DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
berselisih tidak enak


__ADS_3

Pagi yang mencekam untuk pasangan suami istri Tara dan Embun. Karena keduanya diliputi oleh rasa ego yang tinggi dan rasa tidak


bersalah di antara keduanya. Mereka merasa tidak melakukan kesalahan apapun.


Padahal Tara sudah memvonis Embun Salah, Karena berhubungan secara diam-diam


dengan sang mantan. Sedangkan Embun kesal pada sikap kasarnya Tara pagi ini.


Embun tidak tahu, bahwa suaminya itu ketus, karena cemburu.


“Mel, tolong ambilkan kopi sipirok ya!” Embun sudah melayani Tara saat makan. Walau di ruang makan sedang terjadi mode hening.


“Iya kak.” Melati berjalan ke arah dapur kotor, mengambil apa yang diinginkan oleh sang majikan.


“Adek minum kopi?” Tara akhirnya tidak tahan juga didiamkan oleh sang istri. Walau istrinya itu kesal padanya. Tapi, Embun tetap menyiapkan semua keperluan Tara ke kantor. Termasuk menemani sang suami makan, walau tidak ada senyuman di wajah cantiknya istrinya itu.


“Iya.” Jawabnya singkat, meracik kopi untuknya sendiri.


“Buatkan juga untuk Abang Dek” Embun menatap lekat Tara. Saat itu juga Tara tersipu malu. Entahlah dia tidak bisa bersikap dingin


berlama-lama dengan Embun.


“Iya.” Lagi-lagi jawaban singkatnya Embun membuat Tara sedih. Benarkah istrinya itu mengkhianatinya. Kenapa jadi dingin.


Embun meracik sesuai dengan intruksi Tara. Walau dia kesal,


dia tetap melakukan apa maunya suaminya itu.


“Apa kegiatan adek pagi ini?” Tara ingin menguji kejujuran Embun. Kalau dia mengatakan ingin bertemu dengan Ardhi. Itu artinya, istrinya itu tidak mengkhianatinya. Tapi, kalau Embun memberikan jawaban lain. Berarti istrinya itu patut dicurigai.


“Tidak ada, di rumah saja.” Embun menyeruput kopi racikannya dengan perlahan, menikmati nikmatnya aroma kopi sipirok yang diseduh dengan air panas.


“Oohh..” Tara sangat kecewa dengan jawaban sang istri. Berarti istrinya itu sedang bermain api dengannnya.


“Oohh… Baiklah, Abang berangkat kerja dulu. Adek hati-hati di rumah ya!” Tara bangkit dari duduknya, Embun memberikan tas kerjanya Tara dengan tatapan dingin. Ternyata diam-diam dan mengutamakan ego, sangat menyebalkan sekali.


Embun hanya mengangguk menanggapi ucapan sang suami. Dia


meraih tangannya Tara. Menyalim tangan suaminya itu tanpa senyuman. Biasanya


juga setiap berangkat kerja, Embun mengantarkan sang suami keluar rumah dengan wajah berbinar-binar.

__ADS_1


“Kenapa hanya cium tangan?” Embun memalingkan wajahnya, Dia malas


melihat wajah Tara pagi ini. Sikap kasar sang suami masih terus melintas di pikirannya.


“Abang minta adek beri abang ciuman seperti biasanya.” Embun


langsung mencium pipi kiri dan kanan Tara dengan cepat. Wajah cemberut dan


masam masih mendominasi.


“Ehmmm… mana senyum manisnya sayang!’ Embun berontak, saat


Tara mencium paksa bibir merah cherynya Embun. Dia melotot pada Tara. Menggigit


bibir bawahnya dengan kesalnya, seolah dia ingin melahap habis pria itu.


“Astaga, kalau adek seperti ini abang tidak jadi berangkat kerja jadinya.” Tara melongos kesal.


“Bodoh!’ Embun mencebikkan bibirnya. Membalik badan, dia mau


masuk ke dalam rumah. Malas banget rasanya melihat kepergian Tara kerja.


“Astaga sayang, jangan buat abang makin tidak tenang. Abang sudah minta maaf, tapi Adek sepertinya tidak mau memaafkan Abang.”  Tara akhirnya menyusul sang istri masuk ke


kan mereka akan ketemuan.


“Koq masuk lagi. Kenapa tidak berangkat ke kantor?” Embun


memutar bola matanya jengah. Dia heran lihat kelakuan sang suami. Tadi shubuh


ketus dan kasar. Sekarang, kenapa malah ingin nempel  terus.


Tara yang masih berdiri diambang pintu langsung bergerak cepat memeluk Embun dari belakang. Disaat sang istri berjalan menjauhinya. ”Eehmmm.. diam napa sayang?!” Tara ternyata tidak bisa berlama-lama bersikap dingin pada Embun. Tidak ada gunanya cemburu dan marahan.


“Apaan sih? Lepas bang, emangnya abang gak kerja?” Embun terus saja berusaha melepas belitan tangan kokohnya Tara di pinggangnya.


“Maaf sayang, Abang salah. Abang cium ya kepalanya yang terbentur tadi.” Tara mengecup kepala Embun yang ditutupi hijab itu dengan


gemes.


“Gak puas nyiumnya, kalau adek pakai hijab.” Tara langsung melepas hijab Embun model sorong polos itu, melemparnya ke sembarang tempat.

__ADS_1


Embun teringat sikap kasarnya Tara pagi ini. Dia langsung menangis tersedu-sedu. “Ayah walau bicaranya kejam, dia tidak pernah mendorongku sampai terjatuh. Dia sangat menjagaku, tidak pernah main tangan padaku. Tapi, Abaang, A-bang..!’ Embun tidak bisa menahan rasa sedihnya. Cara Tara


menjatuhkannya dari atas tubuh suaminya itu sangatlah kasar menurutnya.


“Iya sayang, Maaf,  maafkan Abang. Abang khilaf sayang!” Tara akhirnya


melepas belitan tangannya dari pinggangnya Embun. Karena Embun terus saja


berontak, ingin lepas dari dekapan sang suami.


“Kalau Abang gak cinta lagi, bilang langsung. Gak usah bertingkah seolah tidak menginginkan Aku. Asal abang tahu, masih banyak pria yang mau samaku.”


“Iya, termasuk si Ardhi itu? Apa adek mau kembali pada Ardhi?” Tara akhirnya mengeluarkan uneg-uneg di hatinya. Ucapan Tara membuat EMBUN tersentak. Kenapa malah membahas Ardhi?


“Kenapa membawa-bawa Ardhi sih?” Embun berdecak kesal. Dia


lebih baik pergi dari kamar itu. Dia malas berdebat.


“Katakan, di mana tempat favoritmu dengan si Ardhi itu?” Suara Tara terdengar dingin, sedingin tatapannya saat ini. Tatapan dinginnya Tara, begitu menakutkan.


“Tempat favorit, dengan Mas Ardhi?” Embun ingin memastikan kalimat yang keluar dari mulut sang suami. Apa maksud ucapannya Tara. Embun benar-benar lupa, kalau sudah membuat janji ketemuan dengan Ardhi.


“ Kenapa berlagak begok sih dek? Katakan di mana tempat favoritmu bersamanya. Kalian baru pacaran satu bulan, tapi sudah punya tempat favorit segala. Lah kita yang sudah bersama selam dua bulan lebih, tidak punya


tempat khusus, atau favorit.” Ekspresi wajah kekesalan dan cemburu, terlihat


dijelas di wajah tampannya Tara. Yang sedang emosi itu.


Embun akhirnya tersadar, Dia baru ingat, kalau sudah berkomunikasi dengan Ardi, dengan meminta waktu luang untuk ketemuan. Embun meraih ponselnya di atas meja riasnya. Menoleh kepada Tara sebelum memeriksa ponselnya itu. Embun menarik napas dalam, tangannya sedikit gemetar, disaat membuka pesan dari Ardhi. Setelah membaca pesan dari Ardhi. Embun menatap Tara dengan


perasaan bersalah. Dia tahu, suaminya itu sedang cemburu. Salah dirinya juga,


berniat diam-diam menjumpai Ardhi. Tara akhirnya salah paham.


“Abang tahu adek masih mencintainya. Tapi, bukan begini caranya. Adek sudah memilih Abang. Mempertahankan pernikahan kita. Tapi, kenapa adek malah diam-diam mengiriminya pesan, minta ketemuan. Kalian mau membahas apa? Membahas rasa penyesalan satu sama lain?” Embun menggeleng dengan perasaan yang hancur. Ternyata suaminya itu belum percaya padanya seratus persen.


”Tidak seperti itu bang. Adek tidak ada niat mengkhianati pernikahan kita. Adek tidak membicarakan ini terlebih dahulu dengan abang. Karena Adek merasa, tidak ada hal penting yang akan kami bahas. Sehingga Abang tidak harus tahu masalah yang ingin ku selesaikan.” Tegas Embun, mendekati Tara yang merajuk seperti anak kecil. Embun meraih tangan Tara yang sudah masuk ke saku


celananya.


“Adek ingin membahas mengenai Melati dengan Mas Ardhi.” Jelas Embun.

__ADS_1


“Kenapa sekarang Adek jadi ingin ikut campur. Bukannya kemarin abang kasih usul, Tapi adek tidak mau melakukannya? Ucap Tara tegas. Embun terdiam, benar apa yang dikatakan suaminya itu. Tapi, itu sebelum dia mengetahui fakta sebenarnya mengenai Melati. Kini dia sudah tahu masalah sebenarnya. Jadi dia


ingin membantu Melati.


__ADS_2