DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Mupeng


__ADS_3

POV Embun


Lembayun pagi mengundang cakrawala


Membawa angan, serta asa


Sejuk semilir menerpa raga


Terkatup kalbu membawa rindu


Pada dikau, kekasihku Mas Ardhi


Pulanglah untukku! Teriakku.....


Lega rasanya setelah meluapkan kegundahan di hati ini. Kerinduan membuncah kepada Mas Ardhi membuatku sedih gunda gulana. Kenapa begitu begitu berat cobaan yang harus kami lalui, agar bisa bersama.


Udara pagi begitu sejuk, ku hirup dalam-dalam sambil merentang tangan di balkon kamarnya Tara yang luas dan menikmati indah bunga-bunga di taman.


Belasan tahun tidak ingin tahu dengan kehidupan Tara. Ternyata Dia sudah jadi pengusaha sukses. Heran, kenapa Dia mau menikah denganku. Yang jelas-jelas ku membencinya dan Dia juga tahu Aku mencintai pria lain. Dasar pria bodoh.


Malam ini tidurku begitu nyenyak, karena si pengganggu, manusia paling ku benci tidak tidur di kamar ini. Itu sangat bagus sekali, mengingat Aku tidur selalu lupa batasan dan memeluk benda di sekitarku. Untuk kedepannya Aku harus waspada, sepertinya otak liciknya sudah mulai beraksi. Berani sekali Dia memelukku. Najis.....!


Setelah selesai mandi, ku langkahkan kakiku turun ke lantai bawah. Aku penasaran dengan suara agak sedikit bising.


Ternyata di lantai bawah sudah banyak saudara kami yang sibuk menyiapkan berbagai macam makanan.


Kapan mereka datang? bukannya semua orang meninggalkan kami berdua di rumah ini.


Ku lihat Bou (Ibu mertua) dan Amangboru (Ayah mertua) masuk ke dalam rumah dengan tersenyum. Bou langsung mendekapku dan mencium keningku.


"Maen Bou, sudah wangi. Tara mana sayang?" tanya Bou celingak-celinguk mencari keberadaan putra semata wayangnya itu.


Aku terdiam menampilkan senyuman hangat, untuk menutupi rasa gugupku. Mana ku tahu di mana Dia? Aku juga tidak melihatnya.


"Kenapa diam? apa Tara belum bangun? tidak biasanya Dia bangun kesiangan." Ucap Bou, mengelus kepalaku, kemudian melenggang ke pintu lift. Baru ku sadari itu ternyata pintu lift.


"Bou, Abang Tara di ruang kerjanya. Katanya tadi lagi banyak kerjaan." Ucapku bohong, mencari alasan yang pas. Dan menarik napas dalam-dalam. Aku tidak suka berbohong.


"Ma, ada apa mencariku?" suara yang tidak ingin ku dengar itu akhirnya membuatku harus memutar tubuhku, mencari asal suara yang menyebalkan itu.


Nampak manusia menjijikkan itu sedang memegang handuk kecil. Sepertinya Dia baru saja jogging di taman belakang.


"Kamu disini? kenapa tadi Embun mengatakan bahwa kamu di ruang kerja?" Bou yang melihat keberadaan Tara langsung menyamperinnya.


"Dia ingin Aku bekerja terus Ma. Katanya, agar bisa membuatnya hidup senang." Ucapan Tara itu membuatku kesal. Seolah-olah Aku ini wanita matre.


"Iya Dong. Harus kerja keras semasa muda. Ayo kita ke ruang keluarga. Ayah sudah menunggu di sana." Mama Mira mendekati ku menuntunku menuju ruang keluarga yang diikuti oleh Tara dibelakang kami.


"Sayang Embun, kamu sudah tahu kan? kalau besok pagi kalian akan ke kota M?" Bou menatapku lekat. Aku tersenyum mengangguk. Padahal Aku tidak tahu, bahwa secepat itu kami akan ke kota Medan. Aku senang sekali, setidaknya kalau sudah sampai di kota M. Aku bisa cepat masuk kuliah menyelesaikan dua mata kuliahku dan mengerjakan skripsiku yang sempat terbengkalai selama dua Minggu ini.


"Hari ini kita akan berkunjung ke rumah orang tuamu. Itu harus dilakukan. Agar nantinya, kamu bisa leluasa berkunjung kedepannya. Kamu mengertikan Maen?" tanya Bou tersenyum kepadaku.

__ADS_1


"Iya Bou. Acara Malungun-lungun." Jawabku pendek.


Di ruangan besar itu, hanya Aku dan Bou yang berinteraksi. Sedangkan Tara dan Amangboru nampak sibuk dengan ponselnya.


Yang membuatku sedikit legah adalah, sikap Tara berubah jadi lebih pendiam. Itu sangat ku sukai. Jadi, Aku tidak banyak interaksi dengannya.


"Tara, cepat mandi sayang." Tara menatap ke arah Bou yang berbicara. Kemudian Dia bangkit dari duduknya tanpa menoleh sedikit pun kepadaku.


"Embun, kamu siapkan keperluan Tara juga ya sayang. Karena malam ini, kalian harus menginap di rumah orang tuamu. Ayahmu juga meminta, kalian berangkat ke kota Medan dari rumah orang tuamu saja." Ucapan Bou membuatku terkejut, tapi dengan cepat Aku menguasai diri.


Menginap? aduh, gimana caranya agar tidak sekamar dengannya di rumah Ayah nanti?


"Iya Bou." Jawabku pendek. Dengan malasnya Aku memasuki kamar. Si Tara menyebalkan itu sedang mandi. Aku melangkah kakiku menuju walk in closet.


Dengan terpaksa aku akan mengepak pakaiannya.


Ku lihat koper berjejer rapi di atas lemari. Aku berjinjit berusaha meraih koper hitam ukuran sedang. Tapi, usahaku sia-sia. Kopernya tidak bisa ku raih.


Aku pun terus melakukan usaha agar bisa meraih koper itu dengan melompat-lompat. Tapi tetap saja kopernya tidak bisa ku dapatkan.


"Makanya jangan mau jadi orang pendek. Rajin olah raga. Agar Tulangmu bisa berkembang." Suara dinginnya Tara membuat bulu romaku meremang. Kini posisi tubuhnya tepat berada di belakangku. Dengan keadaan telanjang dada.


Aku terdiam, karena jikalau banyak gerak. Maka tubuh kami akan bersentuhan. Dia pun meraih koper itu.


"Ini masukkan pakaianku untuk dipakai selama di rumah Tulang saja." Tara meletakkan koper itu tepat di sebelahnya. Aku melirik posisi koper itu kemudian menatapnya sekilas. Dia tersenyum tipis. Berjalan ke arah lemari mulai dan mengambil pakaiannya.


Melihat Dia akan memakai pakaian Aku memilih keluar dari ruangan itu. Tapi, Dia menahanku.


"Mau ke mana?" tanyanya dengan suara datar.


"Aku suamimu, kenapa kamu malah keluar."


Aku diam dan tidak menjawab ucapannya. Aku masih membelakanginya.


"Kedepannya kamu tidak usah malu-malu gitu."


"Siapa yang malu-malu?" tanyaku bingung.


"Ya kamu, takut ya tergoda lihat tubuh kekarku. Sehingga Adek memilih keluar daripada menyaksikannya?" bisa ku tebak, Dia sudah selesai memakai baju dan kini sudah memakai celananya.


"Tergoda? mana mungkin Aku tergoda, Kamu bukan seleraku." Jawabku ketus.


"Oh iya, Abang lupa. Seleramu kan Mas Ardhi. Ganteng sih, tapi masih gantengan Aku." Ucapannya itu langsung membuat perutku jadi mual.


"Hoeekkk....hoeeekk...!"


"Jangan muntah disini dong!" ketusnya dengan suara kesal. Dipikirnya Aku anak kecil yang tidak tahu tempat untuk muntah.


"Kancingkan kemejaku!" titahnya yang kini sudah berada di hadapanku. Aku menatapnya tidak percaya masak mengkancing baju sendiri tidak bisa.


"Ogah...!" jawabku cepat, mulai memilih pakaian untuk dibawa.

__ADS_1


"Baiklah, kalau kamu tidak mau. Abang akan turun ke bawah dan mengatakan bahwa kamu sebagai istri tidak becus." Ucapannya itu loh benar-benar ingin menciptakan pertikaian.


"Kamu bukan anak TK yang tidak bisa mengkancing baju. Kancing aja sendiri." Jawabku malas dan kesal.


"Baiklah, kalau kamu tidak mau." Si Tara gila itupun keluar dari ruangan ganti.


Aku berpikir sejenak. Benarkah Dia akan mengadu kepada Bou dan Amangboru akan sikapku? tentu itu akan membuatku malu. Aku pun berlari cepat menyusulnya.


"Tunggu,... Tunggu....!" ucapku keras. kini Dia sudah berada di dekat pintu. Benar saja kencing kemejanya belum ada yang terkait.


Dia menoleh melihatku dengan tersenyum tipis. Benarkan Dia mengerjaiku. Kenapa sih pria ini menyebalkan sekali.


Aku pun mulai mengkancing kemeja lengan pendek yang dikenakannya. Posisi kami yang begitu dekat dan tatapannya yang tidak lepas dariku. Membuatku sedikit gugup. Hingga memasukkan kancing ke lubangnya pun terasa lama.


Wangi parfummnya mengguar di Indra penciumanku. Wanginya mirip parfumnya Mas Ardhi. Ini wangi yang ku sukai.


"Kenapa kamu menangis?" tanyanya dengan suara lembut, meraih daguku dan mengangkatnya. Dengan cepat Aku menyek air mata yang jatuh di pipiku. Dan membuang wajah.


"Bukan urusanmu...!" Aku pun berjalan cepat menuju ruang ganti dan meninggalkannya dengan terbengong.


Aku bersandar di lemari, setelah mengunci pintu. Meratapi nasibku yang jauh dari keinginan. Kenapa Aku harus terjebak dalam pernikahan palsu dengan Tara. Selama enam bulan hidup bersama dengan manusia yang paling kita benci itu sangat menyebalkan sekali. Baru juga empat hari bersamanya. Aku merasa sudah setres dan tidak nyaman.


❤️❤️❤️


Tepat pukul 11siang, kami sudah sampai di rumah Mama. Mama menyambut kami penuh dengan suka cita. Aku menahan diriku, agar tidak menangis histeris. Melihat Ayah, kadang membuatku jengkel. Ayah benar-benar menghancurkan impianku.


Acara makan siang yang menyebalkan pun akhirnya selesai juga. Dasar Tara manusia sok romantis. Dengan tidak tahu malunya Dia, selalu menyodorkan suapan untukku. Sehingga suasana di ruangan itu menjadi riuh. Mau tak mau, Aku pun berusaha tenang dan tersenyum manis. Menerima perlakuan sok romantisnya.


Hingga sore hari, Ayah dan Mama serta famili kami lainnya pun pamit. Aku yang merasa tubuhku begitu lelah, karena beracting seharian ini, Akhirnya memilih untuk berendam saja. Saat Ayah dan Tara. Asyik mengobrol di Gazebo.


Saat asyik bermain busa. Ku dengar pintu kamar mandi dibuka. Aku pun jadi panik, Aku tahu itu Tara. Ya ampyun, Aku lupa mengunci.


"Jangan masuk, keluar kamu. Aku sedang mandi." Teriakku.


"Abang juga mau mandi." Jawabnya santai. Aku pun langsung menenggelamkan tubuhku di dalam busa. Ada rasa malu dan kesal bergabung jadi satu.


"Kamu nanti saja mandinya. Kita gantian." Ucapku kesal, memperhatikan dirinya yang mulai melepas semua pakaiannya. Dasar gila, Dia benar-benar menanggalkan pakaiannya dan hanya menyisakan **********.


Aku jadi panik, tidak sudih rasanya mata ini menatap tubuhnya. Yg sudah basah di bawah shower. Mau bergerak untuk menarik tirai pembatas sudah tidak bisa lagi. Karena, Jika itu ku lakukan, maka Aku harus bangkit dari dalam bathtub ini.


Eeehhh.... Dia malah mendekat dengan berjalan gontai. Benda dibalik ********** tercetak sudah menonjol. Mata genit ini pun seolah penasaran. Padahal Aku tidak ingin melihat ke arah Dia. Yo, mata ini selalu tertuju ke bagian aneh itu.


"Berikan sabun cairnya." Ucapnya tepat di hadapanku. Syukur busa yang ku buat tadi sangat banyak, sehingga benar-benar bisa menutupi tubuhku.


"Kamu pakai sabun lain saja. Disana masih banyak sabun cair." Tara menoleh ke arah rak, mengikuti instruksi dari pergerakan wajahku.


"Aku mau sabun itu. Wanginya Aku suka." Ucapnya masih berdiri menjulang dihadapanku.


Ya Tuhan, dadanya itu begitu bidang dan otot-otot lengannya menggelembung padat. Begitu juga dengan otot perutnya. Inikah roti sobek itu? bentuk perut sixpack yang kotak-kotaknya seksi ala roti sobek yang sering diistilahkan orang.


Baru kali ini Aku melihat pahatan indah dihadapanku dengan tercengang. Padahal bukan kali ini Aku melihatnya telanjang dada. Kenapa kali ini penampilannya membuatku jadi mupeng ya? rasanya ludah ini susah tertelan.

__ADS_1


TBC


Terimakasih saya ucapkan atas dukungannya berupa like coment positif vote serta Tipsnya. 🙏❤️


__ADS_2