
"Kak Embun?" Kedua wanita itu langsung berpelukan dengan riangnya. Kini mata kantuknya Melati hilang sudah. Dia senang sekali Embun sepupunya itu datang ke rumah pak Zainuddin, ayahnya.
"Kak di telepon Tulang tadi pagi. Disuruh main ke sini, kalau sudah sampai ke kota Medan. Katanya kamu lagi di rumah." Kini kedua wanita bumil itu berjalan ke ruang keluarga.
"Iya kak, Mas Ardhi takut ninggalin aku sendiri di rumah. Jadinya kami ke rumah ayah." Mereka sudah duduk di permadani yang super lembut.
"Kenapa gak ke rumah Mas Adhi saja?" Embun heran juga, kenapa Ardhi gak membawa Melati ke rumahnya. Kenapa malah membawa ke rumah ayah mertuanya.
Melati jadi murung mendapatkan pertanyaan seperti itu. Mengingat rumah itu, dia juga akan kepikiran Nyonya besar, Ibu Jerniati.
"Bagus juga sih, kamu gak usah ke rumah itu. Ada Mak lampir disitu. Mas Ardhi benar-benar memikirkan semuanya dengan baik. Mengambil keputusan yang tepat, agar kamu dan Mak lampir gak usah bertemu." Embun bergidik ngeri, mengingat ibunya Ardhi membuatnya takut. Koq ada wanita tua seperti itu.
"Hmmmm.... kalau aku jadi menantunya. Baru satu hari tinggal serumah dengannya. Mungkin sudah patah tulang dia ku buat, kalau berani ngajak berantem." Embun tertawa kecil, membayangkan berantem dengan ibunya Ardhi. Mungkin hari-hari nya akan semakin berwarna, jika benar dia menikah dengan Ardhi.
"Aakkhh kakak ini, mana mungkin kakak tega menganiaya orang tua." Melati meraih bantal dari sofa dan menempatkannya di atas pahanya.
"Kalau manusianya seperti itu, aku beranilah. Dia itu bukan manusia dia itu setan." Hahahaha...Embun kembali tertawa lepas. Dia pun membisikkan sesuatu di telinga Melati. Sontak Melati terkaget-kaget mendengar bisikan Embun. Dia menggeleng penuh dengan ketidakpercayaan.
"Makanya kakak bilang, Ardhi itu pria hebat dan Arif. Dia pandai ambil sikap, agar kamu bahagia disisinya." Ucap Embun lagi, setelah selesai berbisik dengan Melati.
"Ya ampun kak, aku tidak menyangka Nyonya besar seperti itu." Ucapnya dengan menutup mulutnya yang menganga saking tidak percayanya dengan apa yang terjadi.
"Dosa gak sih kita membahas aib orang." Ucap Embun tersenyum tipis, menatap Melati dengan menaik turunkan alisnya yang tersusun rapi seperti semut beriring itu.
"Dosa kak." Jawab Melati lemas. Sungguh dia jadi panas dingin setelah mendengar cerita dari kakak sepupunya itu.
Nyonya besar, Ibu Jerniati suka bermaksiat. Bahkan dia punya koleksi video tak senonoh.
Dan videonya itu sudah tersebar luas ke dunia Maya.
"Besok-besok kalau Ardhi ajak kamu ke rumahnya. Kamu gak usah mau. Nanti kamu dibunuh lagi sama mak lampir itu. Kecuali kamu sumbat dulu mulutnya dengan uang yang banyak." Embun menaikkkan satu bibirnya. Dia jadi sepele pada ibu Jerniati.
__ADS_1
"Ardhi sudah cerita belum ya, kalau kamu ini putri Pak Zainuddin? kalau dia cerita, aku yakin. Dia akan menjilat kakimu itu. Maklumlah dia itu orang yang tak pandai bersyukur. OKB."
"Apa itu OKB kak?" Melati memang polos banget ya. OKB saja dia tidak tahu.
"OKB (Orang kaya baru)." Embun menarik napas kasar. Dia capek juga setelah menggibahi Ibu Jerniati.
"Apa Ardhi sudah mengenalkan mu sebagai istrinya pada Ibu gilanya itu?" Melati menggeleng lemah, menanggapi ucapan Embun.
"Dia pasti akan kena serangan jantung dan masuk rumah sakit. Jika tahu kamu itu putri siapa? bisa-bisa kejang-kejang dia. Tahu kamu putri Tulang Zainuddin. Putri dari seorang ayah, yang membuat anaknya jadi kaya seperti sekarang ini.
"Aku saja, baru tahu. Bahwa Tulang Zainuddin lah yang ternyata membantu Mas Ardhi jadi sukses seperti sekarang." Embun menggeleng pelan, mengetahui fakta itu. Hubungan singkat nya dengan Ardhi, membuatnya tidak tahu banyak tentang Ardhi.
"Iya kah?" tanya Melati tidak percaya.
"Iya dek. Aku kan dan Mas Ardhi hanya satu bulan pacaran. PDKT nya yang lama. Aku gak banyak tanya tentang kerjaannya. Hanya saja Mas Ardhi dulu cerita kalau dia pria miskin, yang dibantu seorang pria baik hati, hingga sukses. Eehhh... gak tahunya yang buat dia jadi sukses seperti ini, Tulang sendiri, paman sendiri. Dasar, dunia sempit kali ya?" Embun tersenyum tipis, dia merasa semuanya seperti sebuah kebetulan saja.
"Besok ajak saja Mas Ardhi ke rumahnya. Bilang sama Mak Lampir itu, kalau kamu itu putri konglomerat. Biar kejang-kejang dia dan masuk rumah sakit. Terus mati, dikubur, disiksa malaikat Munkar nakir dan masuk neraka itu pasti Mak lampir." Kekesalan di wajahnya Embun jelas terlihat. Wajahnya sampai merah padam saking emosinya mengingat Ibu Jerniati. Wanita tua itu yang ikut ambil andil, untuk melenyapkannya saat di Danau Toba.
"Apa...?"
Hahahaha...
"Mampus, rasain." Embun merasa senang, benar-benar ni Embun gak ingat apa kalau dia lagi hamil.
"Sakit apa dia?" Embun penasaran sekali. Dia bahkan mendekatkan wajahnya ke Melati, karena rasa antusias nya yang tinggi saat ini pada Ibu Jerniati.
"Kurang tahu juga kak. katanya sih stroke." Melati sedih, mengingat semua kejadian yang menimpanya dan juga Ardhi.
"Pasti dia stroke, karena tempe bacemnya yang busuk itu, pada nongol di tonton banyak orang. Pasti malu dia, setres lah mungkin, makanya dia jadi stroke." Embun tersenyum sinis. Akhirnya Ibu Jerniati mendapatkan hukuman juga dari perbuatan jahatnya.
Kebencian Embun semakin menjadi saja pada wanita tua itu. Apalagi ternyata Melati adalah sepupunya. Kesal dia ada orang lain meremehkan saudaranya.
__ADS_1
Embun pun akhirnya memilih diam. Karena melihat raut wajahnya Melati yang sudah berkabut. Dia tak boleh terlalu mengekspresikan apa yang ada di hatinya saat ini pada sepupu nya itu. Karena, keadaan Melati yang lemah dan sensitif itu.
"Sudah gak usah kita bahas lagi itu. Mending kita ke dapur, masak-masak." Wajah Embun berbinar-binar mengatakan itu. Entahlah saat ini dia pengen sekali memasak sendiri apa yang diinginkannya.
"Masak? kakak suka memasak?" tanya Melati dengan tersenyum tipis.
"Gak suka, tapi kakak sekarang lagi suka sekali memasak sendiri makanan yang lagi kakak inginkan." Ucapnya dengan sangat antusias.
Embun memperhatikan raut wajah Melati yang nampak malas untuk memasak itu.
"Oohhh iya kakak lupa. Kamu kan mengalami morning sick parah. Pasti bawaannya jadi lemas gitu ya?"
Melati mengangguk lemah
"Anakmu itu pinter bener cari perhatian. Kamu dibuat ngidam parah, agar ayahnya khawatir dan perhatian ekstra buat kamu itu." Embun mentoel lengan Melati dengan pelan. Sambil tertawa kecil, menggoda sang adik sepupu.
"Apasih kak?"
"Mas Ardhi itu orangnya perhatian loh? walaupun dia nampak dingin gitu, tapi sentuhannya hangat coy." Embun langsung menutup mulutnya, dia tidak mungkin membahas Ardhi dengan Melati.
Hahhahha... Wanita itu tertawa melihat ekspresi wajah Melati yang cemberut dan cemburu itu.
"Santai dong!" Embun kembali nyengir. Embun memang orangnya pandai bersikap. Dia bisa jadi manis dan manja seperti kucing Anggora. Menakutkan dan siap menerkam seperti harimau, jikalau dirinya terancam.
"Baiklah, kakak akan mengobrak-abrik dapurnya Tulang. Kamu stay disini saja. Ok!" Embun pun tersenyum manis pada Melati, berjalan ke arah dapur. Embun sudah pernah ke rumah ini. Tapi, masih terhitung dengan jari.
Melati yang merasa tidak enak hati membiarkan Embun memasak di dapur, akhirnya ikut nimbrung juga. Ternyata Embun ingin membuat cemilan piscok. Kebetulan ada pisang kepok di dapur.
TBC
Like coment vote yak..!🤗 kalau ada typo, kasih tahu ya say? biar kita edit lagi. Maaf kalau belum sempat balas comentnya. Yang jelas, aku senang baca coment reader semua.
__ADS_1