DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
kecewa


__ADS_3

"Eehhh,..Eehh... Tolong, tolong...!"


Teriakan Embun minta tolong menyita perhatian orang yang ada di Aula itu. Saat ini Embun sedang menopang tubuh Melati agar tidak ambruk dan jatuh ke lantai.


Ibu Khadijah dengan cepat bangkit dari duduknya, disaat melihat Melati yang pingsan dalam rengkuhannya Embun. Kini posisi Embun dan Melati masih di luar Aula. Sekitar satu meter dari pintu Aula itu.


"Inang, Melati, Borukku..!" Ibu Khadijah akhirnya tak kuasa menahan kesedihan di hatinya. Apalagi setelah mendengar ceramah Pak KUA. Wanita itu yakin, bahwa Melati sedang tidak baik-baik saja. Pasti putrinya itu hamil. Putrinya itu telah dinodai oleh pria kaya yang akan jadi menantunya itu. Karena, dia tahu betul bagaimana putrinya itu. Melati tahu batasan, dia tidak mungkin melakukan maksiat.


"Inang, Melati, kamu kenapa borukku?" Ibu Khadijah tak bisa membendung air matanya lagi. Kini cairan bening itu sudah membasahi wajah keriput itu. Ardhi pun akhirnya bangkit dari duduknya dan langsung meraih Melati ke dalam pelukannya. Memperhatikan sesaat wajah pucat nya Melati. Tebalnya make up, tidak bisa menutupi kesedihan di wajah wanita itu.


Ardhi pun membaringkan Melati di lantai yang beralaskan Ambal itu. Ibu Khadijah dan Embun, berusaha untuk menyadarkan Melati dengan menggoyang pelan tubuh wanita yang tak sadarkan diri itu.


Melihat tidak ada hasil dari usaha Embun dan Ibu Khadijah. Ardhi pun akhirnya kembali menggendong Melati ala bridal style.


"Rudi, panggilkan Dokter. Ardhi yang panik langsung berjalan dengan tergesa-gesa, membawa Melati ke kamar. Tentu saja dikuti oleh Ibu Khadijah dengan suara isakan tangis dan ucapan luapan kekecewaan pada Ardhi.


Sepeninggalannya Ardhi dari ruangan itu, Rudi dibuat bingung. ke mana dia akan menghubungi Dokter. ini bukan kota Medan. Di kota kecil ini tidak ada Dokter pribadi mereka.


Akhirnya Pak Samsul meminta putranya, adiknya Melati menemani Rudi untuk memanggil tenaga medis. Yaitu, seorang Bidan yang membuka praktek tak jauh dari Hotel.


Pak Samsul menghampiri Pak KUA. Membicarakan kelanjutan akad nikah ini. Mencari solusi terbaik. Karena calon mempelai wanita sudah tidak sadarkan diri.


"Kenapa kamu lakukan itu pada putriku. Kenapa saat utusanmu datang melamar Putriku. kalian tidak memberitahu ku bahwa keadaan putriku memprihatinkan seperti ini." Ibu Khadijah tak henti-hentinya mengomel sepanjang melewati koridor menuju kamar.

__ADS_1


Dia membenci Ardhi sang calon menantu. Ibu Khadijah merasa, Ardhi tidak menghargai dan menghormati mereka sebagai orang tuanya Melati.


Embun yang juga mengekori Ardhi, langsung duduk di tepi ranjang, setelah Ardhi membaringkan Melati. Saat ini Melati masih dalam keadaan pingsan.


Melihat Embun dan Ibu Khadijah mengambil alih untuk mengurus Melati. Ardhi pun menarik diri. Berdiri di sisi ranjang dengan perasaan yang kacau. Semua rencananya tak sesuai ekspektasi.


Ardhi memandangi wajah Melati yang pucat itu dengan sedih. Mengutuk dirinya, yang telah membuat Melati begitu lemah. karena wanita itu sedang mengandung anaknya. Padahal keseharian wanita itu sebelum hamil sangat lah energik.


Embun terus saja mendekatkan botol minyak kayu putih, ke rongga hidung wanita itu. Sedangkan Ibu Khadijah memijat-mijat lengannya Melati.


"Apa yang kamu lakukan pada putriku? Kamu, kamu majikannya kan? Kamu, kamu menodai putriku kan? Iya kan? Kenapa orang kaya selalu semena-mena pada kami orang miskin ini." Ibu Khadijah kini meluapkan amarahnya di hadapan Ardhi. pria menunduk, pasrah saja diomeli oleh Ibu Khadijah.


"Sudah, sudah Taing." Pak Samsul sudah berada di kamar itu. Pria tua itu menjauhkan istrinya dari Ardhi.


Ardhi hanya diam mematung. tak ada gunanya menjelaskan semuanya. Toh dia memang bersalah.


"lihat, lihat lah Bapak ni si Butet. dia diam saja. Ia harus di hukum." Ibu Khadijah berontak dari rangkulan sang suami, mendekati Melati yang masih belum sadar itu. Ibu Khadijah menepuk pelan pipi pucatnya Melati, berharap putrinya itu segara sadar.


"Jangan diperpanjang lagi. karena, Nak Ardhi mau bertanggung jawab Taing." Pak Samsul tidak mau ada keributan. Diperpanjang pun tak ada gunanya. Lawan mereka orang kaya. Ardhi mau menikahi Melati saja, pria itu sudah sangat bersyukur.


Ibu Khadijah akhirnya terdiam. Ya sangat disyukuri pria itu masih mau menikahi putrinya. Karena zaman sekarang masih sering kita dengar kasus, seorang wanita hamil dan tidak ada yang bertanggung jawab.


Melati pun akhirnya sadar. Kedua Bola matanya nampak bergerak gerak, yang masih ditutupi kelopak matanya itu.

__ADS_1


"Mel, Melati.!" Embun yang masih duduk di tepi tempat tidur menggenggam erat jari jemari Melati yang dingin itu. Mengusapnya pelan memberi kehangatan pada wanita lemah itu. Melati pun akhirnya membuka matanya yang terasa berat itu. Air mata langsung keluar menyeruak membasahi pipinya. Disaat orang yang pertama kali ditangkap oleh matanya adalah sang ibu yang menangis dengan berurai air mata.


Dia tidak bisa menahan kesedihan yang dirasakan nya lagi. disaat melihat Ayah dan Ibunya ada dihadapannya itu. Tentu sang Ibu dan Ayah sudah mengetahui kejadian yang menimpanya saat ini. Dia telah membuat orang tuanya malu.


"Umak, Ayah, maafkan Melati." Ucapnya dengan terisak, memandangi kedua orang tuanya itu dengan sedihnya.


"Olo inang, Inda salah ho. Yakin do umak i. Kuat maho inang, sehat maho inang. Oh... Borukku....! Ibu Khadijah kembali menangis yersedui saat memeluk Melati.


"Madung Mai umak ni si Butet. Mur tangis ho, marsak non Boru tai." Ibu Khadijah melap air mata Melati dengan jemarinya. Tersenyum pada sang putri, seolah memberi semangat pada wanita yang lagi hamil muda itu.


Ardhi hanya bisa menyaksikan adegan mengharu biru itu, dengan perasaan bersalah. Dia sudah menyiapkan mentalnya, jikalau Ibu Khadijah memaki-maki nya lagi.


Saat itu Bu Bidan pun datang, beserta Ardhi. Embun dan Ibu Khadijah menjauh, agar sang Bidan lebih leluasa memeriksa keadaan Melati.


"Kita infus saja ya Bu, Pak." Ujar Bu Bidan, setelah memeriksa tekanan darahnya Melati.


"iya Bu Bidan." Ibu Khadijah kembali duduk di tepi ranjang, menemani sang putri.


Saat Melati di infus. Rudi mendekati Bos nya yang duduk di sofa dengan ekspresi wajah tak bisa dibaca. Sedih, kesal, merasa bersalah bergabung jadi satu.


"Bos, acara akad nikahnya ditunda, sampai waktu yang tidak bisa ditentukan." Ardhi menatap tajam Rudi, setelah sang asisten selesai berbisik padanya. laporan asistennya itu membuatnya kesal. Kenapa asistennya itu semakin tidak bisa diharapkan. Mengurus masalah itu saja tidak bisa dituntaskan sang asisten.


"Hari ini terakhir aku dengar laporan yang tidak ada hasil." Tegas Ardhi pada sang asisten. S

__ADS_1


Pria itu pun keluar dari kamar itu.


__ADS_2