
Embun duduk termenung di taman kampus. Dia sudah selesai mengikuti ujian skripsi. Harusnya dia bahagia karena dapat nilai A. Tapi, hatinya terusik, karena Tara tidak kunjung membalas pesan yang dikirimnya. Pesan yang dikirimkannya itu centang biru, itu tandanya sipenerima sudah membacanya.
Baru kali ini dia berinisiatif duluan menghubungi suaminya itu. Biasanya Tara duluan yang menghubunginya.
"Oohhh.... begini toh rasanya menunggu balasan pesan dari seseorang. Rasanya begitu menyebalkan." Embun tersenyum kecut. Dia baru menyadari kesalahannya, selama ini dia tidak pernah membalas pesan Tara. Karena dia merasa tidak butuh dengan perhatian pria itu. karena, dia membenci pria itu. Tapi, Sekarang kenapa dia jadi kepikiran terus, kepada suaminya itu?
Bahkan, seminggu terakhir ini. Dia lebih sering memikirkan Tara dibanding Ardhi.
"Tidak, tidak.... Ini tidak mungkin, aku hanya mencintai Mas Ardhi. Mana mungkin, aku menyukainya? Mungkin, karena aku sering bersama dengannya, ditambah kami satu rumah. Makanya, aku jadi merasa membutuhkannya. Apalagi dia memang baik." Embun bicara sendiri, selalu berusaha menyangkal, bahwa dia sudah ada rasa kepada suami yang sangat dibencinya itu.
"Aku hanya mencintai Mas Ardhi. Mas Ardhi pria baik. Aku hanya butuh bersabar. Kami akan bersatu. Dan Tara juga mengatakan menyukai Lolita. Ini sudah pas. Aku tidak boleh iri melihat kedekatan Tara dan Lolita." Embun terus bicara sendiri, meluapkan kegundahan hatinya.
Lamunannyapun buyar, disaat ponsel yang ada di genggamannya berdering. Seketika hatinya senang riang gembira, mendapati ponselnya itu ada yang menghubunginya. Embun beranggapan bahwa yang menelponnya adalah Tara.
Embun mengibas-ngibaskan tangannya. Dia merasa kepanasan, padahal dia saat ini sedang berteduh di bawah pohon yang rindang dan sejuk. Dia nervouse, perlu persiapan extra untuk mengangkat panggilan telpon itu.
Setelah menarik napas dalam, Embun pun memberanikan diri menatap layar ponselnya. Betapa lemasnya dia, melihat nama Lolita yang memanggil.
"Sialan---- kirain Abang Tara yang nelpon." Ucapnya frustasi. Dia pun mengangkat telpon itu dengan malas.
"Bunbun, kamu di mana? aku sudah capek nyariin kamu tahu." Suara lolita terdengar tak sabaran.
"Aku di taman." Jawabnya lemah.
"Taman? taman yang mana? di sini banyak taman."
"Taman yang di belakang Biro."
Panggilan telepon pun terputus. Embun kembali menarik napas dalam dan membuangnya kasar. Suasana hatinya jadi buruk, karena Tara tak kunjung membalas chat nya.
__ADS_1
"Bunbun, selamat ya. Kamu dapat nilai A." Lolita yang sudah melihat keberadaan Embun, langsung mengoceh sambil berlari kecil menghampirinya. Embun tersenyum hangat menyambut sahabatnya itu. Mereka pun berpelukan.
Tidak logis rasanya apabila Embun iri kepada sahabatnya itu. Karena dirinya lah yang mau mendekat kan Tara kepada Lolita. Lagian Lolita adalah sahabat terbaiknya. Bahkan Lolita, selalu menemani Embun di kost an, apabila cuaca sedang buruk. Embun sangat takut hujan deras dan petir.
"Terimakasih, Akhirnya aku lulus juga." Jawabnya lembut, mendudukkan tubuhnya kembali di kursi beton yang didudukinya tadi.
Embun memperhatikan Lolita yang nampak begitu bahagia.
"Terimakasih ya Bunbun, sudah mau bantuin aku dekat dengan Abang Sutan." Lolita meraih tangan Embun. Menggenggam tangan sahabat nya itu. Dia benar-benar merasa bersyukur, Embun mau mendekat kannya dengan Tara.
"Iya sama-sama." Jawab Embun lemah, entah kenapa dia jadi kesal, apabila Lolita membahas Tara. Dadanya terasa sesak, tidak rela rasanya Tara dekat dengan Lolita.
"Seandainya semalam, Abang Tara menanggapi ucapan ku. Tentu aku akan menjadi wanita yang paling beruntung di dunia ini." Embun menatap lekat Lolita yang bicara dengan mata yang berbinar-binar. Apa maksud ucapannya itu
"Emang semalam kalian membahas apa?" Embun penasaran, dia juga was-was. Apa Tara dan Lolita sudah jadian?
"Apa kamu menembaknya?" tebak Embun.
Lolita tercengang dengan ucapan sahabatnya itu. Mana mungkin dia melakukan itu. Dia juga punya harga diri kali. Dia ingin pria yang mengungkap cintanya duluan.
"Aku masih punya harga diri kali. Aku hanya bahas-bahas tentang pernikahan gitu sama Abang Sutan. Nanyain, apa dia sudah siap untuk menikah apa belum?" Lolita menatap Embun yang nampak tidak semangat itu. Ada rasa penasaran, kenapa akhir-akhir ini Embun menampilkan ekspresi tidak suka, apabila dia membahas Tara.
"Dia katanya belum siap menikah dalam waktu dekat. Kemungkinan lima bulan ke depan, itu baru bisa dipikirkannya." Lolita melanjutkan ceritanya, padahal Embun tidak mengatakan kata NEXt.
Embun terkejut mendengar ucapan Lolita. Kalau Tara mengatakan siap menikah lima bulan kedepan. Itu berarti, Tara sedang menunggu berpisah dengannya.
"Terus apa tanggapanmu dengan pernyataan nya?" Embun mulai merasa tidak tenang, dia berulang kali mengusap wajahnya.
"Aku sih setuju-setuju saja. Lagian, aku mau bantuin ayah di perusahaan." Lolita tersenyum manis. Embun juga membalas senyuman sahabatnya itu.
__ADS_1
"Abang Sutan itu benar-benar laki-laki yang sempurna. Salah gak sih Bun, kalau aku mengatakan Mas Ardhimu itu tidak ada apa-apanya dengan Abang Sutan?" Lolita tertawa lebar, merasa lebih hebat dari Embun. Apalagi jikalau nanti dia benar-benar jadi Nyonya Sutan Batara Guru Siregar.
Embun kesal dengan ucapan Lolita. Bisa-bisanya dia merendahkan Mas Ardhinya.
"Kamu begitu terobsesi dengannya. Awas nanti kamu patah hati. Biasanya kan gitu, disaat keinginan tidak tercapai, maka kekecewaan yang akan datang." Embun mulai merasa tidak nyaman dengan sahabatnya ini.
"Semua wanita pasti terobsesi dengan Abang Sutan. Aku yakin, kamu juga suka padanya. Iya kan?" Lolita mulai mengorek-ngorek perasaan Embun.
Lolita mulai curiga dengan sikap Tara yang begitu perhatian kepada Embun. Perhatiannya itu melebihi perhatian saudara.
"Kamu apa-apa an sih? kamu tahu sendiri, aku cintanya sama Mas Ardhi. Kalau Aku suka Abang Tara, mana mungkin aku mau comblangin kalian." Embun membuang wajahnya, tidak berani menatap mata Lolita, yang kini menatapnya lekat.
"Heran saja, Abang Tara itu perhatian banget samamu."
"Ya wajarlah. Aku ini kan saudaranya. Tentu dia baik padaku." Embun mulai malas membahas Tara dengan Lolita.
"Iya sih, kalian Pariban. Dalam budaya Batak, biasanyakan sesama Pariban dijodohin. Apa kamu tidak kepikiran gitu, menikah dengan Tara." Embun tersendak air liur sendiri mendengar ucapan Lolita. Apa yang akan terjadi nanti, apabila Lolita tahu, kalau Tara dan Embun adalah pasangan suami istri.
Embun mulai tidak tenang, sepertinya ide untuk menjodohkan Tara dengan Lolita bukanlah ide yang bagus. Kenapa Dia tidak berfikir panjang, untuk mendekatkan Tara dengan Lolita
Kebenciannya kepada Tara, adalah penyebab dia melakukan itu. Tapi, sekarang dia tidak membenci pria itu lagi. Bahkan hati kecilnya mengatakan bahwa, dia sudah mulai suka kepada suaminya itu. Dan sepertinya bukan sekedar rasa suka. Dia sudah mulai jatuh cinta.
Masuk akal gak sih? kita mencintai dua pria dalam waktu yang sama?" Embun membathin, dia sudah tidak fokus lagi. Matanya jauh menerawang, dia mulai ketakutan, sepertinya masalah besar akan datang.
"Bun, kamu kenapa? maaf ya, kalau aku banyak bertanya." Lolita merangkul Embun yang nampak ketakutan itu. Dia ingin menenangkan sahabatnya itu.
Embun benar-benar merasa tidak tenang dengan ucapan Lolita. Sehingga kini dia hanya menundukkan wajahnya. Dia sedang malas beradu pendapat dengan sahabatnya itu.
Dalam keadaan menunduk, Embun melihat sepasang sepatu pentofel hitam mengkilat berada di hadapannya. Tentu saja saat ini ada pria berdiri tepat dihadapannya.
__ADS_1