
Sesampainya di rumah sakit. Ibu Jerniati langsung masuk ke ruang IGD. Ardhi yang panik itu, tetap bisa konsentrasi menyiapkan berkas untuk tindakan operasi yang akan dilakukan pada Ibunya. Pembuluh darah ibunya pecah di kepala. Dan jantung bocor, benar-benar komplikasi.
Selama tiga jam di rumah sakit. Ardhi selalu kepikiran dengan Melati, yang seolah hilang tanpa jejak. Bahkan ponselnya tidak aktif lagi. Memastikan kondisi sang Ibu bisa ditinggalkan dan dijaga oleh perawat dan Bi Kom, yaitu kepala pelayan mereka. Pria itu pun bergegas dengan tidak tenangnya menuju kampus, di mana sang istri kuliah. Tepat pukul empat sore, Ardhi sampai di parkiran. Itu berarti dia tidak terlambat datang. Istrinya itu, selesai kuliah pukul empat sore.
Ardhi menunggu Melati di gerbang gedung 1A. kelasnya sang istri. Berdiri dengan mata liar mencari sosok Melati, dengan perasaan tidak tenang. Sesekali pria itu pun merilekskan dirinya yang lagi kalut itu dengan berulang kali menarik napas. Memperhatikan mahasiswa yang lalu lalang, dan dia belum melihat batang hidung sang istri.
Ardhi semakin panik dan cemas. Kenapa istrinya itu tidak ada di kerumunan mahasiswa/i itu? Pria itu benar-benar dibuat tidak tenang. Dia pun berlari cepat ke kelasnya sang istri. Berharap menemukan sang istri di ruangan itu. Tapi, sesampainya di ruangan itu. Dia tidak menemukan istrinya itu. Di ruangan itu hanya ada tiga orang mahasiswi yang nampak berdiskusi. Ardi pun menyamperinnya ketiga wanita itu. Sontak mahasiswi yang lagi serius bicara itu, jadi tercengang melihat pria tampan dihadapan mereka. Walau ekspresi wajah Ardhi terlihat tegang. Tapi, tetap saja di terlihat kren.
"Maaf ya Dek, kalian teman satu kelasnya Melati kan?" Ardhi mencoba tersenyum tipis, dia harus terlihat sedikit ramah. Jangan tegang.
"Iya Bang..!" ucap ketiganya dengan semangat dan senyum merekah. Tapi, sedetik kemudian ketiga wanita itu berbisik-bisik, merasa heran kepada Melati. Karena selalu ada cowok ganteng yang mencari-carinya. Dulu juga Ilham selalu cariin dia di kampus.
"Apa dia masuk kuliah hari ini dek?" tanya Ardhi lagi.
"Iya kuliah bang, tapi hanya sebentar tadi. Terus dia gak nampak lagi." Jawab seorang mahasiswi, dan dua mahasiswi lainnya masih penasaran dengan Ardhi.
"Ok, terima kasih infonya ya?!" Ardhi pun berbalik badan dengan lemasnya. Jantungnya sudah berdebar tak beraturan karena takut terjadi apa-apa pada sang istri.
Ke mana istrinya itu? apakah ayah Zainuddin menjemputnya dan benar-benar akan memisahkan aku darinya. Memikirkan itu semua membuat Ardhi semakin tegang dan kalut. Dia pun memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Karena sudah tidak sabar untuk berjumpa dengan sang istri.
Sepanjang perjalanan menuju rumah ayah Zainuddin dia tak pernah berhenti berdoa dalam hati. Semoga ayah Zainuddin luluh hatinya, memaafkannya. Membuang prasangka buruk padanya.
Dia yang tidak tenang mengemudi itu, bahkan hampir menabrak kenderaan lain. Karena pikiran dan matanya tidak sinkron lagi. Konsentrasinya benar-benar buyar.
Sesampainya di gerbang rumah Pak Zainuddin. Dia dicegat oleh security. Dia tidak diperbolehkan masuk ke dalam rumah yang dibangun itu sendiri.
Ardhi turun dengan kesalnya. Kenapa dia tidak diperbolehkan masuk ke dalam.
__ADS_1
"Buka gerbangnya Pak. Saya mau masuk!" titah Ardhi dengan gerakan tangan dan wajah merah padam. Karena menahan emosi. Sungguh masalah yang datang hari ini beruntun. Ibu sekarat, istri dibawah pulang ayah mertua. Bisnis juga belum stabil.
"Maaf Tuan Ardhi. Anda di larang masuk ke dalam." Ardhi tak mau panjang cerita lagi dengan pak satpam. Dia pun berjalan ke dalam pos satpam. Ingin mengambil kunci gerbang. Dan pak satpam mencegah tindakannya.
"Kalau bapak gak mau buka, saya yang akan buka sendiri." Kunci sudah ditangan Ardhi. Menatap tajam security, yang membuat securyty takut. Tapi, kalau dia tidak mencegah Ardi masuk ke dalam. Bisa-bisa dia dikatakan gagal tugas. Dan konsekuensinya bakal dipecat.
Pak Satpam terus saja mencegah Ardhi membuka pintu gerbang itu. Sehingga perkelahian pun terjadi. Pak Satpam sedang menjalankan tugas dari majikannya. Dia yang bertubuh tinggi tegap dan besar mengancam Ardhi. Karena saat ini Ardhi kalah dalam perkelahian. Ardhi sudah tersingkir dengan sudut bibir yang sudah mengeluarkan darah.
"Pak Ardhi, saya hanya menjalankan tugas. Tolong, jangan memaksa seperti ini." Ucap Pak Satpam tegas dan sudah merasa hebat, karena merasa hebat, sudah menjatuhkan Ardhi.
Ardhi geram, dia mengepal kuat kedua tangannya. Tadi dirinya tidak maksimal melawan pak satpam. Karena, dia berpikir satpam itu, tidak serius. Tapi, sekarang tidak lagi. Sepertinya harus terjadi pertumpahan darah. Walau pak satpam badannya lebih tinggi dan besar. Bukan berarti dia tak bisa mengalahkannya. Dia bisa ilmu bela belah diri.
Ardhi bangkit, berdiri dengan tatapan mematikan kepada pak satpam. Dadanya terlihat naik turun, karena masih emosi. Orang emosi biasanya kekuatannya bertambah berlipat-lipat. Saat ini juga, Ardhi teringat kejadian menyakitkan di kampungnya Embun. Disaat dirinya harus mempertahankan wanita itu. Dan sekarang hal yang sama juga terjadi. Dia tidak mau berpisah dengan Melati.
Pukk..
puk...
Pak...
Pak Satpam tidak menyangka Ardhi masih bisa menyerangnya dengan tiba-tiba. Sehingga dia tidak siap dengan serangan itu.
Pak Satpam yang tersungkur itu, dinaikinya. Menghajar habis-habisan wajah sang algojo. Dia hampir saja mematikannya. Tapi, dia pun tersadar sejenak. Kalau pria ini mati, akan panjang urusannya.
Dia tak banyak bicara lagi. Dengan napas tersengal-sengal. Bangkit dari atas tubuh pak satpam. Membuka gembok gerbang itu. Agar lebih ketat penjagaan gerbang itu dikunci secara manual. Karena Pak Zainuddin yakin, Ardhi akan datang ke rumah itu.
Ardhi sedikit pun tidak merasa lelah, hanya saja saat ini. Dadanya terasa sesak dan jantung nya berdebar sangat cepat. Itu biasa terjadi. Karena dia baru saja melakukan aktifitas yang sangat menguji adrenalin.
__ADS_1
Tepat di ambang pintu, Pak Zainuddin sudah berdiri di sana dengan ekspresi wajah datarnya.
"Kamu pulanglah, jangan buat keributan di rumah ini " Ucap Pak Zainuddin tegas. Ardhi terdiam dan menunduk. Agar dia bisa berjumpa dengan Melati, dia tidak boleh membuat emosi pak Zainuddin tersulut.
Dia pun mendudukkan bokong di kursi yang ada di beranda rumah itu. Belum menjawab ucapan Pak Zainuddin. Dia harus menenangkan diri dulu. Mencoba meredam emosi. Agar semuanya bisa selesai dengan baik.
Pak Zainuddin menutup pintu rumah yang terbuat dari kaca itu. Rumahnya Pak Zainuddin yang dibangun Ardhi sudah seperti Mall saja. Pria tua itu pun mendudukkan bokongnya di hadapan Ardhi. Ardhi tersenyum dalam hati. Tapi, masih tidak berani menatap wajah sang ayah mertua. Dia yakin, usahanya kali ini akan berhasil. Pak Zainuddin tak boleh dikasari dan dibantah. Bersikap saja seperti orang lemah dan memprihatinkan. Pria itu akan luluh juga. Ardhi sudah paham betul karakter ayah mertuanya itu.
"Kamu pulanglah!" Kali ini Ardhi menoleh ke arah Pak Zainuddin, keduanya saling tatap. Kedua mata pak Zainuddin nampak berkaca-kaca.
"Ayah..!"
"Kamu pulanglah, jangan usik Melati lagi. Dia juga sedang kesal padamu. Dia mendengar semua percakapanmu dengan Ibumu." Ardhi tersentak mendengar ucapan Pak Zainuddin. Berarti Melati salah paham juga padanya.
"Kami harus bertemu ayah. Ini semua perlu diluruskan. Aku tidak ingin menikahinya, atau wanita manapun. Ibu, ibu memang pandai bersilat lidah. Sebelum ayah datang ke kamar itu. Aku tidak menerima tawarannya.'"
"Tapi, kamu tidak menolaknya!" tegas Ayah Zainuddin. Memotong ucapan Ardhi. "Melati mendengar jawabanmu." Masih menatap tajam Ardhi yang nampak terkejut bathin itu.
"Aku tidak mungkin menolak permintaan ibu saat itu ayah. Keadaan ibu belum stabil betul. Semua harus dipertimbangkan ayah. Aku gak mau nantinya hatiku terbebani, karena merasa bersalah seumur hidup, jika ibu meninggal karena ucapanku dengan menolak langsung permintaannya. Aku hanya mengulur waktu. Makanya saya katakan dibahas lain kali." Ardhi menarik napas panjang dan mengusap wajahnya yang terasa terbakar itu. Rasanya sangat sakit, disaat tangan itu, mengenai sudut bibirnya yang terluka.
"Aku tidak menyangka ibu kembali berniat menikahkan aku dengan Lidya. Tapi, saat ini bisa ku pahami, ketakutan ibu. Dia takut, keburukannya akan diungkit media lagi
Dan dia merasa hanya lidyalah yang bisa jadi penolongnya. Karena, dia belum tahu siapa Melati sebenarnya. Aku akui, ibu sudah terjerumus jauh. Dan aku sebagai anak tidak mungkin meninggalkan ibuku yang sedang tersesat itu. Aku harus menuntunnya pelan-pelan, menyadarkan secara perlahan-lahan. Mengatakan siapa Melati sebenarnya. Aku yakin, jika ibu tahu siapa Melati. Ibu tidak akan memintaku menikah dengan Lidya." Ucap Ardhi dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ya jelas, dia akan menerima Melati. Karena, ternyata Putriku yang dianiaya nya adalah anak SULTAN. Sudah kamu pulang saja. Melati gak cocok untukmu. Aku akan Carikan pria yang tulus padanya."
.TBC
__ADS_1