluan menyerang kami. Tapi, kelakuan Ros juga sangat disesalkan, tidak seharusnya Dia menghajar Embun seperti sekarang. Untuk itu Tulang, Nantulang. Biarlah masalah ini kita anggap tidak pernah terjadi. Saya akan minta Ros meminta maaf kepada Embun." Ucap Tara dengan tenang, Dia harus bisa meyakinkan keluarga besarnya.


Semua orang di ruangan itu sedang menimang-nimang ucapan Tara. Tak terkecuali Embun. Dia yang sedang berpura-pura tidur itu, geram bukan main kepada Tara. Gara-gara kalian berdua, Aku gagal lari, gara-gara wanita gila itu Aku merasakan sakit begini. Lihat saja pembalasanku. Embun membatin. Air mata nampak keluar dari sudut matanya.


Kenapa hidupnya harus menderita begini, bagaimana lagi caranya Dia untuk kabur. Bagaimana cara menggagalkan pernikahan ini. Padahal jelas Embun mendengar sendiri. Ompungnya lebih baik meninggal, jikalau pernikahan ini gagal. Embun sangat menyayangi Ompungnya itu. Haruskah Dia memasrahkan semuanya.


Memikirkan itu semua, membuat pikiran Embun kacau, dadanya terasa begitu sesak. Dia tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Khayalan menjalani biduk rumah tangga dengan Mas Ardi, hanya tinggal khayalan. Tanpa Embun sadari, tangisannya pecah juga. Dia sungguh tidak tahan lagi.


Mendengar Embun menangis, semua orang di ruangan itu mendekat kepadanya.


"Kamu kenapa sayang? ada yang sakit?" Mama Embun membelai kepala Embun. Sedangkan yang lainnya ikut sedih melihat keadaan Embun. Mereka berfikir Embun menangis karena sakit ditubuhnya, akibat serangan Ros. Mereka tidak tahu, Embun mengalami luka yang begitu menyakitkan tapi tidak berdarah yang ada di rongga dadanya.

__ADS_1


Embun tidak menjawab, kini suara tangisnya mereda. Tapi, air mata terus saja keluar dari sudut matanya. Melihat putrinya itu diam saja. Akhirnya Pak Baginda sadar. Putrinya itu pasti sedang memikirkan pacarnya.


Waktu sholat Magrib pun hampir tiba. Ompung Doli, Ompung Boru, Orang tua Tara dan Ayahnya Embun meminta izin untuk pulang dan akan datang lagi setelah habis sholat Isya. Tinggallah Mama Nur dan Tara di ruangan itu.


Mengetahui Tara tidak ikut pulang. Embun kesal sekali. Dia benci sekali melihat keberadaan masih menemaninya.


"Ma, Aku ingin malam ini kita berdua saja disini. Tolong bilangin lagi sama Ayah dan Bou. Tidak usah datang lagi malam ini." Ucap Embun manja kepada Mamanya dengan muka sedihnya. Dia sampai memegangi lengan Mamanya yang sedang berdiri di sebelah kanannya.


Sungguh Mama tidak mengerti apa yang dibenak putri nya ini. Orang akan senang, apabila banyak yang menemani kita dalam keadaan sakit di Rumah sakit. Lah, Embun tidak ingin ditemani oleh keluarganya.


Kemudian Embun menoleh ke arah Tara yang duduk disisi ranjang sebelah kiri. "Dan kamu pulanglah, Aku ingin istirahat, melihat mu disini. Mengingatkanku akan kelakuan kekasih barbar mu itu." Ucapnya dan memalingkan wajahnya. Embun mengatakan isi hatinya. Kalau Tara masih terus di ruangan ini, Dia merasa tidak bebas karena merasa diawasi.


Tara menatap Embun dengan lama yang mana Tara hanya melihat sebagian wajah embun, karena Dia memalingkan wajahnya. Haruskah Tara, bersikap lemah dan menurut saja kepada Embun. Apa masih ada gunanya lagi menjelaskan bahwa Dia dan Ros tidak ada hubungan spesial, hanya sekedar hubungan Bos dan bawahan.


Tanpa sepatah katapun akhirnya Tara keluar dari kamar itu, yang disusul oleh Mama Nur. Setelah berada di luar kamar. Mama Nur menahan lengan Tara.


"Maafin sikap Embun ya Nak." Ucap Mama Nur, Dia tahu Tara sedang sakit hati. Tara memegang lengan Nantulang nya itu.


Menuntunnya untuk duduk di bangku panjang yang terbuat dari stainles di koridor Rumah Sakit tersebut.

__ADS_1


"Iya Nantulang, sikap Embun itu wajar. Aku pun jika dalam posisi Embun, pasti akan bersikap sama. Siapa yang tidak sakit hati, jika kita dilukai sampai tangan, pinggang dan kakak terkilir begitu. Tapi, Embun salah paham Nantulang. Aku dan Ros tidak ada hubungan yang spesial. Dia hanya sekretaris ku." Ucap Tara tenang, Dia masih memegang tangan calon mertuanya itu.


"Iya, Nantulang percaya koq. Kalau kalian ada hubungan. Ngapain kamu bawa Dia kesini dan mau menikah dengan Embun. Dari situ saja, orang sudah mengerti. Kamu jangan ambil hati ucapan Embun ya. Dia itu cemburu sama Ros." Ucap Mama Nur, mencoba mensugesti Tara, seolah sikap Embun seperti itu karena cemburu. Bukan karena benci.


Tara tersenyum kecut, Dia yakin ada yang tidak beres dengan Embun. Ditambah penjelasan Nantulangnya semakin memperkuat bahwa ada sesuatu yang disembunyikan keluarga Embun. Tapi, Dia tidak akan kepo untuk hal itu. Yang penting Dia bisa menikah dengan Embun.


"Kalau Dia cemburu, Tara tidak percaya Nantulang. Tapi, kalau Dia masih tidak menyukai Tara, itu baru Tara percaya." Tara tertawa kecil, Dia sedang menghibur hatinya, yang cintanya bertepuk sebelah tangan itu.


Mama Nur tercengang mendengar jawaban Tara. Dia salut sama Tara, yang punya rasa sabar dan sifat yang lembut itu. Entahlah, apa hanya kepada Embun Dia seperti orang bodoh dan tidak berdaya begitu. Diusir, diam saja.


"Entahlah Bere, kamu yang sabar ya nanti hadapi Embun. Mungkin Dia terkejut tiba-tiba diminta untuk menikah, padahal Dia belum wisuda." Mama Nur mencari pembenaran lain, agar Tara tidak curiga bahwa Embun sebenarnya sudah punya kekasih.


"Iya Nantulang. Aku juga bilang sama tulang Minggu lalu, saat tulang menanyakan kelanjutan tentang perjodohan ini. Aku juga inginnya Embun lulus kuliah dulu. Tapi, Tulang inginnya secepatnya." Ucap Tara, Dia mengusap wajahnya kasar dan bersandar di bangku panjang Stainles tersebut.


"Kamu mencintai Embun kan Tara?" ucap Mama Nur dengan menatap lekat kedua mata Tara, yang sedang menatapnya juga.


TBC


Mampir juga ke novel ku yang berjudul

__ADS_1


Misteri Jodoh


__ADS_2