DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Aku sangat memahamimu


__ADS_3

Grappp


Tangan kokoh menarik lengan Embun ke dalam ruangan yang ternyata saat dilewati Embun pintunya sedang terbuka.


Embun melakukan perlawanan, sehingga orang yang menangkap Embun, membuatnya terpojok ke dinding ruangan itu. Dan pria itu mengunci pergerakan Embun dengan menghadangnya dengan kedua tangannya.


"Minggir kamu..!" seru Embun menatap tajam pria yang yang menangkapnya. Tapi, si pria tak juga mengubris hardikan Embun. Pria itu malah semakin mengunci pergerakan Embun. Yang menyebabkan jarak keduanya begitu dekat. Bahkan Embun kini memalingkan wajahnya, karena tidak tahan melihat tatapan pria dihadapannya.


"Awas.... Aku susah bernafas..!" Embun mendorong tubuh pria itu dengan kuatnya. Tapi, tidak ada efek yang ditimbulkan dari dorongannya.


"Kamu sama menyebalkannya dengan Rose. Kenapa sih, aku tu harus berurusan dengan kalian berdua. Harusnya kamu nikahi Rose, bukannya menikah dengan saya. Awas....!" Embun berteriak dan dengan sekuat tenaga, berusaha lepas dari sergapan pria dihadapannya.


Akhirnya pria itu yang tak lain adalah Tara, memberi kelonggaran dalam mengunci tubuh Embun. Sehingga Embun menarik napas dalam, dan menyandarkan punggungnya dengan lemahnya di dinding ruangan itu.


Tara geram dan sedih melihat kelakuan Embun. Bisa-bisanya Dia ingin kabur saat ini. Tidak kah Dia bisa berfikir jernih sebentar saja dan jangan marah-marah terus? kenapa Embun selalu merasa jadi korban. Padahal disini yang menjadi korban adalah Tara.


Berapa banyak uang yang dikeluarkannya untuk pernikahan ini. Ditambah Dia nantinya akan memberikan Embun kepada Ardhi. Uang tidak jadi Masalah buat Tara. Walau Pak Baginda meminta mahar yang begitu banyak.


"Aku tidak bisa melanjutkan ini semua. Aku bisa gila." Ucap Embun, akhirnya Dia pun melorotkan tubuhnya. Terduduk lemah dan menyandarkan kepalanya di dinding.


"Kenapa tidak ada yang bisa memahami posisiku? Aku tidak bisa melanjutkan ini." Ucapnya dengan berurai air mata. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Hijab dan make up nya sudah tidak jelas lagi bentuknya.


Tara menarik napas dalam, menatap Embun dengan lemah.


"Abang memahami keadaanmu. Memahami kesedihanmu, karena dipaksa menikah denganku." Embun langsung menatap Tara dengan heran, kenapa pria disebelahnya nampak lemah begitu.


"Sikapmu ini membuatku jadi pria tidak berharga. Kebencianmu itu, membuatku takut dan juga begitu membenci diriku sendiri. Seorang istri, dengan terus terangnya berkata benci kepada suaminya." Ucap Tara getir dan menertawakan dirinya.


"Siapa suruh mau menikah denganku." Embun bukannya prihatin dengan sikap tak berdaya nya Tara, malah menyalahkannya.


"Semuanya sudah terlambat Embun. Aku juga ingin pernikahan ini batal. Tapi, insiden Ardhi yang datang ke rumah. Membuat semuanya berubah dari kesepakatan kita, agar membatalkan pernikahan ini.


"Jangan bilang tidak ada yang memahami perasaanmu. Abang orang yang paling memahaminya. Aku sudah bersedia menyerahkan kamu nantinya kepada Pak Ardhi. Tidak bisakah kamu berkorban sedikit, untuk membahagiakan keluarga besar kita? Hanya enam bulan." Tara menatap lekat Embun, yang nampak bingung.


"Setan apa yang merasukimu, sehingga kamu ingin kabur. Sebelum bertindak, pikirkan dampaknya. Kalau kamu kabur, tentu akan menimbulkan masalah besar." Ucap Tara dengan nada lemah, Dia sedang menahan diri, agar tidak emosi.

__ADS_1


"Setan Rose Mak lampir itu. Aku tidak suka melihatnya." Ucap Embun ketus penuh kebencian.


"Rose?"


"Iya. Aku tidak ingin melihatnya lagi mulai hari ini sampai enam bulan kedepan." Embun melap air matanya dengan jemarinya.


"Itu kita bahas nanti. Ayo bangkit..!" Tara yang sudah berdiri dihadapan Embun menjukurkan tangannya. Embun menatap Tara dengan kesal.


"Mau digendong?" Tara bergerak hendak menggendong Embun.


"Jangan, tidak usah. Aku bisa jalan sendiri." Embun langsung menepis tangan Tara yang hendak mendarat di punggung dan pahanya.


Embun pun berjalan sembari menyoroti ruangan tempat mereka sekarang. Ternyata ruangan itu adalah ruangan kerjanya Tara. Karena Embun melihat foto Tara terpampang di dinding ruangan itu.


"Kamu mau ke mana? lewat dari sini, jangan keluar dari pintu itu." Tara langsung menarik lengan Embun, sehingga kini Embun berjalan mengekori Tara.


"Banyak sekali pintu di ruangan ini" Embun membathin. Dia pun terperangah melihat pintu yang dibuka Tara terhubung ke kamar mereka.


"Pantesan Dia cepat menangkapku. Ternyata Aku hanya berputar-putar di lorong ini." Gumam Embun dalam hati.


"Masuklah...!" Ucap Tara keras, petugas MUA pun masuk dengan bingungnya. Menatap Embun, yang make up nya nampak tidak segar lagi.


❤️❤️❤️


Acara Margondang pun akan di mulai. Kini Embun dan Tara sedang menyaksikan penyembelihan hewan kerbau atau dikenal dengan istilah Manalpokhon Lahan ni Horja.


Embun dan Tara diminta memegang badan kerbau, kemudian cameraman mendokumentasikannya. Setelah menyaksikan pemotongan hewan kerbau yang akan menjadi upa-upa mereka maka berlanjut ke acara Mangalo Alo Mora


Mora' dalam adat adalah sang pemberi anak gadis. Jadi dalam prosesi ini, keluarga besar Tara menyambut kedatangan keluarga Harahap yaitu kakak dan adik laki-laki dari ibunda Tara.


Keluarga Harahap tampak membawa berbagai persembahan atau indahan tompu robu bagi keluarga Siregar. Sedangkan keluarga siregar menari tortor sambil berjalan mundur dengan gerakan tangan menyambut kedatangan.


Mora adalah kelompok yang sangat dihormati. Apabila ada horja atau pesta besar, seperti pernikahan, harus disambut dengan gembira.


Tortor mundur dilaksanakan hingga ke gerbang aula resepsi. Saat sampai, penjaga gerbang kemudian memukul gong. Keluarga Siregar kemudian melemparkan beras berwarna kuning ke keluarga Harahap yang datang sambil berkata, 'Horas!'

__ADS_1


Kemudian keluarga Harahap duduk di aula resepsi. Acara pun di mulai. Embun dan Tara digiring untuk duduk di pelaminan.


Tara cukup senang, ternyata Embun bisa menguasai dirinya. Dia selalu menampilkan senyum manis. Hingga saat Tara menawarkan minum pun, Embun menurut saja. Padahal Embun minum dari gelas bekasnya Tara.


Tara yang begitu mencintai Embun itu tentu senang sekali, Dia kembali minum dari bekas bibirnya Embun.


Tak terasa, waktu pun bergulir. Acara manortor pun sudah dimulai, diawali oleh tuan rumah alias suhut, dilanjutkan oleh kahanggi (kerabat yang semarga dengan tuan rumah), disambung oleh anak boru (pihak pengambil istri dari keluarga Siregar dalam hal ini), dan disambut mora (pihak pemberi istri terhadap Siregar, yakni pihak Harahap dalam hal ini) yang turun gelanggang untuk manortor. Begitulah urut-urutan manortor.


Baru setelah itu maraton, tortor muda-mudi, yakni naposo bulung (remaja putra) dan nauli bulung (remaja putri).


"Adek istirahat saja dulu ya, setelah sholat Isya acara akan dilanjutkan lagi setelah acara Maralok-alok." Ucap Tara, setelah menuntun Embun duduk di tepi ranjang.


Embun nampak kelelahan karena seharian penuh mengikuti acara Margondang di pelaminan.


Entah kenapa Dia merasa tiba-tiba meriang. Sehingga Tara memberitahu Mamanya tentang keadaan Embun. Mau tak mau, Embun pun harus istirahat. Padahal acara Margondang masih berlanjut.


"Iya." Jawab Embun lemah. Dia pun berbaring, setelah melepas hijabnya.


Tara memasuki ruang kerjanya, mengambil ponselnya dari saku celananya dan menghubungi Dokter.


Kemudian Dia keluar untuk meminta Keluarga lainnya mencarikan tukang pijat untuk Embun.


Saat ini Tara begitu mengkhawatirkan Embun. Acara yang harus mereka lewati masih panjang. Tapi Embun sudah tepar.


Dokter pun datang memeriksa Embun. Setelah diperiksa Dokter. Tara memaksa Embun untuk dipijat. Karena Embun yang tak iasa dipijat itu, menolak tawaran untuk dipijat. Tapi akhirnya Embun pun menurut.


Tanpa disadarinya, setelah minum obat. Embun malah tertidur, saat dipijat.


Tara masuk ke kamarnya setelah selesai mengerjakan sholat Ashar. Dia melihat jam di dinding, masih pukul Lima sore. Akhirnya Dia memutuskan untuk istirahat sebentar. Berbaring di ranjang di sebelah Embun yang tertidur pulas, dengan tubuh hanya ditutupi kain sarung. Karena, habis dipijat.


Dengan tersenyum Tara mengelus puncak kepala Embun dan menyelimutinya. Dia pun meregangkan otot-otot nya dan tak butuh lama Dia pun tertidur.


TBC


Tinggalkan jejak like coment positif dan Vote 😍

__ADS_1


__ADS_2